Tuesday, January 29, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #5 Ask Tinkerbell


Dear Miss Tink!
Aku naksir cowok. Dia cakep banget, seksi gitu deh. Sayangnya, dia bukan manusia melainkan vampir. Bukan, dia bukan Edward Cullen kok. Aku juga nggak mau pacaran sama vampir bling-bling berglitter itu. Namanya John Mitchell. Dia clean alias nggak mau ngebunuh lagi. Kira-kira gimana cara pedekate ke dia ya Miss Tink?
Makasih
Iif
II-1

Ask Tinkerbell


Selama dua jam gue kembali ke masa-masa SMA yang penuh warna melalui novel lama Rina Suryakusuma yang berjudul Ask Tinkerbell. Gue menyukai tulisannya Rina—sekarang banyak diterbitkan Gramedia di lini Amore-nya—dan kepengin memiliki buku-buku lamanya yang susah dicari. Namun ketika bazaar buku di Istora Januari awal kemaren, gue ketemu buku ini. Juga buku Rina yang lain. Lengkap. Happy for me.
Ask Tinkerbell bercerita tentang kehidupan anak kelas 2 SMA Pratama High School bernama Swastika Pramoedya. Swastika ini bukan tipikal murid populer. Ya medioker gitulah. Tapi jago banget nulis dan bercita-cita jadi wartawan. Dia juga penulis freelance untuk majaah remaja ternama Up Town Girl.
Swastika bertetangga dengan Dylan Albertinno, cowok popular dan playboy di Pratama High School. Dylan ini juga pemimpin redaksi The Raising Star, majalah sekolah yang sayangnya nasibnya berkebalikan dengan namanya, alias hendak diberhentikan. Untuk menyelamatkan nasib Raising Star, Dylan minta tolong pada Swastika. Swastika emoh karena dia sakit hati sama Dylan. Meski waktu kecil sahabatan, masuk SMP mereka kayak nggak saling kenal. Gara-garanya Dylan yang tumbuh jadi cowok cakep merasa malu bersahabat sama Swastika yang kutu buku biasa banget. Tapi setelah SMA, Swastika berubah jadi cantik tapi tetap humble.
Bagi Swastika, sejak kecil semua permintaan Dylan ujung-ujungnya cuma nyusahin dia. Makanya setiap tawaran Dylan ditolak sama dia. Tapi Dylan keukeuh sampai akhirnya Swastika bilang iya. Dia mengasuh kolom Ask Tinkerbell. Semacam kolom curhat gitu. Masalahnya, Swastika ini belum pernah pacaran, mana bisa dia mengasuh rubrik percintaan? Tapi menurut Dylan, yang penting kan Swastika jago ngarang. Swastika akhirnya setuju, apa lagi kolom ini anonim. Nggak ada yang tahu siapa dibaliknya selain Dylan.
Ternyata Ask Tinkerbell menarik perhatian banyak murid Pratama. Yang awalnya hanya dua surat eh besoknya langsung sepuluh and it’s still count. Ternyata jadi Miss Tinkerbell menyita waktu Swastika. Yang lebih parah lagi, dia jadi tahu semua rahasia anak-anak di sekolahnya. Swastika shock begitu menerima surat dari Abimanyu, anak basket yang ditaksirnya sejak kelas 1 ternyata pacaran sama Syanne si anak cheers. Tapi Abi nggak tahan sama sifat manja Syanne. Swastika menyarankan untuk putus. Eh ternyata mereka putus beneran dan Swastika merasa nggak enak.
Dia makin pusing waktu baca surat dari Sebastian, teman sekelasnya yang cool dan sombong serta dingin sama cewek meski ditaksir mati-matian sama Livia si anak populer. Masalahnya, di surat itu Sebastian curhat dia naksir sama Swastika. Nah loh. Udah gitu, ada lagi surat dari Amira yang bilang dia naksir Dylan si playboy. Makin puyenglah Swastika.
Waktu pesta tahun baru tiba-tiba Abi ngajak dansa. Pas dansa ternyata kupu-kupu yang dulu ada udah ilang. Malah Swastika jadi deg-degan tiap dekat Sebastian.
Swastika yang makin puyeng bilang mau udahan sama Dylan. Dylan setuju but it takes time. Untuk sementara dia dikasih kolom baru, Fresh From The Oven yang isinya gosip anak-anak. Dengan janji Ask Tinkerbell bakal udahan, Swastika nerima tawaran ini. Ternyata ini malah jadi bumerang untuknya. Kecerobohannya membuat rahasianya sebagai Tinkerbell terkuak oleh Livia. Kalau nggak mau dibocorin, Swastika harus menulis yang baik-baik tentang Livia. Satu berita satu bulan. Tapi Swastika cuma tahan nulis satu berita. Begitu dia menolaknya, besoknya berita dia sebagai Tinkerbell terbongkar ke sekolah. Amira marah padanya karena udah dibohongi dan Swastika diam aja padahal udah tahu sejak lama kalau Amira naksir Dylan. Anak-anak satu sekolah juga ngehujat Swastika. Untung ada Sebastian yang nenangin dia.
Begitu ada pesta valentine di sekolah, Abi tiba-tiba ngajak Swastika dan diiyain. Ternyata itu cuma akal-akalan Abi yang berkonspirasi sama Syanne dan Livia untuk menjatuhkan Swastika. Di saat Swastika dipermalukan, Sebastian datang menyelamatkannya dan membalikkan keadaan.
And happy ending deh.
Novel ini ringan banget. Kalau gue baca saat masih SMA, mungkin permasalahannya akan terasa berat, namun di usia sekarang gue cuma bisa tertawa-tawa. Ternyata, baca teenlit sesekali cukup manjur untuk refresh otak. Tulisannya khas Rina, dengan alur yang enak dibaca, deskripsi yang detail, dan bahasa yang lembut. Awalnya penasaran karena selama ini baca buku Rina yang dewasa dengan konflik yang lebih banyak lalu apa Rina berhasil dengan cerita teenlit? Ternyata, dia berhasil. Kalau bisa menarik kesimpulan, gue akan nyimpulin kalau Rina sejak awal memang sudah begini penceritaannya: lembut.
Ceritanya khas SMA banget, dengan geng populer versus si medioker, anak basket yang tentunya jadi idola dan pacaran sama anak cheers, juga cowok cool yang bagi cewek-cewek SMA tentunya menambah kegantengan si cowok sebanyak beberapa persen. Sama seperti di novel dewasanya, gaya pendekatan antar tokoh terasa sweet. Ini juga. Pedekate a la anak SMA yang unyu-unyu gimana gitu, hihihi.
Namun, keasyikan membaca cerita ini sedikit terganggu dengan layout yang berantakan. Nggak ada italic untuk bahasa Inggris, which is, Rina banyak banget menggunakan Bahasa Inggris. Di beberapa bagian ada ilustrasi sehingga layoutnya sedikit dimaafkan.
Semalam, ketika mention-mentionan sama Rina, penulis ini berkata sedang mengusahakan untuk menerbitkan kembali buku ini. Gue setuju karena sayang aja nggak banyak yang tahu buku ini. Harapan gue semoga buku-buku lama Rina yang lain (Zoom, Puzzle, The Calling) juga diterbitkan ulang. Untung aja di bazaar kemaren gue dapat semua buku lama ini sehingga semua koleksi Rina lengkap (eh belum ding. Tinggal Jejak Kenangan yang belum, hihihi).
Gue pertama jatuh cinta sama gaya penulisan Rina sejak baca Postcard From Neverland. Cerita yang ringan dan sweet sehingga cocok dibaca saat santai. I love her writing and she is one of my favourite writer.
Sama seperti ketika baca Lullaby, di sini juga gue kecele. Sejak awal gue udah yakin Swastika sama Dylan akhirnya eh ternyata si Dylan tetap jadi playboy nyebelin dan Swastika malah sama Sebastian. But I love Sebastian jika saat ini gue masih SMA, hihihi.
Good luck, Mbak Rina.

NB: Opening ini hanya menyuarakan isi hati jika saja gue bisa jadi murid SMA Pratama yang ngirim surat ke Miss Tinkerbell, hihihi.

Sunday, January 27, 2013

[Review] Being Human

[Bukan Review] Being Human


My name is John Mitchell and I am a vampire.
My name is George Sands and I am a werewolf.
My name is Anna Clare Sawyer and I am a ghost.
Apa jadinya jika vampir, werewolf, dan hantu tinggal bersama dan mencoba hidup normal layaknya manusia? Inilah premis utama serial televisi asal UK, Being Human.


