Sunday, April 28, 2013

[cerpen] Basket Girl and Soccer Player

Basker Girl and a Player #1

Note: Cerita berawal dari rasa heartwarming begitu membaca sejarah pertemuan Theo Walcot dan Melanie Slade. Sebuah perjumpaan yang manis. Kartu nama, di depan toko, dan keranjang. Lalu jadilah sebuah cerita berupa fanfiction ini. Juga ada nama Gareth (dari Gareth Bale, former Southhampon player just like Walcott) and his wife, Emma Rhys-Jones.



Melanie
Do you know the most stupid job in the world? That’s my job.
Seriously. Berdiri lima jam sehari—hanya dengan sesekali istirahat singkat—di samping pintu dengan sebuah keranjang rotan di tangan bukanlah pekerjaan yang membanggakan. Meski aku bekerja di Mary yang sangat prestisius, menjadi basket girl sama sekali tidak membuatku senang. Walaupun bayarannya jauh lebih tinggi ketimbang jadi waitress, tetap saja pekerjaan ini sangat membosankan.
B-O-R-I-N-G . Boring.
Dan siang ini, aku kembali harus melewatkan waktu membosankan selama lima jam di pintu masuk Mary, dengan keranjang rotan di tangan berisi souvenir yang harus kuberikan kepada setiap pengunjung yang selesai berbelanja di Mary.
Bekerja di Mary sudah menjadi impianku. Sebagai mahasiswa fashion design, menjadi intern di brand sekelas Mary jelas merupakan pencapaian terbaik bagikut. Noted, aku baru semester dua. Masih anak bawang.
Namun alih-alih diinterview oleh Victoria, creative director Mary, perempuan yang hanya bisa kulihat di televisi atau majalah itu malah melemparku ke tangan Rian, store manager Mary Flagship Store. Aku sempat bertanya-tanya akan mendapatkan posisi apa. Jika tidak bisa bekerja di bawah arahan Vitoria di House of Mary, setidaknya menjadi salah satu stylist di store Mary sudah cukup prestisius. Hanya ada satu flagship store Mary di Indonesia, di Pacific Place, dan bahkan lebih besar ketimbang flagship store yang ada di Orchard Road.
But now, here I am. Dengan keranjang rotan di pintu masuk Mary.
Ya, kata Rian, aku belum memiliki portfolio mentereng yang bisa memikatnya sehingga satu-satunya posisi yang cocok untukku adalah being a basket girl.
A straight-A-student- from the most prestigious school of fashion design in this country turn into a basket girl. Silly.
But I need this job. Maksudku, aku butuh uang untuk mengisi tabungan yang sedang kupersiapkan untuk liburan ke Inggris tahun ini.
“Melanie, smile.”
Aku melirik sekilas ke belakang punggung dan melihat Rian berkacak pinggang di sana. Dia memelototiku, seakan-akan siap menerkamku jika aku tidak segera menarik bibirku membentuk sebuah senyuman.
Aku hanya bisa mendengus sebal. Siang ini aku merasa capek karena semalam begadang mengerjakan tugas kuliah. Ingin rasanya ganti shift tapi tidak ada yang mau menggantikanku. Lagipula, tiga bulan mengerjakan hal bodoh seperti ini sangat memuakkan. Aku ingin berhenti tapi belum memiliki pekerjaan cadangan. Lagipula, aku masih berharap pihak Mary melihat kapasitasku dan mengangkatku sebagai intern dengan jobdesk yang sedikit lebih masuk akal.
Aldi, doorman yang bertugas siang ini membukakan pintu. Seorang bapak berperut gendut dengan rambut separuh botak berhenti di hadapanku. Di sebelahnya ada perempuan yang kuyakin usianya tidak berbeda jauh dariku tengah bergelayut di lengan si bapak tua. Tangan si bapak tua penuh dengan shopping bag berlogo Mary.
Aku mencibir. Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di mataku. Sehari-hari aku menyaksikan bapak-bapak tua berdompet tebal dan cewek matre yang rela do everything demi kartu kredit si Bapak Tua. Atau perempuan berwajah sengak yang melenggang santai sementara di belakangnya berjalan terseok-seok pria berwajah lelah membawa berkantong-kantong belanjaan. Ada banyak cerita tersaji di pintu masuk Mary. Jika sedang bosan, aku bisa menghibur diri dengan memerhatikan pengunjung Mary atau siapa saja yang lalu lalang di hadapanku.
Tapi siang ini aku sedang tidak mood untuk memerhatikan orang-orang itu.
Seperti seorang robot, aku memaksakan diri untuk tersenyum, merogoh isi keranjang, mengambil souvenir—hari ini souvenir berupa botol kecil berisi parfum baru keluaran Mary—dan menyerahkannya ke si cewek matre.
“Thank you for coming. Happy Mary.” Happy Mary, sapaan bodoh khas Mary yang selalu membuatku terlihat semakin bodoh. Happy Mary, I don’t know what it is.
Seperginya si Bapak Tua dan si Cewek Matre, aku kembali manyun. Ingin rasanya menguap tapi itu jelas tidak mungkin. Rian bisa mendapat penyakit jantung jika aku bertingkah memalukan seperti itu. Mataku melirik manekin yang terpajang di dalam Mary. Mungkin hidupku sama membosankannya dengan manekin itu karena dari hari ke hari hanya melakukan hal yang sama. Berdiri diam.
Tapi setidaknya manekin itu lebih beruntung. Dia tidak bernyawa. Dia tidak merasa. Aku merasa.

Theo
“Theo, ini gimana menurut lo?”
Aku mengalihkan mata dari biker jacket yang sedang kuperhatikan. Di hadapanku, Gareth, temanku yang menarikku menemaninya berbelanja di toko ini, memamerkan sebuah gaun bermotif bunga kepadaku. Keningku mengernyit. Aku tidak mengerti sedikitpun tentang fashion.
“Kira-kira Emma bakal suka nggak ya kalau gue kasih ini?”
“Mana gue tahu. Yang pacarnya kan lo. Harusnya lo lebih tahu,” semburku asal.
“Payah lo. Nggak nolong sedikitpun.”
Yeah whatever. Seharusnya Gareth tahu resiko mengajakku melakukan hal yang paling kubenci. Berbelanja? Itu urusan perempuan. Tapi Gareth malah memaksaku menemaninya berbelanja dengan alasan ingin memberi hadiah kepada Emma, pacarnya. Entah setan mana yang membujuk Gareth melakukan hal sok romantis seperti ini.
Gareth sudah kembali memilih-milih baju. Syukurlah sekarang dia sudah ditemani shopkeeper yang pastinya lebih berpengalaman dibanding aku. Aku memutuskan untuk berkeliling di section pakaian cowok dan mencari yang sekiranya cocok untukku.
Cibiran refleks keluar dari bibirku saat melihat baju yang dijual. Semuanya terlihat formal. Tidak sesuai dengan seleraku yang menjunjung tinggi jeans and t-shirt. Tidak perlu berpakaian yang aneh-aneh. Toh dengan jins lusuh dan t-shirt buluk aku bisa menggaet perempuan manapun yang aku mau.
It’s all because of my face. Haha.
Tidak ada pakaian yang mampu menarik perhatianku, aku mengalihkan pandangan ke perempuan-perempuan muda segar yang menjamur di toko ini. Mungkin ada satu saja yang menarik perhatianku.
Sial, lagi-lagi ini hari burukku. Yang cantik-cantik memang banyak, tapi semuanya malah menggandeng bapak tua yang lebih cocok jadi ayah mereka. Cewek Matre does exist. Ya, di zaman serba susah seperti ini, percuma berwajah ganteng jika kantong cekak. Buktinya, cewek cantik di toko ini lebih memilih si kaya daripada si ganteng.
Dibanding bapak-bapak itu, jelas fisikku lebih menang. Tapi untuk urusan kantong, ya mau nggak mau harus diakui jika mereka menang telak.
“Theo.”
Panggilan Gareth menyentakku dari kesyikan memerhatikan cewek petite dengan rok super pendek di hadapanku. Dengan malas aku menghampiri Gareth.
And there I see her. Seorang perempuan—cukup manis kalau saja dia tidak cemberut—di dekat pintu dengan sebuah keranjang rotan di tangannya. Perempuan itu sebenarnya tidak begitu stunning, tapi keranjang itu begitu mencolok. Keranjang rotan hanya cocok dibawa untuk piknik di taman. Kalaupun dia penggiat green living, seharusnya dia membawa tas kain saat berbelanja, bukannya membawa keranjang rotan.
Sambil menahan tawa, aku menghampiri Gareth. Tapi tatapanku masih terpaku ke perempuan itu. Aku tidak ngeh apakah dia sudah berdiri di sana sejak kedatanganku tadi atau tidak.
“Kenapa lo ketawa-ketawa kayak orang gila?” Tanya Gareth setibanya aku di dekatnya yang sedang membayar belanjaannya.
Dengan isyarat dagu aku menunjuk perempuan-dengan-keranjang-rotan itu. “Ada yang nyasar piknik ke mall,” gurauku.
Gareth menoyor kepalaku. “Dia bekerja di sini, bukan piknik.”
Aku melongo. “Lo tahu dari mana?”
“Mary ini toko favorit Emma. Gue sering nemenin dia belanja di sini dan selalu ada basket girl di pintu masuk. Mereka memberikan souvenir kepada setiap pengunjung,” jelas Gareth.
Kembali aku menengok perempuan itu. Benar saja. Dia tengah memberikan sebuah botol ke perempuan muda dan bapak tua yang baru saja keluar dari toko ini. Dan dia tersenyum.
Manis juga.
“Yuk, cabut. Kita cuma punya waktu setengah jam sebelum balik ke stadion.” Gareth menarikku.
Sepanjang perjalanan menuju pintu masuk, tatapanku terus tertuju ke perempuan itu. Selepas pelanggannya pergi, dia kembali cemberut. Apa dia tidak tahu kalau dia jauh lebih manis kalau sedang tersenyum?
“Ada kegunaan lain nggak dari keranjang itu?” tanyaku.
Gareth mendelik. “Mungkin lo bisa menaroh kartu nama di sana,” dengusnya.
Ucapan itu hanya asal bunyi, tapi aku malah tersenyum lebar. Ide Gareth tidak selamanya jelek.

