Sunday, October 27, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #42 Selamat Datang, Cinta oleh Odet Rahmawati

Selamat Datang, Cinta
Odet Rahmawati



Alona (subjektif, I hate that name) udah lima tahun tinggal sendiri karena orangtuanya meninggal dan tiga tahun terakhir ditinggalin pacarnya, Galih. Suatu hari Alona mendapat kabar kalau sahabat baiknya sejak kecil, Bastian, kabur dari rumah karena berantem dengan orangtuanya. Akhirnya Bastian tinggal di rumah Alona.
Bastian struggling dengan masalahnya sendiri.
Alona pun struggling dengan masalah patah hatinya dan kenangan bersama Galih.
Orangtua Bastian datang ke Yogya. Masalahnya selesai.
Alona mendapat kiriman surat Galih. Masalahnya selesai.
Bastian bersikeras tetap tinggal di Yogya karena cinta sama Alona. Dan, semua masalah selesai.
Sesederhana itu? Yup.
Ini karya debut Odet Rahmawati, seseorang yang selama ini sering gue lihat di timeline dan event-event nulis yang diadain Mbak Wangi dan Mas Momo. Meski enggak kenal langsung, senang juga, sih, tahu karyanya akhirnya diterbitin.
Gue pertama tahu novel ini dari obrolan ngalor ngidul sama Adit. Celetukan awalnya Adit yang bilang, “If, cek kover Gagas sekarang, deh. Susane Colasanti wannabe.” Dan, ngeceklah gue. Akhirnya gue bertemu kover ini dan Tears in Heaven. Komentar pertama gue setuju sama Adit, Susane Colasanti abis alias tone yang dipakai mirip kover novel luar. Mungkin Gagas ingin mencoba something new biar novelnya tetap stand out dibanding novel lain. Manis, sih, tapi gue enggak ngerasa feel Gagas-nya.
Forget about that cover. What about the story? Okay, let me elaborate this.
1.      Main theme. I don’t get what the main theme is. Sahabat jadi cinta aka friendzone-kah? Trying to move on-kah? Or maybe something else? Sepertinya, sih, sahabat jadi cinta. Masalahnya, pengalaman gue baca buku ini adalah seperti dua cerita berdiri sendiri tanpa irisan yang mengikat. Ya Bastian dengan masalah keluarganya. Ya Alona (really, I hate that name) dengan masalah patah hatinya. Diceritakan mereka bersahabat, tapi gue enggak menangkap unsur persahabatan itu. Semata Bastian cuma numpang tinggal. Enggak sekalipun Alona membantu Bastian menyelesaikan masalahnya. Bahkan Alona enggak tahu apa-apa (dan tiba-tiba menjelang akhir Alona tahu aja gitu. Kapan Bastian ngasih tahu Alona? Jangan-jangan ni cewek cenayang). Irisan baru ada ketika orangtua Bastian balik ke Jakarta dan tiba-tiba aja mereka sadar sudah jatuh cinta. Come on, mana tanda-tandanya? Mungkin maksud Odet adalah agar cerita enggak terlalu ketebak, tapi sayang banget Odet terlalu asyik menyoroti kedua masalah mereka dan sama-sama menjadikan kedua masalah itu sebagai spotlight sehingga akhirnya ikatan yang seharusnya mengikat mereka malah longgar banget. Makanya gue bingung main theme-nya apa. Di awal kita diajak mengikuti permasalahan keluarga Bastian yang harusnya enggak terlalu jadi spotlight. Saran ya, sebaiknya sejak awal ada clue cinta Bastian-Alona dan mengurangi sedikit aja masalah keluarga ini. Biar enggak kayak dua cerita berdiri sendiri.
