[Gagas Debut] #IRRC #44 Unfriend You by Dyah Rinni

Unfriend You
Dyah Rinni






Katrissa terjebak dalam persahabatan yang awalnya manis bareng Aura dan Milani yang akhirnya berakhir bahaya. Apalagi sejak kemunculan Priska, murid baru yang langsung berhasil masuk ke clique itu. Dan, diam-diam akrab dengan Jonas, pacar Aura. Aura yang enggak terima pun mulai mem-bully Priska. Begitu juga dengan semua murid di Eglantine High yang terpengaruh oleh Aura. Hingga akhirnya Priska enggak berani datang ke sekolah dan melakukan percobaan bunuh diri.
Di lain pihak, Langit, cowok geek anggota klub komputer di sekolah, membujuk Katrissa untuk menghentikan tindakan Aura. Soalnya, Langit berpikir Katrissa akan lebih mudah menghentikannya karena dia juga ada di clique itu. Katrissa sebenarnya mau, tapi dia takut. Ketika akhirnya dia berani, semua sudah terlambat.
Dan, Katrissa pun menjadi Priska selanjutnya.
Bullying menjadi tema utama buku Unfriend You ini. Sebuah tema yang sangat ‘seksi’ sekarang, terutama di kalangan remaja karena isu bullying ini sering banget ditemukan. Ini pertama kalinya gue baca buku full tentang bullying dan speechless. Apalagi ketika baca gue juga sedang ngerjain edisi say no to bullying di majalah gue, jadi efek kombonya dapet banget.
Selama baca ini, mau enggak mau gue ingat semua bahan artikel yang gue baca dan juga hasil wawancara gue tentang bullying ini. Dan, gue merasa kalau buku ini realistis banget.
Oke, dari segi buku dulu, ya.
I love this book. Really really really love this book. Gue suka Dyah mengangkat cerita dari segi penonton, sesuatu yang jarang disorot padahal penonton inilah yang jumlahnya paling banyak dan punya potensi untuk melawan tindakan bullying. Tapi seperti Katrissa, mereka memilih diam karena takut. Ini real banget. Banyak anak SMA yang gue wawancara bilang kalau alasan mereka enggak mau menolong adalah karena takut akan jadi korban selanjutnya.
Hal kedua yang gue suka adalah penggambaran sekolahnya. Eglantine High atau Egan itu jelas banget visualisasinya di otak gue. Two thumbs up buat Dyah Rinni dan kemampuan deskripsinya yang oke banget.
Gaya menulisnya juga keren banget. Engaging. Yang ada gue susah lepas dari buku ini. Meski memakai PoV 3, fokus cerita terjaga di Katrissa. Kalaupun pengin menggambarkan tokoh lain, kamera tetap berada di Katrissa. Oh, hanya sekali aja kecele. Pas, bagian Priska. Tapi, tetap saja dihubung-hubungkan dengan Katrissa. Me likey.
Tokoh. Yup, ini dia kekuatan cerita ini. Dyah enggak bikin tokoh yang too good to be true. Selalu ada alasan di balik setiap tindakannya. Katrissa yang senang banget dengan ajakan berteman oleh Aura ditunjang oleh masa lalunya yang enggak punya teman. Priska yang senang dapat teman juga karena keadaan keluarganya. Langit yang selalu mendorong Katrissa untuk speak up juga karena ada pengalaman bully. Milani yang akhirnya ember pun ada alasannya, meski simpel, cetek, dan Milani banget, he-he-he. Bahkan tindakan Aura. Selain sebab, setiap tokoh juga mendapat akibat dari tindakan mereka.
Gue suka bab akhir, penjelasan alasan di balik sikap Aura. Cuma sayang banget. Terlalu sedikit. Kalau boleh dibilang, gue paling suka Aura. Karakternya complicated banget. Gue sampai berkaca-kaca waktu Katrissa menemukan alasan di balik ajakan berteman oleh Aura. Aura ini tipikal mean girl yang enggak bisa lo benci. So, Dyah Riini, I owe you to make a side story about Aura, he-he-he.
Tapi, kesempurnaan buku ini ternoda oleh sebuah kesalahan kecil. Kecil banget, malah. Sebenarnya enggak ngaruh juga, sih. Salahin aja otak gue yang terlalu fokus sama cerita ini sampai kesalahan sekecil itu kelihatan. Jadi, di bagian tengah, waktu Aura menjemput Katrissa demi membicarakan ‘pelajaran’ untuk Priska, dibilang rumah Aura dan Katrissa jauh banget sampai-sampai Aura harus memutar arah karena menjemput Katrissa. Tapi bab akhir dibilang rumah mereka dekat. Saking dekatnya Katrissa tinggal naik sepeda aja. he-he-he.
Konfliknya sendiri juara banget. Gue juga suka Dyah memasukkan unsur shoplifted di sini. Baru kali ini gue baca novel lokal bawa isu ini. Kebetulan aja gue lagi baca My Life Next Door juga dan salah satu subkonfliknya adalah shoplifted ini. Jadi, gue salut sama pilihan subkonflik ini.
Ending. Gue puas, kok. Dramanya gue rasa sudah cukup. Tindakan bully-nya juga pas jahatnya.
Oke, sekarang tentang bullying sendiri.
Teman gue yang udah baca buku ini punya complain, kenapa Langit enggak ngadu sendiri aja, sih? Kenapa maksa Katrissa buat buka mulut dan nolong Priska? Kalau baca buku ini, let’s say, minggu lalu, mungkin gue akan berpemikiran sama. Tapi, beberapa hari lalu gue baru aja interview psikolog tentang bully ini dan salah satu ucapan dia adalah, “sebagai teman cukup membujuk korban agar mau speak up dan temani dia ketika speak up. Jangan kita yang jadi tukang ngadu. Yang ada hanya akan membuat korban makin rendah diri. Dengan membiarkan dia speak up sendiri, dan ditemani, itu akan membuat dia sadar ada yang percaya padanya dan tentunya membangkitkan lagi rasa percaya dirinya.” So, gue setuju dengan tindakan Langit.
Gue rasa, buku ini baiknya dibaca oleh semua remaja sekarang, juga guru. Malah, guru harus banget baca. Kenapa? Pertama, biar remaja ini makin punya rasa empati dan enggak hanya menyelamatkan diri sendiri dengan diam dan nontonin aja. Sekarang, rasa empati di kalangan remaja tuh dikit banget. Sayang aja, sih. Kedua, guru seringkali menganggap enteng masalah ini. Mungkin mereka enggak bermaksud, sih, tapi mereka bertindak selama ada bukti. Sedang bukti sendiri jarang ada karena penonton yang hanya diam. So, butuh kerjasama antara penonton dan guru ini. That’s why I love Ms. Lana.
Oh satu lagi yang bikin gue suka sama buku ini adalah adanya tempat yang berada di luar jangkauan pengawasan guru. Di setiap sekolah tempat ini selalu ada dan sering jadi lokasi pem-bully-an. Biar makin banyak sekolah yang sadar dan meningkatkan pengawasan sampai ke ‘sudut terjauh’ ini atau sekalian saja menghilangkannya.
Intinya, I love this book. Enggak hanya untuk remaja, dewasa pun harus baca buku ini. banget.
Thank you Dyah Rinni and Gagas Media for this awesome book.