Melanie
“Thank you for coming. Happy Ma...”
Ucapan itu tersangkut di ujung ludah begitu aku melihat siapa yang keluar dari pintu yang dibukakan Aldi.
They’re gorgeous.
Bukan satu, melainkan dua orang sekaligus.
Oh ya, mungkin hal paling mengasyikkan sepanjang melakukan pekerjaan membosankan ini adalah karena aku bisa bertemu makhluk berjakun dengan wajah di atas rata-rata. Seperti siang ini. bukan hanya satu, melainkan dua orang. Pria pertama yang keluar dari Mary bertubuh tinggi atletis—terlihat jelas dari balik polo shirt dan jaket jins yang dikenakannya. Di tangannya ada sebuah shopping bag berlogo Mary. Menyusul di belakangnya pria berkulit coklat sedikit lebih pendek dengan rambut ala militer dan jambang memenuhi rahanga. Manis dan sangar at the same time.
“..ry,” sambungku setelah bisa menguasai diri.
Si jangkung tersenyum. Buru-buru aku merogoh isi keranjang dan memberikan sebotol parfum kepadanya.
“Incomplete. The new fragrance from Mary,” seruku sambil menyerahkan botol kecil berpita ungu ke tangan si jangkung.
Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang rendah.
Aku berpaling ke si kulit coklat. Dia tersenyum. Semanis senyum si jangkung tapi aku bisa melihat kesan menggoda di balik senyum itu.
Such a player.
Menjadi basket girl juga melatih pengamatanku. Aku bisa menilai orang-orang yang berpapasan denganku melalui senyum, ekspresi wajah, dan gestur mereka.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum sambil melirik si jangkung. Si jangkung memiliki senyum lebih tulus darpada pria yang sekarang berdiri di hadapanku meski si jangkung kalah ganteng.
Rerleks tanganku merogoh isi keranjang untuk mengambil souvenir. Namun, tanpa disangka-sangka, sebuah tangan menahanku. Aku tercekat saat menyadari pria itu juga merogoh ke dalam keranjangku.
Bibirku sudah membuka untuk menyampaikan protes ketika si kulit coklat mengeluarkan tangannya tanpa mengambil satu botol pun. Dengan penuh keheranan, aku melirik isi keranjang. Ada yang aneh di sana. Sebuah kartu nama yang sebelumnya tidak ada.
Kembali aku mendongak menatap si kulit coklat. Senyumnya terlihat semakin lebar.
“I don’t need your fragrance. I need your call,” ujarnya enteng.
Sebelum aku berhasil mengembalikan kesadaranku, pria itu sudah berlalu menyusul temannya.
Aku pikir ini mimpi, tapi ketika melihat ke dalam isi keranjang, kartu nama itu benar-benar ada di sana. Perlahan, aku mengambilnya.
Theo Wicaksono. Dan sederet nomor telepon juga email. Serta logo Jakarta Club.
Being a basket girl is so boring, tapi setidaknya sebuah kejadian tidak terduga mampu menyelamatkan hidupku.
Aku menatap ke arah kedua pria tadi. Dalam hati aku menyesali, kenapa bukan si jangkung yang memberikan kartu namanya?


Friday, April 26, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #22 1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
Charon
(Ini cover lama. Punya gue cover lama. Kemaren baca di Twitter Gramedia kalau novel ini cetak ulang dengan cover baru)
(Ini cover baru. Jujur, gue lebih suka cover lama. Kesan musim gugur yang sendu cocok banget sama feel cerita)


Setelah sekian lama nggak baca Amore, akhirnya baca lagi. Sebelumnya belum pernah dengar nama Charon jadi ini pengalaman pertama baca buku dia.
Seribu Musim Mengejar Bintang. First tought: Judulnya lebay hahaha *sorry*
Novel ini bercerita tentang kehidupan Laura selama sepuluh tahun. Mulai dari dia berusia 16 tahun sampai 26 tahun. Laura yang tinggal di kota kecil di pinggiran kota besar—bingung? Sama, gue juga—dijuluki sebagai siswi kampung oleh teman-teman sekolahnya yang anak gedongan yang sudah barengan sejak TK. Laura hanya tinggal sama mamanya yang single parent. Laura digambarkan sebagai seorang anak penurut, introvert, selalu diam, dan sendu—yang terakhir cuma kesan yang gue tangkap selama membaca buku ini. Selama dua tahun Laura memendam perasaan suka sama Niko, si sempurna—ganteng, baik, kaya, pintar, ketua OSIS. Dooh! Too perfect—tapi diam aja karena merasa nggak selevel dan Niko juga sudah punya pacar, Erika, si popular. Baru di tahun ketiga Laura bisa menjadi teman sekelas Niko. Mereka dekat—tanpa rencana—tapi karena suatu kesalahpahaman, mereka berpisah dengan tidak baik-baik. Laura ikut mamanya yang dipindahin ke suatu kota entah di mana sejarak dua jam perjalanan dengan pesawat dari kotanya sekarang oleh kantor mamanya sedang Niko mengejar mimpinya menjadi perancang perhiasan ke New York.
Lalu cerita masuk ke bagian kedua. Tentang Laura dan kehidupan barunya sebagai pelayan resto, lalu asisten chef, chef, dan belajar ke chef terkenal di Italia. Lalu kembali dan jadi chef kepala. Bagian ketiga berisi tentang perjalanan Niko di New York, kuliah di Gemology Institute of America, hubungannya dengan orangtuanya, dan kemudian bekerja bersama Julien Bordeaux, perancang perhiasan ternama asal Prancis yang membantu mewujudkan mimpinya, sukses dan pulang ke Indonesia. Bagian keempat berisi tentang Laura yang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu ibunya yang memberinya sebuah keluargabaru. Di sini dia bertemu Luki dan mengalami kecelakaan. Lalu bagian kelima, Laura-Luki-Niko. Pertemuan kembali mereka, kehadiran Luki, dan kecelakaan.
Akhirnya? Well, baca sendiri.
Ceritanya so far seru. Gue cukup enjoy meski bahasanya terlalu lembut dan gue yang sedang menerjang macet suka kehilangan kesabaran baca tulisan selembut ini sehingga beberapa di-skip. Tapi dialog Laura dan ibunya menurut gue terlalu kaku untuk sebuah percakapan ibu dan anak. Dan juga, alurnya terlalu cepat. Memang sih untuk sebuah perjalanan selama sepuluh tahun novel ini tergolong tipis. Terus, konflik berlapis yang dihadirkan membuat gue merasa hidupnya Laura ini rumit banget. Lepas dari satu masalah masuk ke masalah lain. Karakter Laura bisa saja menjadi gengges tapi syukurlah, gue nggak merasa dia gengges. Gue cuma nggak dapet feel Niko. Entah karena mengenal dia sejak bocah SMA, atau dia too perfect, atau apa. Justru Luki yang mencuri perhatian gue meski porsinya nggak sebesar Niko. Gue kecele dengan Luki. Gue pikir dia ada hubungan spesial dengan Laura, ternyata hubungan mereka hanya sebatas… ah sudahlah. Two thumbs up untuk kejutan ini. sedang Niko? Hidupnya terlalu gampang. Permasalahn dengan orangtuanya so cheesy. Meh, nggak ada effortnya haha.
Namun Niko sedikit dimaafkan berkat pilihan kerjanya. Perancang perhiasan alias ahli gemologi. Sebuah profesi yang fresh dan belum pernah diangkat. Mungkin next time ada novel yang jauh lebih mengulas tentang profesi ini karena sepertinya seru.
Yang paling mengganggu adalah ketidakjelasan di mana tokoh-tokoh ini tingga. Dooh! Apa susahnya sih nulis Jakarta? Atau kota lain? Kasih gambaran yang jelas gitu. Nggak Cuma ditulis kota kcil pinggiran berjarak 45 menit perjalanan naik bis ke sekolah, atau, kota besar yang ada bandaranya, atau kota besar sejauh dua jam perjalanan dengan pesawat dari kota kecil itu. Dooh! Gengges.
So far this novel is okay untuk mengisi waktu selama di perjalanan. Apalagi kalau dibaca sambil ngopi, angin sepoi-sepoi dari jendela mobil yang dibuka saat melaju di jalan tol yang kosong sehabis hujan. Manis. 