2.       Odet jago banget narasi. Tapi, sepertinya lagi-lagi Odet kecele. Keseringan narasi tanpa mendeskripsiin apa-apa bikin novel ini jadi datar. Plus, minim dialog. Coba, ya, narasi yang panjang lebar itu dijadiin dialog, bisa bikin pace novel makin tegang dan tentunya menimbulkan chemistry antara tokoh. Karena narasi yang ada cuma bikin kita komentar, ‘oh begitu’ but we can’t feel it. We can’t related to them.
3.      Masih berhubungan dengan poin di atas. Gue kurang sreg ketika Odet di tengah-tengah narasi membahasakan jadi kita. Mungkin maksudnya untuk membuat pembaca engage sama cerita. Tapi, yang ada bikin gue serasa baca artikel di majalah. Serasa dikuliahi. Dan, kemampuan narasi ini sayangnya enggak dipakai ketika mendeskripsikan tempat, contohnya Pantai Indrayani dan alun-alun yang ada pohon beringin yang kita harus lewatin sambil tutup mata itu. Sorry, Det, gue serasa baca brosur perjalanan wisata. Oh, gue juga serasa baca text book kuliah gue ketika Odet nulis tentang pola komunikasi kota-desa. Ya itu tadi, karena membahasakan pake kita. Komentar untuk part paling akhir. Awalnya pake aku, trus dua kalimat akhir kecele pake PoV 3. Piye, tho?
4.      Dialog. Actually, gue suka dialog kata-kataan Bastian-Alona. Menunjukkan kedekatan mereka. Sayang sesayang-sayangnya, kenapa dikit banget, sih? Coba, ya, itu diperbanyak. Gue yakin akan lebih dapat chemistry-nya. Tapi… dialog Bastian dan orangtuanya terasa kurang cowok, ih.
5.      Karakter. Well, gue enggak suka sama kedua tokoh. Bastian simply karena dia kekanak-kanakan banget dan detail kecil yang diberikan Odet bukannya menaikkan simpati pembaca sama cowok ini, malah makin drop. Manja banget. Kekanak-kanakan parah. Dan Alona pun gengges menurut gue. Iya, sih, dia paling enggak mau mengurusi urusan orang lain, tapi ya masa Bastian kabur dari rumah dan orangtuanya udah khawatir banget gitu tapi enggak ditanya ada masalah apa sebenarnya? (Atau ada ditanya dan gue yang siwer? Please yang tahu, jawab ya. Mungkin aja gue salah).
6.      Twist. Apa-apaan itu twist soal Keyshia? Selain enggak penting menurut gue, juga ganggu.
7.      Bahasa mendayu-dayu. Subjektif di gue yang lebih suka bahasa yang lugas. But, like I said before, I like dialog between Bastian and Alona. Dan… Bastian serta Galih kerasa kayak cewek. Maksudnya, bahasanya kurang cowok aja.
8.      Gue enggak sreg dengan alasan putus Alona dan Galih. Come on, kalau mau bohong mbok ya yang bombastis sekalian. Jangan yang mengada-ada dan bikin rolling eyes pas baca. Soalnya, Alona ini diceritain udah dekat banget sama Galih dan keluarganya dan mau aja gitu dibohongin? Plus, Galih juga cemen. Terkait ke poin nomor enam, bukti makin cemennya dia.
9.      Catatan buat editor. Gue rasa banyak penempatan tanda baca yang aneh di sini. Dan, kata kurang efektif. Gue rasa semua orang juga udah tahu kali, ya, gitar itu bagian dari alat musik. Enggak perlulah berkali-kali ditulis alat musik gitar, pffttt…
Overall, sebagai novel debut, sorry to say, gue kurang puas dengan ini. Tapi, gue tetap menunggu novel Odet selanjutnya. Karena gue ingat pernah suka cerpen-cerpennya. Keep writing, Odet.