GIVEAWAY
Oke, gue punya satu eksemplar buku ini. Buat yang mau, enggak usah ribet-ribet, cukup jawab aja pertanyaan gue di kolom komentar. Jangan lupa tinggalin nama, email, dan akun Twitter  ya.
 "What would you do if you see your friend got bullied?"
Jawabannya yang simpel aja, dan yang penting realistis, ya, he-he-he. Jawabannya ditunggu sampai tanggal 19 November 2013 dan pengumumannya tanggal 20 November 2013.
Good luck.
 

Comments

  1. Karena aku bukan tergolong orang yang populer di sekolah (baca: mudah mem-bully orang lain), mungkin yang bisa aku lakukan cuma berbicara degan teman ku itu, dan membujuk dia agar berani "melawan" orang-orang yang mem-bully dia. Kalo tidak mempan juga, mungkin melaporkan pembulian tersebut ke guru atau orang tua temen ku itu..

    Dyah Muawiyah
    dyaahmuawiyah@gmail.com
    @dyahmuawiiyah

    ReplyDelete
  2. Hmm...aku tau yang seharusnya aku lakukan adalah membelanya. Bisa dengan cara nyemangatin dia biar lebih tegar, menyuruhnya agar berani melawan, menyuruhnya untuk melaporkan ke guru atau orang tua. Tapi seandainya itu benar-benar terjadi separah yang di buku Unfriend You, aku nggak bakal berani apa-apa. Yang jelas aku pasti nyemangatin temenku yang jadi korban, tapi aku nggak bakal berani buka mulut. Aku hanya bisa membuat temanku itu tetap bahagia di sekolah dan agar dia semakin lama tidak mengambil hati bullying tersebut.

