Review #19 Paper Towns by John Green

Paper Towns
John Green

 Gue punya yang cover ini, UK Edition. Soalnya covernya lucu, kayak gambar anak-anak.




Meet Quentin ‘Q’ Jacobsen. Cowok yang hidupnya lempeng bak jalan tol. Enggak neko-neko. Anak mami papi yang jelas jadi kebanggan orangtuanya. Punya sahabat yang seru, Ben dan Radar, meski jadi outcast di sekolah.
Meet Margo Roth Spiegelman. The queen bee from school. Sekaligus tetangga Q. Waktu kecil mereka akrab tapi jadi berjarak setelah mereka remaja. Mereka pun punya lingkungan pertemanan sendiri-sendiri yang beda banget.
Lalu suatu malam, Margo menyelinap ke kamar Q dan meminta Q menemaninya melakukan aksi balas dendam. Semalaman mereka keliling Jefferson Park untuk balas dendam ke pacar Margo yang selingkuh dengan sahabatnya. Dan orang-orang yang membuatnya kesal. Setelahnya, mereka menyelinap masuk SeaWorld.
Ketika pulang ke rumah paginya, Q sadar kalau sejak dulu sampai sekarang dia suka sama Margo. Dia pun berharap nanti siang di sekolah mereka bisa hangout bareng. Tapi Margo malah menghilang. Cuma ninggalin teka teki seputar kepergiannya.
Bareng Q dan Radar, plus Lacey, sahabat Margo, mereka mencoba mencari keberadaan Margo.
Pengakuan: butuh waktu dua bulan buat nyelesaiin novel ini. Semata karena daya baca gue yang sedang payah-payahnya.
Semula gue pikir novel ini kayak TFIOS yang romantis. Ternyata enggak. Novel ini malah semi detektif, he-he. Paper Towns terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama berisi misi balas dendam Margo dibantu Q yang terjadi dalam semalam. Bagian kedua adalah misi pencarian Q berdasarkan clue yang ditinggalkan Margo. Bagian ketiga berisi misi mengejar Margo yang juga terjadi dalam waktu sehari semalam. Jika bagian pertama dan ketiga full of adrenaline, bagian kedua gue rasa agak ngebosenin. Makanya agak lama pas baca bagian kedua ini.
Gue suka dengan konsep Paper Towns. Paper girl. Paper boy. Kota yang palsu, enggak semua hal yang dilihat itu sama dengan apa yang terjadi. Sebagai paper girl, cewek idola di sekolah yang ternyata bermasalah dengan orangtuanya dan ingin dapat perhatian, menemukan ketenangan saat berada di pseudovision, sebuah tempat, bisa berupa bangunan, yang direncanakan akan dibangun tapi akhirnya terbengkalai. Dari luar tempat ini seperti diabaikan dan terbuang, tapi Margo malah menemukan ketenangan di sana. Di sanalah dia merencanakan untuk pergi. Pergi dari Paper Towns dan berhenti jadi Paper Girl. Kepergian Margo juga mengubah hidup Q. Dia jadi belajar untuk berani, reckless, dan enggak hanya mikirin dirinya sendiri plus hidupnya yang sempurna.
Novel ini bagus, meski minim unsure romance. Dan bikin gue pengin ikutan road trip bareng mereka, he-he. Sama seperti Isaac, scene stealer di TFIOS, di sini ada Ben yang juga jadi scene stealer. Plus Radar. Sama seperti TFIOS, ada banyak pesan dan pelajaran yang kita ambil dari novel ini. Worth to read lah pokoknya.
Novel ini juga udah dibeli right untuk difilmin oleh FOX. Dan, Nat Wolff, pemeran Isaac di TFIOS, udah fix jadi Q. Wohoo... See you next year, the real Q.

Comments

Popular Posts