Being Human
Akhirnya kesampaian juga nonton serial ini. Jujur, gue baru tahu serial ini gara-gara kepincut sama Kili, eh Aidan Turner—maklum, selama ini ngikutinnya serial US yang jauh lebih mainstream ketimbang UK. Karena sibuk fangirling Aidan, akhirnya nyasar ke serial ini. Sekarang sedang dalam produksi season 5—CMIIW—tapi yang gue ikutin cuma sampai season 3. Kenapa? Karena motivasi gue nonton serial ini Cuma Aidan Turner, dan akhirnya gue jatuh cinta sama karakter John Mitchell.

Being Human season 1: fun and brotherhood
Season 1 yang terdiri atas 6 episode ini (inilah asyiknya serial lurr. Singkat, padat, dan jelas) memperkenalkan tiga sekawan John Mitchell, George Sands dan Annie Sawyer. Diceritakan awal mulanya Mitchell menjadi vampir (anyway dia berumur 117 tahun loh), ketika George diserang werewolf dan kematian Annie. Masing-masing tokoh punya masalah sendiri, seperti Mitchell yang berusaha untuk bersih dengan nggak ngebunuh lagi, George yang dilatih Tully untuk bisa bertransformasi secara aman dan Annie yang dibayang-bayangi mantan tunangannya yang masih hidup, Owen. Gue suka season satu ini, fun dan ceria. Tapi ketika masuk episode empat, ceritanya jadi sedih sampai akhir. Di episode 4-6 ini gue sering nangis ketika persahabatan mereka diuji. But they stick together. Permasalahan apa pun mereka hadapi bersama, bahkan George akhirnya mau mengorbankan dirinya demi menolong Mitchell. Di season satu juga dikenalkan love of my life-nya George, Nina, yang di season selanjutnya akan menjadi salah satu karakter penting.
Best part menurut gue yaitu waktu Bernie datang menjelaskan kesalahpahaman kepada Mitchell dan dia dihujat semua tetangga. Adegan dia putus asa trus ditenangin sama George itu sedih banget. Dan interaksi Geroge-Mitchell itu juara banget. Oh ya, adegan Mitchell nggak sengaja ciuman sama Annie itu unyu banget, hihihi.
Mitchell dan George di rumah mereka di Bristol


Being Human season 2: dark and serious
Di akhir season 2 diceritakan bahwa Herrick, musuh mereka, sudah mati diserang werewolf, Nina juga sudah tahu kalau George itu werewolf, Owen sudah mengakui kalau dia membunuh Annie. Permasalahan selesai, right? Tapi di ending kita mendengar satu nama, Professor Jaggat. Nah, Professor Jaggat inilah yang memegang peranan di season 2 bersama Pendeta Kemp.
Season 2 ini jujur berat banget buat gue ikutin. Sejak awal nuansa fun yang ada di season 1 sudah hilang, langsung serius. Ada banyak penambahan karakter juga, seperti Lucy—dokter yang kemudian pacaran sama Mitchell, Ivan dan Daisy—vampir, Mr. Kemp dan Nina yang sudah jadi werewolf dan ikut tinggal bareng tiga sekawan itu. I hate Nina. Sumpah. Ngapain sih dia ikut-ikutan pindah? Apalagi di season 3, makin benci sama dia.
Di sini hubungan tiga sekawan ini merenggang karena mereka mulai sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, terutama Mitchell. Sepeninggal Herrick, dia yang jadi pemimpin klan vampir. Saat itu vampir-vampir itu lepas kendali dan ngebunuhin orang-orang karena nggak ada pemimpin. Mitchell harus bertindak tegas dan deal sama polisi agar keberadaan mereka tetap tersembunyi. Namun ada musuh lain yang nggak diketahui Mitchell sampai akhirnya tempat pertemuan mereka dibom dan semuanya mati, kecuali Mitchell dan Daisy. Di sini Mitchell mulai berubah jadi jahat karena emosi. Dia merasa dikhianati karena sudah menjaga vampir itu untuk nggak bikin kacau tapi mereka malah dihabisi. Mitchell salah paham karena merasa polisi yang melakukannya.
Di sisi lain, George ditinggal Nina. Nina kenalan sama Mr. Kemp yang mengaku bisa mengubahnya kembali menjadi manusia bersama Professor Jaggat. George move on dengan pindah kerja jadi guru dan kenal sama Sam. Mereka sempat tinggal bareng sehingga Annie sedih banget waktu George pindah.
Akhirnya, brotherhood mereka kembali lagi setelah George mengiyakan ajakan Nina untuk bertemu Mr. Kemp dan Mitchell menyadari bahwa pelaku pemboman bukan polisi melainkan…. Ah sudahlah. Lalu, siapa Profesor Jaggat? No spoiler, hahahha.
Ending season 2 ini sedih banget. Karena sesuatu dan lain hal, mereka pindah dari Bristol ke Wales bersama Nina. Kemana Annie? Ya, Annie terpaksa lewat pintu yang seharusnya bukan untuk dia. Tapi, Annie bisa berkomunikasi dengan teman-temannya dan Mitchell bersumpah akan membawa Anniekembali.
Best part: ketika mereka babysitting baby ghost. Mitchell gendong bayi = filf alert.

Being Human season 3: Kembali fun tapi antiklimaks
Mereka tinggal di Wales dan kembali kerja di rumah sakit. Mitchell memutuskan menjemput Annie ke somewhere tempat dia terjebak. Di sana dia ketemu Lia yang membawanya ke semua korbannya sehingga Mitchell menyesal. Lia bilang kalau Mitchell akan mati oleh werewolf. Nah loh…
Untungnya Mitchell bisa membawa Annie lagi. Ketika mereka kembali ke Wales, mulai deh tuh tumbuh bibit-bibit cinta, hehehe. Mereka sekarang tinggal berempat tapi gue nggak suka rumahnya. Lebih gede dibanding rumah pertama sih tapi rumah pertama lebih hangat. Lebih cowok banget. Meski kamarnya Mitchell berantakannya Masya Allah banget tapi lebih bagus ketimbang kamarnya di rumah baru yang rapi. Di sini mereka kembali fun kayak season 1 meski ada beberapa tambahan seperti ada dua werewolf baru, Tom dan McNair, kembalinya Herrick tapi amnesia, dan kehamilan Nina. Mitchell sendiri nggak sekelam di season 2 meski desperate banget karena ucapannya Lia dan kebayang-bayang tragedi Box Tunnel 20 Massacre. Apa itu? Itu sebuah kejadian di season 2 yang melandasi cerita di season 3.
Season 3 merupakan season puncak karena Mitchell alias Aidan memutuskan untuk meninggalkan serial ini. Dia dibikin mati. Penasaran sih gimana dia dibunuh sama werewolf yang ternyata George. Dua episode terakhir full of tears, apalagi menjelang akhir episode 8, itu sedih banget. Tapi endingnya maksa. Antiklimaks. Udah nangis-nangisan sedih, eh muncul pengganggu. Memang sih si pengganggu ini, the Old Ones, memegang peranan penting di season 4, tapi bikin antiklimaks. Melihat Mitchell mati itu sedih banget, tapi dia mati dengan senyuman. Jika ada yang gue benci di season 3 ini, itu semua cewek-ceweknya. Annie, Nina, Nancy. Gengges dan kepo. Nggak ngerti masalah yang sedang dihadapi. Untung ada George yang langsung ngerti. Suka waktu George ngomong fuck it sama Nina dan milih nyelametin Mitchell yang lagi ditahan polisi.
Benarkah Mitchell dibunuh oleh George? Menurut gue, dia dibunuh oleh Kili, hahaha. Karena dia meninggalkan serial ini sehingga harus mati karena harus terbang ke New Zealand sebagai Kili di The Hobbit. Semula gue mengharapkan dia matinya klimaks dan heroik, tapi ternyata endingnya maksa banget. Nggak puas.

John Mitchell

I love him so much. Terhitung sudah bertahun-tahun semenjak terakhir kali gue tergila-gila banget sama Bob Moffatt dan Nick Lachey sampai akhirnya sekarang gue jadi suka banget sama artis luar lagi. Yess… (Era pemain bola untuk sementara istirahat dulu). Memang, motivasi awal nonton ini karena Aidan Turner. I like him, tapi setelah nonton, gue jatuh cinta sama John Mitchell. Gue suka karakternya: kuat, macho, baik, care, hangat, tangkas, tapi tetap ada sisi kelamnya juga. Kalau punya pacar kayak Mitchell tuh dijamin aman dan ngebanggain buat ditenteng mall to mall, hihihi. Style-nya dia, cara dia melihat, senyum, ngomong, jalan, mau tampak depan belakang samping, full body, close up, medium close up, muka aja, mata aja, bahkan tangan atau sekadar siluet aja, semuanya SEKSI. Ulangi, SEKSI. Dia cowok yang gaya ngerokoknya aja kelihatan SEKSI. Make skinny jeans tanpa terlihat so gay malah macho. Rambut keriting acak-acakan sebahu yang mempertegas kegantengannya. Pake leather jacket yang sama sekali jauh dari kesan abang-abang ojek. Pendek kata, SEKSI. Mana dia banyak lagi adegan topless yang memperlihatkan body-nya yang SEKSI. Jangankan topless, dia pake singlet+kemeja+leather jacket/coat dan syal aja udah kelihatan seksinya. Jangan lupa his fingerless glove (gosipnya, fingerless glove yang jadi trademark dia ini sengaja dibikin sama Aidan karena kedinginan di lokasi shooting).

