[Reight Book Club - Review] #1 Slammed - Colleen Hoover

Slammed
Colleen Hoover





Meet Layken Cohen, cewek 18 tahun yang 6 bulan sejak kematian ayahnya diajak pindah ke Ypsilanti oleh ibunya karena bangkrut. Di hari pertamanya di rumah baru ini, Layken yang belum menerima keputusan pindah ini berkenalan dengan tetangga depan rumahnya, Will.
Meet Will Cooper. Cowok 21 tahun yang terpaksa jadi orangtua untuk adiknya, Caulder, di usia 19 tahun karena orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Dia pun bertemu Layken karena adiknya langsung bersahabat dengan Kel, adik Layken, di pertemuan pertama mereka.
Mereka pun pergi kencan ke sebuah klub yang setiap malam ditutup karena diganti dengan pertunjukan puisi slam. Yaitu, orang-orang membawakan puisi yang mereka tulis sendiri, tentang apa saja. Mereka pun sangat menikmati kencan ini. Dan, merasa saling jatuh cinta.
Namun esoknya, ketika Layken masuk sekolah baru di hari pertama, dia kembali bertemu Will. Bedanya, Will adalah gurunya. Dan mereka pun terpaksa menomorsekiankan cinta karena sudah jelas enggak mungkin bersama.
Ini buku pilihan gue untuk dibaca bareng Reight. Kenapa gue milih ini? Karena gue sedang suka-sukanya dengan novel young adult dan Slammed jadi novel yang sering diomongin akhir-akhir ini. Ada dua kubu, kubu yang sukaaaa banget sama buku ini dan kubu yang mencela habis-habisan.
Dan gue menemukan diri gue masuk ke kubu yang suka banget sama novel ini.
Simply because it’s heartwarming and tearjerker.
Gue sudah lama kejebak spoiler dengan twist yang diberikan Colleen karena sudah banyak baca review jadi gue enggak kaget dengan twist itu. Tapi tetap aja nangis, he-he-he.
Gue suka cara Colleen membangun suasana tarik ulur antara Will dan Layken. Kapan Will menjadi Will atau Mr. Cooper, dan kapan Layken menjadi Layken atau Lake, semuanya bener-bener ngegemesin. Sebenarnya, gue agak terganggu dengan penulisan Cinta Terlarang di judul. Toh, Slammed aja udah cukup karena novel ini semuanya tentang puisi slam.
Gue suka setiap tokohnya. Meski agak gemes dengan tingkah Will yang plin plan, gue enggak bisa benci dia. Yang ada malah gue pengin ada di samping Will buat ngepuk-puk dia. Mungkin karena sosok Will yang sangat bertanggungjawab itulah yang bikin poin dia selalu sempurna di mata gue.
Layken pun gue suka, meski agak sedikit gengges seperti heroin pada umumnya. Untungnya gue cuma sekadar suka sama Will, enggak sampai cinta mati, jadi gue masih bisa suka sama Lake (enggak kayak gue yang benci Anna simply karena gue naksir setengah mati sama Etienne), he-he-he. Dan gue suka sikap Lake ketika dia mendapat berita yang sangat mengagetkan. Cara Colleen menggambarkan keputusasaan Lake dan bagaimana Will membantunya itu heartwarming banget.
Gue juga pengin mengukir labu selamanya.
Dua bocah sembilan tahun, Kel dan Caulder, itu lucu banget. Kadang, di balik tingkah konyol mereka yang kekanak-kanakan, mereka bisa terlihat dewasa dibanding orang dewasa sekalipun. Gue jadi pengin memasak basagna untuk Kel biar anak itu enggak sedih.
Jangan lupain Eddie. Sahabat Lake yang juga memberi warna tersendiri di novel ini. Kehadirannya pas, enggak lebay, tapi nempel di otak. Dan, ending bahagia buat Eddie bikin nangis sumpah.
Overall, gue suka novel ini. tapi kesukaan gue sedikit terganggu karena baca terjemahan. Memang, sih, terjemahannya enak, tapi untuk beberapa istilah gue rasa sebaiknya tetap dipakai bahasa Inggris. Seperti ketika Will meledek Lake di awal pertemuan mereka. gue rasa istilah “May The Force Be With You” enggak usah diterjemahinlah ya secara itu udah terkenal banget.
Secara sederhana, premis buku ini bisa kita kaitkan dengan teori Kubler-Rose, Five Stages Of Grief (dan ketika baca buku ini gue terinspirasi untuk bikin artikel five stages of grief saat patah hati di majalah gue. Karena sejak awal kita diajak untuk mengikuti perjalanan Will dan Lake dalam menerima kedukaan mereka melalui lima tahap ini. That’s why I love this book.
Sekarang, gue lanjut ke buku keduanya, Point of Retreat. Masih ada dua kubu di buku ini, dan gue belum tahu akan masuk ke kubu mana. Oh ya, buku kedua ini ditulis dari PoV Will.

General Discussion Questions
1. First Impression
Gue suka kovernya tapi gue enggak suka dengan pilihan judul di Bahasa Indonesia. Kesannya Cinta Terlarang agak gimana gitu, ya. Selain itu, gue prefer judulnya Slammed aja. Memang, sih, bakalan bertanya-tanya apa maksud Slam. That’s why we need to read this book to understand what slammed is, he-he-he.
2. How did you experience the book?
I love it. Ini buku pilihan gue dan gue agak sanksi awalnya, am I made o right choice or not? Ya karena ada dua kubu tadi. Ternyata hasilnya memuaskan. Meski… rasanya akan lebih memuaskan lagi kalau baca bahasa aslinya. But so far terjemahannya bagus, meski untuk beberapa istilahnya baiknya, sih, enggak usah diterjemahin. Karena buku ini gue jadi suka sama tulisannya Colleen Hoover. Apalagi setelah baca buku kedua, Point of Retreat (review menyusul), gue semakin suka. Colleen memang jagonya mengaduk perasaan dengan twist yang hakjleb bingiiittt.
3. Characters
Sebenarnya gue merasa kedua tokoh ini gengges. Will yang plin plan dan lemah hati (halah) dan Lake yang gengges. Tapi, Will dimaafkan karena suka puisi. Me likey. Tapi favorit gue justru Kel dan Caulder. Especially Kel. And his basagna. Asli, dewasa banget ini bocah sembilan tahun.
4. Plot
Maju. Dan terbagi atas dua bagian dengan sub konflik masing-masing tapi masih nyambung.
5.  POV
PoV 1. Lake.
6. Main idea/theme
Idenya tentang seorang cewek yang suka sama tetangganya but the next day she found that boy is her teacher. Mereka pun menyingkirkan perasaan masing-masing. tapi, permasalahan keluarga yang hampir sama membuat mereka tetap dekat. Nothing new sebenarnya tapi masih seru buat diikuti.
7. Quotes
“Bukan ide bagus.”
“Aku hanya ingin mengkukir labu.”
8. Ending
I love the ending.
9. Questions
Ada dua manfaat utama yang gue dapat setelah baca buku ini. Pertama, gue jadi mengenal The Avett Brothers dan dengerin lagunya. Dan gue suka. Jadi dengerin lagu ini mulu, deh. Kedua, soal Slam. Penasaran, ada enggak sih kafe di Jakarta yang ngadain pertunjukan Slam? Kalau ada jadi pengin datengin dan ikut. Pasti seru.
10. Benefits
Gue jadi tahu soal slam which is gue jadi tertarik pengin mendalami slam ini.
 

Comments

Popular Posts