    Ratri Anugrah
    ratrianugrah[at]ymail[dot]com
    @imawesomenerd

    ReplyDelete
  3. saat temenku di bully: aku bakal melakukan sesuai kapasitasku aja. Karena biasanya aku korban bully, aku bakal ngajak dia menghindar. Karena pada kenyataannya saat orang jenis2 em-bully dilawan mereka bakal semakin menjadi2. Ada kesenangan yg mereka dapet dr membuat orang engkel. Saat dia mulai ga dihiraukan dan ga dianggep, dia baru nyadar kalau yg dia lakukan itu sia2 dan ga bagus. Yang ada ntar dia bakal malu dan diem2 aja. Itu sesuai kenyataan yang aku alami sih. Aku sendiri.

    Siska Aprilia
    siska.aprilia89@yahoo.com
    @kimnarikancil

    ReplyDelete
  4. hmm... yang pasti harus membelanya, meski sebenernya aku takut tapi harus tetap membantunya dengan mengumpulkan keberanian hehe, menyemangatinya agar lebih kuat dan tegar, menyuruhnya untuk berani melawan supaya dia tidak dibully terus-menerus, laporin ke guru ato ortu.


    Ririn Indah Lestari
    lestariririnindah@yahoo.co.id
    @ririnindah_

    ReplyDelete
  5. Memberinya sedikit kata-kata menusuk seperti "lu terlalu bego mau dikerjain begitu", karena perubahan dari diri seseorang gak akan terjadi kalau orang itu sendiri gak pernah nyadar dimana kelemahan dia meski kita sudah mengatakan beribu dukungan ataupun nasihat :)

    ReplyDelete
  6. Pastinya aku akan membela temanku kalau memang ia benar. Sebisa mungkin sih jaga sikap saja sama si pembully, jangan macem-macem dari diri kitanya. Tapi kalau dia masih bully temanku juga ya terpaksa harus dilaporkan ke orang tua atau guru, misalnya. Tindakan bully itu bukan main-main loh, dampaknya bisa serius seperti bunuh diri. Hii

    Cindy Pricilla Muharara
    cindypricilla@yahoo.com
    @CindyyPM

    ReplyDelete
  7. Karena pem-bully-an harus diberantas, jadi tindakan mereka harus dilaporkan, baik ke orang tua teman yang di-bully atau ke guru. Dengan catatan, aku sebagai temannya bukan orang yang buka mulut soal masalah pem-bully-an tersebut karena itu sama dengan menjadi pengadu domba. Tetapi peranan ku, cukup jadi pendorong semangat, pemberi masukan, benteng kuat buat meneguhkan percaya diri teman ku yang di-bully supaya dia mau lapor dan permasalahan selesai. Juga supaya dalam prosesnya, dia tetap merasa dihargai dan disayangi orang lain.

    Herfa Memory
    herfamemory@gmail.com
    @memoryherfa

    ReplyDelete
  8. Teman kena bully? Yang pasti saya lakukan adalah memberinya support, support untuk selalu mengangkat kepalanya ke atas dan support untuk keberaniannya agar dapat melawan orang-orang yang berbuat semena-mena padanya. Kemudian jika peristiwa itu masih terus berlanjut, saya akan memilih memberitahukan pada guru-guru atau orang tua akan kasus bullying tersebut.

    Dhamala Shobita
    e-mail : dhamalasc@gmail.com
    @dhamalashobita

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Im not a wonder woman, jd mgkn cma bisa nyuruh sang teman buat ga takut sm 'bullying' dan berani ut melawan, seenggakny biar org ga smena2 :) and of course I'll be with him/her at least to care and support :D

    tapi kalo emg udah over, laporin k pihak sekolah/ortu supaya yg membully tdk menjadi-jdi.

    Thats all,
    wish me luck^^ he

    mutiara annisa fasha
    mumufasha@gmail.com
    @mutiarafasha

    ReplyDelete
  11. Menurutku kasus bully muncul karena ada 2 pihak; pelaku pembulian (org yg over pede) dan korban (org yg minderan). Kalo temenku jadi korban bully, aku harus bisa meyakinkan dia bahwa pem-bully-an itu harus dilawan dg keberanian.
    Kalo tindakan bully mengancam jiwa, harus segera dilaporkan ke pihak sekolah dan kalo perlu k polisi.
    Bagusnya di sekolah2 itu ada guru Bimbingan Konseling atw psikolognya. Biar ada pendampingan buat anak2 yg butuh treatment khusus.