Mitchell with his fingerless glove

Ya intinya, selain ceritanya bagus, magnet paling kuat di serial ini ada di Mitchell. Dan interaksi mereka yang kelihatan real banget.
Masih ada season 4 yang udah selesai tayang tapi gue nggak nonton. Toh Mitchell udah mati. Review juga kurang menarik. Nina dan George akhirnya juga mati di tengah-tengah, lalu menyusul Annie yang di akhir season memutuskan untuk masuk ke pintu. Makanya, nggak semangat lagi nonton yang season 4, apalagi season 5. Ada juga sih versi US-nya, tapi pas lihat cuplikannya aja nggak menarik. Review-review yang ada juga bagusan yang UK katanya. Dan, pemainnya nggak ada yang gantengnya ngalahin John Mitchell, eh, Aidan Turner.
Agak menyayangkan sih kenapa Aidan ninggalin serial ini tapi ya gimana lagi, ini kan demi kemajuan dia. Tapi ya, dia mati sebagai Mitchell demi menjaid Kili yang nanti di 2014 juga mati *nangis*. Tapi setidaknya dia dibunuh oleh werewolf untuk jadi werewolf juga di City of Bones, hihihi.
The point is, I love John Mitchell because he is so SEXY SEXY SEXY…
Here is my John Mitchell minus his leather jacket :))


Friday, January 25, 2013

My first novel: Mendekap Rasa

Akhirnya, setelah melewati proses revisi *atau mungkin bisa dibilang merombak?* novel ini sejak bulan Oktober, sore ini, gue dan Adit mendapat email cinta dari editor kita berupa cover novel ini. Judulnya Mendekap Rasa. Beberapa cerita mungkin sudah familiar oleh pembaca blog gue dan Adit karena novel ini memang bercerita tentang Carissa Purnadiredja dan Michael Abimanyu yang sempat menjadi tokoh di beberapa cerpen yang gue publish di blog ini atau yang dipublish Adit di blognya. Sekarang, Carissa dan Michael sudah punya rumah baru yaitu diterbitkan melalui Bukune.

Karena kemungkinan akan diterbitkan bulan Februari, cover-nya pun full of pink. Here it is...


Berikut sinopsis di cover belakang:

“Pernahkah kau menghitung perpisahan yang telah terlewati? Dan, pernahkah kau berpikir, mungkin perpisahan terkadang memang diharapkan terjadi….”
Mungkin, kau akan ragu ketika cinta yang kau dapatkan masih separuh hati ketika kau terima. Ke mana pun kau pergi, masa lalu akan menjadi kepingan cerita yang mengusik dan menganggu perasaanmu.
Sementara aku, kuingin berakhir bersama pria yang kucintai. Aku akan membuat dia mencintaiku. Tidak peduli harus menunggu berapa lama.
Masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bahagia, bukan?"
Gue masih excited ketika melihat cover ini, dan ilustrasi di dalamnya pun bikin excited, hihihi.

Mendekap Rasa oleh Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah, Bukune, Februari 2013

Thursday, January 24, 2013

Cut

Cut
(Hari Ketigabelas #13HariNgeblogFF)

Finally sampai di hari terakhir dan gue berhasil menyelesaikan cerita bersambung sebanyak 13 seri tentang Tiz-Lendra-Ale. Senang meski kadang ceritanya gaje. Tapi, secara ceritanya tanpa konsep dan hanya bisa mengait-ngaitkan sesuai judul yang diberikan hari itu jadi ya nggak apa-apa dong gaje, hehehe.

Baca cerita sebelumnya di sini.


Aku kembali menjalani hidupku seperti biasa. Maksudku, berusaha menjalani hidupku seperti sedia kala.
As normal as I can.
Sore ini, langit Jakarta sedang bersahabat, setelah berhari-hari diguyur hujan. Langit biru cerah meski di beberapa tempat tersaput awan. Aku melangkahkan kakiku menuju Starbucks Sarinah yang kebetulan terletak di sebelah gedung perkantoran tempatku bekerja.
Segelas espresso cukup menjadi temanku. Memandangi setiap sudut Starbucks kembali memutar kenangan yang terjadi di sana. Aku pernah bertemu Lendra di sana. Coffee shop ini juga menjadi tempat pelarianku ketika patah hati. Di sinilah Ale menemukanku menangis sendirian. Dia memelukku serta memastikan keadaanku baik-baik saja.
My lover's gone but my best friend's back.
Selalu ada yang datang dan pergi dalam hidup. Sebuah siklus alami yang selalu akan terjadi.
Dua bulan berlalu dan aku kembali menapaki pedestrian Thamrin dengan sisa daya yang aku punya. Aku mencoba melupakan semuanya. Semuanya, semampuku. Namun masih ada segelintir rasa yang enggan beranjak dari hatiku.
Langkahku terhenti ketika melihat kerumunan di hadapanku. Ada banyak orang di sana, juga beberapa kamera dan lighting. Aku mendekat dan menyadari sedang ada shooting. Sial. Aku sedang terburu-buru karena Ale sudah menungguku, tapi sekarang aku terjebak.
Aku menyesap kopiku dalam diam. Mataku tak lepas dari adegan di hadapanku.
Andai hidupku sebuah film, bukan akhir seperti ini yang diharapkan penonton. Ketika tokoh utama perempuan tidak berakhir dengan pria yang dicintainya. Parahnya, dia tidak tahu di mana pria itu berada sekarang.
Tapi hidupku bukan film. Sebagai satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kisahku, bukan akhir seperti ini yang kuharapkan. Aku tidak tahu di mana Lendra sekarang.
"Cut. Oke, good job."
Teriakan seorang pria yang berdiri tidak jauh dihadapanku menyentakku. Aku mendesah lega. Shooting ini selesai, jadi aku bisa melanjutkan perjalanan.
Aku kembali melangkah, bersamaan dengan pria yang tadi berteriak “Cut” membalikkan tubuhnya. Aku terkesiap.
Lendra. Bibirku mengucap nama itu tanpa suara.
Lendra juga terpaku di tempatnya. Menatapku.
Sosok itu masih sama. Dan aku masih mengenal setiap inchi tubuhnya. Dan tubuhku masih bereaksi akan kehadirannya. Namun sekuat tenaga aku menahan kakiku untuk diam di tempat.
"Tiz." Lendra-lah yang memecahkan keheningan itu.
Sekuat apa pun aku menahan kakiku untuk tidak bergerak, percuma saja. Lendra malah mendekatiku. Dia baru berhenti ketika jarak di antara kami hanya tinggal sepenghelaan napas saja.
Aroma tubuhnya masih sama. Desahan napasnya juga masih sama.
Dan rinduku seakan menemukan jalannya. Meletup-letup memintaku melepaskan kerinduan itu dengan memeluknya. Tapi aku tidak bisa.
"What a surprise," ucapnya pelan.
Aku tersenyum tipis. "Kamu jadi sutradara sekarang," balasku sekadar basa basi.
"Hanya film pendek untuk promo brand fashion baru," jawabnya.
Aku hanya mengangguk singkat seraya meneguk kopiku.
"Baru pulang kantor?" Tanya Lendra seraya menggerakkan dagunya menunjuk gedung di belakangku.
Sekali lagi aku hanya menganggukkan kepala. Kecanggungan ini terasa sangat mengganggu tapi aku tidak tahu cara yang tepat untuk menghilangkannya.
"Kamu buru-buru?" Tanya Lendra seteah keheningan menjelma.
Aku kembali mengangguk tanpa suara. "Ada janji dengan Ale." Begitu saja. Aku bahkan tidak menahan lidahku untuk mengatakan hal itu.
Aku melirik dari atas kacamata hitam yang kugunakan. Sempat aku melihat perubahan ekspresi Lendra ketika mendengarku menyebut nama Ale. Namun aku tidak ingin berekspektasi apa-apa.
"Aku duluan," ujarku tiba-tiba. Kecanggungan ini sangat tidak menyenangkan dan aku harus segera pergi. Sebelum kerinduanku mengambil alih dan membuatku menghambur ke pelukan pria itu.
Lendra bergerak ke samping, menyiapkan ruang untukku melangkah maju.
"Ngg... Tiz?"
Panggilan itu memaku langkahku.
Sekali dalam hidupku, ketika aku tidak ingin pergi dari hidupnya, dia membiarkanku pergi. Sekarang, ketika aku ingin pergi, dia malah menahanku.
Tiba-tiba saja Lendra sudah kembali berda di hadapanku. Kedua tangannya mencengkeram pundakku. Dia menundukkan wajah agar bisa bertatapan langsung denganku.
"Dengar. Aku tahu aku salah tapi selama ini aku selalu memikirkan itu. Aku selalu mermikirkanmu."
Sekali dalam hidupku, aku pernah dengan mudahnya tenggelam dalam pesonanya, dalam kata-katanya. Sekarang, pesona itu masih ada. Kata-katanya masih membuaiku.
"Aku memang belum bisa menjanjikan apa-apa, tapi setidaknya aku selalu mencoba."
Lendra masih menatapku. Bahkan dari balik kaca mata hitam ini, aku masih bisa merasakan betapa tajamnya tatapan itu.
"Aku mencobanya, Tiz, dan aku berharap masih ada kesempatan. Meski aku tidak berani menjanjikan apa-apa."
Kata-kata itu terdengar tegas, juga tulus. Tentunya, menyentuh hatiku. Menyentuh kembali rasa yang tak pernah enyah dari dalam hatiku.
Lendra melepaskan pegangannya di pundakku, lalu mundur beberapa langkah. Memberikanku ruang untuk melangkah.
Aku menatapnya. Perlahan, sebaris senyum tersungging di bibirku. Senyum untuknya.
You can call me crazy, but I think, everyone deserves a second change.
And so do I.
And of course, so does he.