Saturday, October 26, 2013

{Book Review] The Statistical Probability Love At First Sight by Jennifer E Smith

The Statistical Probability Love At First Sight
Jennifer E Smith



Empat menit yang mengubah segalanya.
Hadley Sullivan hanya terlambat empat menit yang mengakibatkan dia ketinggalan pesawat yang seharusnya membawanya ke Inggris untuk menjadi bridesmaid di pernikahan ayahnya dengan Charlotte aka The British Woman yang belum pernah ditemuinya. Hadley merasa berat untuk datang ke pernikahan ini karena dia masih belum bisa menerima keputusan ayahnya yang meninggalkan dia dan ibunya karena jatuh cinta sama perempuan Inggris ketika bertugas di Oxford.
Di bandara, Hadley yang kesulitan membawa koper akhirnya dibantu seorang cowok-berlogat-Inggris-dan-sedang-baca-buku-Dickens. Perkenalan mereka pun berlanjut karena duduk di row yang sama di pesawat. Mereka mengobrol apa saja. Anehnya, Hadley dengan leluasa menceritakan masalah keluarganya dan kebenciannya kepada Dad and that British woman. Oliver pun mendengarkan semua cerita Hadley, sedikit berkomentar, dan bercerita tentang dirinya. Juga alasan kenapa dia pulang ke Inggris yang diasumsikan Hadley menghadiri pernikahan juga dan masalah keluarga Oliver.
Ketika akhirnya sampai di Heathrow, mereka pun harus berpisah. Dan, Hadley merasa enggak rela.
Finally I read this book. Yeaii… setelah sekian lama cuma terdaftar di wishlist gue. Buku ini adalah karya Jennifer E Smith pertama yang gue baca dan sebenarnya sudah diterjemahin. Tapi, gue enggak setuju dengan keputusan Qanita membabat judulnya jadi Love at First Sight doang. Soalnya, jadi kehilangan makna aja judulnya. Dan, bikin pembaca mikir ceritanya tentang cewek dan cowok yang jatuh cinta di pandangan pertama. Padahal, ceritanya lebih kompleks dari itu.
Ketimbang unsur romance, sebenarnya fokus utama buku ini adalah masalah Hadley dan ayahnya. Juga, membuat kita mengerti kalau semua yang udah terjadi itu harus diikhlaskan. Percuma marah atau menyesal, cuma bikin sesak.
Gue suka cara Jennifer menggambarkan hubungan Hadley dan ayahnya melalui cuplikan-cuplikan flashback yang hadir di sepanjang cerita. Jadi, cerita ini hanya berlangsung satu hari, tapi kita diajak untuk lebih mengenal tokoh melalui flashback yang menyebar dari awal hingga akhir. Perpindahannya smooth banget dan bikin enjoy karena kadang gue suka terganggu dengan banyaknya flashback. Karena flashback ini juga akhirnya gue bisa ikut belajar ikhlas dengan keputusan ayah Hadley.
Gue juga suka karakter Hadley. Apalagi waktu Hadley tiba-tiba pergi ke Paddington untuk mencari Oliver berbekal uang seadanya dan ingatan kalau Oliver pernah bilang dia mau ke gereja yang di depannya ada Statue Mary. Man, susah kali nyarinya. Apalagi Hadley baru pertama kali ke London. But she did it. Mereka bertemu. Dan, gue suka Oliver di sini. Emosinya yang terpendam. Dan, di balik emosi itu ada rasa sayang pada ayahnya. Hal yang membuat Hadley nantinya juga berdamai dengan ayahnya.
Dan endingnya. Duh, enggak ada yang lebih manis dibanding ini. Oliver-tanpa-nama-belakang sukses jadi salah satu kandidat book boyfriend gue tahun ini. Gue suka dia yang sederhana, suka baca buku, orang Inggris, pendengar setia, dan lucu. Kombo yang sempurna buat bikin cewek jatuh cinta.
