Thursday, May 30, 2013

[Story] Some Cosmic Coincidence

Some Cosmic Coincidence
(Ifnur Hikmah)

Cerita bersetting conveyor belt di bandara samberan dari cerita Mbak Wangi.

Nora menguap lebar bersamaan dengan pesawat yang mendarat dengan kasarnya. Dia nyaris terlonjak dari seat yang dididukinya kalau saja pria dengan lengan dipenuhi tato yang duduk di sebelahnya selama perjalanan Singapura-Jakarta tidak menahannya.
“Makanya, jangan melepas seatbelt sebelum disuruh.” Belum sempat Nora menggumamkan terima kasih, pria itu sudah menceramahinya.
Nora hanya bisa cemberut dan selama lima menit berikutnya, diselingi keriuhan yang mendadak muncul di kabin pesawat akibat penumpang yang sudah tidak sabar keluar dari pesawat ini, pria itu terus menceramahinya tentang tindakan Nora.
Seperti halnya yang selalu dilakukannya lima hari terakhir ini.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, Nora hanya mendengarnya sambil lalu.
Pria itu, Daniel. Sahabat kakaknya yang beberapa tahun terakhir telah menjadi sahabat baik Nora karena sama-sama menyukai pantai. Daniel si petualang, itulah julukan yang diberikan Nora karena keengganan Daniel untuk menetap di suatu tempat dalam waktu yang lama. Dan bersama Daniel, mereka menjadi sepasang travel-mate yang tidak terpisahkan.
Travel mate yang perlahan mulai menimbulkan gejolak lain di hatinya.
Date a boy who travel. Artikel di Huffington Post yang dibaca Nora membuat dia semakin yakin bahwa tidak ada yang salah dengan mencintai si petulang. Kesalahannya hanyalah mencintai dalam diam. Bagi Nora, mengikuti setiap ajakan travelling Daniel sudah lebih dari cukup untuk membuatnya membuktikan cinta.
“Yuk, turun.”
Ucapan Daniel menyentak lamunan Nora. Perempuan itu segera bangkit berdiri dan mendahului Daniel keluar dari baris seat-nya. Daniel mempersilakan Nora berjalan di hadapannya hingga mereka keluar dari kabin pesawat diiringi ucapan terima kasih tanpa henti dari pramugari yang berjejer di pintu pesawat.
Udara Jakarta yang gerah menyambutnya. Berbeda dengan udara panas tapi bersih yang dirasakannya selama di Singapura.
“Nolan jadi jemput?” tanya Daniel ketika mereka berjalan menuju conveyor belt.
Nora berhenti melangkah dan menunggu Daniel yang tengah mengambil troli. “Katanya gitu. Tapi aku sanksi dia udah bangun jam segini.”
“Aku anterin kamu aja kalau gitu. Kebetulan aku ada urusan sama Nolan. Biasa, kerjaan.” Daniel tersenyum manis.
Susah payah Nola menyembunyikan kegembiraannya karena diantar oleh Daniel meski harus mengantri taksi ketimbang pulang berdua dengan Nolan, abangnya yang menyebalkan. Nora tidak peduli dengan pekerjaan Daniel dan Nolan—Nolan memang suka menggunakan jasa event organizer milik Daniel—yang penting baginya adalah bisa memperpanjang waktu kebersamaan dengan Daniel.
Mereka berhenti di depan conveyor belt tiga. Mata Nora bergerak kian kemari sambil mengetuk-ketukkan jemarinya di pegangan troli, mengiringi irama Champagne Supernova yang bermain di earphone yang terpasang di telinganya. Dia melemparkan sebaris senyum hangat saat tanpa sengaja beradu pandang dengan segerombolan backpacker yang juga berbagi pesawat dengannya. Nora sempat mengobrol dengan mereka di boarding room di Changi dan terpana dengan cerita mereka yang baru saja selesai keliling Asia selama satu bulan. Dalam hati Nora bertekad akan melakukan hal gila itu juga.
Berdua bersama Daniel.
Conveyor belt di hadapannya mulai bergerak. Mereka mengambil tempat di bagian yang melingkar sehingga tidak perlu berdesak-desakkan dengan mereka yang memilih berdiri di bagian ujung sehingga bisa langsung menyambar koper begitu koper itu muncul. Nora mencibir melihat para eksekutif muda berpakaian rapi yang berjejalan di ujung conveyor belt. Dengan gadget di tangan dan tampak sibuk, mata mereka masih awas memerhatikan setiap koper yang muncul.
Dasar manusia terburu-buru, dengusnya dalam hati. Dulu Nora tidak ubahnya seperti mereka. Terburu-buru dan dengan senang hati menjadi budak pekerjaan. Senin pagi adalah momok menakutkan bagi para pekerja. Ketika migrain tiba-tiba melanda. Nora merasa tidak bisa menikmati hidup.
Then, she met Daniel. Daniel-lah yang mengajaknya untuk tidak lagi terburu-buru dan berjalan santai menikmati hidup. Karena Daniel jugalah Nora keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan membuka florist sebagai usaha sendiri. He was right. Nora jadi lebih bisa menikmati hidup. Tentunya dengan travelling yang sering dilakukannya bersama Daniel.
Mata Nora menangkap sosok perempuan dengan terusan sepaha berwarna putih gading dengan motif abstrak berwarna gelap yang sibuk dengan smartphone miliknya. Perempuan itu terus menggerutu dan dari gerakan kakinya, Nora yakin dia sedang terburu-buru.
Ketika Nora kembali menatap Daniel, dia menyadari tatapan Daniel juga terarah ke perempuan yang sama. Nora tidak bisa membaca arti tatapan itu, tapi sesuatu di mata Daniel terlihat berbeda.
Belum sempat Nora bertanya, Daniel sudah berjalan meninggalkannya, padahal koper mereka belum datang. Nora mengawasi Daniel dan tercekat ketika Daniel membungkuk mengambil sesuatu lalu berlari ke arah perempuan itu.
What’s going on? Nora bertanya-tanya mengapa Daniel meninggalkannya demi perempuan itu.
Nora ingin mengejar Daniel, tapi koper hitam berukuran besar menyita perhatiannya. Nora mengumpat perempuan itu dalam hati karena terpaksa menarik koper seorang diri. Beruntung ada yang berbaik hati membantunya. Seorang pria muda berpakaian rapi yang sejak tadi sibuk dengan gadget-nya. Nora tersenyum ramah setelah koper itu mendarat dengan sempurna di atas troli. Setelah mengucapkan terima kasih, Nora mendorong troli itu ke arah Daniel.
“Hai Elena. Lama tak jumpa.”
Daniel memang ramah, tapi kepada orang asing, dia tidak seramah itu. Nora yakin akan hal itu. Namun keramahan yang terpancar dari nada suara Daniel membuatnya terperangah. Terlebih, ketika Daniel menyebut nama perempuan itu.
Elena.
Dan Nora cukup mengenal nama itu. Nolan pernah bercerita tentang cinta masa kecil tak kesampaian Daniel.
And there she is. Cinta masa kecil itu.