Salam dari Lendra

Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu

Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu
(Hari Kedua Belas #13HariNgeblogFF. One more day to go :) )

Baca cerita sebelumnya di sini.


“Kita lihat saja nanti. Apakah kamu sanggup menahanku untuk nggak kemana-mana lagi?”
Ucapan itu diucapkan dengan santai, sesantai ketika dia menyalakan rokok lalu memainkan lighter di tangannya. Lendra menatap keluar jendela seraya menghembuskan asap rokok. Sementara aku masih terpaku di tempatku. Menatapnya tanpa berkedip sekalipun.
Kuanggap ucapan itu sebagai tantangan, meski sedikit banyak aku berharap kalimat itu sebagai sebuah persetujuan.
Persetujuan untuk apa? Bahwa dia juga menginginkanku? Aku tertawa sinis. Dilihat dari gelagatnya, aku tidak yakin Lendra memiliki keinginan yang sama denganku.
Seperti rollercoaster yang kadang mendaki tajam lalu menukik tiba-tiba dalam sekedipan mata. Kurasa itulah yang tepat menggambarkan hubunganku dengan Lendra. Semuanya terjadi serba cepat. Serba kebetulan. Hingga tiba-tiba saja aku terlarut dalam pesonanya. Aku pasrah.
Namun ketika melihatnya hari ini, tiba-tiba saja rollercoaster kehidupanku menukik tajam. Memaparkan realita di hadapanku.
Nyatanya, realita seringkali tidak seindah mimpi.
Kembali aku memakukan tatapan di motif polkadot berwarna pastel yang memenuhi dinding Alba Fattoria.
“Can I ask you something?”
Lendra tidak menjawab. Dia hanya menaikkan alisnya seraya menatapku.
“Ketika Ale menitipkan aku di kereta, kenapa kamu mau?” Meski pertanyaan ini memungkinkan terbukanya rahasiaku, I don’t care. Aku hanya ingin mengenal Lendra. Lebih mengenalnya. Itu saja.
“Why not?”
“Gambar di buku sketsamu?”
Sebenarnya, kesadaran ini sudah menyentakku sejak lama—mungkin semenjak pertama kali aku melihat ilustrasi diriku di sketchbook milik Lendra. Hanya saja, aku pura-pura tidak mempedulikannya. Kuabaikan jeritan hatiku demi memenuhi dahagaku akan Lendra. Aku terlena selama beberapa saat. Berdiri di bayang-bayang semu yang kuciptakan sendiri selama bersama dengan Lendra. Namun, kurasa itu cukup.
Sudah cukup waktu yang kuhabiskan untuk bermimpi. Sekarang saatnya menatap realita.
Kualihkan pandangan dari motif polkadot itu ke wajah yang duduk di hadaanku. Kami hanya dibatasi sebuah meja kecil. Dari jarak sejauh ini, aku bisa menangkap aroma pinus bercampur tembakau yang menguar dari tubuhnya. Aku menyukainya.
“Ada banyak gambarku di buku sketsamu. Nggak mungkin kamu menggambar semuanya setelah kita bertemu.” Aku menyuarakan hal yang diam-diam mengganggu pikiranku.
Lendra mematikan rokok di dalam asbak di atas meja. “Memang bukan.”
“Who are you?” desisku tajam.
Sebaris senyum tersungging di bibirnya. Lendra memerangkapku dalam tatapannya—sesuatu yang sangat sulit untuk ditolak. Dia berpangku tangan dan mencondongkan tubuhnya di atas meja. Cukup menggerakkan kepalaku sedikit saja, maka aku bisa merasakan bibirnya di atas bibirku.
“Mungkin kamu bisa menyampaikan ucapan terima kasihku kepada Ale. Sama sepertimu, aku sudah lama memerhatikanmu dan mencari cara untuk mengenalmu. Tapi ternyata, Ale mendahuluiku.”
Pengakuan itu menyentakku. Tubuhku menegang. Rahasia yang kujaga dalam-dalam ternyata malah diketahuinya. Aku tidak tahu sejak kapan Lendra mengetahui akal bulus Ale. Tapi itu tidak penting lagi sekarang.
“Awalnya aku cuma tertarik. Aku suka sikap takut-takut dan kelewat waspadamu itu. Bagaimana kamu mendekap tasmu erat-erat dan berdiri goyah di sepatu hak tinggimu itu membuatku merasa geli. Aku memperhatikanmu, maksudku, menjagamu. Siapa tahu kamu kehilangan keseimbangan.”
Aku tersenyum tipis, tapi tetap mencurahkan perhatianku padanya.
“Besoknya, ketika melihatmu lagi, aku berkata ‘syukurlah dia nggak memakai sepatu tinggi lagi’, tapi kewaspadaanmu yang berlebihan itu selalu menarik perhatianku.”
Lendra mengambil kotak rokoknya. Dia mendesah kecewa ketika melihat kotak itu sudah kosong. Kurasa, dia hanya butuh pengalihan dari apa yang sedang dihadapinya sekarang. Sesuatu yang bisa dipegangnya agar tangannya tidak bergerak-gerak gelisah. Sebagai gantinya, dia memutar-mutar lighter di atas meja.
“Dari hari ke hari, kamu selalu ada. Dan aku masih nggak bisa mengalihkan perhatian darimu, meski kewaspadaanmu mulai berangsung menghilang.”
“Kenapa kamu melakukannya?”
Lendra mengangkat bahu. “I don’t know. I just wanna do that.”
“And now, what do you want?”
Sekali lagi, Lendra mengangkat bahu. Kali ini diiringi dengan ekspresi yang mendukung ketidaktahuannya.
“What do you want from me?” tantangku.
“What do you want from me?” Alih-alih menjawab, Lendra malah mengulang pertanyaan yang kuajukan untuknya.
“I want you and you know that. I love you, I mean, I think I love you,” sahutku. Sedikit keraguan terdengar di balik suaraku. Kepercayaan diri yang tadi melingkupiku perlahan mulai menghilang.
Kuamati reaksi Lendra. Aku ingin tahu bagaimana tanggapannya ketika aku mengatakan hal itu. Aku ingin tahu, bagaimana pria yang tidak ingin diikat seperti dia menghadapi perempuan yang selama beberapa waktu terakhir menghabiskan waktu dengannya dan saat ini menawarkan diri untuk mengikatnya.
Aku hanya ingin tahu.
Namun Lendra hanya sedikit kaget. Ekspresinya masih sama, sedikitpun tidak menunjukkan gelagat terganggu ataupun memperlihatkan dia menyukainya.
“Dan aku mau kamu jadi milikku,” lanjutku, menuntaskan semua isi hatiku.
Tubuh Lendra yang sempat menegang kembali rileks seperti semula. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaram kursi sementara tangannya masih asyik memutar lighter. Lendra menatapku tajam dengan sebaris senyum menghiasi wajahnya.
Entahlah, aku tidak bisa membaca arti senyum itu.
“Sejujurnya, Tiz, aku nggak pernah bisa menjanjikan apa-apa kepada siapapun. Begitupun dirimu.”
*