Gue suka interaksi Hadley dan Oliver. Obrolan absurd mereka. Juga Oliver yang suka berkomentar enggak jelas, seperti ketika ditanya kuliah apa jawabnya malah mempelajari tingkat ketidaksukaan seseorang terhadap mayonais di burger. Kocak banget, hehehe.
Bandara memang sebuah tempat persinggahan. Kita enggak pernah tahu ada cerita apa yang menanti di sana. Gue selalu suka cerita berlatar bandara dan pesawat. Ketika kita ada di atas pesawat, we have noting to run or nothing to go. Stuck in that moment. Dan, dengan ada teman seperjalanan yang asyik, maka stuck bisa jadi lebih menyenangkan ketimbang berada di tempat yang menyediakan banyak pintu untuk pergi. Gue sering berkhayal, setiap kali di bandara, sekali aja gue punya cerita seperti di buku yang gue baca atau film yang gue tonton. Setiap kali berada di bandara, otak gue enggak bisa dicegah membuat berbagai kemungkinan skenario yang hasilnya sampai sekarang belum berhasil. *sigh*
Back to this book. Siapa yang bisa menduga kalau empat menit bisa mengubah sekian banyak nasib? Baca buku ini bikin gue percaya kalau orang yang enggak sengaja kita temui bisa saja mengubah hidup kita. Everyone whose path our cross in life has the power to change us—everything. Sometimes in small ways, sometimes in ways greater than our known. Just like what happened between Hadley and Oliver and their dads.
Intinya, gue suka banget buku ini. dan, gue suka banget sama Oliver.
“You know what they say,” Dad said. “If you love something, set it free.”“What if he doesn’t come back?”“Some things do, some things don’t,” he said, reaching over to tweak her nose. “I’ll always come back to you anyway.”“You don’t light up,” Hadley pointed out, but Dad only smiled.“I do when I’m with you.”
Percakapan Hadley dan ayahnya waktu dia kecil yang menggiring Hadley ke keikhlasannya menerima pernikahan ayahnya dan Charlotte di masa sekarang.
“What are you really studying?”He leans back to look at her. “The statistical probability love at first sight.”“Very funny,” she says. “What is it really?”“I’m serious.”“I don’t believe you.”He laughs, then lowers his mouth so that it’s close to her ear. “People who meet in airports are seventy-two percent more likely to fall for each other than people who meet anywhere else.”“You’re ridiculous,” she says, resting her head on his shoulder. “Has anyone ever told you that?”“You, actually. About a thousand times today.”“Well, today’s almost over.” Hadley says, glancing at the gold-trimmed clock on the other side of the room. “Only four minutes. It’s eleven fifty-six.”“That means we met twenty hours ago.”“Seems like it’s been longer.”Oliver smiles. “Did you know that people who met at least three times within a twenty-four hour period are ninety-eight percent more likely to meet again?”This time she doesn’t bother correcting him. Just this once, she’d like to believe that he’s right.
Salah satu bukti keunyuan Oliver dan Hadley.
Dan dengan buku ini gue memutuskan akan baca buku Jennifer yang lain. I like her writing. Meski PoV 3, gue enjoy karena spotlight terjaga di Hadley dari awal sampai akhir. Dan, gue nemuin banyak persamaan gaya nulis dia dan gue, termasuk dalam nyelipin dan nulis flashback.