Sunday, April 21, 2013

[book review] Last Night At Chateau Marmont by Lauren Weisberger

Last Night At Chateau Marmont
Lauren Weisberger


What will you do if your husband become a superstar at one night?
Brooke Alter merasakan hal itu. Setelah lima tahun Julian Alter, suaminya, berjuang menjadi intern di Sony, kabar gembira itu datang juga. Sony signed him. Selama ini, Brooke memerankan peran seorang istri yang suportif, bahkan rela double job untuk memenuhi kebutuhan mereka, juga membayar sewa studio, agen, manajer, dan mendukung penuh karir Julian. Brooke yakin Julian is a superstar meski menurut sahabatnya Nola, Julian is only a gigs-star. Meski Julian berasal dari kalangan elite Upper East Side, dia memilih untuk keluar dari rumah orangtuanya demi kecintaannya terhadap musik. Pertemuan yang tidak disengaja di salah satu gigs Julian membuat mereka saling mencintai dan memutuskan menikah di usia muda.
But now her life has change. Julian ada dimana-mana, setelah kemunculannya yang spektakuler di private gigs Sony, Jay Leno Show, Today Show, cover Vanity Fair, musisi pembuka di tur Maroon 5, dan albumnya, For The Lost, menempati peringkat 4 Billboard. Amazing. Tapi akibatnya, mereka menjadi bulan-bulanan media dan inceran paparazzi, terutama tabloid gossip mingguan, Last Night.
“I am an ordinary civillain, but you are a superstar.”
Last Night At Chateau Marmont mengisahkan tentang pasangan suami istri, Brooke Alter, a nutritionist, and Julian Alter, a new Hollywood sweetheart. Kehidupan mereka yang biasa-biasa saja mendadak berubah dalam salah satu malam setelah Julian menandatangani kontrak dengan Sony.
Once again, it’s very heartwarming. Ups and down yang dirasain Brooke bikin gue terlibat love and hate relationship with Julian. Yess, Julian is a sweet guy who love her wife so much and at same time he is trying to deal with his new life as a superstar. Seperti di Chasing Harry Winston, Lauren berhasil menghadirkan gemerlap Hollywood dan nggak susah memang hidup di bawah kejaran paparazzi. Gosip murahan soal Julian itu sering ditemui jika lo suka baca berita nggak bener tentang artis Hollywood.
But, Brooke. I don’t know why I can’t related to her. Seriously. Dari awal diceritain kan kalau Brooke ini support semua kegiatan Julian. She believe that someday Julian will reach his dream. Nah, begitu semua impian Julian terwujud, dia malah uring-uringan. Awalnya gue simpati sama Brooke karena memang nggak mudah beradaptasi dengan kehidupan yang baru ini. Bahkan gue nangis ketika Brooke rela buang-buang tabungannya beliin Julian baju yang lebih pantas saat Julian nelepon dia dan bilang Sony ingin mengubah image Julian jadi sedikit rapi but at the same time Julian come home with a huge travel bag full of clothes. Mahal-mahal. Dan membuat baju pembelian Brooke nggak ada artinya. Juga ketika Last Night membuat artikel jahat tentang Brooke. Gue ikutan nangis. Apalagi ketika Julian marah dan membela Brooke, it’s heartwarming. Namun ketika di akhir Brooke dengan mudah melepas Julian, meeh, come on, Brooke. Kok segitu mudahnya melepas Julian cuma karena gosip perselingkuhan?
Afterall, as acontemporary romance, LNCM is recommended. Semua elemen contemporary romance ada di sini. Lovable heroin, cute and charming and ngegemesin hero, fabulous sidekick, cheesy conflict but heartwarming, and invisible antagonis. Sejak awal gue sudah benci sama Leo, manajer Julian. Dia nggak digambarin jahat sih, malah dia seorang manajer yang hebat. But, di otaknya cuma ada how-to-make-Julian-popular. Just it. Dan dia menganggap remeh Brooke. Minta ditonjok banget. Dan ketika di ending nasib Leo jadi jelek, gue ketawa hahaha.
Satu hal yang mengganggu: a hole. Mungkin ini sudah jadi kebiasaan Lauren ya. Di CHW juga ada. Kali ini hole ada di part ketika Julian diundang ke private party Sony yang sangat mewah tapi barengan dengan liburan musim dingin yang sudah dirancang Brooke sama anak-anak Huntley sejak lama. Julian mulai menganggap remeh pekerjaan Brooke dan di sini gue ikut ngerasa gimana terlukanya Brooke. Akhirnya gue penasaran, apa Brooke akan ikut Julian atau tetap sama anak-anak Huntley? Balik halaman, bab baru, sudah tahun baru aja dan Julian dan brooke sedang liburan di Hamptons. Ohmigod. There is a hole about the last conflict. Gue ingin dijelasin tentang gimana mereka dealing sama jadwal yang tabrakan, pilihan mereka, paparazzi, and others. Memang sih dijelasin kalau mereka ikut acara masing-masing dan menimbulkan spekulasi di kalangan wartawan kalau rumah tangga mereka bermasalah. But it’s not enough. I want more.
Afterall, gue suka sama writing style Lauren yang detail. Satu hal yang gue pelajari tentang contemporary romance-chiklit kayak gini: always put a fabulous women in your story, ha ha.
Anyhow, gue senang semua novel Lauren sudah lengkap. Next target: Everyone Woth Knowing. Then, Devil Wears Prada sebagai antisipasi menyambut Revenge Wears Prada.

Note: Chateau Marmont merupakan hotel mewah di Hollywood yang suka ditempati oleh selebriti Hollywood. Here is Chateau Marmont.


Note: When I read about Julian Alter, I imagine him as Ron Pope. An American musician. Apalagi Ron juga suka pakai knit cap kayak Julian. Here is my imaginary Julian Alter aka Ron Pope
Note: Tahun 2012 ada wacana HBO mau membuat serial Last Night at Chateau Marmont ini. Akkk, moga-moga beneran jadi ya.

Friday, April 19, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #21 Fade In Fade Out

Fade In Fade Out
Wiwien Wintarto



Tell me, what pop into your mind when you heard about sinetron? Me: cheesy, nggak logis, sumber hina dina, kumpulan mata melotot dan ngedumel sendiri, artis remaja yang disulap jadi tua and so on and so son.
Sinetron menjadi premis utama novel ini. Fade In Fade Out bercerita tentang Seto, seorang editor di Tabloid Abege—tabloid lokal di Semarang—yang sering menghina sinetron dalam setiap reviewnya. Sampai sinopsis dia yang berjudul Keluarga Kancil diterima oleh sebuah PH kecil. Dengan penuh tekad baja dan idealisme tinggi, Seto berangkat ke Jakarta demi mengubah pola persinetronan tanah air. Seakan belum cukup, sinopsis dia yang lain—berjudul Kafe Lima—juga diminati oleh PH besar. Kali ini, si PH besar itu—SineStar—malah merombak Kafe Lima jadi seperti sinetron yang ada sekarang. Seto gambling, take it or leave it? Selain itu, dia juga bingung karena merasa jatuh cinta sama Farah si anak konglomerat bos Magelang FC atau melanjutkan rencana perjodohan yang diatur oleg keluarganya dengan Dana, assistant creative director Winner Publishing.
Top of all, ketika membaca novel ini gue serasa kembali digiring ke ruang kelas kuliah. Dengan Bang Ade Armando atau Mbak Nina Armando bercerita panjang lebar tentang kondisi pertelevisian Indonesia. Gue serasa bukan lagi baca novel, melainkan ada di kelas Sistem Komunikasi Indonesia. Time flies. Rasanya baru kemaren gue masih mengangguk-angguk paham atas penjelasan Bang Ade tentang dunia televisi Indonesia. Sekarang? Gue udah kerja aja bo.
Ketika membaca novel ini, mau nggak mau gue ikut ngakak dengan komentar Seto. Well, komentarnya benar banget. Tentang sinetron sekarang yang makin nggak banget. Mau sok-sokan idealis mbok ya susah karena bawaan PH ya rating melulu *rating. Pembahasan penting selama empat tahun kuliah hahaha* Seto yang dengan penuh idealisme mau membuat sinetron seperti halnya Dawson Creek, Party Of Five, Friends, and others hanya bisa gigit jari saat skenarionya diobrak abrik. Ya mau gimana lagi? Saat ini memang keadaan pertelevisian nggak ramah sama mereka yang idealis. Ketika kuliah pun gue sering membahas hal ini—termasuk beberapa paper yang pernah gue kerjain. Nyatanya, saat kerja? Terjebak kapitalis. Realistis. Sigh!
Overall, ceritanya seru—terlepas dari bayangan akan masa kuliah yang selalu melintas di benak gue. Tapi… ini buku Wiwien Wintarto pertama yang gue baca dan gue menyadari tokoh Farah ada kaitannya dengan novel sebelumnya, The Sweetest Kickoff. Arghh gue belum baca. There is a hole in this novel yang gue rasa bisa gue temukan di The Sweetest Kickoff. Jadi nyesel kan selama ini selalu menunda-nunda baca TSK? Pokoknya habis ini harus baca TSK.
I love Mas Wiwien writing style. Berasa real. Membaca biografi singkat di belakang novel, nggak heran sih. Secara Mas Wiwien memang seornag wartawan yang pernah terjun ke dunia sinetron.
Satu lagi dan ini yang paling penting. Ketika baca novel luar—tarohlah Lauren Weisberger karena gue baru selesai baca novel dia juga—penulisnya dengan santai mencatut nama tokoh asli, seperti artis-artis yang ada. Sedangkan di novel Indonesia gue jarang menemukannya. But I found it here. Yup, hal yang bikin novel ini lebih real adalah kehadiran tokoh-tokoh nyata macam Dana yang kenal sama Ricky Harun, Zainal Abidin Domba yang mau main di keluarga Kancil, ayah Farah yang pejabat Partai Demokrat dan pendukung SBY, lagi meeting dengan petinggi PSSI dan Menpora. Aaakkkk…. I like it. Ketika di novel Lauren, gue mempelajari, jika kehadirannya hanya sekadar pemanis dan nggak member efek negatif kepada si tokoh, so be it. Ketika seorang artis memegang peranan penting—seperti artis Layla Lawson di Last Night at Chateau Marmont yang kerjanya mengganggu Julian—dibuat nama bikinan. Kalau cuma selintas lalu, yowislah, pake nama asli. Di sini juga begitu. Surprise bo. Terus ya nama stasiun televisinya juga disebut yang beneran ada macam RCTI, SCTV, Indosiar deelel. Giliran kantor advertising Dana, mengingat porsinya banyak, ya dibuat sendiri. Finally ada juga novel yang kayak gini.
Satu yang bikin gue gregetan, perubahan sikap tokoh Farah. Memang sih cukup dijelasin alasan dia berubah tapi ya gue merasa masih belum cukup. Berdasarkan info yang gue dapat, katanya Farah lumayan banyak nongol di The Sweetest Kickoff. Yuk mari mencari novel itu buat mengurangi penasaran. Terus yang lucu, penggambaran tokoh Dana. Gue selalu yakin kalau orang beneran tajir melintir itu nggak sombong malah bisa dibilang humble karena bagi dia duitnya ya udah, nothing special. Yang norak itu si tajir nanggung. Di novel ini juga gitu. Farah si tajir melintir biasa aja, justru Dana si tajir nanggung yang norak dan show off. Hahaha.
At last, yang bikin gue ngakak adalah nama PH, NE dan SineStar. Merasa familiar? Gini deh, nama PH terbesar yang menguasai televisi saat ini apa? SinemArt dan MD Entertainment. SinemArt jadi SineStar. MD jadi NE (abjad setelah M ya N. setelah D ya E). Kreatif hahaha.
So far I enjoy this novel. Buat mahasiswa Komunikasi, baca deh. Dijamin kalian akan kangen kuliah. Karena gue kangen duduk di kelas Sistem Komunikasi Indonesia atau Psikologi Komunikasi atau Komunikasi Global atau Kapita Selekta Jurnalisme atau Manajemen Media Massa deelel untuk membahas masalah sistem komunikasi kita bersama dosen-dosen gue yang keren-keren dan pintar-pintar itu, terutama Ade Armando—and yup, bahan kuliah tentang kejatuhan TVRI, Bhakti Investama, dan system pertelevisian dulu dan sekarang masih nyantol di otak gue hihihi.

PS: Gue suka covernya. Setelah lihat siapa yang bikin, ternyata eMTe, pantesss bagus. Setelah dilihat-lihat lagi, iya sih penggambaran Seto dan Farah mirip ilustrasi eMTe di majalah yang selama ini gue lihat.

Thursday, April 18, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #20 Autumn Once More

Autumn Once More
Ika Natassa, AliaZalea, Ilana Tan, dkk



Antara puas dan nggak puas baca buku ini. Puas karena ceritanya two thumbs up semua. Nggak puas karena namanya juga cerpen jadi bacanya nanggung. Dooh! But first of all, I wanna say thank to Ijul aka @fiksimetropop karena telah memilih gue sebagai pemenang kuis dadakan yang diadakannya. Nggak nyangka sih secara selama ini hoki gue terhadap kuis-kuisan berada di titik terendah hihihi. Autumn Once More sudah masuk wishlist gue dan mendapatkan buku ini secara gratis jelas berkah dobel buat gue. Gue memasang ekspektasi tinggi terhadap kumcer ini, mengingat nama-nama yang terlibat di dalamnya. Bahkan editor yang selama ini sering berada di belakang meja sekarang muncul ke permukaan, bersama penulis binaan mereka. Setidaknya—for me—tiga nama penulis, Ika Natassa, Ilana Tan, AliaZalea, plus dua nama editor, Hetih Rusli dan Rosi L Simamora cukup menjadi jaminan kerennya buku ini.
And this is it.
Autumn Once More berisi 13 cerita. Ditilik dari judul-judulnya, so Metropop banget. Gue membayangkan judul-judul ini kemudian dielaborasi menjadi sebuah novel utuh. Keren pastinya. Yuk mari kita bahas satu-satu.

Be Careful What You Wish For by AliaZalea
Oke, begitu dibuka sudah langsung disuguhi cerpen Mbak Alia (finally I met her at gathering penulis dan pembaca GPU 6 April kemaren. Jika biasanya di konser musik ada koor penonton menyanyi bareng, kali ini ada koor kita menyebut nama tokoh plus detail-detail di dalam novel-novel mbak Alia. Keren euy). Cerpen ini bercerita tentang seorang cewek yang diam-diam naksir teman sekantornya tapi hanya bisa diam dan memandang penuh kekaguman dari jauh. Till one day, si cowok pergi. Si cewek menyesal. Lalu bersumpah jika ada kesempatan mereka bertemu lagi, she will make an effort. And there he is. Mereka bertemu lagi. Ketika melihat nama Mbak Alia, gue mengharapkan another hot-sexy-and-most-wanted-guy ala-ala Mbak Alia. Memang sih Gonta digambarkan so yummy but it’s not enough. Mungkin karena keterbatasan halaman dan minimnya interaksi Gonta dengan si cewek, jadi seksinya nggak terlalu dieksplor. Ceritanya ringan dan seru and—hate to say it—refers to myself. Apalagi bagian stalking. Percayalah, yang pertama kali mengemukakan kalimat kemampuan stalking cewek lebih jago ketimbang anggota FBI itu patut dikasih ucapan terima kasih because he/she is right. Dan ketika naksir seseorang, di jaman serba cepat dan teknologi maju seperti sekarang, cuma orang bego yang nggak ngestalk gebetannya, hihihi. Cerita Mbak Alia lumayanlah untuk opening.

Thirty Something by Anastasia Aemilia
Memang benar kalau tema klasik satu ini nggak bakalan pernah mati. Sampai kapanpun, friendship turns into lover akan selalu ada dan masih akan selalu menarik untuk disimak. This story is one of my favourite. Tentang sepasang sahabat, Rachel dan Erik, yang diam-diam saling cinta tapi malam ini adalah malam terakhir mereka bertemu karena besok Erik terbang ke Jepang untuk kerja. Di malam itu semuanya terbuka. Perasaan mereka. Namun ada sebuah perjodohan dan cincin yang mengikat di jari Rachel karena being thirty-something and single is not that easy in her family. Meski memberikan ending yang realistis, gue masih gemes sama Rachel. Come on. Masih ada kesempatan gitu untuk dapetin Erik tapi dia nggak mau berusaha. Ini kenapa gue gregetan karena this is only a short story jadi nggak jelas keberatan keluarga Rachel tuh kayak apa. I want her to fight for her love. Coba mbak Anastasia Aemilia mungkin mau ngelanjutin cerita ini because I’m falling in love for them both.

Stuck With You by Christina Juzwar
Bayangkan tiga kali terjebak di lift kantor yang mati bersama cowok ganteng tapi jutek? I think it’s heaven. Sambil stuck cuci mata. Ini yang terjadi sama Lita. Di hari pertama sudah terjebak di lift sama dua cowok ganteng. Yang satu humble yang satu minta dipites. Sialnya, si jutek Ares ini malah jadi atasan Lita. Lita yang awalnya naksir Harris si humble eh malah berbalik ke Ares ketika tahu Harris is such a player. Mengabaikan logika cerita—hei, mana ada lift yang rusak berkali-kali? Memang sih dibilang gedung perkantoran itu sudah tua, tapi kalau lift rusak terus menerus, pasti udah dicomplain dari kapan tahu tuh sama pekerja di sana. Apalagi orang kayak Ares—ceritanya lumayan simple. Tapi nggak sampai ngefavoritin gue. Nggak tahu kenapa, rasanya racikannya kurang pas. Mungkin karena gue merasa pengin tahu lebih banyak tentang Lita-Ares aja kali ya jadi gue ngerasa Harris hanya cameo nggak penting yang sengaja dimunculin untuk menambah konflik tapi gongnya nggak dapet. (Ngerti nggak? Gue juga nggak ngerti dengan bahasa gue yang belibet hehe).

Jack Daniel’s vs Orange Juice by Harriska Adiati
Ini judul yang paling gue suka. Soooo contradictive. Gue bisa merasakan betapa cupunya si Dennys memesan orange juice di club hihihi. Ceritanya ala-ala sinetron pintu hidayah gitu—minus adegan azab hahaha. Jadi, seorang cowok metropolitan yang mengaku nggak bangsat-bangsat amat bernama Dennys telah bersumpah mau menjalani hidup baik alias no alcohol no smoke. Istilahnya Dennys, from super-duper-asyik-dan-tanpa-beban lifestyle to jaga-hati-jaga-kelakuan lifestyle. Ini semua gara-gara Dennys naksir anak Pak Haji dan Bu Hajjah tetangganya. Karena Pak RT bilang cewek baik-baik ya akhirnya sama cowok baik-baik, jadilah Dennys menerapkan pola hidup baru. No more minum-minum dan rokok. No more clubbing, berganti subuh ke mushalla. Ceritanya kocak. Lucu. Pengin bilang ke mbak Harriska, selain jadi editor, mungkin mau jadi penulis juga. This is one of my favourite. Enough said.

Tak Ada Yang Mencintaimu Seperti Aku by Hetih Rusli
A psychological romance. Tentang seorang cowok yang posesif dan nggak terima diputusin ceweknya yang tahan sama sikapnya. Keturunan dari bokapnya juga yang punya kelainan mental. Ide ceritanya bagus tapi gue nggak suka sama gaya menulisnya. Selama ini gue suka sama mbak Hetih, editor yang siapa-sih-yang-nggak-kenal-dia? Tapi ketika baca cerpen ini, sorry, not my type.

Critical Eleven by Ika Natassa
Jujur deh, ada berapa banyak yang beli novel ini gara-gara penasaran sama sosok Bapak Aldebaran Risjad? Sedikit banyak gue juga penasaran—iya, gue udah follow Ale. Ceritanya tentang perempuan bernama Tanya yang terbayang pertemuannya dengan cowok oke bernama Aldebaran Risjad aka Ale di atas pesawat. That’s it. Tapi gaya bercerita Ika tetap juara dengan banyaknya frasa Inggris di sana sini. This is a sneak peak for her upcoming novel yang katanya baru akan keluar 2014 ntar. Ugh. Gue nggak ngerasain feel dan greget yang sama ketika membaca cerpen ini dengan saat membaca novel Ika. Because I know that is a great story tapi terlalu singkat. Ide sederhana di tangan Ika bisa jadi luar biasa. Nah, ide Critical Eleven di penerbangan dikaitkan ke pertemuan dengan seseorang itu luar biasa banget. Belum lagi filosofi bandara, tujuan hidup, dan toko bukunya. Seperti biasa, tulisan Ika ya quoteable banget. Jadi, gue menunda penilaian gue terhadap cerita ini sampai 2014 nanti.

Autumn Once More by Ilana Tan
Gue baru tahu kalau judul ini diambil dari cerpen Ilana Tan yang menjadi sidestory dari Autumn In Paris, novel favorit gue dari semua novel Ilana Tan. Ceritanya tentang Tatsuya Fujisawa dan Tara Dupont yang menghabiskan sehari penuh di Disneyland Paris. Bagi yang sudah membaca Autumn In Paris pasti kenal pasangan ini. Cerita mengambil setting di awal-awal pertemuan mereka. Yang belum baca Autumn In Paris nggak usah khawatir nggak bakal ngerti karena cerita ini cukup jelas. Malah yang belum baca novel lebih beruntung karena bisa meraskaan keindahan cerita ini. Buat yang sudah baca seperti gue, dijamin akan sedih karena kembali bertemu Tatsuya, pria super-duper-manis-dan-ganteng yang kita semua tahu nasibnya sangat tragis. Ketika melihat nama Tatsuya, gue langsung berkaca-kaca karena ingat kisah hidupnya. Mengikuti cara bercerita Ilana yang manis, gue semakin sedih karena di sini mereka berbahagia tapi gue sudah tahu apa yang menanti di kehidupan mereka nanti. Air mata. Dan gue sukses menangisi Tatsuya.

Her Footprints on His Heart by Lea Agustina Citra
Another yummy guy from this book. Memang, Metropop itu gudangnya cowok-cowok yummy—enough said. Ceritanya tentang Ana, designer baju pengantin dan tunangannya, Rendy, an internist. Mereka aman-aman saja sampai Rendy ketemu Anne, pacarnya waktu SMA yang ninggalin dia gitu aja. Melihat masih ada cinta di mata mereka, Ana memilih untuk menyerah, membiarkan Rendy kembali bersama Anne karena dia melihat Rendy bahagia bersama Anne. Dooh! You’re so gengges Ana. Anne too. Memang sih kebahagiaan orang yang kita cinta itu hal mutlak, tapi membiarkan pria yang kita cintai kembali ke pacar lamanya, it’s impossible. Ada gitu di dunia nyata kayak gitu? Well, untunglah Ana nggak sampai gigit jari sepanjang masa karena Rendy kembali kepadanya. Tapi, gaya berceritanya gue suka.

Love Is A Verb by Meilia Kusumadewi.
MY FAVOURITE. CAPITAL ONE. Yup, ini cerita paling juara di buku ini. Paling realistis. Paling humani. Paling jleb. Paling nendang. Semua jempol untuk cerita ini. Idenya sederhana, tentang cewek normal yang ingin pacarnya menunjukkan perhatian di mata dunia tapi si pacar malah lempeng dan anti PDA. Timal yang kepo update semua social media Rangga jadi uring-uringan karena Rangga rajin komen foto di Instagram orang atau temannya di Facebook tapi nggak pernah nanggepin page Timal, even a simple like. Timal uring-uringan dan eng ing eng, minta putus. Jelaslah abis itu dia makin uring-uringan karena masih sayang sama Rangga. Untung dia segera disadari temannya. My favourite line, from Mira, Timal’s friend. “Cowok itu emang nggak mudah berkata-kata. Nggak mudah nyampein perasaannya. They show you their love, we say it out loud.” Nendang banget kan? Di saat cewek-cewek maunya PDA dan menegaskan he’s mine, tapi nggak pernah berbuat untuk menunjukkan perhatiannya, cowok malah kebalikannya. Penting mana, komen di post facebook atau like di Instagram ketimbang disamperin langsung buat kasih ucapan selamat? Action is better than words, it’s true. Tapi ya, buat cowok, nggak apa-apa loh sekali-kali nunjukin perhatian di depan umum sama ceweknya. Intinya, cerita ini mengajak kita untuk lebih mengamati, bukan sekadar melihat. Untuk lebih meresapi, bukan sekadar mendengar. Because just like John Mayer said, Love is a verb.

Perkara Bulu Mata by Nina Addison
Gue nggak terlalu terlarut sama novel pertama Nina, Morning Brew. But this short story is soooooo great. Bermain dari POV 1 beberapa orang. Tentang dua pasang sahabat, Lilian, Vira, Jojo, Albert. Tentang Vira yang baru menyadari kalau bulu mata Jojo itu bagus banget. Bikin matanya jadi lebih hangat dan teduh. Bulu mata. As simple as that. Tapi cinta bisa tumbuh dari hal paling sederhana sekalipun. Namun karena mulut Lilian yang ember, isi hati Vira terkuak. Jojo menjaga jarak. Setelah mengumpulkan keberanian, mereka kembali bertemu, as a friend. Namun Jojo akhirnya menyadari kalau bulu mata Vira juga bagus banget. This is one of my favourite tapi akan jauh lebih oke jika Mbak Nina menuliskannya ke dalam novel utuh. Cerita ini ada potensi untuk ke sana. Serius. Dan gue tunggu, semoga Mbak Nina ada niatan untuk itu.

The Unexpected Surprise by Nina Andiana
Tentang seorang cewek sukses yang sering bertengkar sama mamanya lalu memutuskan hidup mandiri dan terpaksa menginap di rumah ketika si mama ulang tahun sehingga akhirnya mereka bisa ngobrol heart to heart dan si cewek menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa kecerewetan si mama adalah tanda sayang. Well, datar. Itu perasaan gue. Nggak unexpected sama sekali. Memang sih ceritanya realistis banget karena si mama kebanyakan emang cerewet—I feel that—dan kita yang merasa malas meladeni kecerewetan itu lalu memilih untuk menjauh—I did that. Tapi lumayanlah untuk memberi warna lain setelah semua cerita cinta-cintaan semua.

Senja Yang Sempurna by Rosi L Simamora
Ide sederhana tentang seorang cowok yang lima tahun ngegantungin cewek yang mencintainya karena takut berkomitmen. Di saat si cewek menyerah, dia menyadari kebodohannya. Ketika mencoba fight for her, he’s already late. Ada cowok baru di sana. Well well well, like Hetih, gue juga mengagumi mbak editor satu ini tapiiii seperti Hetih juga, gue nggak suka gaya menulisnya. Terlalu mendayu-dayu dengan banyak metafora. Not my type. Sorry.

Cinta 2 X 24 Jam by Shandy Tan
Never read Shandy Tan’s novel before but this is the sweet ending for this book. Akhir yang manis sekaligus tidak terduga. Tentang si ‘aku’ yang dalam waktu 2 X 24 jam jatuh cinta pada Lingga, pria yang sangat sempurna, lalu mendapatkan sebuah kenyataan yang membuatnya patah hati. Juga dia harus terbuang. Pertanyaannya, siapa si aku, dan unexpected twist di ending membuat gue ngakak. Brilliant! Tapi gue juga berpikir, di mana-mana, cowok yang begitu sempurna pasti ada yeng ditutup-tutupi. Yeah, I don’t want to say that but I’m pretty sure you know what I mean, hihihi.

Overall, I loooooove this book. Sebuah penyegaran. Maybe there is a next book? Kumpulan cerpen Amore mungkin? If yess, please put Rina Suryakusuma on the list. Yah, semoga beberapa cerpen yang berpotensi menjadi novel benar-benar terwujud. Selain Critical Eleven tentunya karena cerita itu sudah pasti dalam bentuk novel. yang belum pasti ya tanggal terbitnya, hiks.

Sunday, April 14, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #19 Dear Friend With Love

Dear Friend With Love
Nurilla Iryani



Dear Friend With Love. dari judulnya aja udah ketebak ceritanya kayak apa. Yup, tentang Karin yang selama delapan tahun cinta mati sama sahabatnya sendiri, Rama, tapi harus tabah menjadi tempat curhat Rama tentang cewek-cewek yang dipacarinya. Sampai ketika Rama akhirnya melamar pacarnya bernama Astrid—dipanggil Cicit—dan Karin memutuskan untuk move on alias it’s enough sama cinta sepihaknya. Karin pun dimakcomblangin sama nyokapnya dengan Adam, anak teman baik si Ibu yang juga cinta monyet Karin waktu SMA. Karin tidak menyangka jika cowok cupu yang dulu suka dikejar-kejarnya sambil menggondol Tupai di US sana sudah menjelma jadi cowok seganteng Rio Dewanto. Sementara itu, Rama sendiri mulai mempertanyakan hubungannya dengan Cicit. Di saat dia seharusnya senang mempersiapkan pernikahan, yang ada malah stress dan tertekan. Apalagi waktu Cicit member ultimatum untuk nggak ketemu Karin. Saat itu Rama sadar bahwa he can live without Cicit but he can’t live without Karin. Di saat Rama sudah menyadari perasaannya yang sebenarnya, Karin malah memutuskan untuk…
Oke, it’s enough. Meski gue rasa itu sudah spoiler banget. Yup, memang agak susah sih menghindari spoiler karena dari awal ceritanya sudah ketebak. Friendship turns into lover ini memang tema klasik yang sampai kapanpun nggak bakalan pernah basi. Terbukti dengan banyaknya novel bertema sama yang sudah edar di pasaran, tapi masiiiiiiihhh aja ada yang bikin tema klasik ini.
Sejujurnya gue penasaran sama novel ini karena twit-twitnya Ika Natassa. Alhamdulillah banget menang IRRC Februari hehe. gue baca novel ini sejam kelar. Serius. Tengah malam insomnia baca ini sejam langsung udahan. Ceritanya yang ringan, nggak bertele-tele, bahasa yang lugas dan kocak, sukses bikin gue ketawa-ketawa mesem semalaman. Gue pernah bilang kalau gue suka banget sama gaya penulisan yang lugas. And this is it. Nurilla Iryani muncul dengan kelugasan yang pas banget di otak gue.
Membaca novel ini membuat gue teringat langsung tiga buku bertema sama: Antologi Rasa (Ika Natassa), Pillow Talk (Christian Simamora), dan Philophobia (Tessa Intanya). Narsis-narsisnya tokoh Rama tuh ngingetin gue sama Harris meski makin ke belakang narsis dan sikap gajenya Rama bikin jijay. Obrolan-obrolan bodoh Rama-Karin tuh ngingetin gue sama Anjani dan Alandra di Philophobia. Sedangkan galaunya Rama yang sudah punya pacar tapi masih inget Karin dan gimana susahnya memendam perasaan sama sahabat sendiri kurang lebih ngingetin gue sama Jo-Emmi. Jadi, mengingat ketiga novel tersebut adalah novel favorit gue, apakah Dear Friend With Love—yang notabene menggabungkan ketiga novel tersebut—menjadi novel favorit gue?
Sayangnya, gue cuma terhibur, tapi nggak menjadikan favorit. Kenapa? Karena ceritanya singkat bangeeeettttt. Sumpah, gue masih pengen tahu lebih banyak tentang Karin-Rama ini. Gregetnya nanggung karena begitu mencapai puncak, diputus gitu aja. Dooh! Tega banget sih penulisnya nulis sedikit banget gini. Coba lebih panjang, pasti lebih enak.
Overall, I love this novel. Bahasa Inggrisnya nggak bikin mengerutkan kening kok. Ditambah penulis menulis menggunakan POV 1 dari dua tokoh. Masih agak terlihat sih kemiripan diantara dua tokoh ini. Coba lebih panjang, mungkin lebih bisa dieksplor karakternya jadi lebih terasa perbedaannya.
Once more, gue surprise sama endingnya. Realistis. I like it.
Ditunggu next novelnya ya, Nurilla Iryani.

Saturday, April 13, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #18 Three Woman Looking For Love

Three Woman Looking For Love
Netty Virgiantini



Jana, Rena, Mona. Tiga sekawan yang bertemu di reuni SMA dengan status sama: lajang. Usia mereka nggak main-main, yaitu 37 tahun. Sudah masuk UP alias Usia Panik. Tekanan nggak cuma datang dari keluarga, tetapi juga orang lain bahkan yang cuma ketemu sekilas di Bank *ini serius*. Buku ini memotret usaha ketiga sahabat ini untuk mencari jodoh mereka, mulai dari usaha yang make sense sampai ke yang paling nggak masuk akal sekalipun. Mulai dari mencoba nyolong kembang melati di keris penganten pria di pelaminan, dikenalin oleh orang lain, sampai mendatangi paranormal segala.
Another girls and the gank stories. Yup, alasan gue baca buku ini pun karena sedang riset tentang cerita girls and the gank yang lagi gue coba bikin. Satu lagi, this novel is about a slag—single, lonely, and aging girls club *thanks to Mbak yuska for this word—dan di novel yang gue bikin juga tentang slag ini.
Setelah nggak puas dengan Dil3ma, novel ini lumayan menghibur. It’s funny. Mengingat umur mereka yang sudah nyaris mencapai kepala empat, gue nggak nyangka aja bisa ya orang sudah berumur gini bertingkah kayak gini. But in other hand, gue ngerasa tingkah mereka sebagai perwujudan rasa desperate mereka.
Gue merasa buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bercerita tentang kelucuan dan semua usaha yang dilakukan ketiga sahabat ini untuk mencari jodoh. Netty memberikan beberapa contoh usaha yang bisa bikin ngakak. Lalu, mereka patah hati. Setelah patah hati, gue merasa buku masuk ke bagian kedua, yaitu saat mereka mulai menemukan jodoh masing-masing. Gue merasa cepat aja mereka dapat jodoh. Seolah-olah penulis udah capek ngasih sepak terjang konyol mereka, lalu dikasih jodoh aja deh gitu. Satu bab saja untuk satu jodoh. Mungkin ya, gue akan merasa lebih enjoy jika sejak awal sudah ada clue siapa yang akan jadi jodoh mereka, nggak cuma tiba-tiba nongol aja. Ada sih emang, di cerita Jani. Tapi, Rena dan Mona semacam jodohnya tiba-tiba aja gitu.
But I love her writing. Tulisannya Netty benar-benar kocak. Setting di kota kecil dan tokoh yang so human menjadi semacam refreshing setelah kebanyakan cerita bersetting kota besar. So metropolis.
Ini buku Netty kedua yang gue baca. Pertama, Bittersweet Love, duet sama Adit, dan sukses banjir air mata. Di buku ini, sukses ketawa.
Namun, ketika disuruh milih siapa tokoh favorit, I don’t know. Nggak ada yang bisa gue favoritin. Nggak Jani si tokoh utama. Malah gue gemes sama dia. Masa iya jodoh akan datang dengan sendirinya kalau cuma berdoa doang? Trus, play hard to get dia yang nggak jelas banget. Dooh! Mona juga nggak suka meski kisahnya yang paling tragis. Nggak bisa respect aja sama Mona. Rena pun nggak tahu kenapa, nggak bisa suka juga sama dia, padahal dia blak-blakan. Entahlah, nggak dapet chemistry apa-apa sama mereka bertiga.
But overall, nice story. Funny. Meski emosi gue datar sepanjang nyelesaiin novel ini.

Thursday, April 11, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #17 NY Over Heels

NY Over Heels
Dy Lunaly



NY Over Heels. Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang cewek 20 tahun bernama Zee yang diterima magang di Casablanca, a ready-to-wear clothing line yang—katanya—paling hip di New York. Jadilah, Zee yang lulusan akademi fashion di Indonesia pergi ke New York untuk magang, sekaligus menghabiskan waktu sebelum kuliah di Parsons. Selama magang, Zee punya banyak pengalaman yang absofashionlutely–kangen pake istilah ini, hihi—awesome. Dia bertemu dengan idolanya, the ultimate creative director from Casablanca, Natasha Fay, juga desainer dan stylist yang selama ini cuma dilihatnya dari katalog di web Casablanca, George, Janna, Michael, dan Debbie. Bahkan Debbie ini jadi roommate-nya Zee. Oh, don’t forget about good looking guy named Joseph David Millier, a photographer from Casablanca. Dan dimulailah cerita keseharian Zee sebagai an intern girl at Casablanca.
Oke, jujur ini novel pertama Dy yang gue baca—sebenarnya takjub sama proses menulis Dy yang cepat banget. Setahu gue baru beberapa bulan lalu Dy nerbitin novel. Judulnya Remember Dhaka. Penasaran sih sama Remember Dhaka ini, tapi begitu tahu Dy ngeluarin novel baru, NY Over Heels, gue jadi lebih penasaran sama novel barunya ini.
Gue memasang ekspektasi tinggi sama novel ini. Karena dua hal. Satu. It’s about fashion. If you know me, si I’m sure why I soooooo curious about this novel. Dua, settingnya New York. Yup, New York is my biggest dream—who doesn’t, right? Thanks to Bentang Pustaka dan #kuisminggu sehingga gue menang novel ini.
So, NY Over Heels? Oh, gue berharap menemukan Lauren Weisberger Indonesia setelah menyelesaikan novel ini.
Ceritanya sendiri cukup bagus. Sangat remaja. Menceritakan keseharian Zee yang gue yakin mampu membuat siapa saja meneteskan air liur karena iri. Siapa yang nggak iri coba bisa magang di New York—membayangkan bisa kerja di Condé Nast Building atau Hearst Tower?
Ada dua hal yang jadi concern gue di novel ini—tahu kan kalau ekspektasi gue tinggi banget? Pertama, tokoh. Mary sue. I never like Mary Sue. Memang sih novel itu fiksi tapi tetap aja kan harus ada sisi human-nya? Mary Sue itu nggak ada human-human-nya. Zee itu terlalu beruntung. Cantik, baik, tajir, ditaksir cowok ganteng, bisa magang di Casablanca, rancangannya dipilih sama A-list actress, ditawari jadi junior designer, lulus tes Parsons, punya keluarga supportif. Nggak ada cacatnya. Udah gitu Zee juga sabar. Dooh! Bukan hanya Zee, Josh juga nggak ada cela. Sepasang manusia tanpa cela saling cinta tanpa halangan berarti, it’s a fantasy. Sampai akhir gue berharap sepasang manusia ini ada celanya, tapi yang ada malah keberuntungan-keberuntungan yang selalu menerpa Zee. Dooh! Mungkin ya untuk teenlit, remaja menginginkan tokoh mary sue ini, tapi sebagai pembaca, gue berharap tokoh-tokoh yang gue baca masih ada sisi human-nya. Tokoh lain, seperti Natasha Fay juga menjadi concern gue. Thanks to Anna Wintour yang sudah membuat paradigma kalau atasan tertinggi di dunia fashion—entah itu fashion design, fashion magazine, fashion business, anything—harus bersifat dingin, cantik, style oke, dan galak. So, Natasha Fay masih ada nyerempet-nyerempet Anna Wintour—juga Miranda Priestly.
Kedua, ceritanya kurang drama jadi satu novel hasilnya ya serba nanggung. Di awal, gue berharap there is something with Janna. Gue merasa Janna ini punya potensi untuk membuat Zee terlihat sedikit human tapi ternyata? Di tengah-tengah, Dy malah membuang Janna entah kemana. Gue mencari-cari Janna tapi ini cewek entah sedang nyemplung di mana. Menjelang akhir dia muncul lagi tapi kehadirannya semakin memperkuat betapa baiknya Zee, betapa semuanya bisa berjalan lancar tanpa ada kesulitan bagi Zee. IMHO, sikap Janna dengan ego tingginya juga larangan pacaran di sesama karyawan Casablanca serta hubungan Zee-Josh, gue berharap Janna lebih berperan sehingga dramanya lebih oke. Kehidupan Zee bisa sedikit bergejolak dan nggak lempeng begini terus.
Kebetulan. Ini faktor yang paling nggak banget di sebuah fiksi. Di novel ini, kebetulan papa Zee adalah rekan bisnis papa Josh terasa gengges. Gue nggak melihat ada indikasi khusus hubungan ini ada selain mempermulus hubungan Zee dan Josh. Tanpa ada ini pun hubungan mereka sudah lebih mulus dibanding jalan tol. Dan kemunculan seorang cewek yang hanya berupa nama, Jesse, dan membuat Zee cemburu lalu menghindari Josh terasa maksa. Seolah-olah Dy ingin menciptakan drama antara Zee-Josh tapi tetap saja nanggung. Dan kemunculannya telat. Dooh! Ya gue masih berharap Janna berperan besar karena dia punya potensi sebagai ‘biang kerok’.
Setting New York. Terlepas dari New York adalah idaman setiap orang, gue penasaran kenapa Dy memilih NY. NY is tooooooo mainstream untuk cerita ber-setting fashion. Sex and The City, The Devil Wears Prada, Lipstick Jungle, Gossip Girls, Everyone Worth Knowing, it’s all about New York and fashion. Dan gue nggak merasa there is something special with New York di novel ini. Memang sih NY itu one of fashion capital, but it’s too mainstream. Jika one day gue menulis novel tentang fashion—still in my dream—Ny is a big no no. Masih ada fashion capital lain kayak Milan, London, Paris. Bahkan, bocoran dari salah satu teman gue dari grup majalah yang suka meliput fashion week sana, pasar Indonesia tidak terlalu berkiblat ke New York—makanya mereka jarang meliput NYFW. Intinya, kenapa New York terlalu mainstream, itu karena tanpa bisa dicegah, pikiran akan langsung tertuju ke cerita-cerita yang basic-nya fashion dan ber-setting New York.
Oh ya, dalam novel ini gue menemukan dua adegan yang oh-so-The-Devil-Wears-Prada banget. Pertama, waktu Natasha menyuruh Zee datang ke rumahnya memeriksa paket dengan catatan Zee si anak baru. Otak gue langsung tertuju ke part Miranda menyuruh Andy datang membawa The Book ke rumahnya. Andy yang terbengong-bengong di rumah Miranda juga persis seperti Zee. Kedua, the intern girl, yang posisinya secara kasar bisa diartikan sebagai bawahan paling bawah, disuruh sebagai penyedia kopi. Ini juga yang dilakukan Andy. Ini juga ada di Style, ketika Lee Seo Jung disuruh membeli kopi oleh Park Ki Ja. Mungkin Dy nggak ada maksud untuk nyama-nyamain, cuma ya gue aja yang langsung ke sana pikirannya.
Overall, I like this novel. Cukup ringan jadi bisa dibaca santai sepulang kerja. Hectic-nya Casablanca dapet banget—make me want to watch The September Issue again—juga New Yorknya. Sebagai seseorang yang belum pernah ke New York, penggambarannya sudah pas meski setting yang ditonjolkan adalah setting yang sebenarnya sudah nggak asing lagi.
Satu lagi concern gue, kenapa nggak disebut aja sih nama-nama penting itu? Ini bikin gue gregetan. Contohnya ketika Zee nemenin Josh belanja di salah satu luxury brand dari Itali. Berkali-kali disebut brand ini-brand ini. Kenapa nggak sebut langsung? Gucci-kah? Prada? Armani? Valentino? Salvatore Ferragamo? Roberto Cavalli? Fendi? Etro? Atau apa? Dari pada ‘brand ini’ dua suku kata mending langsung sebut. Biar lebih jelas. Toh luxury brand dari Itali banyak. Satu lagi, nama fotografer kesukaan Josh. Cuma disebut fotografer itu. Kenapa nggak sebut nama? Annie Leibovitz-kah? Patrick Demarchelier? Mario Testino? Steven Meisel? Peter Lindbergh? Atau siapa?
Ketika gue membaca novel luar, kemunculan nama-nama tokoh asli ini bikin gue merasa makin dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sekarang gue lagi baca Last Night At Chateau Marmont. Weisberger dengan luwes menyebut Sony Music, Jay Leno Show, Tonight Show, Last Night, juga artis-artis lain yang keberadaannya terkait dengan tokoh utama. Hal ini yang nggak pernah gue temuin di novel Indonesia. Hiks. *malah curcol*
Karena novel ini bertema fashion, jadi sudah pasti banyak istilah fashion bertebaran di sini. Hati-hati lidahnya patah, hihihi. I’m not a fashionista—kalau istilah ngeledek gue sama teman-teman, we are fashion-nista—tapi gue pede dengan pengetahuan fashion gue. Nah, gue aja yang sempat keseleo menyebut outfit di sini, maka kalian yang not into fashion, berhati-hatilah.
Terakhir. Ketika Dy menulis kerjasama Casablanca dengan Harold’s, department store from London, gue selalu menyebut Harrods. Duh Dy, nama udah mirip gini, kenapa nggak Harrods aja? Atau at least cari nama lain yang jauh dari nama asli. Gue ngerasa terganggu aja dengan kemunculan Harold’s karena bikin gue gregetan. Why Harold’s, not Harrods?
*Ini serius. Nggak ada hukum nggak boleh kan mencatut nama asli di novel? Toh nggak dijelek-jelekin gini. Gue gatel soalnya mau mencatut nama Elle, Marie Claire, Amica, Dewi, Clara, L’officiel, Surface and others di draft gue. Juga nama perusahaan nyata lainnya. Karena gue suka dan membuat cerita terasa lebih real. Anybody yang tahu jawabannya, please answer mu questions.*
Penutup, good job, Dy. Ditunggu novel fashion lainnya—tentunya tidak di New York lagi ya.

Saturday, April 6, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #16 Dil3ma

Dil3ma
(Mia Arsjad)


Dil3ma bercerita tentang tiga sahabat, Lura, Mala, dan Nania. Mereka punya permasalahan sendiri. Nania si manja tajir yang nggak pede dengan dirinya sendiri dan sudah merasa bersyukur dengan adaya Reva yang mau jadi pacarnya meski matre dan verbally abuser. Lura yang sebenarnya sayang sama Robi dan juga sudah dilamar Robi tiga kali tapi selalu ditolak karena berprinsip ingin memberi pelajaran kepada semua pria kaya berpasangan yang masih suka jelalatan. Trauma masa lalu membuatnya kayak gini. Akhirnya Robi pergi dan Lura nelangsa. Juga ada Mala yang cinta mati sama Mas Sis, atasannya yang sudah beristri tapi katanya lagi mau cerai.
Mereka semuanya memiliki permasalahan cinta sendiri-sendiri tapi malah saling menasihati satu sama lain. Gokil.
Gue membeli buku ini nggak sengaja. Semata karena ingin riset. Kebetulan, gue memang suka novel yang bercerita tentang geng cewek dan masalah percintaan mereka. menurut gue tema ini nggak bakalan pernah mati. Saat ini, gue juga sedang menulis cerita cewek-cewek ngegeng gini juga.
Dua kata untuk novel ini: TERLALU LAMA. Alurnya ampun deh, lama bangeeeetttttt. Gue nggak mempermasalahin sebuah novel dengan alur lama selama gaya berceritanya mengasyikkan. Tapi ini???
Mia Arsjad. Seharusnya nama itu sudah cukup jadi jaminan. Alasan gue membeli buku ini salah satunya juga karena nama penulisnya.
Ceritanya bagus. Gue suka. Yang nggak gue suka cuma gaya penulisannya. Campur aduk pov satu dan tiga. Gue nggak pernah sreg dengan gaya penulisan ini. Menurut gue, penulisnya nggak tahu mau fokus ke siapa. Mau fokus ke salah satu tokoh aja alias Nania, yowis, gunain POV satu. Lalu kenapa juga penulisnya kepo banget mau tahu hidup Lura dan Mala sampai gunain POV tiga? Kalau mau kepo, sejak awal gunain POV tiga. Biar bebas mengeksplor semua sisi. Jangan dicampur aduk.
Jika di Daisyflo Yennie Hardiwijaja gue merasa tersentuh dengan pov campur aduk kayak gini, well, di Dil3ma Mia gagal. Yennie punya alasan khusus untuk menggunakan POV campur aduk, tapi Mia? Gue nggak nemu alasan masuk akal. Selain itu, yang bikin gue terganggu juga, ketika dia menggunakan pov satu, kenapa si Aku bisa tahu semua seluk beluk perasaan temannya? Ketika di pov 1, Mia malah bertindak sebagai orang ketiga yang tahu semua hal. Gengges. Awalnya masih mending ketika pov 1 dan 3 ini berada di chapter berbeda, tapi ketika berada di chapter yang sama? Gue hanya bisa menjerit putus asa. Keasyikan gue membaca jadi terganggu.
Misalnya, ketika lagi dari si Aku, lalu tiba-tiba Lura menarik Sisil dan ingin ngomong. Masih di paragraph yang sama, pov pindah ketiga dan ceritain apa yang diomongin Lura ke Sisil. Mereka selesai ngobrol, balik lagi ke aku. Doohh…..
Yang paling parah menurut gue ada di kalimat ini, di halaman 236:
“Robi cuma bisa maklum. Setelah cerita dari aku tadi, Robi sangat maklum sama reaksi Lura sekarang.”
Di mana letak kesalahannya? Yup, ini Mia lagi jadi POV 3. Lalu, kenapa tiba-tiba si aku nongol di situ? Kenapa nggak ditulis, setelah mendengar cerita dari Nania….? Gggggrrrrrr……
Seperti yang gue bilang, alurnya lama. Dari awal sampai 2/3 bagian tuh berkutat di masalah yang itu-itu saja. Bukannya simpati sama tokohnya dan permasalahannya, gue malah males sama mereka. duh ya jadi cewek kok bego amat. Mungkin memang ini ya karakteristik yang ingin ditunjukkan Mia, tapi beratus-ratus halaman membaca kebegoan yang sama lama-lama gedeg juga. Coba dipertegas sedikit ceritanya, nggak bakal deh nyampe 300 halaman.
Lalu tiba-tiba ada kejutan. Suatu kejadian yang menjadi turning point ketiga sahabat ini. Untungggggg aja ada chapter ini sehingga sedikit termaafkan. I love this part. Dan gue beneran nangis. Tapi… seperti yang sudah-sudah, penyelesaiannya juga lamaaaaa. Jadi turn off deh.
Satu hal lagi yang gue garis bawahi: ini fiksi tapi fiksi pun masih harus logis. Ini banyak logika yang bikin kening berkerut. Ketika Lura lagi ada masalah, tiba-tiba Robi datang dan jadi hero. Kok bisa? Tahu dari mana Robi kalau Lura di sana? Tiba-tiba kayak gini nih yang nggak bisa diterima. Masalahnya, banyak yang tiba-tiba. Tiba-tiba ada nongol cowok sekali doang lalu udah dan gue nggak tahu kepentingan dia apa. Tiba-tiba Mala udah kerja lagi aja. Tiba-tiba Mala udah nge-date aja sama cowok lain. Zzz….
Dan… satu lagi yang nggak gue suka. Pola kalau lepas dari satu akan dapat yang lain yang lebih oke. So teenlit.
Kalau saja nggak ada Lura, gue nggak akan bertahan dengan cerita ini. Save by Lura.
Sorry, Mia Arsjad.

[Indonesian Romance Reading Challenge] #15 Dark Love

Dark Love
(Ken Terate)




Usiaku 17 tahun, hampir 18 tahun. Kelas 12, hampir lulus. Dan Hamil…
Jeng jeng, baca kalimat pertamanya aja udah bikin gue mangap. Ini nih novel yang berhasil memenuhi kriteria novel yang baik menurut para ahli, yaitu novel yang langsung bisa engage pembaca sejak halaman pertama. Disuguhi kalimat pertama kayak gini, siapa yang nggak penasaran coba? Simple but jlebb…
Dark Love bercerita tentang Kirana, murid kelas 12 yang super pintar dan jadi panutan. Tapi hamil. Anehnya, Kirana mendam sendiri karena bapak si jabang bayi juga murid super pintar. Kalau ketahuan dia siapa, Indonesia bisa terancam kehilangan ilmuwan hebat atau mungkin presiden di masa mendatang *katanya gitu* nah loh…
Hebatnya, Kirana menyebutnya dengan sebutan My Prince. Mereka juga satu geng. Mereka sering berinteraksi. Masalahnya, dalam geng itu ada tiga cowok, Alvin, Andra, dan Banyu. Jadilah selama satu buku bertanya-tanya siapa si My Prince itu.
Sesuai judulnya, ceritanya termasuk dark untuk ukuran remaja. Semula gue pikir mereka hanya making love sekali, tapi berkali-kali. Bo, katanya murid pintar kok bego sih? Kalau emang mau making love kenapa nggak beli kondom coba? Coba pakai kondom, nggak bakal deh dibikin pusing sebelum UN hihihi.*ajaran sesat*
Dark Love bercerita tentang kegalauan Kirana menyembunyikan kehamilannya dari sekolah dan orangtua juga teman-temannya. Dia dan My Prince memikirkan banyak kemungkinan, sampai ke aborsi *kok dibilang mau aborsi ke daerah pinggiran Jakarta? Kirain ke Raden Shaleh pfffttt* tapi akhirnya Kirana tetap pertahanin kehamilannya. Prestasinya menurun karena banyak mikir. Tapi yang namanya hamil, lama-lama perut juga bakal mblendung gitu. Ya pasti ketahuanlah kan?
Selama baca, ada tiga hal yang bikin gue penasaran:
1.                   Gimana sampai ketahuan sama sekolah? Apakah Kirana dan My Prince akan dikeluarin? Secara sekolah-sekolah biasanya langsung ngeluarin murid yang hamil. Tapi masalahnya mereka kan murid paling pintar? Asset sekolah gitulah.
2.                   Gimana sampai ketahuan sama orangtuanya? Sumpah, gue penasaran banget sama reaksi orangtuanya. Kakaknya Kirana aja yang mutusin keluar dari Hukum UI dan masuk IKJ sampai diusir dan dianjing-anjingin, apalagi Kirana? Ternyata? Gue speechless. Dan mangap saking shocknya.
3.                   Who is My Prince? Ini nih misteri paling membingungkan. Jawabannya pasti diantara Andra, Alvin, dan Banyu. Tiga-tiganya punya kans. Gue condong ke dua nama eh tapi di menjelang akhir ada kepastian kalau seseorang yang gue curigain dibilang nggak. Dan satu nama yang selama ini gue abaikan jadi kepikiran juga tapi nggak mungkinlah. Sudut hati terdalam gue menolak nama terakhir ini. Lalu hasilnya? Sampai bikin gue terlonjak saking kagetnya. Gue kecele. Dan… cara ketahuannya itu loh. Nggak disangka-sangka. Smooth but emotional.
Nama Ken Terate memang sudah jaminan di dunia teenlit. Gue pertama kenal beliau waktu SMA, dengan buku pertamanya, Join The Gank. Waktu itu gue cuma biasa-biasa aja sama Ken. Kuliah dan sampai sekarang, gue nggak nyentuh lagi buku-buku Ken. Mungkin karena gue sudah merasa dewasa dan berpikiran picik sehingga memandang sebelah mata novel-novel teenlit. A 24 yo girl read a-cheesy-teenlit-novel? it’s a big no no. tapi sekarang gue merasa tertohok. Teenlit nggak selamanya tentang si populer versus si medioker ngerebutin cowok populer anak basket slash tajir slash ketua osis slash playboy. Teenlit ternyata juga punya banyak dinamikanya dibanding cerita dewasa dan nggak kalah seru.
Dan Ken, dengan Dark Love, sukses bikin gue bengek karena sesak napas selama membacanya. Jika ada yang mengganggu, itu hanya cara penulisan SMS yang masih menggunakan bahasa alay alias huruf-gede-kecil-campur-angka. Apa anak SMA masih nulis kayak gitu? Hihihi.
Nggak heran jika Dark Love menuai banyak pujian. Novel ini gue nobatkan sebagai novel teenlit terbaik yang pernah gue baca di masa dewasa gue.