“Le?”
Akhirnya, aku berhasil menyuarakan nama itu di sela isak tangisku. Setelah sekian lama teleponku tersambung dan Ale berteriak sampai nyaris putus asa di seberang sana, hanya isak tangis yang bisa kukeluarkan.
Ucapan Lendra kuanggap sebagai sebuah penolakan. Aku menyempatkan diri menatapnya sesaat, mencoba membaca gejolak di balik matanya. Ketika tidak menemukan apa-apa, aku mengambil tasku dan pergi. Hingga sosokku menghilang di balik pintu, dia tetap bergeming di tempatnya. tidak bergerak atau sekadar memanggilku.
And now, here I am. Menangis sendiri dan menelepon Ale. Menyedihkan.
“Lo kenapa, Tiz?”
Aku tidak bisa menjawab. Hanya isakanku yang terdengar. Rasa sakit di hatiku begitu menjadi-jadi. Semua mimpiku tercerabut begitu saja, tanpa meninggalkan sedikitpun harapan.
Ah, aku sudah tidak berani mengharapkan apapun dari Lendra.
“Lo dimana?” Kembali Ale bertanya.
Susah payah aku menahan isak tangis. “Star… bucks… Sa… ri… nah…,” jawabku terbata-bata.
Got it. Lo tetap di sana, jangan kemana-mana, oke?”
Aku mengangguk. Tidak peduli meski Ale tidak melihatku.
“Janji, lo nggak akan kemana-mana. Gue langsung ke sana. Lo tunggu gue di sana.”
Tanpa menunggu jawabanku, Ale mematikan telepon. Meninggalkanku yang kembali tergugu sendirian.
Pria yang kucintai mendepakku dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menghubungi sahabatku yang tanpa sadar telah kusakiti. Menyedihkan.

Wednesday, January 23, 2013

[Indonesian Reading Romance Challenge] #4 Pink Project

Pink Project by Retni SB



“Makasih,Puti, untuk segalanya.”
“Makasih, Pring, untuk misterimu.”
I like Retni SB and I love her writing. Gue pertama kenal Retni bukan dari novel pertamanya, melainkan di novel keempatnya, Dimi Is Married. Meski endingnya lebay, gue suka dengan cara penceritaannya. Begitu juga dengan My Partner. Namun, setelah mencari tahu tentang Retni, gue ketemu satu judul, Pink Project. Dari review yang gue baca, lebih banyak yang menyukai novel ini ketimbang dua novel yang pernah gue baca. Jadi, novel ini masuk wishlist gue. Secara novel lama, dapetinnya susah. Untung aja ada bazaar buku di mall deket kantor jadi bisa beli dengan diskon 40% hehehe *nyengir kuda*.
Pink Project diceritakan dari sudut pandang Puti Ranin. Pemilik toko buku yang awam soal lukisan mengirimkan review personal dia tentang pameran lukisan yang baru saja dia datangi ke sebuah koran. Nama pelukisnya Pring. Ternyata, review itu mengundang balasan dari kritikus ternama, Sangga Lazuardy *namanya macho*. Balasan bernada sinis dan mendiskreditkan kredibilitas Puti membuat Puti meradang. Dia nggak terima dan cari cara buat ketemu. Ternyata, Sangga itu memang pintar dan ganteng *me likey*. Setelahnya, Puti jadi sering bertemu Sangga tiba-tiba dan hasilnya selalu menyebalkan sampai-sampai Puti selalu memaki Sangga dengan sebutan Kampret. Kehadiran Sangga bukan hanya berakibat pada Puti, juga pada sahabatnya, Ina. Ketika Sangga dan Ina membuatnya semakin pusing, Puti pun berkesempatan berkenalan dengan Pring, pelukis itu. Merasa memiliki kesamaan nasib karena dihina Sangga, Puti pun melampiaskan kekesalannya dengan curhat sama Pring. Tapi ternyata….
Ah, sampai di sana aja ya, hehehe.
Sejak pertama baca Dimi Is Married, gue suka dengan penceritaan Retni yang lugas dan mengalir. Membalik tiap halaman itu candu. Gue jadi gemes sendiri karena kepikiran, ini Retni maunya apa sih? Banyak pertanyaan bermunculan sehingga jadi nggak sabar buat membalik halamannya.
Dilihat dari nama-nama tokohnya—Puti Ranin, Sangga Lazuardy, Pring—kesan sastranya kental banget ya. Gaya penceritaannya juga sedikit nyastra—beda banget sama Dimi. Tapi enak dinikmati. Apalagi kesan seninya kental banget. Diiringi semilir angin malam dan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang dibawakan oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, novel ini jadi sangat menarik. *tsaahhh*
Membaca novel dengan tokoh yang terkait seni selalu membangkitkan kesenangan gue. Novel ini juga begitu. Lebih tepatnya, menyoroti seni lukis. Gue bisa merasakan kesamaan nasib dengan Puti yang cengo mendatangi pameran lukisan dan cuma bisa mengangguk-angguk pura-pura mengerti dengerin omongan pelaku seni yang njilimet. Gue nggak ngerti lukisan, nggak ngerti teknik, nggak ngerti aliran-alirannya, nggak bisa ngelukis juga, tapi ketika melihat lukisan, gue cuma bisa memberi komentar personal yang lebih terbawa ke perasaan. Seperti Puti.
I love Sangga. Kenapa sih cowok ganteng bermulut pedas yang stok kata-kata pembangkit emosinya banyak ini selalu bikin klepek-klepek? Retni pernah menghadirkan sosok Garda (di Dimi Is Married) yang bikin gue terpesona. Simon Marganda dan Samuel Hardi (dua-duanya rekaannya Windry Ramadhina) juga bikin gue tertarik. Kali ini, Sangga juga. Ditambah dengan rambut ikal sebahu dan senyumnya yang manis. Juga dia yang serba bisa. Mengambil kuliah arsitektur dan seni rupa sekaligus, melukis, pemilik galeri, kritikus lukisan, dan petani tembakau? Nggak nyambung memang dan terlalu too good to be true. Tapi gue suka. Oh, sikap sinisnya itu yang bikin gue sangat sangat sangat menyukai Sangga.
Di awal, gue menyebut nama Pring. Siapakah Pring? Bisa dibilang, Pring ini ‘biang kerok’ semua masalah. Nggak ada lukisan Pring, nggak bakal deh Puti ketemu Sangga. Pring ini juga nggak kalah ngegemesinnya dibanding Sangga meski kebanyakan sosoknya hadir lewat dunia maya dan telepon. Awalnya gue sempat menebak Pring ini tokoh fiktif. Macam-macam tebakan seperti Pring ini sebenarnya Sangga, Pring saudara Sangga, Pring sahabat Sangga, macam-macam. Tebakan gue selalu salah sampai gue capek dan berhenti menebak-nebak. Just let it flow. Dan part Pring ini sukses bikin gue banjir air mata.
Selain mereka bertiga yang ngegemesin, ada juga sosok Ina, sahabat sekaligus partner bisnis Puti. Gue nggak suka sama Ina. Cewek paling bego yang pernah gue kenal. Nggak mau nulis panjang-panjang soal dia juga. Sebel soalnya. Baca aja dan lo bakal ngerti sebego apa si Ina ini. She is a lucky bastard.
Membaca novel ini ibarat naik rollercoaster. Awalnya geli karena kemarahan Puti, trus gemes sama sikap Puti-Sangga, lalu rasanya pengen nonjok Ina, eh tiba-tiba penasaran sama Pring, diikuti penasaran siapa Sangga sebenarnya. Lalu Retni dengan teganya membuat gue menangis bersimbah air mata *lebay*. Untunglah, diakhiri dengan manis. Sedikit lebay tapi untunglah nggak selebay Dimi Is Married.
Membaca novel ini, ada tiga hal yang ingin gue lakukan. Satu: mengunjungi galeri seni. Udah lama nggak ngebego mengunjungi spot-spot seni ini. Terakhir saat kuliah, ketika iseng suka terdampar di Salihara. Jadi kangen lagi. Kedua, mengunjungi Yogya. Part Puti liburan ke Yogya sukses bikin gue garuk-garuk dinding karena kepengin pergi ke Yogya. Benar kata Kla Project, kota itu susah dilupakan. Sekali ke sana, akan selalu merasa terpanggil untuk ke Yogya. Seperti kata Imo, adik Puti, Yogya itu deket sama Jakarta, tinggal naik kereta, tapi buat ngunjunginnya susah banget. Kalah sama turis bule yang rela bayar mahal-mahal buat lihat Malioboro. Di mata gue, Yogya adalah kota seni. I love that city so much *siap nenteng ransel ke yogya. Siapa tahu dapat guide kayak Sangga, hihihi*. Ketiga, gue pengin kayak Ina dan Puti yang punya bisnis sendiri. Udah gitu bisnisnya toko buku. Aaaakkkk, itu kan salah satu impian gue.
Seperti halnya Puti, ada satu pertanyaan yang mengganjal bagi gue. Ceritanya Sangga ini pelukis, kritikus juga, pemilik galeri juga. Ketiga hal itu kan kontradiktif banget. Pelukis memegang idealisme. Pemilik galeri mikirnya materi terus. Sedang kritikus tukang kritik yang harus objektif. Gimana dia bisa objektif menilai lukisannya atau lukisan yang ada di galerinya? Gue memang awam soal beginian, tapi bisa nggak sih seseorang berperan seperti ini? *serius nanya*
Intinya, gue puas baca buku ini. Tiga jam langsung ludes tapi ketika membaca halaman terakhir jadi nggak rela buku ini tamat. Mood gue juga kayak rollercoaster. Awalnya semangat karena terus penasaran sama Pring dan Sangga. Ketika masalah Pring kelar, mood gue sedikit menciut, terutama ketika menjelang akhir. Sudah ketebak seperti apa endingnya. Mungkin karena gue merasa inti buku ini adalah Pring-Sangga-Puti, jadi ketika salah satu aspek tiada, gregetnya sedikit berkurang. Overall, gue suka. Nggak salah memang menjadikan Mbak retni sebagai salah satu penulis idola gue.
Oh ya, ngomong-ngomong soal kesalahan, ada satu kesalahan fatal di novel ini. Kalau dibaca sekilas nggak bakal ngeh tapi karena otak gue saat baca lagi mau diajak mikir, maka detail kecil ini nggak terlewat. Di awal, Galeri Wolu dibilang bertempat di Kelapa Gading. Selang satu halaman, lokasinya pindah ke Cipete. Lha? Piye iki? Memang kecil sih tapi menurut gue ini fatal banget. Kok ya editornya juga kelewat? Tapi, tetep aja ini nggak mengurangi keasyikan baca buku ini.
Two thumbs up for Retni.

Jangan Kemana-mana, Di Hatiku Saja

Jangan Kemana-Mana, Di Hatiku Saja
(Hari Kesebelas #13HariNgeblogFF)

Baca cerita sebelumnya di sini.


Bagaimanapun kerasnya aku melupakan ucapan Renata, aku selalu gagal. Di saat mataku sibuk memelototi motif polkadot berwarna pastel di dinding Alba Fattoria, benakku masih saja mendengungkan ucapan Renata kemaren.
“Jangan terlalu berharap banyak dari Lendra. Dia nggak akan pernah berkomitmen.”
Aku menghela napas. Diam-diam aku melirik Lendra yang sibuk di balik Macbook-nya. Rambut keriting sebahu itu terlihat acak-acakan. Berpadu celana jins gelap, biker jacket, dan kaos hitam, penampilannya semakin memperkuat kesan berantakan. Jangan lupakan rokok yang selalu terselip di bibirnya.
Penampilan Lendra sangat sesuai denan prinsipnya. Free. Bebas. Tanpa ikatan.
Mengingat hal itu membuatku semakin tergolek lesu. Ucapan Renata bisa saja benar. Kalau aku menilai Lendra dari penampilannya, serta keengganannya menerima kemapanan dalam hal pekerjaan tetap, bukan hal yang mustahil jika menyangkut perasaan pun, dia menghendaki kebebasan.
Sebuah hubungan berlatar kebebasan. Tanpa ikatan yang jelas.
Aku menghemburkan napas keras. Bukan hal inilah yang kuinginkan, tetapi aku juga tidak bisa menolak pesonanya. He’s too good to be true. Sukar ditolak.
“Kenapa sih wajahnya ditekuk gitu?” Tanya Lendra seraya menututp Macbook-nya.
“Udahan kerjanya?” Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.
Lendra menghirup rokok yang tinggal separo lalu menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Demi Tuhan, dia pria pertama di hidupku yang terlihat sangat seksi ketika merokok. Lendra terlihat sangat maskulin tapi tetap tidak kehilangan sisi manis yang terpancar dari balk senyumnya.
Sepertinya harapanku sudah semakin tinggi. Bukannya meredup seiring peringatan Renata.
“Kamu suntuk gitu karena aku cuekin?”
“A little bit.”
Lendra tertawa. Suara tawa yang terdengar sangat nyaman diterima, bukan tawa ngakak yang memekakkan telinga seperti yang biasa kudengar setiap kali bersama Ale.
“Trus, penyebab lainnya?”
“Renata,” jawabku singkat.
Kontan saja wajah dihadapanku mengernyit heran. Lendra mencondongkan tubuhnya dan menatapku serius. Semenjak bertemu Renata kemaren, berkali-kali Lendra bertanya tentang apa yang diinginkan Renata dariku. Namun aku tidak menggubrisnya karena pikiranku sepenuhnya tertuju kepada Ale. Sekarang, di saat pusingku sedikit mereda setelah kembali berhubungan dengan Ale, mau tidak mau aku kembali dihantui oleh ucapan Renata.
“Dia ngomong apa sih sebenarnya?”
Alih-alih menjawab, aku malah ikut mencondongkan tubuhku di atas meja sehingga mempersempit jarak yang ada di antara kami. “Kenapa sih kamu nggak mau kerja tetap?”
“Jadi, Renata mempermasalahkan pekerjaanku? Dari dulu dia memang selalu protes.”
“Bukan Renata, tapi aku. Aku penasaran aja. Ale mati-matian kerja keras agar dia bisa mempertahankan pekerjaannya sehingga menjamin pemasukan tetap setiap bulan. Aku juga begitu,” cecarku.
“Kalian hanya orang-orang yang suka bermain aman.”
Pernyataan itu menohokku. Lendra benar. Satu-satunya alasan aku bertahan di pekerjaanku—selain aku menyukainya—hanyalah agar aku tidak perlu pusing memikirkan besok makan apa. Namun di luar sana ada banyak orang yang bertahan dengan alasan yang sama sekalipun dia tidak menyukai pekerjaannya.
“Aku menyukai banyak hal dan aku nggak mau stuck ngerjain satu hal aja lalu mengabaikan kesukaanku yang lain. Bagiku begini lebih menyenangkan. Aku bisa melakukan banyak hal tanpa ada yang bisa melarang. Kebebasan itu mahal, Tiz, dan nggak ada yang bisa membayarnya.”
Aku tersenyum kecut. Sekali seumur hidup, aku pernah membayangkan memiliki pola hidup seperti itu. Bebas, tanpa ikatan, dan tidak ada yang berhak melarangku. But I’m not a risk taker. Aku hanya ingin bermain aman.
“Memang sih nggak semua orang bisa menerimanya,” lanjut Lendra sambil mematikan rokoknya.
“Apa itu karena kamu takut berkomitmen?”
Lendra tertawa kencang sampai-sampai bahunya terguncang. Untung Alba Fattoria tidak terlalu ramai sehingga tidak ada yang terganggu mendengarnya.
“Sepertinya Renata sudah benar-benar memengaruhimu.”
“Lendra, jawab aku,” pintaku.
Tawa itu sudah berhenti, namun Lendra belum sepenuhnya menghilangkan raut geli di wajahnya. “Kalau aku nggak berkomitmen, aku nggak bakal survive, Tiz.”
Aku manyun karena jawaban itu terdengar tidak memuaskan.
Melihat wajahku yang kembali cemberut, Lendra menghilangkan ekspresi geli itu dan kembali menatapku serius, seperti semula. “Aku nggak takut berkomitmen. Ketika aku deal dengan satu klien, aku akan memegang janji itu dan nggak akan mengecewakannya. Mentang-mentang aku bekerja serabutan, bukan berarti aku asal-asalan.”
Mungkin Lendra benar. Aku hanya tidak bisa mengenyahkan ucapan Renata. Ini hanya pancingan karena yang ingin kuketahui bukanlah ini. Aku hanya ingin tahu isi hatinya dan cara pandangnya tentang sebuah hubungan. Tentu saja aku berharap Renata salah.
“Mengapa kamu masih sendiri?” cecarku.
“Cuti sementara dari sakit hati. Kurasa aku sudah pernah memberitahumu.”
Oh ya, tentu saja. Dia pernah memberitahuku, juga membuatku sadar bahwa kita memiliki kesamaan. Patah hati dan menjadi orang ketiga—sesuatu yang sempat kuangankan bisa mendekatkanku dengannya.
“Kenapa nggak melamar Renata?”
“Nggak mau.”
Jawaban enteng itu membuatku berpikir bahwa ucapan Renata tidak salah. Tidak terlihat gejolak apapun di wajahnya ketika Lendra menyatakan penolakannya, seakan-akan yang dia tolak hanyalah ajakan minum kopi.
“Kenapa nggak mau?”
“Empat tahun memang waktu yang lama. Hanya saja aku merasa nggak ingin bareng dia selamanya. Aku masih ingin mencari, Tiz.”
Pengakuan itu kembali menohokku. Pernyataan yang menyebutkan bahwa dia belum siap untuk singgah dan menetap di satu hati.
“Lalu, bagaimana denganku?”
Lendra mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Senyuman yang tentu saja menarik perhatian siapapun yang melihatnya—termasuk aku.
“Kamu menjadi bagian dalam pencarian itu, TIz.”
Jujur, aku tidak tahu apa maksudnya. Namun aku tersadar, aku hanya berharap terlalu tinggi tanpa pernah mau melihat realita bahwa Lendra tidak menggantungkan harapan yang sama denganku. Seakan-akan nantinya aku hanya akan bertepuk sebelah tangan.
Pahit terasa mengaliri hatiku ketika kenyataan itu menyentakku. Ingin rasanya menyalahkan Ale yang tidak ada di sampingku untuk mengingatkanku.
“Dan kita nggak pernah tahu berapa lama pencarian itu berlangsng,” lanjut Lendra.
Aku mengangkat wajah. Kucoba untuk menahan Lendra dalam penglihatanku. Bukan hal yang susah karena dia juga balas menatapku lekat-lekat.
“Kalau begitu, jangan kemana-mana. Jangan mencari-cari lagi. Tetaplah di sini, di hatiku saja,” ujarku lirih dengan segenap keberanianku.
Lendra tersenyum tipis. Dia bersandar ke sandaran sofa sehingga posturnya terlihat santai. Satu tangannya terulur mengambil sebatang rokok dan menyalakan lighter.
“Kita lihat saja nanti. Apakah kamu sanggup menahanku untuk nggak mencari kemana-mana lagi.”

Bonus: Ini foto Lendra lagi ngerokok
Sumber: tumblr yg lupa mana linknya, hihihi
(Demi Tuhan, ini cowok ya ngerokok aja seksi banget. Kayaknya dia mau gimana atau mau ngapain aja selalu seksi. Pesan satu yang kayak gini :) )

Tuesday, January 22, 2013

Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Bangunkan Aku Pukul Tujuh
(Hari kesepuluh #13HariNgeblogFF)

Baca cerita sebelumnya di sini


“Bangunin gue jam tujuh ya. Gue harus ke Bandung besok pagi.”
Mataku seketika terbelalak ketika membaca pesan yang masuk ke ponselku. Aku mengucek mata. Mungkin saja aku salah lihat atau aku yang terlalu berharap sampai-sampai berhalusinasi.
Namun, pesan itu masih ada. Nama Ale masih tertera sebagai si pengirim pesan.
Setelah beberapa hari tidak saling bertegur sapa, sebaris pesan singkat ini sudah cukup membuatku merasa luar biasa senang.
“Kenapa senyum-senyum?”
Sebuah suara berat mampir ke pendengaranku. Aku menoleh ke belakang, melihat Lendra yang terbaring menyamping dengan satu tangan menopang kepala dan menatapku dengan dahi berkerut.
Ale pernah berkata bahwa aku seperti buku terbuka. Apapun isi hatiku, akan langsung terlihat dari raut wajahku—percayalah, aku bukan orang yang tepat untuk diajak bekerja sama menyiapkan sebuah kejutan. Dan ketika perasaanku merasa sangat bahagia, maka wajahku akan bersinar berkali-kali lipat lebih cerah. Tidak mengherankan jika Lendra mempertanyakan hal itu karena sejak tadi, semenjak kami meninggalkan Plaza Indonesia, wajahku terlihat sangat kusut. Ucapan Renata, ditambah hubunganku dengan Ale yang masih merenggang membuatku merasa sangat suntuk.
Sekali lagi aku menatap pesan itu. Masih ada. Dan sekarang, aku baru benar-benar yakin.
Ale memang bermasalah dengan yang namanya bangun pagi di akhir pekan sehingga setiap kali ada sesuatu yang mengharuskannya bangun pagi di hari libur itu, dia akan menyuruhku membangunkannya. Dan aku akan terus memborbardirnya dengan telepon sampai dia mengangkat tubuh pemalasnya itu dari balik selimut.
Mungkin saja, selama ini Ale juga memikirkan cara yang tepat untuk melakukan gencatan senjata. Dan kebiasaan kami ini memberikannya celah.
Sekali lagi, aku berteriak senang tanpa suara.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Lendra lagi. Dia memperbaiki posisi tubuhnya yang semula menyamping jadi menelentang. Tak ayal, ranjang yang sudah sempit untuk dihuni oleh dua orang ini—terlebih mengingat postur tubuh tinggi tegap yang dimiliki Lendra—terasa semakin sempit. Dan aku semakin terdesak ke dinding. Alih-alih protes, aku malah merasa nyaman karena aku sangat menikmati saat-saat berdekatan dengan Lendra. Seperti saat ini. Seakan-akan tidak ada yang bisa memisahkan kami.
“SMS dari siapa sih?” Lendra kembali bertanya meski dua pertanyaannya sebelum ini tidak kujawab.
Aku tidak menjawab, hanya tertawa. Setelah menyelipkan ponsel ke balik bantal, aku menghambur ke atas Lendra dan memeluknya. Lendra terkejut tapi detik selanjutnya dia langsung membalas pelukanku. Kami bergulingan di atas ranjang sempit ini dan sama sekali mengabaikan bunyi derit yang menandakan ranjang ini kelebihan muatan.
Aku hanya merasa terlalu bersemngat.
“Kamu besok bangunin aku jam tujuh ya,” ujarku dengan napas terengah-engah.
Lendra yang masih memelukku kembali mengernyitkan kening. “Besok kan Sabtu? Kenapa harus bangun pagi-pagi?”
“Ale menyuruhku bangunin dia jam tujuh. Soalnya dia paling susah bangun pagi kalau weekend.”
“Jadi, tadi Ale yang SMS?”
Aku mengangguk. Tanganku sibuk membelai rahangnya yang masih belum dicukur. Geli terasa menyelimuti telapak tanganku.
“Kenapa kamu senang banget nerima SMS Ale? Kalian kan teman baik?”
“Ada sedikit kesalahpahaman dan SMS itu menandakan kalau Ale menawarkan gencatan senjata.”
Lendra tidak menjawab, namun pelukannya di tubuhku terasa semakin protektif. Hal ini membuatku semakin senang. Pria yang kucintai ada di sampingku, memelukku. Sahabat baikku perlahan-lahan mulai kembali. Tidak ada yang lebih sempurna dibanding ini.
“Jangan lupa bangunin aku jam tujuh ya.”
Lendra mengangguk. Sembari membelai lembut pipiku, dia berbisik, “Sepertinya kamu dan Ale bukan hanya sebatas sahabat.”
Aku tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukanku di tubuhnya. Senyumku semakin mengembang karena menangkap nada cemburu di balik ucapan itu.
*

“Ya ampun, Tiz, lo kurang kerjaan banget ya bangunin gue pagi buta kayak gini?”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga, menghindarkanku telingaku dari teriakan Ale yang sangat tidak layak didengarkan pagi-pagi seperti ini.
“Kan lo yang minta dibangunin jam tujuh,” balasku sewot. Namun aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Tidak ada kesan canggung seakan-akan pengakuan terlarang itu tidak pernah terlontar dari bibir Ale.
“Tapi ini baru jam lima.”
Refleks aku berbalik dan melihat jam dinding di atas televisi. Pukul tujuh. “Ini udah jam tujuh, Le.”
“Oh iya. Gue lupa kalau jam dinding gue mati.”
Aku melongo. Bisa kutebak sekarang Ale sedang cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
“Jadi, itu batrai jam dari bulan lalu belum lo ganti?”
“Belum, hehehe.”
Dan semakin jelas di bayanganku kalau cengiran Ale semakin lebar. Kali ini diikuti dengan aksi mengacak rambut yang sudah acak-acakan setiap kali dia bangun tidur.
“Sarapan, Tiz.” Seruan Lendra dari pintu dapur menyelingi ucapanku dengan Ale.
“itu siapa?” tanya Ale.
“Lendra,” jawabku pelan.
Keheningan membentang sehabis aku mengucap nama Lendra. Keheningan yang terasa sangat tidak nyaman. Aku menggigit bibir, berusaha mencari bahan omongan tetapi otakku buntu. Sementara di seberang sana Ale juga terdiam. Entah apa yang dirasakannya sekarang.
Aku melirik Lendra yang sudah duduk di karpet di tengah ruangan dengan dua piring nasi goreng. Dia tersenyum padaku dan aku membalasnya dengan senyuman getir.
Lendra-lah yang membuat hubunganku dengan Ale merenggang. Seharusnya, aku tidak menyebut-nyebut nama pria itu. Setidaknya, sampai hubunganku dan Ale kembali seperti semula.
Namun, semua sudah terlambat.
“Tiz.”
“Ya,” balasku cepat.
“Gue siap-siap dulu ya. Thanks udah bangunin.”
“Sama-sama, Le.”
Sepanjang dua puluh tahun persahabatanku dengan Ale, baru kali ini aku merasakan kecanggungan ini. Rasanya sangat tidak mengenakkan. Sungguh, aku tidak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi ini.
“Yuk, makan.”
Ajakan Lendra menyadarkanku bahwa Ale sudah memutuskan hubungan telepon. Aku menatap ponselku, berharap semoga bisa menemukan cara untuk mengembalikan semua masalah ini seperti sedia kala. Aku mencintai Lendra dan menginginkannya menjadi milikku—persetan dengan semua omongan renata, I don’t care—tapi aku juga ingin Ale tetap di sampingku, menjadi sahabat terbaikku.
Aku menyeret tubuhku ke sebelah Lendra. Dia menciumku sejenak sebelum menyodorkan piring nasi goreng ke hadapanku.
Apakah salah menginginkan Ale dan Lendra menjadi milikku tanpa ada yang merasa tersakiti?