Friday, October 25, 2013

{Indonesian Romance Reading Challenge] #41 All You Can Eat by Christian Simamora

All You Can Eat
Christian Simamora



Sarah patah hati karena kejujuran pacarnya Rifat yang enggak sengaja selingkuh sama instruktur yoga mereka. Sarah yang butuh suasana baru untuk meredakan patah hati sekaligus nyelesaiin skenario film yang tengah digarapnya memutuskan liburan ke Ubud. Dan menginap di villa Vimana kepunyaan sahabatnya, Anye.
Tanpa disengaja, Sarah bertemu Jandro di sana. Dalam keadaan yang enggak mengenakkan. Jandro ini adiknya Anye, yang mengambil cuti karena ingin meredakan patah hati setelah memutuskan pacarnya, Nuna, yang lebih memilih tunangan yang dijodohkan orangtuanya.
Dua orang patah hati bertemu di Ubud. Masalahnya, Sarah ini cinta pertama Jandro waktu SMP.
Dan kata orang cinta pertama enggak pernah mati.
Bisa dibilang tema utamanya adalah cinta lama bersemi kembali. Bedanya, kali ini ditambah bumbu si cewek lebih tua.
Buat penyuka novel, nama besar Christian Simamora sudah jadi jaminanlah ya. Penulis sekaligus editor kece yang bukunya selalu ditunggu-tunggu. Ketika teaser AYCE muncul, gue udah penasaran karena embel-embel si cewek lebih tua. I think, finally there is a story about a cougar from Indonesia. Ternyata, bedanya cuma tujuh tahun. Dan cowoknya udah berusia 20an awal. Meh, buyar sudah bayangan nemuin cerita cougar slash panas ala bang Chris ini.
Forget it, kita fokus ke cerita aja, hehehe.
Gue udah suka sama tulisan bang Chris sejak Pillow Talk. Heck, I love it so much. Saking sukanya cerita Emi dan Jo masih nempel di otak gue. Sayangnya, cerita Jethro dan si-cewek-yang-gue-lupa-namanya-tapi-gengges-abis di Good Fight enggak senendang Pillow Talk buat gue. I love Emi and Jo. Dan, ketika tahu ada AYCE, gue berharap ceritanya bakal senendang Pillow Talk.
Meski better than Good Fight, I prefer Pillow Talk. Bahasanya, sih, masih sama. Lugas dan lucu. Tapi, ceritanya terlalu bertele-tele menurut gue. Dan karakternya, alias Sarah, enggak se-lovable Emi, dan Jandro masih kurang seksi dibanding Jo meski si Jandro ini pengusaha sukses dan Jo masih sebatas cungpret.
Yang bikin gue penasaran banget tentu saja soal umur. Dan ketika gue menemukan cuma tujuh tahun, gue jadi enggak semangat lagi. I want a couple like Demi and Ashton or Mariah and Nick or Jennifer and Casper or simply like Rafi and Yuni. Tapi, cuma tujuh tahun. Menurut gue tujuh tahun, di masa sekarang, bukanlah perbedaan yang bisa bikin cewek yang katanya modern banget kayak Sarah jadi kelimpungan banget begitu. Coba lebih jauh lagi, dijamin akan lebih seru dan konfliknya lebih mantap.
Lagipula, gue enggak nemuin karakter Sarah ini kayak cewek 30an. Lebih terasa kayak middle twenties. Kekanak-kanakan banget menurut gue.
Dan Jandro. Oke, ini, sih, simply subjektif. Buat gue cowok yang sukses dengan usahanya sendiri jauh lebih keren ketimbang kaya karena warisan. Dan Jandro kaya, simply because, dia anak orang kaya. Memang, sih, dibilang dia punya ide bagus dan berusaha keras untuk sampai di posisi itu, tapi tetap aja enggak bisa mengubah pola pandang gue terhadap sukses-karena-warisan. My bad, hehehe. Oh, Jandro juga TGTBT which is, sebagai cewek yang baru aja menasbihkan diri sebagai pengikut Niki Lauda yang realistis banget itu, gue enggak suka lagi sama a-so-called-fairytale, dan cowok TGTBT adanya di fairy tale. I need someone real. Like Jo.
Nuna. Justru karakter ini yang menarik perhatian gue. Cewek manja slash bitchy yang punya kekuatan tersendiri untuk terlihat keren. Meski porsinya enggak banyak, tapi kehadirannya nempel banget di otak gue. Kalau boleh request, sih, gue mau porsi Nuna diperbanyak hehehe.
Satu pertanyaan penting gue: sesuatu yang tiba-tiba. Tiba-tiba eyangnya Jandro meninggal dan mereka pulang ke Jakarta dan ketemu eyang yang lain dan ternyata si eyang punya laki brondong. Dang!!! Membuka mata Sarah kalau hubungannya enggak akan berhasil. Memang, sih, cerita si eyang jadi titik balik sikap Sarah dan membuat dia mikirin lagi hubungannya dengan Jandro. Tapi kehadirannya yang tiba-tiba dan enggak ada tanda-tanda sebelumnya bikin gue ngerasa ada yang ngeganjel aja.

