Review #14 Prelude - Sam Umar

Prelude
Sam Umar





Tina senang banget ketika bisa kuliah di Leipzig untuk mendalami musik klasik dan cello. Terlebih Leipzig adalah kota yang identik dengan musisi legendaris Johann Sebastian Bach. Dan, Tina bercita-cita untuk bisa berpartisipasi di Festival Bach yang selama ini hanya dinikmatinya lewat YouTube.
Untuk mewujudkan impiannya itu, Tina dibantu oleh dosen favoritnya yang dulu juga pemain selo terkenal, Maria Tan. Selain itu, Tina juga punya teman yang sangat baik dan membantunya karena tinggal sendirian di Jerman, Hans, Nadine, serta teman band Hans di Hans Trio.
Tapi, enggak selamanya impian bisa terwujud nyata. Tina pun harus bersinggungan dengan masa lalunya. Dan pertanyaan yang selama ini memenuhi benaknya, siapa ibunya?, tanpa sengaja terjawab di kota musik ini.
Ini novel ketiga dari Festival Series terbitan Teen Noura yang gue baca. Dan ini novel pertama Sam Umar yang gue baca. Sejak tahu bakalan ada Festival Bach ini, gue langsung excited. Bukan karena gue bisa main musik, tapi karena gue suka musik. Dan gue suka Jerman. Dan keduanya ketemu di satu buku. Alhasil, gue punya ekspektasi tinggi.
Pertama, komentar dari segi cerita dulu ya. Gue suka ceritanya. Konfliknya pas. Sahabat, cinta, dan keluarga. Background setiap tokoh yang membawanya ke gong konflik benar-benar diperhatikan sehingga semuanya terasa make sense dan enggak maksa. Dan, yang bikin gue makin suka adalah, Sam enggak menyajikan tokoh yang too good to be true dengan tokoh utama yang selalu beruntung. Ending untuk Tina pas banget, enggak maksa, dan realistis.
Kedua, deskripsi tempat. Ciamik. Berasa banget riset yang dilakuin penulis. Tapi, di beberapa bagian too much detail. Dan pendeskripsiannya kurang smooth sehingga di beberapa bagian gue serasa baca buku panduan wisata, he-he-he.
Satu lagi, penulis yang emang musisi dan menggeluti musik terlihat jelas bisa menulis soal musik ini. Banyak istilah musik yang dihadirkan tapi enggak menggurui. Dan karena cello, gue jadi inget If I Stay yang gue baca beberapa waktu sebelumnya dan tokohnya pemain cello juga.
Overal, gue suka novel ini. kecuali kalimat pembuka yang menurut gue enggak banget. Untunglah kekesalan di kalimat pembuka tertutup oleh cerita di halaman selanjutnya yang cihui.
Ditunggu cerita selanjutnya, Sam Umar.

Comments

Post a Comment

Popular Posts