Review #21 Heart Attack by CLara Canceriana

Heart Attack
Clara Canceriana





Heartbreakers, sebuah boiben yang sedang naik daun tiba-tiba ditinggalkan oleh leader sekaligus lead vocal mereka, Dima. Popster Entertainment langsung mencari pengganti Dima. Ketika menonton konser sebuah sekolah musik, Dedy, managing director Popster suka sama Axel dan menawarkan Axel untuk bergabung dengan Heartbreakers.
Axel yang pemalu, rendah diri, dan enggak tahu impiannya apa menerima tawaran itu semata karena kecengannya dia suka sama Heartbreakers. Axel pun pindah ke apartemen Heartbreakers dan beradaptasi dengan dunia baru yang enggak pernah dibayangkannya sebelumnya. Belum lagi sikap member lain, Sandro dan Leon, yang kurang bersahabat. Dan para anti-fans yang ingin dia mundur. Plus skandal-skandal lain, membuat Axel bertanya-tanya apa iya dia pantas ada di Heartbreakers?
And the rest is history.
Gue baca novel ini iseng aja, karena pengin baca novel ringan yang bisa langsung dikelarin semalam. Heart Attack adalah pilihan yang tepat. Novel ini ringan, ditujukan buat remaja delusional yang suka mengidolakan seseorang (baca: fangirl), dan konflik yang ada pun sudah sering diangkat. Meski gue bukan remaja lagi tapi masih delusional aka fangirl, gue rasa gue akan menikmati novel ini.
Sorry to say, but I’m not. Gue dulu suka sama tulisan Clara di Rain Affair, tapi kenapa gue enggak bisa nyambung dengan gaya menulis Clara di sini? Clara memakai kalimat pendek-pendek dan minim deksripsi. Bahkan deskripsi tokoh-tokohnya aja kurang jelas sampai-sampai gue mengira-ngira sendiri. Oke, mungkin nanti ada buku sendiri buat Leon dan Sandro, tapi gue enggak bisa mengira-ngira Axel ini gimana. Masalahnya, ketika baca novel ini, dengan posisi mereka di boiben itu, menggiring pikiran gue ke beberapa idol Korea (gue jelasin nanti).
Kedua, konflik yang diangkat itu-itu aja. Skandal dan masalah dengan pers dan fans, plus di antara anggota. Gue lebih suka jika Clara fokus membangun chemistry antara member Heartbreakers ini. Dan Kirana, apa-apaan tuh. Selain gue enggak nangkep chemistry antara Kirana-Axel, keberadaan dia yang tipikal cewek Korea (lemah-oh-so-miserable) bikin gue eneg haha *ini sih persoalan pribadi gue yang enggak pernah suka sama cewek kayak begini*.
Concern utama gue ketika baca novel ini adalah, gila, sense of Korea-nya berasa banget. Tanpa setting di sana dan memakai tokoh dari sana, cita rasa Korea kerasa banget di sini. Pertama, pemakaian konsep boiben ala-ala Korea. Kenapa sih enggak bikin boiben ala-ala Indonesia. Toh boiben Indonesia juga enggak kalah keren (for example: 5Romeo). Pembagian posisi seperti ada leader, ada lead vocal, lead rapper, sub rapper, penyebutan personil dengan sebutan member, dan tinggal bareng di apartemen. Dooh, itu kan Korea banget. Western boyband enggak kenal tuh yang kayak gitu. Masalahnya, di boiben Indo juga enggak ada. (Untung enggak bikin mereka tinggal di dorm, haha). Soalnya dari awal gue berharap ini cerita boiben rasa Indonesia. Coba deh Clara riset soal boiben Indonesia dan menggali kehidupan boiben Indonesia kayak gimana, mungkin bisa ngasih pengetahuan baru sama pembaca tentang industri musik Indonesia, khususnya boiben.
Dan juga, seperti yang dibilang di atas, deskripsi yang minim bikin gue mengawang-awang mikirin tokoh-tokoh ini kayak apa. Jika lo punya basic experience atau basic knowledge soal Korea, gampang banget lo mengasosiasiakan tokoh-tokoh ini sebagai siapa. Let’s say, Dima as Kris EXO. Why? Karena dia leader yang ninggalin boiben yang ngebesarin namanya (oke, mungkin ini karena timing yang pas aja antara kasus Kris dan ketika gue baca novel ini). Sandro as Suho EXO. Why? Karena dia leader yang sakit hati ditinggal (Meski Suho bukan leader pengganti, tapi kan dia teman baiknya Kris, hehe). Axel as Jonghyun SHINee. Why? Karena gue suka sama Jonghyun dan enggak ada deskripsi soal Axel jadi Jonghyun dengan gampangnya memenuhi otak gue dan bikin gue mikir Axel is Jonghyun. Simply because he is lead vocal, jago bikin lagu, anak mami, punya kakak cewek yang sayang sama dia, dan sikap kekanak-kanakannya. That’s so Jonghyun. Masalahnya, gue enggak pernah suka membaca dalam keadaan kayak gini. Gue pengin ketika membaca, tokoh di novel itu muncul sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai orang lain. *oke, ini masalah pribadi sih*. Makanya gue selalu suka dengan karakter yang kuat dan jelas, karena dia bisa muncul sebagai dirinya sendiri.
*sigh*
Tapi, salut untuk tim promosi dan pencetus ide serial ini. Karena pasarnya jelas dan promosinya sesuai pasar jadi hype deh ini serial. Mana lagunya beneran ada lagi (meski gue geuleuh baca liriknya, Ewww…) Gue sih berharap di novel-novel selanjutnya mengalami peningkatan dan bisa bikin pembaca mengenal Heartbreakers as in Heartbreakers. Bukan Heartbreakers as another boyband.
(Dan secara anaknya paling anti berhenti baca serial di tengah-tengah, gue masih menunggu buku selanjutnya).
Terutama cerita Dima.

Salam,
Fangirl yang gagal dibikin delusional oleh Heartbreakers tapi masih menunggu gebrakan mereka selanjutnya.

Comments

Popular Posts