    Yonea Bakla
    bakla_yonea@yahoo.com
    @bakla_yonea

    ReplyDelete
  12. seorang introvert akan melakukan apapun untuk orang yang disayanginya atau dianggapnya penting dalam hidupnya, and I'm an introvert

    Neony L. Taris
    neony.taris@gmail.com
    @neonyluthfi

    ReplyDelete
  13. Ikut ya, hehe..

    Gue sih jujur aja, ga bakal seberani dan senekat itu buat belain dia secara terang-terangan. Alasan klasik, gue ga mau kehilangan banyak teman cuma karena membela satu teman, atau mungkin, bakal jadi korban selanjutnya. Realistis, kan? Hehehe. Jadi mungkin gue akan bantu secara diam-diam. Gue akan bilang ke dia untuk lebih berani, ya istilahnya 'melawan balik' orang-orang yang membully dia kalau dia memang ga merasa berbuat salah. Kalau dia sudah sedikit lebih berani untuk menghadapi orang-orang yang membully dia, dan ternyata para pembully teman gue itu makin jadi, misal: main fisik, atau kalau misalnya pembully ga main fisik tapi membully-nya sudah keterlaluan sampai teman gue itu sering menangis dan ga mau masuk sekolah lagi gara-gara di bully, satu hal yang gue lakukan: gue akan membujuk teman gue itu untuk melapor ke guru atau siapapun yang bertanggung jawab atas kasus semacam ini. Gue ga akan mau ngadu sendiri karena yang pasti gue ga mau dianggep tukang ngadu, walaupun gue tau itu hal yang salah dengan membiarkan teman gue dibully tanpa gue ikut campur sedikitpun. Gue mau meyakinkan dia untuk ngomong sendiri supaya lebih dia percaya diri dan merasa dilindungi, dan yang pasti, guru akan lebih percaya kalau korbannya sendiri yang langsung melaporkan. Gue akan ikut angkat bicara kalau gue dipanggil buat dijadiin saksi *asik*. Dan mungkin kalau salah satu teman gue adalah pelaku yang membully, gue akan coba untuk tanya-tanya kenapa dia membully teman gue itu, lalu memberitahu dia secara baik-baik supaya ga membully teman gue itu lagi. Soalnya jujur aja, teman sebangku gue itu korban bullying. Walaupun pembully sudah didiemin, kadang dia malah makin jadi. So, jawaban gue tadi adalah memang tindakan yang gue ambil saat melihat teman sebangku gue dibully. :))

    Fabiola Izdihar
    fabiolafabulous@gmail.com
    @wolfhan88

    ReplyDelete
  14. Ketika temen aku ada yang di bully, yang pertama aku lakukan adalah, menemaninya. Menghiburnya dan yang terpenting adalah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak 'serendah' yang para pembully itu anggap. Dan kalau dia di bully lagi, kali ini aku akan melindungi dia. Seenggaknya, aku bisa bela diri dan pasti bisa mengusir pembully itu. Untuk berjaga-jaga, lebih baik, selain memberi motivasi dan menghibur, aku juga mengajarinya bebrapa teknik perlindungan diri.

    Nindya Maharani
    youichi.nikuma@gmail.com
    @rin_lawliet

    ReplyDelete
  15. Langung maju sebagai pahlawan kayaknya g mungkin. Yg ada aku yg kena bully. Aku bakal jd temen yg baik buat korban bullying. Aku akan membesarkan hatinya agar dia tak terpuruk. Aku akan dengar semua curhatannya dan jika bully yg dilakukan sudah menyerempet ke tindak kekerasan fisik, aku akan laporkan ke pihak sekolah. Semoga aksi dia yg keterlaluan bisa dihentikan.