Sementara itu, di belakang Daniel, Nora memasang raut penuh emosi sambil mengutuk cosmic coincidence yang mempertemukan kembali Daniel dengan Elena di saat dia benar-benar telah mencintai pria itu.

Sunday, May 26, 2013

]book review] The Nine Lessons by Kevin Alan Milne

The Nine Lessons
Kevin Alan Milne


Itu cover terjemahan. Tapi gue lebih suka cover aslinya. Lebih heartwarming dan menonjolkan golf.




Buku ini bercerita tentang Augusta Nicklaus Witte yang lebih suka dipanggil August karena Augusta hanya mengingatkannya kepada golf. Ngomong-ngomong, August ini benci banget sama golf, sama bencinya dia kepada ayahnya.
Semuanya berawal dari August yang nggak mau punya anak karena yakin dia bukanlah ayah yang baik karena satu-satunya contoh orangtua yang dimilikinya hanya ayahnya. Sejak dulu, August punya hubungan yang buruk dengan ayahnya dan semakin menjadi-jadi ketika August keluar dari rumah setamat SMA. Ayahnya, Oswald ‘London’ Wittie adalah penggila golf. Baginya, golf is life. Dan August merasa sebagai sebuah kegagalan karena dia pemain golf yang buruk. Baginya, ayahnya lebih mencintai golf daripada dia. PGA lebih penting daripada dia. Bahkan restoran ayahnya pun bertema golf. Pertandingan golf lebih penting daripada menghabiskan waktu bersama dirinya.
Begitulah. Pengalaman buruk membuat August nggak yakin bisa menjadi ayah yang baik.
Namun istrinya memikirkan hal yang lain. Erin, istrinya, selalu berdoa semoga Tuhan melunakkan hati suaminya dan dibalas August dengan sinis meminta kepada Tuhan agar menyuruh istrinya berhenti berdoa karena dia sudah bosan mendengar doa itu.
Cerita dimulai dengan setelah tujuh tahun menikah, Erin hamil. Finally. Namun August tidak bisa terima dan marah-marah. Dia pergi ke rumah ayahnya dan melemparkan kesalahan kepada ayahnya. Bahwa ketidaksiapannya menjadi ayah karena sikap ayahnya selama ini. London akhirnya mengajak August main golf sekali sebulan, sekaligus dia mengajarkan sembilan pelajaran penting tentang golf yang akan membantu August menjadi ayah yang baik, dan menukar dengan buku harian London yang ditulis di kartu skor golf tentang ibunya sehingga August dapat mengenal ibunya yang meninggal waktu dia kecil.
August setuju. Dan sepanjang masa kehamilan Erin, dia belajar sembilan pelajaran berharga tentang cara menjadi ayah. Namun emang dasarnya tambeng, August ini masih gengsi mengakui kebenaran ucapan ayahnya.
Family drama is always heartwarming. Memang sih nggak bikin gue nangis kejer seperti saat membaca Suzanne’s Diary For Nicholas, tapi The Nine Lessons cukup bikin berkaca-kaca—atau gue yang cengeng? Gue merasa cerita ini real karena setiap orang pasti takut untuk menjadi orangtua dan selalu merasa tidak siap.
Intinya adalah tak pernah ada orang yang siap untuk jadi orangtua, dan tak ada orang yang akan menjadi orangtua yang sempurna. Jika seorang ayah berharap untuk berdiri dan memukul hole in one dari awal dalam mendidik anak-anaknya, dia mengharapkan hal yang mustahil. Harapan terbaik yang bisa kau harapkan sebagai orangtua adalah mengarahkan segala daya upaya yang kau miliki, dan mencoba melakukan yang terbaik
Oswald ‘London’ Witte
Gue mengacungkan dua jempol untuk idenya menarik filosofi golf ke dalam pelajaran kehidupan. Fresh dan bikin gue mengangguk-angguk setuju.
Ini pengalaman pertama membaca buku Kevin Alan Milne dan gue langsung suka. Ngingetin gue sama James Patterson dan Nicholas Sparks.
Sejak awal, August ini sudah ngegemesin. Dia benar-benar menyebalkan dan mengutarakan kebenciannya kepada ayahnya. Anehnya, gue malah menangkap di balik kebencian itu sebenarnya dia menyayangi ayahnya. Dan yang belajar menjadi ayah di sini bukan hanya August, tetapi juga London. Inilah Mulligan yang diberikan kepada mereka.
Ada banyak istilah golf bertebaran di sini dan dijelaskan dengan sangat baik. Gue baca terjemahan dan gue lumayan enjoy dengan terjemahannya. Mungkin yang sedikit mengganggu adalah ketidakkonsistenan penerjemaha. Di awal memakai ayah, di bagian belakang dad. Piye toh? Juga di bagian epilog yang berupa buku harian. Ada beberapa orang di sana yang menulis tapi tidak disebut itu siapa. Font yang sama antara bagian London dan August bikin puyeng.
Selain kental drama keluarga, hubungan percintaan August-Erin dan London-Jessalyn juga lucu. Gue suka dengan taruhan satu dolar dan sebuah ciuman yang diterapkan August dan Erin. Apa saja bisa mereka pertaruhkan. Cuaca, skor bola, apa saja. Dan itu membuat mereka terlihat romantis *ide bagus buat diterapin nanti sama pasangan hihi*. Oh, mungkin yang gue kurang sreg adalah pernikahan London-Delores *spoiler haha*.
Satu kata: heartwarming. Total ada dua scene yang bikin gue berkaca-kaca. Pertama saat Jessalyn dirawat dan sekarat. Kedua saat Erin dioperasi dan London membawa August ke pelajaran golf terakhir mereka di kapel rumah sakit. Haru.
Aku tahu ia akan menjadi ayah yang baik karena ia khawatir bahwa ia tak bisa. Seorang ayah yang buruk tidak akan peduli tentang itu.
Erin Witte
Two thumbs up for Kevin Alan Milne. Dan buku ini wajib dibaca jika ingin belajar tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik.

Friday, May 24, 2013

[story] Me And You And Picture Of Our Future #3

Me And You And Picture Of Our Future #3


Me and you and picture of our future #1
Me and you and picture of our future #2



Pernahkah kamu mempertanyakan seperti apa masa depan kita nanti?
Aku jatuh cinta kepadamu. Sekali. Dan berkali-kali. Namun ada kalanya pria lain menarik atensiku. Membuatku sejenak melupakanmu. Untuk sementara waktu tidak lagi meneriakkan namamu, tidak lagi menatap fotomu, tidak lagi membicarakan tentang kamu.
Dan kamu tidak akan marah. Hanya menampakkan raut cemburu yang sangat lucu. Sesekali meledekku. Di lain kali membangga-banggakan dirimu sendiri bahwa tidak ada pria lain yang sesempurna dirimu untukku.
Namun aku hanya akan mencibir sembari mengalihkan mata ke poster besar di belakang pintu perpustakaan.
Poster itu sempat memicu pertengkaran kita. Kamu mengaku merasa risih melihatku memuja pria lain, membicarakannya terus-terusan, dan tidak mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Dan dengan berat hati, setelah permohonanku selama berhari-hari, akhirnya kamu mengizinkanku menempel poster itu. Bukan di kamar kita. Melainkan di perpustakaan. Di belakang pintu.
Bagiku itu tidak apa.
Benedict Cumberbatch di poster. Berkaos turtleneck hitam. Bercelana jins hitam. Dengan pandangan menyipit seperti sedang menantang cahaya. Dengan tulang pipi tinggi. Bibir tebal yang antara tersenyum atau tidak.
Dan aku di depannya. Berteriak norak seperti remaja tanggung. Tersenyum-senyum tanpa alasan yang jelas.
Ada kalanya keberadaanmu terpinggirkan. Aku yang lebih tertarik menatap poster atau menonton film atau membalik majalah atau meng-Googling foto atau menonton interview di youtube. Sedang kamu menggerutu pelan di sampingku.
Bahkan kamu yang telanjang pun tidak mampu menarik atensiku dari pria di poster.
Namun kamu tidak mempermasalahkannya.
Karena kamu tahu, jauh di dalam hatiku, aku hanya milikmu. Tidak peduli betapapun aku mengagumi pria Inggris itu, pada akhirnya aku akan kembali kepadamu. Cinta sejatiku. Cinta nyata yang ada di hidupku, bukan kekaguman semu yang kurasakan untuk sementara waktu.
Dan di penghujung malam, aku akan terlelap di sampingmu.

Pernahkah kamu mempertanyakan seperti apa masa depan kita nanti?
Ketika kamu membalas kelakukanku dengan menghabiskan akhir pekan menonton show Victoria Secret. Terang-terangan memuji tubuh seksi Adriana Lima, Lily Aldridge, Alessandra Ambrosio, Karolina Kurkova yang melenggang di atas runway dalam pakaian minim. Kacamatamu berembun saking kencangnya kamu bernapas ketika menyaksikan model kurus tinggi itu memamerkan pakaian dalam yang sangat provokatif.
Dan kamu hanya akan tertawa melihatku yang cemberut. Sesekali menyikut rusukku ketika televisi kita memunculkan Karlie Kloss dalam underwear biru coral bertabur mutiara dengan sepasang sayap di punggung. Lalu kamu menggumam ingin melihatku dalam busana seperti itu.
Dan aku akan meledak marah. Kamu mengejekku.
Aku bukan Karlie Kloss. Atau Irina Shayk. Apalagi Giselle Bundchen. Underwear minim mahal itu jelas bukan untukku.
Lalu kamu akan menyusulku ke perpustakaan. Tempat persembunyian favoritku. Membujukku sembari mengucap maaf. Bahwa seperti apapun keadaanku, kamu masih mencintaiku. Bahwa hanya aku yang kamu cintai meski ketika sedang malas aku cukup terlelap dengan daster usang atau piyama Teddy Bear yang sudah kumiliki sejak aku masih gadis. Bahwa di matamu aku jauh lebih sempurna dibandingkan perempuan bersayap di televisi.
Detik itu aku tersenyum. Dan merasakan cintaku padamu kian hangat. Perempuan-perempuan itu hanya ada di dalam imajinasimu. Kamu nikmati hanya dari balik layar kaca. Tidak bisa kamu miliki. Tidak bisa menyempurnakanmu. Namun kehadiranku di hidupmu sangat menyempurnakanku.
Dan di penghujung malam, aku akan terbaring di sampingmu. Bukan dalam balutan underwear mahal dari Victoria Secret. Melainkan piyama Teddy Bear usang milikku.

Pernahkah kamu mempertanyakan seperti apa masa depan kita nanti?
Ketika kita tidak bisa menjaga pandangan dari pria atau wanita lain dan mengagumi mereka. Namun di dalam hati, kita masih memiliki. Bahwa cinta kita nyata. Keberadaan kita nyata. Bukan kehadiran semu yang dihadirkan oleh jepretan kamera paparazzi.
Sesekali, tidak apa jika kita melirik pria atau wanita lain. Aku dengan Benedict Cumberbatch dan kamu dengan Karlie Kloss. Lalu ketika di penghujung malam, saat kita saling menatap, kita akan merasakan cinta itu lagi. Bahwa Benedict Cumberbatch tidak bisa membuatku jatuh cinta setengah mati seperti yang kurasa kepadamu. Bahwa Karlie Kloss dan pakaian minimnya tidak mampu membuatmu dan hatimu berpaling dariku.
Bahwa ketidaksempurnaan kita saling melengkapi.
Selamanya.
Dan gambaran seperti itulah yang selalu ada di benakku setiap kali memikirkan masa depan.

Wednesday, May 22, 2013

[Story] Me And You And Picture Of Our Future #2

Me And You And Picture Of Our Picture #2



Me And You And Picture Of Our Picture #1 di sini.


Tahu gambaran masa depan sempurna tentang kita di mataku?
Di suatu malam aku menangis sendiri di sofa putih di ruang tamu. Memeluk sebuah buku kecil berwarna hijau dengan kertas yang setengahnya sudah menguning. Terisak sendiri menatap gorden yang berkibar ditiup angin dari jendela yang kubiarkan terbuka. Lalu, dengan terisak, aku meraih si ponsel pintar dan mengetikkan beberapa patah kata di sana. Memintamu pulang.
Tidak perlu menunggu lama, pintu apartemen kita akan terbuka. Dan kamu tergopoh-gopoh menuju ke tempatku. Melempar tas dan kunci mobil ke sembarang arah. Langsung memelukku tanpa membuka jas atau sepatu. Pelukan sehangat selimut di musim dingin. Pelukan yang menyuarakan bahwa everything’s gonna be okay.
Dan aku akan semakin terisak. Kamu akan memelukku kian erat seiring isakanku.
Ini bukan pertama kalinya kamu menemuiku yang sedang menangis setelah menghabiskan sebuah buku. Lain waktu, aku terduduk sendirian di sudut kamar kita, dalam gelap, menatap langit-langit dengan pipi bersimbah air mata. Sebuah buku tergeletak di sebelahku. Kali lain, kamu hanya tersenyum simpul melihatku memaki-maki seorang diri di depan cermin dengan sebuah buku yang berhasil membuatku kesal di atas nakas di samping tempat tidur kita. Lain kali aku mengomel sepanjang waktu hanya karena merasa kesal sehabis melahap sebuah buku. Di waktu lain, aku menghabiskan bergulung-gulung tisu di depan televisi dan sekeping DVD.
Kamu sudah terbiasa dengan perubahan moodku yang mendadak, seperti kamu yang terbiasa dengan kehadiranku di sisimu setiap pagi, seperti kemacetan yang menghadangmu di pagi dan sore hari, seperti tagihan yang selalu datang di awal bulan. Sudah terbiasa.
Malam itu, kamu menenangkanku. Membiarkanku menceracau di sela isak tangis tentang kesedihan yang kurasa setelah membaca buku itu. Lalu menarik buku kecil bersampul hijau dari pelukanku dan berbisik pelan. “Aku bukan Matthew Harrison. Kamu bukan Suzanne Bedford. Kamu tidak akan meninggalkanku.”
Dan aku akan semakin terisak saat membayangkan diriku sebagai Suzanne Bedford yang terpaksa meninggalkanmu, my love of my whole life, Matthew Harrison-ku.
Namun aku memang seperti Suzanne Bedford yang merasa sangat sangat sangat beruntung memilikimu sebagai Matthew Harrison-ku.