Overall, buku ini cukup menghibur—minus adegan panas yang enggak sepanas Good Fight—tapi hanya sebatas menghibur aja. Bagi gue pribadi, this is not Christian Simamora’s masterpiece. Simply because I love Pillow Talk most. But, I can’t wait for another J boyfriend, Bang.

Tuesday, October 22, 2013

[book review] Eleanor and Park by Rainbow Rowell

Eleanor and Park
Rainbow Rowell




Eleanor is a weird girl, kurang percaya diri karena punya tubuh gemuk, freckles di pipi, rambut merah menyala, dan ayah tiri yang membencinya. Pembawaannya yang kurang percaya diri membuat Eleanor memilih untuk sering menyendiri. Belum lagi pakaiannya yang aneh dan mirip cowok bikin dia suka di-bully teman-temannya.
Ketika Eleanor naik bis sekolah menuju sekolah barunya, satu-satunya kursi yang tersisa hanya di sebelah The Stupid Asian Boy, Park Sheridan. Mau enggak mau Eleanor duduk di sana. Selama berhari-hari mereka cuma saling diam-diaman. Park yang somehow bisa dibilang popular boy tahu kalau diam-diam Eleanor suka curi-curi baca komik yang dibawanya—X Men, Watchmen—dan enggak pernah protes. Akhirnya Park malah membiarkan Eleanor baca buku dia. Dan, bahkan berbagi headset walkman serta lagu favorit.
Hebatnya, semuanya dilakukan tanpa bicara apa-apa.
Akhirnya mereka ngobrol, sih. Dan, ketika udah ngobrol dan kebangun chemistry-nya, mereka pun saling berbagi. Mulai dari berbagi buku, musik, cerita keluarga, dan tentu saja cinta.
Korean girl looks cute but Korean guy looks like a girl –Park
Gue baca novel ini karena direkomendasiin Adit. Ketika tahu reviewnya bagus banget, gue pun tertarik baca. Awal-awal baca gue merasa kurang sreg karena gaya menulisnya yang enggak biasa buat gue. Apalagi banyak dialog, which is gue kurang suka sebenarnya. Tapi gue terus membaca and then, Bang!!! Gue pun larut dalam tulisan Rainbow Rowell.
Gue suka karakter-karakternya. Imperfectly perfect. Eleanor dan Park yang sama-sama lovable tanpa perlu digambarkan punya kelebihan fisik yang naudzubillah. Justru dengan apa adanya mereka itulah mereka terlihat lebih realistis dan lovable. Gue gampang terenyuh dengan kisah hidup Eleanor dan mengerti kenapa akhirnya dia jadi tertutup dan enggak percaya diri. Permasalahan khas remaja SMA. Meski berlatar tahun 80-an, permasalahan itu masih related dengan keadaan sekarang.
Dan Park. Berbahagialah Eleanor karena menemukan Park, cowok yang dengan caranya sendiri selalu berusaha membangkitkan rasa percaya diri Eleanor. Berkali-kali dia bilang cinta sama Eleanor meski Eleanor sering enggak percaya dengan itu. Ya maklumlah, Park punya mantan si cantik populer Tina. Jadi, wajar jika Eleanor insecure.
Intinya. I love Eleanor.
I love Park.
I love Park’s parents.
I hate Richie, Eleanor’s stepdad.
Karakter pendukungnya juga keren dan hadir dalam porsi yang pas. Dan, siapapun yang baca buku ini pasti akan mupeng karena pengin punya keluarga terutama orangtua seperti Park. Apalagi ayahnya. Best daddy ever.
Memang, sih, permasalahan yang dihadirkan cukup kompleks, tapi buku ini engaging banget. Tahu-tahu udah nangis aja di beberapa bagian, dan bagian lain malah senyum-senyum mupeng. Baca buku ini siap-siap aja seperti dibawa naik rollercoaster perasaannya.
Kelebihan lain buku ini adalah endingnya yang realistis. Satu sisi hati gue sebenarnya enggak rela karena ending itu enggak adil buat Park. Tapi setelah gue berpikir ejrnih, justru inilah penyelesaian paling adil buat mereka. Life must go on. Meski harus sedih dan nangis, but in the end they can live happily ever after. In their own way.
I love it.
Dan, sebagai anak lama gue merasa enggak keberatan mengikuti musik yang tren tahun 1980-an, haha.
Meski bukan tipikal gaya tulisan kesukaan gue, bukan berarti gue akan berhenti membaca tulisannya. Buku ini bikin gue sadar kalau udah lama gue terjebak di gaya menulis yang itu-itu aja. Nyaman, sih, tapi, kan, kita harus mencoba gaya lain. Thank you Rainbow Rowell.

