Review Buku #8 Along For The Ride by Sarah Dessen

Along For The Ride
Sarah Dessen






Meet Auden West, cewek yang baru aja lulus SMA dan satu-satunya hal yang dia tahu hanyalah belajar. Ini karena pengaruh ibunya, dosen feminis, yang begitu mementingkan pelajaran. Lagipula, Auden merasa hanya belajarlah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya sebagai pelarian dari masalah keluarganya.
Orangtuanya sudah bercerai. Awalnya, mereka hanya bertengkar diam-diam, ketika Auden sudah tidur. Suatu malam, Auden sengaja begadang agar orangtuanya tidak bertengkar, tapi mereka tetap bertengkar. Sejak saat itu, Auden mengidap insomnia.
Sampai sekarang, ketika dia sudah lulus SMA.
Sebelum masuk kuliah, Auden memutuskan untuk menghabiskan liburan di rumah ayahnya, untuk menghindari ibunya yang intimidatif dan snobbish. Kebetulan, ibu tirinya, Heidi baru aja melahirkan. Di Colby, Auden menemukan kalau dirinya perlahan mulai berubah.
Di kota kecil pinggir pantai ini juga Auden berkenalan dengan Eli, cowok yang juga mengalami masalah tidur. Berdua Eli, Auden melakukan pencarian jati diri setiap malam.
Dan dia juga belajar bersepeda.
Here is my review.
Sarah Dessen bukan orang baru di dunia young adult. Udah banyak banget novel dia yang diterbitin dan, my bad, belum gue baca satupun. Semuanya masih numpuk. Ketika gue lihat novel ini baru diterjemahin (aslinya terbitan 2009), gue langsung jatuh cinta sama covernya.
Dan gue jatuh cinta sama isinya.
Ceritanya sederhana. Bukan young adult rumit dengan banyak intrik. Tapi justru kesederhanaan ini yang menjadi nilai lebih novel ini. Kita diajak untuk ikut melakukan pencarian jati diri bersama Auden setiap malam.
Gue suka karakter Auden. Cewek snobbish yang menganggap cewek-cewek lain cheesy dan enggak sepintar dia karena nyokapnya memang membentuknya seperti itu. Tapi akhirnya dia malah enggak mengenali dirinya sendiri. Ketika dia mulai merasa nyaman dnegan lingkungan Colby, dengan adik tirinya yang hobi banget nangis, dengan nyokap tirinya, Heidi, yang selama ini dia anggap cheesy tapi ternyata malah menyenangkan, teman-temannya yang suka ngecengin cowok, bergerombol, dan gosipin artis yang enggak dia banget, Auden malah lupa dengan buku persiapan kuliah yang dia bawa ke Colby.
Karakter Auden ini dekat banget dengan kehidupan remaja. Bikin kita sadar kalau bisa saja selama ini kita justru belum mengenal siapa diri kita sebenarnya. Melainkan, kita sebagai bentukan orang tua. Permasalahan ibu dan anak ini juga yang disorot oleh Sarah di buku ini. Gue suka chemistry antara Auden dan ibunya, juga Auden dan Heidi.
Inti buku ini adalah pencarian jati diri. Termasuk di dalamnya masalah keluarga, sahabat, dan pacar. Siapa sangka kalau Auden malah menemukan teman baiknya di Colby? Juga jatuh cinta pada Eli, yang kalau berangkat dari kaca mata ibunya enggak banget. soalnya Eli ini bukan tipe cowok kutu buku yang suka belajar. Begitu juga teman-teman Auden, yang dipanggil ibunya gerombolan cewek berbikini merah jambu. Meski awalnya menyangkal, Auden malah menyadari kalau dia senang berada di tengah-tengah cewek merah jambu ini.
Satu hal lagi yang gue suka adalah penggambaran latarnya. Sukaaa… benar-benar berasa hawa liburannya. Dan analogi sepeda yang diangkat Sarah. Gue suka kebiasaan remaja Colby yang enggak jauh dari sepeda. Dan hidup itu memang seperti roda sepeda, berputar. Agar bisa terus berputar, kita harus mengayuhnya. Agar enggak jatuh.
Intinya, gue suka novel ini.
Oh salah. gue jatuh cinta sama Along For The Ride.
Fix-lah abis ini harus banget baca buku Sarah lainnya.
Untuk terjemahan, so far gue suka. Kecuali urusan typo yang banyaaaaak banget. Tapi gue pengin mencoba baca tulisan Sarah dalam versi aslinya, untuk melihat cocok enggak ya gue dengan gaya menulis Sarah.
Untuk penyuka young adult, gue saranin untuk membaca buku ini.

Comments

Popular Posts