Tahu gambaran masa depan sempurna tentang kita di mataku?
Kita terduduk lemah di lantai parquet ruangan kecil yang sudah kita sulap sebagai perpustakaan mini. Hasil rengekan selama bertahun-tahun yang akhirnya terwujud nyata. Sebidang sisi dinding berlapis kaca menyorotkan sinar matahari sore ke ruangan kecil yang hangat ini. Sedang kita di lantai. Bersimbah peluh. Penuh debu. Namun senyum bahagia terukir di wajah kita.
Lalu aku akan mengambil sebuah buku. The Silmarillion. Varda, seruku. Kamu akan menanggapinya dengan senyuman dan mengambil buku lain. Game of Thrones. Daenerys, serumu.
Tidak mau kalah, aku mengambil buku lain dan membukanya. Hermione Granger. Kamu akan membalas dengan buku lain. Nyota Uhura.
Dan tidak akan ada yang mau mengalah. Buku-buku yang sejak pagi tadi susah payah kita susun secara alfabetis di rak tinggi dari kayu jati ini berpindah kembali ke lantai.
Rebecca Bloomwood, seruku.
Alex Cross, serumu.
Jamie Sullivan.
Forrest Gump.
Bridget Jones.
John Hammond.
Scarlett O’Hara.
Luke Chandler.
Andrea Sachs.
Beleg Cuthalion.
Karou.
Padme Amidala.
Dan kita akan menghabiskan sisa sore dengan berbalas nama tokoh dari buku yang kita pegang. Dan ketika matahari mulai terbenam, kita akan tertawa.
Setidaknya sore ini menghasilkan dua lusin nama tokoh kegemaran kita yang kita ambil dari buku-buku di ruangan ini untuk nantinya kita berikan sebagai nama si kecil.

Tahu gambaran masa depan sempurna tentang kita di mataku?
Ketika cerita terindah yang kurasakan bukanlah drama mengharu biru di buku favoritku. Melainkan ketika kamu menatapku dengan tatapan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku akan balas menatapmu dengan tatapan aku mempercayaimu. Melainkan kamu yang hanya tersenyum dengan perubahan moodku dan aku yang selalu tahu ke mana harus pergi saat perubahan mood mendadak itu membuatku bingung.
Selalu begitu. Setiap hari.
Selamanya.
Dan masa depan seperti itu, kurasa itu cukup.

Sunday, May 19, 2013

[book review] The Look by Sophia Bennett

The Look
Sophia Bennett




Prolog: Gue sudah lama tertarik ingin membaca novel ini. Simply because the main idea: model. Apalagi setelah membaca sinopsisnya membuat gue semakin penasaran. Akhirnya ketemu novel ini di sale Mizan di Gramedia GI. 20 ribu saja hehe.
The Look bercerita tentang Edwina ‘Ted’ Trout, remaja 15 tahun yang mendadak hidup pas-pasan karena ayahnya dipecat jadi dosen dan suatu hari mengamen bersama kakaknya, Ava, si cantik yang mirip Elizabeth Taylor. Saat mengamen itu Ted disamperin oleh Simon yang mengaku berasal dari agensi model bernama Model City dan tertarik menjadikan Ted sebagai model. Ted yang bertubuh tinggi kurus dengan alis lebat menyatu di pangkal hidung dan nggak cantik sama sekali jelas aja bingung,
Why her? Why Simon didn’t choose Ava?
Lalu Ava divonis kena kanker sehingga seluruh perhatian keluarga tertuju padanya. Namun, Ava malah mendukung Ted menjadi model. Hasilnya? She is a model.
Satu kata untuk novel ini: NANGGUNG! Semua aspek di dalamnya serba nanggung.
Begitu membaca sinopsisnya, gue membayangkan cerita yang sangat glamour. Look at this synopsis:
Semua gadis pasti iri setengah mati dengan apa yang akan didapatkan Ted. Jimmy Choo, Vera Wang, Prada, Zac Posen, mobil mewah, apartemen berkelas, dan kepopuleran akan mengelilinginya begitu ia jadi model papan atas.Mimpi ini berawal di Jalan Carnaby, London, saat ia mengamen bersama Ava, kakaknya. Seorang agen pencari bakat, Simon, mendatangi Ted yang jangkung, kurus, dan jauh dari kata fashionable. Tentu saja ini membingungkan. Kenapa bukan Ava si gadis cantik pemilik senyum ala bintang film, yang dilirik Simon melainkan Ted si cupu?Ted diam-diam penasaran dengan Simon dan agensi modelnya. Di saat yang sama, Ava divonis kanker limfoma oleh dokter. Semua perhatian keluarga dicurahkan kepada Ava dan penyakitnya. Ini membuat Ted harus memilih, akan meraih kesempatan untuk menjadi supermodel atau tetap bersama Ava, menjadi supersister.
Wajar jika gue berekspektasi tinggi. Terlebih saat tahu Ted belum berusia 16 tahun alias masih terlalu kecil untuk jadi model profesional. Tentu akan banyak intrik di sini. Namun hasilnya?
First: Ted as a model. Nggak ada glamour-nya sama sekali. Perjalanan Ted sebagai model malah bisa dibilang lama dan bertele-tele. Memang sih keriuhan tes pemotretan, go-see, casting dll ditampilin apa adanya tapi nggak merasa tertarik sama sekali. Lama banget. Tensi baru naik setelah Ted ketemu Tina di Gaggia yang membuka jalannya menjadi seorang model ternama. Gue agak sedikit penasaran. Ketika Ted ke New York untuk jadi campaign face Constantine & Reed, gue membayangkan intrik yang seru. Apalagi sebelumnya Ted bukan pilihan utama. Dan bisa dibilang dia beruntung nggak sengaja ketemu Tina. Akan seru nih karena ada konflik antarmodel. Tapi? Nanggung. Datar. Nggak ada konflik berarti.
Second: Di sinopsis dibilang Ted mau jadi model karena bĂȘte semua perhatian keluarga tertuju untuk Ava. Dia ke New York karena ingin ngebuktiin diri. Nyatanya? Gue pikir ada konflik berarti kayak hubungan Ted-Ava yang nggak harmonis atau Ted yang egois, atau Ava yang si cantik egois dan bikin Ted merasa terpinggirkan. Nyatanya? Nggak ada sama sekali. No drama.
Meminjam kata Sherlock: BORING! *semburin api kayak Smaug*
Third: Tina di Gaggia. Gila, ini potensi besar malah disia-siain. Coba ya Tina dan Rudolf jadi menuntut yang nantinya Ted akan dibelain Cassandra. Ini pasti akan keren banget.
Fourth: Ted-Nick. Hubungan mereka nggak ada chemistry sama sekali. Ketemu aja jarang. Lalu blahhhh mereka ciuman aja di menjelang akhir.
Overall, gue nggak puas. Entah karena sejak awal gue udah dibutakan oleh sinopsis yang wah sehingga berekspektasi tinggi atau simply karena gue nggak terlalu suka dengan cara menulis Sophia Bennett. Padahal ada banyak potensi konflik dan drama di sini.
Oh, atau mungkin gue memang pecinta drama jadi drama serba nanggung gini bikin gue depresi.
Oh, at least ada satu yang gue suka dari novel ini, ketika Ted nemenin Ava mencukur rambutnya yang rontok karena kemoterapi. Ini bikin gue jadi tambah pengin ngeskin rambut atau minimal potong cepak banget *keinginan yang nggak pernah kesampaian*