    Dian S
    @DeeLaluna
    dian.sagit4@gmail.com

    ReplyDelete
  16. Pada kenyataannya saya dan teman saya juga korban ejek-ejekan teman yang lain. Walaupun gak sampai parah-parah banget tapi seenggaknya tindakan ejek-ejekan seperti itu berbekas banget di hati dan mempengaruhi mental dan psycologi saya. Jadi kalau teman saya di bully 'belum ada tindakan fisik', saya akan nyuruh/minta teman saya diam, dan lebih baik menutup diri dan menghindari parapem-bully sebisa mungkin. Tapi kalau sudah ada tindakan fisik, dan apalagi jika itu terjadi didepan saya, walaupun saya takut tapi jika melihat tindak kekerasan yang terjadi didepan saya, dan membuat saya geram juga lepas kontrol, biasanya saya balas hajar parapem-bully. Seperti dulu saya pernah meraih kerah seorang anak laki-laki dan terang-terangan mengancam anak itu untuk tidak membully adik saya.
    Dan jika saya terlalu takut untuk menolong teman saya, saya pasti akan merengek-rengek minta orang tua saya untuk mengadukan hal itu pada guru. Karena setahu saya paraguru biasanya lebih dekat dan lebih berpihak pada parapembully itu, dan jika sesama murid yang mengadu biasanya hanya akan dilakukan teguran yang gak berguna, tapi kalau orang tua yang mengadu sudah pasti guru-guru akan bertindak lebih serius.

    Ina Ratnasari
    Inaratnasari28@yahoo.co.id
    @inaratnasari1

    ReplyDelete
  17. Assalammualaikum... apa kabar my writer idolku yang caem.
    Wah pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah sekian lama mengintip sepak terjang (cie..cie maksutnya semangat n motivasi tingginya mb Dyaah Rinni sebagai penulis,, kapan ya daku bisa mengikuti jejak penulisnya. Track on record. Hehehe
    To the point, kembali ke topik...

    Jujur, terus terang terang sedari dulu aku paling gemes mbaa, jika melihat tindakan yang kurang pantas dalam menghargai hubungan pertemanan. Sebenci-bencinya atau rasa antipati yang dimiliki seseorang tidak sepantasnya ditunjukkan secara frontal seperti halnya "pembullian" tindakan kekerasan, baik secara halus ataupun terang-terangan.

    Saya dulu pernah jadi "korban" karena terlalu dianggap naif -tidak mau kompak (masak sich harus-mengiyakan iya-iya saja untuk hal negatif, kan susah ya mbaa. Ambil contoh ada ulangan namun sang guru kerap pikun, ketika aku ingatkan mereka malah marah besar dan mencak-mencak).

    Andai ini masih terjadi dan menimpa orang dekat seperti teman, saudara ataupun kenalan lainnya, tentu saja sikapku tegas menentang bahkan menyiapkan nyali deh untuk siap-siap menggempur orang yang mau sewenang-wenang. Kalau perlu laporkan pada guru dan kepala sekolahnya. Biar mendapat sangsi yang bikin jera.

    ReplyDelete
  18. Assalammualaikum... apa kabar my writer idolku yang caem.
    Wah pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah sekian lama mengintip sepak terjang (cie..cie maksutnya semangat n motivasi tingginya mb Dyaah Rinni sebagai penulis,, kapan ya daku bisa mengikuti jejak penulisnya. Track on record. Hehehe
    To the point, kembali ke topik...

    Jujur, terus terang terang sedari dulu aku paling gemes mbaa, jika melihat tindakan yang kurang pantas dalam menghargai hubungan pertemanan. Sebenci-bencinya atau rasa antipati yang dimiliki seseorang tidak sepantasnya ditunjukkan secara frontal seperti halnya "pembullian" tindakan kekerasan, baik secara halus ataupun terang-terangan.

    Saya dulu pernah jadi "korban" karena terlalu dianggap naif -tidak mau kompak (masak sich harus-mengiyakan iya-iya saja untuk hal negatif, kan susah ya mbaa. Ambil contoh ada ulangan namun sang guru kerap pikun, ketika aku ingatkan mereka malah marah besar dan mencak-mencak).

    Andai ini masih terjadi dan menimpa orang dekat seperti teman, saudara ataupun kenalan lainnya, tentu saja sikapku tegas menentang bahkan menyiapkan nyali deh untuk siap-siap menggempur orang yang mau sewenang-wenang. Kalau perlu laporkan pada guru dan kepala sekolahnya. Biar mendapat sangsi yang bikin jera.

    Christanty Putri Arty
    cputriarty100@gmail.com
    https://twitter.com/cputriarty

    ReplyDelete
  19. Hem, saya tidak pernah dibully, sepertinya saya termasuk orang yang membuli malah. -_-
    Namun ada saya punya sahabat yang selalu kena bullying....
    Awalnya saya ikut campur, namun lama-lama saya takut kalau sahabat saya malah tergantung terhadap pembelaan saya. Hampir setiap hari saya mengomel padanya untuk berani melawan.