Friday, October 11, 2013

[Indonesia Romance Reading Challenge] #40 Andai Kau Tahu by Dahlian

Andai Kau Tahu
Dahlian


Tania, si manja yang merasa hanya mencintai pacarnya si musisi kere Hendrik, kabur dari rumah karena ingin dijodohkan oleh ayahnya dengan anak sahabat sang ayah. Tania yang membenci dokter karena papanya yang dokter terlalu sibuk dan enggak pernah ada waktu untuknya, bahkan ketika ibunya meninggal, membuat Tania menolak perjodohan itu. Apalagi karena jodohnya adalah dokter. Dan, alasan sang ayah adalah agar ada nanti yang mengelola rumah sakit peninggalan kakeknya.
Awalnya Tania tinggal bareng pacarnya Hendrik. Tapi ketika tahu Hendrik selingkuh dan Tania sudah kehabisan uang karena semua kartu kredit dan ATM diblokir ayahnya, Tania memutuskan untuk menjual kalung peninggalan ibunya. Saat itu dia enggak sengaja bertemu Reza yang beberapa malam sebelumnya menabraknya. Tania minta ganti rugi memperbaiki mobilnya dengan meminta tempat tinggal. Akhirnya Reza mengajak Tania ke apartemennya.
Tindakan Reza bukan karena dia bisa dibodoh-bodohi oleh ancaman Tania karena kecelakaan itu, tapi karena dia tahu siapa Tania, cewek yang dijodohkan dengannya oleh ornagtuanya. Dan, atas izin ayah Tania, Reza pun menjaga Tania.
And the rest of history.
Memang, sih, Neruda udah berbusa-busa bilang there is nothing new under the sun. Formula kayak gini memang udah familiar banget. Cewek dijodohin-menolak mentah-mentah-lalu malah jatuh cinta enggak sengaja. But in this book I can’t find something new. Anything. Benar-benar ketebak dari awal akan berakhir bagaimana.
Minimal sampai dua tahun lalu, gue akan klepek-klepek dengan cowok-cowok ciptaan Dahlian. Let’s say Daniel, Roy, dan yah gue lupa yang di The Pilot’s Woman sama Promises, Promises. But not now. Yang ada gue geuleuh dengan romantisme berlebihan yang diberikan Reza. Harusnya gue sudah antisipasi hal ini, secara gue baca hampir semua buku Dahlian dan udah hafal formulanya. Tapi, seiring pertambahan usia, gue udah eneg sama romantisme berlebihan yang sama sekali enggak real. Bolehlah dulu gue mupeng begitu baca Baby Proposal di mana Daniel merayakan ulang tahun Karina dengan mengajaknya naik helicopter ke Bandung lalu candle light dinner di atas atap gedung hotel kepunyaan Daniel. Ketika baca sekarang, gue yakin cuma akan berkomentar satu kata. Meh.
Okay, back to this book. Seharusnya gue sudah mengantisipasi kehadiran romantisme berlebihan itu, tapi pas baca tetap saja gue enggak bisa menahan diri buat enggak rolling eyes. And, again, birthday. In the middle of the night. In the middle of candles. With pick up line who oh so….. entahlah, terlalu manis, enggak terasa real. Mungkin karena akhir-akhir ini gue banyak baca cerita romance yang walaupun judulnya romance tapi enggak mengumbar romantisme berlebihan yang enggak real. I need something real. Yang buat gue related dengan isi cerita.
Enough about that. Character. Oke, harus diakui kalau di sini Dahlian jago banget penggambaran karakternya. Memang, sih, Reza oh-so-perfect-and-please-God-he’s-too-good-to-be-true yang udah kaya, tajir, tinggi plus badan bagus, dokter lagi. Tapi OCD yang dimilikinya bikin Reza somehow masih kayak manusia, bukan dewa yang turun ke bumi. Gue suka dengan sikap nyebelin Reza. Dan, ya, dia dokter. Dan, ya, jangan salahin gue kalau ngebandingin dia dengan dokter-ganteng-berlidah-tajam-tapi-sebenarnya-oh-so-sweet lainnya aka Beno Wicaksono. Ya, lumayan sebandinglah.
And what about the heroine? Tania bukan karakter yang bisa bikin gue simpati. Manja, suka tantrum, gaje, snobbish, impulsif, dan bodoh. Literally bodoh. Cantik, sih, tapi apa kelebihan dia yang lain, yang bisa bikin dokter keren semacam Reza bisa jatuh cinta itu gue enggak dapet. Gue berharap ada perkembangan karakter Tania di belakang, tapi enggak ada. Gue berharap Reza seenggaknya bikin Tania bisa bertanggungjawab atau mendukung Tania mencari jati dirinya or at least kuliahlah di jurusan yang dia mau. Reza bilang kalau Hendrik cuma nafsu sama Tania, lalu dia apa? Karena yang gue tangkap, Reza cuma tertarik karena fisik Tania. Terlalu dangkal untuk dokter sekeren Reza.
Tapi, terlepas dari semua itu, gaya menulis Dahlian yang mengalir enak dibaca jadi daya tarik buku ini kenapa gue bisa membaca sampai akhir, mengingat gue udah hilang simpati sama Tania. Gue suka cara Dahlian membangun chemistry dengan dialog-dialog lucunya. Cuma… beberapa narasi yang bikin gue terganggu, seperti penempatan bibir indah di mana-mana, pundak indah, and so on and so on. Bahkan gue enggak bisa menahan diri buat enggak rolling eyes ketika baca ini.
Di bawah penerangan lampu jalan, Reza mengobservasi gadis di hadapannya dengan cepat. Tak ada luka ataupun memar di wajah cantiknya. Reza menurunkan pandangan ke leher indah gadis itu yang diganungi berlian—juga tampak baik-baik saja. pundak mulus yang terbuka, dan lengan langsingnya yang bebas memar dan luka. Reza menurunkan pandangan lebih jauh, ke kaki jenjang yang terbungkus heels—kening Reza berkerut—yang amat tinggi. Seperti bagian tubuh yang lain, kaki indah itu juga tampak baik-baik saja.
Masalahnya itu kejadiannya tengah malam, ketika abis kecelakaan, dan Reza buru-buru harus ke rumah sakit karena ada pasien yang harus ditangani. Tapi, sempat-sempatnya meneliti sedetail itu? Oh my…
Dan, penjelasan tindakan medis yang bikin gue serasa baca text book.
Oh, plusnya adalah di sini pekerjaan Reza sebagai dokter bukan hanya sekadar tempelan. Me likey.

Gue tahu kualitas seorang Dahlian, jadi rasanya sayang aja jika Dahlian terus-terusan menulis cerita dengan formula seperti ini. Come on, Dahlian, make something different.

Tuesday, October 8, 2013

[Book Review} Losing It by Cora Carmack

Losing It
Cora Carmack


PS: Penggambaran Garrick di cover ini bikin melting. Gantengnya total banget, hihi.