Sunday, May 12, 2013

[story] You vs Robin van Persie

You vs Robin van Persie

NB: Sebuah cerita iseng yang lahir karena sedih melihat van Persie mengangkat trofi Premier League dia yang pertama semalam *Gooners yang menangis*


Mungkin, perasaanku kepadamu sekarang sama seperti apa yang kurasakan terhadap Robin van Persie. Kamu tahu siapa dia kan? Pemain bola idamanku juga pujaan banyak orang di dunia.
Dulu aku memuja-mujanya. Mengikuti perkembangannya mulai dari bocah kecil yang mulai mencatatkan namanya di Belanda sana hingga akhirnya berlabuh di London. Kepiawaiannya mencetak gol hingga sempat dibekap cidera dan akhirnya tampil gemilang. Musim 2011/2012 adalah masa-masa kegemilangannya.
Sama sepertimu. Kamu tahu, aku sudah lama memperhatikanmu. Semenjak dirimu bukanlah siapa-siapa. Seperti halnya Wenger yang telaten membentuk van Persie hingga menjadi seorang bintang, aku juga bersikap sama. Selalu mendukungmu bahkan di saat orang-orang mencibir kegagalanmu. Selalu telaten mengeluarkanmu dari sikap egoismu dan menjadi seorang pria berjiwa dewasa sesuai keinginan eyangmu.
Lihatlah. Kamu bersinar laksana bintang. Terang dan menyilaukan.
Juga menarik perempuan lain untuk mendekatimu.
Seperti klub lain yang juga mendekati van Persie.
Sama seperti van Persie yang ingin segera melepas dahaganya akan sebuah trofi setelah tujuh tahun puasa gelar. Kamu juga menginginkan sebuah trofi. Menyuntingku demi warisan eyangmu.
Namun aku sama seperti Arsenal. Punya cara sendiri dalam menyikapi masalah ini. Aku bukannya tidak mencintaimu. Aku hanya belum siap, terlebih karena alasanmu adalah demi warisan. Seperti halnya Wenger yang selalu menjanjikan sebuah trofi kepada skuatnya, aku juga menjanjikan suatu hari nanti kepadamu. Seperti halnya Wenger yang mengutamakan kepentingan klub, aku juga mengutamakan kepentingan keluargaku. Mereka masih membutuhkanku.
Aku patah hati begitu van Persie memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak tiga hari setelah aku membeli jersey musim baru Arsenal. Aku patah hati begitu kamu memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan ini tiga hari setelah perayaan hari jadi kita yang ketujuh.
Aku semakin terluka saat kemudian van Persie memutuskan bergabung dengan Manchester United. Aku tidak akan pernah lupa rivalitas yang terjalin antara Arsenal dan Manchester United, terutama era 90an dan 2000an awal. Rivalitas yang menjadikan kedua klub itu sebagai musuh besar. Sebuah pengkhianatan di mata fans sejati sepertiku.
Kamu juga sama, semakin membuatku patah hati karena tidak lama setelah berakhirnya hubungan kita, kamu menggandeng Tita, mantan sahabatku yang kemudian menjadikanku sebagai musuhnya sepanjang tujuh tahun hubungan kita. Sebuah rivalitas antara aku dan Tita yang semakin memuncak semenjak kalian bersama.
Arsenal semakin terpuruk. Sama sepertiku. Terpuruk.
Van Persie pergi di saat dia benar-benar dibutuhkan hanya demi sebuah keinginan mengejar trofi. Kamu pergi di saat aku benar-benar membutuhkanku demi sebuah pernikahan dan warisan yang nantinya masuk ke kantongmu begitu kamu menikah.
Arsenal tidak bisa memberikan trofi kepada van Persie. Aku tidak bisa memberikan warisan itu jatuh ke tanganmu karena belum siap dengan pernikahan.
Dan lihatlah van Persie yang akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan bersama MU. Kamu juga mendapatkan warisan yang kamu inginkan karena Tita.
Seperti halnya Gooners yang berduka saat van Persie masuk ke Emirates Stadium dan para punggawa Arsenal memberikan Guard of Honor, aku juga berduka saat kamu memasuki hotel yang sudah kuangankan menjadi tempat resepsi kita nanti dan aku sebagai bridesmaid atas permintaan emosional Tita. Andai aku bisa melakukan aksi Poznan malam itu, seperti beberapa Gooners yang melakukannya saat Guard of Honor.
Aku merasa menjadi orang paling bodoh di sunia.
Begitu melihat wajah arogan van Persie memasuki Emirates Stadium, aku juga melihat betapa arogannya kamu.
Dan malam ini, ketika aku melihat tawa lebar van Persie saat mengangkat trofi Premier League untuk yang pertama kalinya, tawa itu juga ada di wajahmu saat eyangmu memberimu warisan.
Dan aku menangis patah hati.
NB: Ini nih foto yang bikin gue nangis

Friday, May 10, 2013

[book review] Suzanne's Letter For Nicholas by James Patterson

Suzanne's Letter For Nicholas
by James Patterson
Alih bahasa oleh: Monica Dwi Chresnayani



Karena kita selalu lebih baik dari aku.
Suzanne’s Diary For Nicholas merupakan buku pertama milik James Patterson yang gue baca. Terjemahan. But I love him and his story.
Buku ini dibuka dengan sakit hati seorang Katie Wilkinson yang ditinggal begitu saja oleh love of her life di saat dia sedang mempersiapkan makan malam super penting bagi mereka dan akan memberi kabar gembira jika dia hamil. Matt, pacar Katie, meninggalkannya tanpa alasan. Katie yang patah hati kemudian menerima sebuah paket berisi buku harian dengan surat pengantar dari Matt yang menyebutkan bahwa Katie akan tahu alasan dia meninggalkan Katie, juga alasan Matt menutup-nutupi masa lalunya, setelah membaca buku harian itu.
Namun aku harus mengingatkan bahwa ada bagian-bagian tertentu yang mungkin berat bagimu untuk dibaca.
Mau tidak mau, Katie membaca buku harian itu.
Buku itu ditulis oleh seorang perempuan bernama Suzanne Bedford untuk anak lelakinya bernama Nicholas. Setelah membaca, Katie menemukan fakta bahwa Suzanne adalah istri Matt dan Nicholas adalah anak Matt. Semakin membaca buku harian itu, Katie semakin mengetahui masa lalu Matt dan anehnya, dia merasa bersahabat dengan Suzanne.
Pfiuhh… nangis kejer baca buku ini.
Setelah sekian lama cuma baca chicklit, sekalinya baca novel romance agak kagok juga. Penceritaan James Patterson yang manis dan lembut ngingetin gue sama Nicholas Sparks.
Nama James Patterson sudah nggak asing bagi gue melalui serial Maximum Ride dan Alex Cross. Tapi gue nggak baca karena genre thriller. Lalu, gue ketemu novel romance Patterson. Sudah lama memang. Terbit 2001.
Dan gue jatuh cinta sama tulisan James Patterson. Gue jatuh cinta sama tukang cat slash penyair bernama Matthew Harrison. Gue juga merasa bersahabat dengan Suzanne Bedford Harrison. Gue seolah bisa merasakan kelucuan si kecil Nicholas Harrison. Gue juga ingin memeluk Katie Wilkinson and said that everything gonna be okay.
Gue seolah nggak berada di kamar gue yang sumpek, melainkan di rumah pantai dengan biru laut yang indah di Martha’s Vineyard.
Buku ini terasa real. Mungkin format diari yang digunakan membuat gue merasa sangat engage dengan ceritanya.
Gue pernah bilang kalau gue nggak suka cerita yang awalnya manis-manis-lucu berakhir tragis dan air mata yang nggak berhenti. So I said that. I hate this novel karena sampai detik ini, ketika gue menulis review ini, hampir dua belas jam berlalu setelah gue menyelesaikan membacanya, I am still crying. Gue tidur dengan mata bengkak dan terus menangis lalu bangun dengan kepala pusing seperti ditabrak truk dan yang pertama kali gue lakukan ketika bangun adalah memeluk buku ini dan menangis lagi.
Efeknya jangka panjang banget.
Sejak awal, gue sudah menebak kalau novel ini akan berakhir tragis tapi gue nggak pernah menyangka akan setragis ini. James Patterson memberikan gong berkali-kali, nggak langsung membuat pembacanya nyesek dalam satu kali pukulan, melainkan berkali-kali dan sepertiga bagian terakhir benar-benar menyesakkan. Gue sejak awal udah antisipasi buat bersedih-sedih ria di ending tapi percuma semua persiapan itu karena akhir yang sangat-sangat-sangat menyesakkan.
Patterson mampu menggiring pembaca untuk menyukai semua tokoh-tokohnya, bahkan si kecil Nicholas yang masih bayi. Sejak awal gue sudah tahu kalau Matt nggak jahat. Dia begitu manis. Dia nggak mungkin berselingkuh dari Suzanne dengan Katie. Ini yang membuat gue sejak awal udah menarik kesimpulan bahwa there’s something happen with Suzanne. Tebakan gue benar. Tapi gue nggak pernah menebak atau bahkan memikirkan bahwa Nicholas… ah sudahlah.
Novel ini memberi banyak pelajaran tanpa kesan menggurui. Pelajaran paling penting, sekaligus benang merah dari buku ini, benar-benar bikin gue speechless. Gue kutip ya paragraf itu.
Judulnya, Permainan Lima Bola.
Anggap saja dalam hidup ini kau bermain lempar bola dengan lima bola sekaligus. Kelima bola itu masing-masing disebut pekerjaan, keluarga, kesehatan, persahabatan, dan integritas. Dan kau harus menjaga agar semua bola itu tetap berada di udara. Tapi akhirnya suatu hari kau mengerti bahwa pekerjaan adalah bola yang terbuat dari karet. Kalau bola itu terjatuh, dia akan memantul kembali. Tapi keempat bola yang lain—kesehatan, keluarga, persahabatn, dan integritas—semuanya terbuat dari kaca. Kalau salah satu di antaranya terjatuh, bola itu akan tergores, gempil, atau bahkan pecah. Dan begitu kau memahami makna dari cerita kelima bola itu, kau akan mulai mendapatkan keseimbangan dalam hidup (Suzanne to Nicholas).
That was absofuckinglutely true. Dan membuat gue mulai memikirkan Permainan Lima Bola ini.
Satu lagi yang membuat gue jatuh cinta dengan novel ini, isinya bertabur buku. Katie seorang editor dan Matt penulis alias penyair. Rumah mereka seperti toko buku mini. Aaakkk gue bisa ngebayangin itu. Apalagi rumah Matt di Martha’s Vineyard. Rak buku tinggi sampai langit-langit dengan pemandangan laut biru. Manis!!!
Overall, gue merasa sangat-sangat-sangat beruntung pernah membaca buku ini. Meski gue nggak akan membaca buku thriller James Patterson—not my cup of tea—gue akan membaca novel romantis dia yang lain. Gue punya satu lagi, Sam’s Letter To Jennifer, dan sudah mulai membacanya tapi bukunya malah gue tinggal di rumah di Bintaro. Crap!
Intinya, buat si pecinta buku atau hopeless romantic, buku ini wajib baca. Salah satu investasi terbesar gue adalah punya buku ini dan sekarang saatnya mencari versi Bahasa Inggris-nya.
Dear Nicholas Harrison, anak manis yang baik, Prajurit yang Gagah, I love you. Tenang ya di sana di pelukan Mommy Suzanne.
Dear Suzanne Bedford Harrison, thanks to Permainan Lima Bola dan pelajaran berartinya tentang cinta.
Dan seperti Matt yang merasa sangat beruntung dengan kehadiran Suzanne dan Nicholas, I feel the same. Sangat beruntung telah mengenal kalian semua.

NB: Ketemu kalimat ini di wikipedia. Manis banget "Patterson used some of his experience with heartbreak to write Suzanne's Diary for Nicholas. In 1974, Patterson fell in love with Jane Blanchard. After dating for several years, she was diagnosed with a terminal brain tumor. When she died, Patterson devoted his time to writing and stayed away from romantic relationships. Over a decade later, he married Susan, who wrote a diary for their baby son."
NB: Ini dia Martha's Vineyard yang memukau itu.
NB: Tahun 2005 novel ini diangkat menjadi film televisi oleh CBS dengan Christina Applegate menjadi Suzanne. *mau nonton*

Thursday, May 9, 2013

[story] Me and You and Picture Of Our Future

Me And You And Picture Of Our Future




Tahu gambaran sempurna tentang kita di masa depan versiku?
Kita, naik kereta luar kota, hanya demi sebuah weekend getaway tanpa rencana. Sekadar kabur dari rutinitas yang kian lama kian mencekik. Kamu akan membiarkanku duduk di dekat jendela agar memiliki ruang pandang tak terbatas tentang pepohonan, rumah-rumah yang kita lewati, mobil-mobil di tengah jalan raya. Apapun. Agar aku bisa leluasa memerhatikan detail kehidupan di luar sana lalu menuangkannya ke dalam tulisanku.
Tulisanku yang membuatmu jatuh cinta untuk pertama kali dan untuk seterusnya.
Kamu tidak akan berbicara sepanjang perjalanan. Terdiam dalam keasyikanmu mengurai criminal thriller yang dihadirkan John Grisham dalam buku bacaanmu. Sesekali kamu menghela napas berat saat scene yang kamu baca begitu menyesakkan. Aku hanya tersenyum memerhatikanmu, lalu tanpa suara merogoh tote bag di bawah kaki, dan mengeluarkan buku bacaanku. Chicklit atau contemporary romance favoritku.
Bacaan kita sangat berbeda. Namun kamu tidak pernah mengejek betapa shallow-nya aku dengan pilihan bacaanku. Dan aku juga tidak akan men-judge kamu sok-pintar-sok-serius dengan pilihan bacaanmu.
Lalu, aku akan membalik halaman bukuku. Kali ini milik Lindsey Kelk. Mencari bagian terakhir yang kubaca sebelumnya. Kamu akan melirik dari balik halaman bukumu, tersenyum tipis, membuka salah satu earphone di kupingmu, lalu memasangnya di kupingku.
Kita berbagi lagu yang sama.
Kali ini John Mayer dengan Love is a Verb.
Dan aku akan membalas dengan senyuman. Selama beberapa detik kita akan saling menatap. Lalu kamu akan kembali fokus memecahkan kasus kriminal ala Mr. Grisham. Dan aku akan tertawa pelan tanpa suara menyadari betapa careless dan beruntungnya seorang Angela di tengah kota Manhattan.
Dan John Mayer di telinga kita.

Tahu gambaran sempurna tentang kita di masa depan versiku?
Aku freak out di dapur. Ketika mencoba menjadi domestic goddess karena terpengaruh sindrom yang diciptakan Farah Quinn. Minyak bercipratan ke segala penjuru dan aku sibuk melompat ke sana kemari menghindari minyak yang mengamuk. Dan potongan ayam gosong di piring. Juga wortel yang semula kuniatkan untuk dipotong bulat pipih malah kupotong secara abstrak.
Lalu pintu apartemen ini akan terbuka dan kamu mendengar jeritanku. Tanpa menghiraukan keletihan yang kamu rasakan setelah berjam-jam bekerja di kantor, mungkin beberapa jam dimarahi bos kamu yang berperut buncit dan berkepala botak itu, lalu terjebak macet. Kamu melempar tasmu ke atas sofa putih di ruang tamu. Berlari menuju dapur tanpa membuka jas atau sepatu.
Dan menemukanku terduduk di bawah kitchen set dengan dua sendok stainless teracung menutup wajah dari minyak yang menggila. Lalu kamu akan mematikan kompor dan mendekatiku. Memelukku. Memastikanku baik-baik saja.
Lalu kamu akan tertawa pelan begitu aku bercerita tentang niatku menjadi kitchen queen. Kamu mengacak-acak rambutku, menenangkanku bahwa ini bukan ide buruk tapi juga bukan ide baik. Sedikitpun tidak menyalahkan ketidakbecusanku di dapur. Sedikitpun tidak menyesali keputusanmu memilihku meski selamanya kita bertahan dengan masakan takeaway.
Katamu, jika ingin makan enak, kita bisa ke rumah orangtuaku atau orangtuamu.
Lalu kita akan memesan pizza sebagai ganti makan malam. Kamu akan mandi dan membersihkan diri. Aku akan menyiapkan pakaian bersih untukmu. Setelah itu, kita akan menunggu pizza datang dengan duduk berdampingan di sofa. Kamu dengan The Economist dan segala penjelasan tentang revenue pool, competitive differentiation, bank guarantee, bank collateral, dan lain-lain yang tidak kumengerti. Aku dengan Cosmopolitan beserta artikel tentang woman’s life, sex and relationship, hot gossip, fashion du jours, the it couple, the it items, dan artikel lain yang tidak kamu mengerti.
Dan kesepian ini terganggu dengan kedatangan si pengantar pizza.
Setelahnya, kita akan memakan pizza sambil bercerita tentang hariku dan harimu.

Tahu gambaran sempurna tentang kita di masa depan versiku?
Ketika aku dan kamu tenggelam dalam dunia kita masing-masing, dunia yang tidak pernah bisa kita mengerti tetapi juga tidak bisa kita tinggalkan, tetapi kita tetap bisa merasakan kehadiran satu sama lain. Bahwa kita saling memiliki. Bahwa di balik lembaran buku John Grisham itu akan ada something romantic yang membuatmu mengingatku. Bahwa di balik lembaran buku Lindsey Kelk pasti ada sesuatu yang menyesakkan dadaku dan membuatku meraih tanganmu meminta perlindungan.
Perasaan bahwa kita saling memiliki. Bahwa dalam keheningan, kita saling berbagi.
Kita saling mencintai.
Dan masa depan seperti itu, aku rasa itu cukup.


NB: Terinspirasi dari cerita Adit yang lagi di kereta dan di sebelahnya ada pasangan. Si cowok baca John Grisham. Si cewek baca Harlequin. Damn, i said that: itu gambaran )idaman) masa depan gue dan suami gue.

Tuesday, May 7, 2013

[flash fiction] Peach Sling Bag

Peach Sling Bag


Kakiku melangkah menyisir rak demi rak kaca yang memajang beragam jenis tas. Leather brown tote bag, electric pink backpack, black pouch and others. Beragam warna. Beragam bentuk.
Seperti kehidupan. Beragam rasa.
Ketika langkahku terhenti di hadapan salah satu rak kaca dan melihat sebuah peach sling bag berdiri dengan kokohnya, aku teringat ketika kamu memberiku sebuah sling bag berwarna sama setahun lalu.
Katamu, “Ini, agar barang-barangmu tidak berceceran.”
Saat itu kusadari jika bagian bawah tas yang kupakai sudah robek.
Sekarang, sling bag itu masih ada. Setahun berlalu, tas itu masih ada.
Kamu tidak lagi ada.
Sling bag itu masih setia menggantung di pundakku, dengan ujung bawah yang sudah robek. Jahitan berwarna emasnya sudah tercerabut di beberapa sisi.
Namun kenangan tentangmu tidak pernah robek atau tercerabut di beberapa sisi. Tidak pernah peduli berapa lama waktu berlalu.
Peach sling bag di atas rak kaca seolah memanggilku, memintaku untuk meraih dan membelinya agar mengganti tasku yang sudah robek. Agar barang-barangku tidak berceceran. Ketika tanganku terulur untuk meraih tas itu, aku tersadar akan satu hal.
Andai mengganti dirimu semudah mengganti tas yang robek.


NB: FF super cepat (yang sudah direvisi) hasil dari Nulisbuku Club Selasa malam di outlet Urban Icon Senayan City, atas arahan Mbak Hanny @beradadisini

Saturday, May 4, 2013

[curhat] Happy Fangirling

Happy Fangirling


The other girl dreams about the wedding ring and at my age, I’m still dreaming about the one ring.

Gue ketemu foto ini di salah satu fanpage tokoh-tokoh rekaan Tolkien yang ada di Facebook—sebelumnya juga pernah lihat di Twitter cuma gue lupa. First time I saw this picture, I said to myself ‘dammit. It’s true but at the same time this pict makes me realize that I’m so shallow haha.’
Not literally gue cuma mikirin the one ring aja sih, tapi lebih ke happy fangirling yang sekarang jadi hobi terbaru gue.
Di salah satu percakapan dengan teman, she said: stop ya itu fantasi nggak bener lo dan mulai mikirin realita.
Let me ask you this, at my age, middle twenties, dosa ya masih fangirling kayak gini?
Seriously, gue merasa seru-seru aja fangirling meski kadang gue ngerasa how embarrassing this is. Me, at the middle of twenties, still want to bury my face in my pillow and scream lovely about some of Hollywood actor. Trus, ketika gue melihat tempelan poster di dinding kamar, foto-foto mereka yang gue kumpulin di internet, kegilaan gue karena teriak pas menonton video mereka, memang sih bikin gue ngerasa kayak balik ke my teenage life. Tapi, apa dosa besar ya masih sibuk happy fangirling di usia gue sekarang?
Lalu masih teman yang sama mulai menyalahkan kesukaan gue membaca novel dan menonton film produksi Hollywood sana. Dia bilang otak gue harus segera dicuci biar mikirin yang benar-benar aja. Oke, mikirin tentang war of the ring, fall of Gondolin, atau gimana kabarnya USS Enterprise atau gimana kelanjutan hidup Brooke dan Julian, itu salah? Seriously, karena gue merasa sah-sah aja.
Intinya, seperti di gambar di atas, salah ya gue masih mikirin the one ring ketimbang wedding ring? Salah y ague masih asyik happy fangirling ketimbang nyari calon laki?
Teman yang sama bilang ini fase denial gue karena ngejomblo.
Crap!
Memang sih akhirnya gue balikin ke dia karena meski terlihat shallow, at least hidup gue nggak kering karena penuh imajinasi dan fantasi. Haha. Perlu diingat, imajinasi adalah hal paling mahal yang dimiliki seseorang.
Karena dengan imajinasi dan happy fangirling, ada satu draft berhasil diselesiakan hanya karena gue dan my writing partner sama-sama sibuk happy fangirling.
So, kesimpulan gue dari post nggak penting ini, fangirling bisa terjadi di usia berapa saja. Jika ababil sibuk fangirling ke Justin Bieber atau Zayn Malik, untuk gue dan lo-lo yang berada di middle twenties, Hollywood menyediakan banyak aktor matang yang siap menguji iman kita dan membuat kita berteriak.
Here are my lists of fangirling.
Richard Armitage
Aidan Turner

And the list still on and on with Michael Fassbender, Tom Hardy (oh, his accent), Chris Pine (his eyes), Josh Duhamel (his tan skin. Sexy), and others. AAAKKKKK

Oh, jangan lupa ilustrasi about tokoh-tokoh rekaan Tolkien yang menjamur di Facebook gue haha.
So, at my age, it’s okay if I’m still dreaming about the one ring. Haha…

Friday, May 3, 2013

[book] Pink Slip Party by Cara Lockwood

Pink Slip Party
Cara Lockwood


Komentar pertama: what the hell are you thinking, Jane? *getok kepala Jane*
Pink Slip Party bercerita tentang si clumsy-ceroboh-cenderung-bodoh-nggak-berpendirian-lemah Jane McGregor yang, apesnya, jadi satu dari 1000 karyawan Maximum Office yang dipecat. Bukan hanya itu, pacar Jane sekaligus bosnya, Mike, juga memutuskannya. Jadilah Jane pengangguran yang sehari-hari kerjanya nonton acara nggak penting di tv dan terjebak hutang. Begitu pesangon datang, bukannya ditabung malah hura-hura. Karena bangkrut dan terancam diusir dari apartemennya, Jane menerima Missy, rekan kerjanya yang dulunya nggak akrab-akrab banget dan dipecat juga, jadi roommate. Lalu tiba-tiba Steph, sahabat Jane, malah resign dari kantor dan tinggal di apartemennya. Belum lagi Ron, mantan pacar yang sekarang lagi dekat sama Missy dan juga pengangguran tinggal di sana, ditambah tiga cewek gipsi palsu teman Ron. Dan Ferguson, rekan sekantor yang juga terancam dipecat. Bisa dibayangin gimana hancurnya apartemen Jane? Selama baca gue mengernyit jijik dengan kejorokan makhluk-makhluk aneh di sekitar Jane. Hiyuuuhhh….
Keluarga Jane juga abnormal. Jane sendiri juga abnormal. Banyak sih guyonannya tapi gue nggak nyambung dengan jokes itu. Mungkin karena baca terjemahan kali ya jadi jokesnya aneh. Atau karena jokes gue dan jokes orang Amerika sana beda banget jadi gue selalu komentar ‘apa sih?’
Well, cerita tentang pengangguran di Amerika ini lucu sih. Khas chicklit. Dengan heroine yang—as usual—ceroboh dan boros dan uung-ujungnya patah hati. Not bad sih. Sebagai bacaan ringan lumayan menghibut.
Cumaaaa romance-nya nanggung. Ujug-ujug sama Kyle aja tanpa ba bi bu dan chemistry-nya kurang. Konflik mereka juga kurang kuat. Tiba-tiba penyelesaiannya semua happily ever after.
Ini novel Cara Lockwood pertama yang gue baca. So far oke sih cuma ya nggak terlalu suka-suka banget sih. Dan Kyle, well, gue nggak bisa ngebayangin gantengnya Kyle kayak apa ya? I need to know more about them. Nggak cuma sebatas ciuman, rabaan, dan making love aja. I need their chemistry.
Selain itu, penyelesaian kasus hutang Jane dan aksi balas dendam mereka ke Maximum Office terasa diselesaikan dengan cara cepat alias nggak dibahas-bahas banget. Gue juga penasaran sama kelanjutan nasib Mike.
Gue melihat ada banyak kans drama di sini, seperti Caroline yang munculnya seiprit padahal bisa dijadiin senjata untuk memisahkan Kyle dan Jane (Laura nggak usah ada). Juga aksi balas dendam dan Missy. Bakalan lebih seru kalau Missy tertangkap dan ketahuan mereka yang balas dendam. Drama di mana-mana. Sayangnya semua hanya ada di bayangan gue aja.
Email jawaban atas lamaran pekerjaan Jane di setiap awal bab lumayan menghibur tapi bikin gue mikir. Memang di sana boleh ya manipulasi CV? Abis Jane gitu, haha. Untuk memperkuat betapa bodohnya Jane, dia melamar kerja ke semua tempat, mulai jadi CEO sampai tukang cat M&Ms. Padahal dia desainer grafis. Hmmm….
Maybe next time gue akan cob abaca buku Cara Lockwood yang lain di versi bahasa aslinya.