Sunday, January 20, 2013

Menanti Lamaran

Menanti Lamaran
(Hari Kesembilan #13HariNgeblogFF)

Baca cerita sebelumnya di sini


“Hai.”
Hampir saja aku menjatuhkan seisi rak karena tepukan tiba-tiba itu. Aku berbalik dan mendapati seorang perempuan berambut panjang tersenyum di hadapanku. Aku tidak mengenal siapa perempuan ini.
Aku menatap berkeliling. Mencari-cari orang lain yang berada di dekatku. Mungkin saja perempuan ini salah orang. Namun di lorong ini hanya ada kita berdua, dan dia jelas-jelas tersenyum padaku.
“Lo ngomong sama gue?”
Perempuan itu tertawa kecil—jenis tawa murid poluper ketika menggosipkan cowok idola di sekolah, lirih dan dibuat semanja mungkin.
“Ya jelas elo. Kan nggak ada orang lain lagi di sini.”
Dahiku berkerut, mencoba mencerna di mana kira-kira aku pernah bertemu dengannya. Ada dorongan di hatiku yang menyebutkan kami pernah bertemu sebelumnya tapi aku tidak tahu di mana.
“Gue Renata.” Dia mengulurkan tangannya.
Renata? Nama yang tidak terlalu familiar tapi juga tidak terasa asing.
“Laeticia,” balasku gugup seraya menyambut uluran tangannya.
“Oh, jadi nama lo Laeticia. Selama ini gue menyebut lo ‘gadis di buku sketsa Lendra’.”
Lendra? Seperti lampu yang tiba-tiba menyala di saat gelap, sedikit titik terang muncul di benakku ketika dia menyebutkan nama Lendra. Aku menyipitkan mata, memutar kembali ingatanku ke beberapa saat yang lalu. Benar saja, ini perempuan yang bertemu Lendra tengah malam di Starbucks Sarinah.
“Jadi, sudah sejauh mana hubungan lo dengan Lendra?” Dia bertanya enteng. Satu tangannya terulur mengambil sebuah buku di rak yang ada di belakangku.
Ini pertama kalinya kami berbicara tapi dia sudah seenaknya menanyakan hal yang bersifat pribadi. Bahkan Ale, sahabatku satu-satunya, tidak pernah menanyakan perkembangan hubunganku dengan Lendra.
Oke, saat ini Ale jadi pengecualian. Kami tidak lagi berhubungan meski seringkali aku merasa gatal untuk menghubunginya. Namun, setelah dua kali pesanku tidak berbalas, aku berhenti menghubungi Ale. Lebih baik menunggu, sampai suasana hatinya kembali membaik dan dia menghubungiku. Aku tidak berani berharap hubungan kami bisa kembali seperti dulu, tapi semoga saja. Karena aku tahu aku tak kan sanggup hidup tanpa Ale.
“Hati-hati ya sama dia. Jangan berharap banyak.”
Renata pindah ke sampingku. Tangannya masih sibuk mengambil buku, membaca back cover sekilas, lalu meletakkan buku itu kembali ke tempatnya. Ucapannya terdengar lembut tapi entah kenapa, aku merasa terintimidasi. Mungkin karena cara dia melihatku yang terkesan menelanjangiku lalu mencemooh. Entahlah, aku tidak nyaman lama-lama berada di dekatnya.
Aku tidak menjawab, malah berpindah ke rak lain. Suasana Aksara siang ini cukup sepi sehingga ke manapun aku menghindar, Renata dengan mudahnya menemukanku.
“Lendra memang mempesona sehingga nggak heran banyak yang mengejar-ngejar dia.”
Jadi maksudnya aku mengejar-ngejar Lendra? Seenaknya saja dia menarik kesimpulan itu.
Aku membalikkan tubuh dan menatap Renata yang pura-pura menekuni buku David Levithan di tangannya. “Dengar ya. Kalau lo masih bermasalah sama Lendra, sekarang dia ada di sebelah.” Aku menunjuk ke arah Canteen. “Lo bisa menemui dia di sana dan nggak ngikutin gue.”
“I know.” Renata mengucap santai. Dia menimbang-nimbang buku di tangannya sambil menatapku dengan tatapan meremehkan. Membuatku panas. “Gue nggak ada urusan sama Lendra. Gue cuma mau ngingetin lo aja. Dengar, gue sama Lendra udah kenal lama. Kita pacaran empat tahun dan selama itu, hubungan ini nggak bisa dibawa kemana-mana.”
Aku mendengus. “Dia cuma selingkuhan lo.”
Alih-alih marah, Renata malah tertawa. “Gue dijodohkan tapi gue berprinsip, sebelum gue menikah dengan pria pilihan keluarga gue, gue akan mencari cinta gue sendiri. Dan itu Lendra. Jika saja Lendra bisa memberikan masa depan yang jelas untuk gue, gue akan menolak perjodohan itu. Tapi empat tahun berjalan sia-sia. Gue selalu menunggu kapan dia akan melamar gue tapi yang gue tunggu-tunggu nggak pernah datang. Sampai akhirnya gue menyerah.”
Aku terdiam, pura-pura menekuni back cover novel di tanganku sementara Renata terus mencerocos di sebelahku.
“Dia tahu soal perjodohan itu, juga tentang niat gue yang akan melawan keluarga gue jika dia melamar gue. Hasilnya? Dia nggak pernah datang melamar gue.”
Renata terdengar sangat emosional. Dia tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Hilang sudah Renata yang tadi mengintimidasi dan bisa bersikap tenang karena sekarang dia nyaris berteriak, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah kami.
“Dia yang mutusin gue. Alasannya karena dia nggak akan pernah berkomitmen. Sampai kapanpun karena dia sangat menyukai kebebasannya.”
Ucapan Renata memakuku. Anti komitmen?
Aku memang baru mengenal Lendra, tidak seperti Renata yang sudah lama mengenalnya. Sekarang baru kusadari bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang Lendra tapi sudah jatuh cinta padanya. Bodoh.
“Jadi, sebelum terlambat, gue cuma mau ngingetin lo. Sebelum lo mulai berharap banyak.”
Renata menyodorkan buku yang dipegangnya ke atahku lalu berjalan pergi. Aku menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya. Ingin rasanya memanggil dia kembali, lalu mengajaknya mengobrol dan membeberkan siapa sebenarnya Lendra. Namun, lidahku mendadak kelu. Aku malah melangkah menuju kasir, menyodorkan buku yang diberikan Renata dan membayarnya tanpa peduli buku apa itu.
Aku langsung menghampiri Lendra yang menunggu di Canteen dengan perasaan berkecamuk. Dia melirikku dari atas cangkir kopi yang sedang diminumnya, sementara aku berdiri terpaku di sisi meja.
Siapa pria yang ada di hadapanku ini?
Karena nyatanya, sebelum Renata memperingatkanku, aku sudah mengangankan banyak hal tentangnya.
“Udah belanjanya?”
Aku meletakkan belanjaanku di atas meja tanpa suara.
Lendra mengambil belanjaanku dan mengeluarkan isinya. Sebuah novel berjudul Everyday karangan David Levithan. “Novel? Bukannya kamu bilang mau beli majalah?”
Aku tidak menjawab, malah sibuk menelusuri sosok di hadapanku sambil menerka-nerka seperti apa dia sebenarnya. Namun, aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
“Aku melihat kamu ngobrol dengan Renata. Dengar…” Lendra menggenggam kedua tanganku di atas meja. Sejenak, rasa hangat mengaliri jemariku dan merambat hingga ke hatiku. “Apapun yang dia bilang, itu hanya omongan perempuan cemburu yang nggak bisa dipercaya.”
Aku menghembuskan napas berat. Kegamangan ini terasa menyesakkan.
“Kamu percaya aku, kan?”
Aku hanya mengangkat bahu. Entahlah. Di saat seperti ini, aku merasa benar-benar membutuhkan Ale.