Review #9 To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han

To All The Boys I've Loved Before
Jenny Han



Dear Lara Jean…
Meet Lara Jean Song Covey. Lara Jean punya kebiasaan untuk menulis love letter kepada cowok yang dia suka. Bukan surat untuk dibaca cowok itu, tapi surat berisi semua perasaannya lalu dia simpan sendiri di dalam hatbox peninggalan ibunya. Total ada lima cowok.
Suatu hari, Lara Jean dibikin bingung ketika Peter Kavinsky, cowok yang pernah ditaksirnya waktu di seventh grade, nunjukin surat itu di hadapannya. Lara Jean bingung kenapa Peter K. bisa punya surat itu. Ketika dia pulang ke rumah, Lara Jean enggak nemuin hatbox itu.
Gimana kalau Peter cuma permulaan?
Benar saja. Josh, tetangga slash teman baiknya slash mantan pacar kakaknya, Margot, yang dia yakin masih saling cinta dan someday they will be reunion again, menunjukkan surat Lara Jean kepadanya. Karena malu, Lara Jean bilang kalau dia dating someone. Dan yang kebetulan lewat di depannya adalah Peter. Lara Jean pun mencium Peter buat meyakini Josh.
Kemudian mereka malah terjebak dalam permainan pretend-to-be-boyfriend-girlfriend. Soalnya Peter juga pengin membuat mantan pacarnya, Genevieve, cemburu. Mereka pun pura-pura sebagai pasangan di sekolah. Ternyata, Kitty, adik Lara Jean malah senang dengan Peter. Peter pun sering main di rumah Lara Jean, dan Lara Jean juga sering hangout bareng teman-teman Peter. Sesuatu yang tanpa sengaja malah membuat Josh cemburu.
Dan akhirnya Lara Jean sadar kalau perasaannya kepada Josh sudah benar-benar berakhir. Dan dia malah benar-benar suka pada Peter.
To all the boys I’ve loved before.
Siapa sih yang enggak kenal Jenny Han? Pecinta young adult pasti pernah dengar nama ini. My bad, gue belum jadi-jadi juga baca trilogi The Summer I Turned Pretty dan entah kenapa enggak tertarik sama Burn With Burn dan Fire With Fire. Tapi ketika pertama kali lihat novel ini. Dammit! Gue langsung tertarik. Simply karena cover dan judulnya yang super catchy.
Jadilah perkenalan pertama gue dengan Jenny Han dimulai dari buku ini.
Dan ini jelas sebuah perkenalan pertama yang sangat memuaskan.
Ceritanya simple. Memang sih enggak sesuai perkiraan awal gue. Awalnya gue berharap ceritanya seputar Lara Jean dan cowok-cowok yang menerima suratnya, enggak kepikiran sama sekali cerita bakaln fokus ke pretend boyfriend and girlfriend ini. Meski masih ada kaitannya dengan surat yang bocor. But me likey.
Gue suka dengan karakter Lara Jean. Karakter anak tengah yang terlalu mengidolakan kakaknya karena dia satu-satunya contoh yang dipunya. Dan ketika Margot pindah ke Scotland buat kuliah, dia jadi clueless karena terpaksa jadi anak pertama dan harus menjaga adiknya, Kitty. Gue suka dengan penggambaran rapuhnya Lara Jean yang suka bingung harus berbuat apa. Dan gimana dia selalu memikirkan Margot saking clueless-nya.
Di cerita ini kelihatan jelas gimana perkembangan karakter Lara Jean. Dia yang selama ini mengikuti apa aja yang dilakukan kakaknya tiba-tiba harus menentukan pilihannya sendiri. Dan dia mulai sering hangout, jalan ke luar enggak cuma mendekam di rumah dan ngelakuin yang selama ini enggak pernah dia lakuin. Tipikal pencarian jati diri di masa remaja. That’s why I love this book so much.
Ngomong-ngomong soal surat, penjelasan soal surat ini juga lucu. Paling lucu ya ketika suratnya bocor ke Lucas yang ternyata gay, he-he-he.
Hubungan Lara Jean dan Peter juga lucu. namanya aja pura-pura tapi karena sering bareng ya perasaan itu beneran muncul. Gue suka Peter. Handsomest boy from the handsome boy at school. Goofy. Humble. Charming. Punya pesona yang bisa menaklukkan anak kecil sampai cewek dewasa. Meski awalnya cuma pengin bikin Genevieve cemburu, selama interaksi dengan Lara Jean dan gimana dia memperlakukan Lara Jean, enggak kelihatan tuh kalau dia pengin Gen cemburu. Malah chemistry dia dan Lara Jean kuat banget. Suka sama pasangan ini.
And I hate Josh. Memang sih dia geeky boy yang ternyata pemikiran dan kesukaannya sama kayak gue tapi enggak suka karena dia chicken. Gimana mungkin dia tiba-tiba suka sama Lara Jean setelah baca surat itu padahal selama ini dia benar-benar memuja Margot? Dan kenapa pula dia marahin Lara Jean karena enggak ngomong jujur dulu. Hellooo…. Gue ngerti kenapa Lara Jean jadi kesal sama Josh.
Selain kisah cinta, gue suka kisah persaudaraan di sini. I love Song sisters. I love Margot yang serasa kayak kakak gue, si pintar tukang ngatur dan sedikit dingin padahal sebenarnya baik dan pengertian. Gue ngerti kenapa Lara Jean ngerasa enggak pernah cukup baik jika dibandingin dengan Margot. Because I feel it too. I’m not good enough rather than my sister. And I love Kitty. Anak Sembilan tahun yang gue harap dia tetap kayak gitu. Dan jangan pernah remehin Kitty karena dia megang peranan penting di sini, hi-hi.
Yang bikin gue makin jejeritan ketika baca buku ini yaitu waktu Jenny nyelipin geeky-item di tengah cerita. Such as jadi Cho Chang dan Harry Potter waktu pesta Halloween di sekolah. Gue enggak bisa nahan ketawa waktu Lara Jean jelasin kalau buku ketiga Harry Potter itu yang paling bagus kepada Peter. Trus ide Josh pengin jadi Khal Drogo pas Halloween. Atau Lara Jean nyaranin nama Gandalf the Grey untuk kucing kepada Kitty. Atau Josh yang ngajak Lara Jean marathon Lord of the Rings. Oh my. This book is sooooo me…
Satu lagi, Jenny Han berhasil menyelipkan identitas dirinya sebagai orang Korea yang tinggal di US dalam buku ini. Lewat karakter Lara Jean yang half Korean jadi beberapa cirri khas orang Korea bisa dibaca di sini. Wondering di buku lainnya Jenny masukin ini juga enggak ya.
(Dan yak, selama baca gue ngebayangin kalau Lara Jean ini Sandara Park yang biar kata udah 30 tahun masih bisalah jadi Lara Jean.)
About ending. sumpah, gue gregetan. Begitu aja? Akkk… I need more. Memang sih pembaca bisa menarik kesimpulan sendiri di ending itu, dan overall gue puas, cuma kalau boleh minta sih ya ada lanjutannya. Semacam masih ada unfinished business gitu di antara mereka. Mungkin Jenny sedang merencanakan buku kedua? Entahlah. Mudah-mudahan.

Buku ini jadi buku pertama setelah sekian lama gue enggak benar-benar into it ke satu buku. I love every part of this book. Jadi enggak sabar baca trilogi Jenny Han yang terkenal itu. Semoga sebagus ini.

Comments

  1. Eh, jangan salah. Buku ini masih ada lanjutannya lho ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts