Wednesday, December 25, 2013

[book review] The Cuckoo's Calling by Robert Galbraith

The Cuckoo's Calling
Robert Galbraith

Cormorant Strike, 35 tahun, penuh bulu, gendut, punya kaki 1,5 karena yang setengah lagi diamputasi karena luka sewaktu bertugas di militer, mantan anggota militer yang karena kakinya diamputasi pulang ke London dan membuka bisnis jadi detektif partikelir.
Robin sedang senang-senangnya karena baru aja dilamar pacarnya, Matthew. Plus, dia mendapat pekerjaan sebagai sekretaris temporer di kantor Cormoran. Semangat yang sejak dulu disimpannya bahwa dia tertarik dengan detektif membuat pekerjaan ini terlihat sangat menjanjikan.
Namun Cormoran sedang berada dalam tahap kritis. Dia baru aja putus dari pacarnya, Charlotte, dan terpaksa tinggal di kantor karena enggak punya rumah. Ditambah lagi dia punya banyak utang dan enggak punya duit. Dan dia lupa kalau hari ini akan datang pegawai temporer.
Di tengah-tengah kekacauan hidupnya, Cormoran mendapat klien, John Bristow. John adalah kakak dari Lula Landry, supermodel yang meninggal karena dugaan bunuh diri melompat dari jendela flatnya. Tapi John yakin Lula dibunuh dan dia membayar Cormoran untuk menyelidiki pembunuhan ini. dibantu Robin, Cormoran pun terlibat petualangan membongkar pembunuh Lula dan cara mengatasi masalah keuangannya.
I love this book.
Buku yang terbit dengan nama penulis Robert Galbraith yang sebenarnya adalah JK Rowling ini sempat bikin heboh karena tiba-tiba aja Rowling muncul dengan novel detektif dan nama pena. Dalam waktu singkat terjemahannya pun terbit dan rights dipegang oleh Gramedia. Gue beruntung bisa baca novel ini sebelum diedarkan karena datang liputan launching dan dapat bukunya buat kantor tapi bisa minjem dulu, he-he-he.
Oke.
Sebenarnya, ini bukan buku genre gue. Yeah you knowlah genre gue apa, he-he-he. Tapi berhubung nama besar Rowling yang menjanjikan banget dengan serial Harry Potter dan review yang gue baca di New York Times yang bilang buku ini jauh lebih bagus dari The Casual Vacancy (gue enggak baca btw) jadilah gue baca buku setebal 500-an halaman ini. Selesai dalam waktu 3 hari. Sebuah pencapaian buat gue yang akhir-akhir ini mengalami degradasi kecepatan membaca, he-he-he.
There’s nothing new in this book. Mengambil setting modern, yaitu London di masa kini, Rowling tetap setia dengan teknik penyelesaian kasus secara deduktif ala-ala detektif tradisional. Namun, hal ini yang bikin gue suka dan betah membaca. Gue lebih suka teknik penyelesaian masalah secara tradisional ini ketimbang detektif gradakan ala-ala film Hollywood yang serba instan, he-he-he.
I love Rowling. Cara penulisannya. Somehow ngingetin gue sama Tolkien. Maksudnya, awalnya kita diajak untung senang-senang tanpa kepikiran there is something big di halaman berikutnya. Buku ini juga begitu. Awalnya kita diajak merasakan kebahagiaan Robin setelah dilamar. Dan, teknik pembuka cerita seperti ini udah jadi ciri khas Rowling banget. Dan buku ini page turning abis.
And this book is full of detail. Sumpah, detail banget. And me likey. Kita diajak keliling London mencari pembunuh Lula. Kita diajak merasakan kegetiran Cormoran yang enggak punya duit. Kita diajak merasakan nyeri di kaki prostetik Cormoran setelah dipaksa seharian keliling London. Pokoknya, serasa berada di London beneran, deh, sumpah.
Yang bikin gue kesel mungkin tebakan gue salah, he-he-he. Sejak awal gue punya dua nama yang udah gue pikir salah satu di antara mereka adalah pembunuhnya. Sampai dua per tiga akhir gue masih memikirkan dua nama ini. Sempat sih muncul satu nama tapi enggak mungkin banget. Begitu seperempat akhir, dua tebakan gue salah besar. Dan, jeng jeng jeng, yang enggak disangka-sangka muncul sebagai pembunuh.
Gue rasa kecintaan gue sama Sherlock dan Benedict udah bikin gue pinteran dikit enggak ketipu sama cerita detektif-detektifan ini. Ternyata gue kecele, he-he-he.
Gue baca terjemahan dan gue enjoy kok. Nice job, Mbak Siska (abis ini terjemahin The Silmarillion ya, mbak, he-he-he. Tetep usaha setelah pas launching juga ngejar pertanyaan yang sama ha-ha-ha). Dan  terjemahan yang asyik ini juga yang bikin gue betah baca.
Kalau ada hal yang gue benci mungkin itu Charlotte. Sumpah, gue benci sama tokoh ini.

Dan, yang bikin gue excited, kabarnya kisah Cormoran akan dijadikan serial. Hoooorraayyy… Moga-moga di seri selanjutnya Robin putus sama Matthew dan jadian sama Cormoran aja, ha-ha-ha.