Review #16 You Had Me At Hello by Mhairi McFarlane

You Had Me At Hello
Mhairi McFarlane





What happens when the one that got away comes back?
Ben dan Rachel bersahabat sejak kuliah. Sepuluh tahun kemudian, mereka bertemu lagi di perpustakaan di Manchester. Rachel seorang wartawan. Ben seorang pengacara. Rachel baru saja putus dari tunangannya, Rhys, setelah pacaran 13 tahun. Ben sudah menikah dengan Olivia.
Mereka kembali bersahabat, meski Caroline, sahabat baik Rachel, memperingatkan Rachel untuk enggak terlalu dekat dengan Ben karena status Ben. Rachel juga dekat dengan Simon, sahabat sekaligus atasan Ben. Tapi… ada perasaan lain dalam hati Rachel.
Perasaan untuk Ben.
Perasaan untuk Ben sejak sepuluh tahun lalu.
Because he is the one that got away.
This is my first experience with Mhairi McFarlane.
I know nothing about this book when I bought it. I want to have this book simply because of the title. You had me at hello. I love that phrase since Dorothy said “you had me at hello” to Jerry Maguire.
*and I want someone said “you had me at hello” to me*
*abaikan*
Jadi, berbekal judulnya yang adalah frasa favorit gue, tanpa pertimbangan apa-apa langsung beli. Untunglah tindakan impulsif kali ini berakibat poisitif karena gue suka sama bukunya.
Ceritanya simple. About the one that got away. Buku ini menggunakan sistem flashback, di mana setiap adegan di masa lalu berhubungan dengan apa yang sedang dialami Rachel di masa sekarang. Berangkat dari PoV satu, kita diajak untuk mengikuti perjalanan hidup Rachel, mulai dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang.
Ada satu pertanyaan di benak gue ketika membaca buku ini: kalau memang Ben dan Rachel sedekat itu waktu kuliah, kenapa mereka malah kepisah tanpa kabar selama sepuluh tahun? It have to be something between them. Pertanyaan ini yang membuat gue bertahan membacanya—selain gaya menulis Mhairi yang asyik banget.
Dan, tebakan gue benar. There is something between them. Tapi hal ini baru kebuka di belakang. Pas cerita hampir selesai. Penjelasan yang membawa kita kembali ke pertanyaan lama: benar enggak sih hubungan platonik, sahabatan cewek dan cowok tanpa cinta, itu benar-benar ada? Hasilnya? Ah, baca aja, haha.
Yang paling juara dari novel ini adalah gaya menulisnya Mhairi yang witty, sarcasm, dan lugas. Meski di beberapa bagian deskripsinya kurang. Padahal kalau deskripsi ditambah jadi bakalan lebih seru sih. Selain itu, setting cerita yang enggak biasa juga menambah daya tarik cerita. Manchester. Biasanya kan kalau Inggris ya London. Dan ini Mhairi mengambil kota lain yang jarang dipakai.
Dalam jurnalistik, ada istilah proximity, alias kedekatan. Sebuah berita akan bernilai lebih bagi seseorang karena unsur kedekatan tersebut. Hal itu gue rasain di sini. Kedekatan dengan background pekerjaan Rachel. Wartawan. Hehe. Hal ini di luar ekspektasi gue, makanya kaget gitu begitu tau pekerjaan Rachel. Jadi, makin suka deh sama buku ini.
Pokoknya, Mhairi bakalan jadi penulis yang karyanya nanti akan gue baca. Lumayan kak buat selingan di antara tulisan-tulisan young adult yang gue konsumsi sekarang. Good job, Mhairi.

Comments

Popular Posts