Bliss Edwards merasa cupu karena di semester terakhir kuliah masih saja virgin. Karena itulah, ketika sahabatnya Kelsey memaksa untuk ikut ke klub, Bliss memutuskan untuk melakukan one night stand. Ketika di klub, Bliss tertarik sama seorang cowok yang duduk sendiri sambil baca buku Shakespeare. Refleks Bliis ngajak cowok itu ngobrol. Finally, mereka pulang ke apartemen Bliss dan make out. Tapi, Bliss tiba-tiba dilanda ragu dan sebelum mereka sempat ngapa-ngapain, Bliss dengan alasan yang enggak masuk akal ninggalin cowok itu.
Naked.
In her bed.
Trololololollll
Dan…. Besoknya, dia malah ketemu cowok itu lagi. Di kampus. Which is, itu adalah dosen barunya.
Please izinin gue buat ngakak lagi. Asli ini buku dari awal sampai akhir bikin ketawa.
Ini pengalaman pertama gue baca buku genre new adult sampai akhir. Sebelumnya, gue pernah baca 50 Shades of Grey yang katanya jadi pelopor genre baru ini, tapi end up dengan gue menghapus file buku itu—karena gue punya ebook—saking emosinya sama buku itu. Tapi itu enggak bikin gue kapok. Apalagi review mengatakan Cora Carmack jauh jauh jauh lebih well written ketimbang 50SoG.
Dan gue setuju. Buku ini jauuuuuhhh… lebih keren. Harusnya Cora Carmack yang jadi ratu new adult.
Anyway, sebelum review gue mau jelasin dulu apa itu new adult. Ini genre baru di dunia literasi. Kehadirannya jadi semacam jembatan gitu antara young adult dan adult. Sepemahaman gue, new adult dulunya masuk ke young adult tapi sekarang enggak bisa lagi. New adult ini sendiri memasang usia 20an awal, sekitar kuliahan dan kerja awal, usia ketika seseorang lepas dari masa young adult dan belum masuk usia adult. Ciri khas new adult, katanya sih, exploring sexuality gitu. Secara ini genre bikinan orang luar ya, maka wajar-wajar aja, sih. Karena YA umumnya enggak mikirin seksualitas sedangkan adult udah expert. Masa-masa NA ini pacarannya pun bukan sekadar cium-ciuman lagi, biasanya gitu. Dan, permasalahannya pun lebih kompleks dari YA tapi enggak sekompleks adult.
When I read this genre, gue langsung ngerasa related. Karena usia gue sekarang udah masuk NA. Makanya ketika tahu ada genre ini gue senang. Akhirnya ada juga buku yang cocok dengan usia gue karena kadang gue merasa ketuaan buat baca YA dan kemudaan buat menjelajah adult, hehehe.
Back to this book. Kesan pertama: buku ini bikin sakit perut karena kocak banget. Bayangin aja gimana awkward-nya Bliss pas ketemu Garrick di kampus, tepatnya di ruang kelas, which is beberapa jam sebelumnya Garrick telanjang di kamarnya, hehehe.
Gue suka buku ini, terlepas dari covernya yang provokatif banget. Ceritanya simple, dengan permasalahan yang sedikit kompleks dibanding YA. Gue suka kegelisahan Bliss yang masih aja jomblo ketika mau lulus because I felt it too. Dan nasihat nyokap Bliss kalau kuliah itu saat yang tepat nyari jodoh tepat banget karena ketika udah kerja makin susah. Pun ketika Bliss bingung nentuin masa depannya abis lulus, antara lanjut kerja sesuai jurusannya, teater, atau ngambil kerjaan yang settle? Ini mah permasalahan umum dan related banget sama orang-orang seusia NA ini.
Gue juga suka karakter-karakternya. Dosen teater dari Inggris? Yang apartemennya banyak buku? Yang enggak egois, manis, dan susah banget buat ditolak? I love Garrick Taylor. Enough said.
Dan Bliss juga lovable. Gue ingat alasan dia ketakutan pas tahu Garrick adalah dosennya, Bukan karena dia takut ketahuan sama teman-teman atau pihak kampus—itu juga sih—tapi jauh dalam hati dia takut enggak bisa nahan diri pas kuliah dan tiba-tiba aja ngelompat ke tubuh Garrick. Damn, it’s so natural. Realistis. Dan bikin gue manggut-manggut setuju.
Dan gue suka endingnya yang manis banget. Bikin gue makin jatuh cinta sama Garrick.
Intinya, pengalaman gue baca Cora Carmack sangat sangat sangat memuaskan. Buat yang mau mengenal genre New Adult, gue rekomendasiin baca ini.