    Kemudian mula-mula dia cuma berani menggerutu saja, tetapi tidak lagi menangis. Selanjutnya dia berani berteriak. Syukurlah dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Setidaknya dia tidak hanya diam saja ketika mendapat perlakuan buruk dari teman-teman kos ataupun di luar sekolah. Dia berani untuk membantah seandainya dia tidak salah. Dia berani menatap muka si pembully dan menegaskan bahwa dia tidak takut pada mereka. ^_^

    Vera Astanti
    egizha@gmail.com
    @vastanti

    ReplyDelete
  20. Lihat temen di bully??? Hmmm pinginnya langsung muncul bak super hero atau pun tokoh utama yang membela kebenaran...
    Tapi sayangnya, kalau ini kenyataan dan bukan fiksi... Rasa takut pasti jadi raja.
    Bagaimana kalau justru akulah korban berikutnya?
    Maka jalan terbaik (yang muncul di otakku) adalah ngajak si korban untuk "tersesat di jalan yang benar!"
    Nggak mudah bikin korban bullying yang biasanya mengalami HDR, untuk meningkatkan rasa PD-nya.
    Maka, aku selain ngajak si korban untuk meminimalkan contact dengan pelaku, juga ngajak si korban ikut "kegiatan".
    Entah itu di organisasi, klup nulis, klup teater atau yang lainnya. Pastinya melihat minat dan kapasitas korban juga sih...
    Banyak interaksi dengan orang baru dan mampu menemukan kegiatan yang disukai,, pastinya bisa meningkatkan rasa percaya diri kan???Siapa tahu, perlahan harga dirinya mulai beranjak naik...
    Si korban mulai sadar, kalau dirinya terlalu berharga untuk dibully dan bisa melawan walau tidak berarti balik membully...

    kayaknya itu aja sihh...^^

    @elisa_sy
    elisasorahikari@gmail.com

    ReplyDelete
  21. Joue Abraham Trixie
    joueabrahamtrixie@rocketmail.com
    @joueabraham

    Kalau gue melihat ada teman yang dibully, gue nggak akan ke sana terus hajar orang - orang yang bully dia. Gue juga nggak akan menghentikan aksi bully itu. Kenapa ? Kalau gue bikin itu semua, jelas gue yang akan jadi sasaran mereka. Yang gue lakukan adalah, gue akan melaporkan kejadian itu pada guru BK dan orangtua si korban. Karena si korban pasti takut untuk cerita sama orang lain. Jadi tanpa nunggu teman gue itu besuara, gue akan lakuin semua itu terlebih dulu. Gue juga nggak akan nonton aksi bully tersebut. Setelah melaporkan kejadian itu, gue akan mengajak si korban untuk latihan karate bareng gue, mengingat gue juga anggota karate. Dengan membekali si korban ilmu karate, pastinya akan banyak nilai - nilai positif yang dia ambil. Seperti lebih percaya diri, lebih berani. Dan juga kalau misalkan di di-bully lagi, dia jadi punya bekal :) Semoga saran gue membantu "mereka - mereka" yang menjadi bully. Tuhan memberkati

    ReplyDelete
  22. pernah sih ngeliat temen di bully secara mental dan yang saya lakukan saat itu bukan menyerang orang-orang yang ngebully, nggak juga lapor ke orang tua temen saya itu (karna saya nggak begitu dekat). saya hanya tetap berteman dengan teman saya itu. Mengenalnya lebih dekat dan memberinya dukungan untuk bisa tetap survive. Seharusnya sih saya melaporkan pada guru BK, tapi saya tidak memilih cara itu. pada akhirnya dengan sendirinya dia tahu bagaimana harus menghadapi teman-teman yang selalu mem-bully-nya. Tidak lagi selalu diam ketika di-bully, tapi bisa melawan. Bisa menolak setiap kata-kata yang menjatuhkan mentalnya

    Sylvia Caroline
    @oiksylcaroline
    sylviacaroline@yahoo.com

    ReplyDelete
  23. Ikutan ya kak :D

    Well, selama ini sih, aku belum prng ketemu langsung sm tindakan bully-ing seperti yg disebut di atas. Adanya cm "bully-ing", alias cuma buat main-main aja. Tapi aku tau, di luar sana, banyak tindakan seperti ini, bahkan lebih parah.

    Walaupun belum prnh ketemu lgsng, aku ttp merasa benci (pake banget) sama bully-er. Bs dibilang, rasa empatiku tinggi (not to brag or anything) tp aku sring ngerasain apa yg org lain rasain. Aku benci liat org depresi, sedih, tersakiti, dan aku cenderung berusaha buat bantu mereka nyelesain masalah. Makanya aku sering dibilang suka nyampurin urusan orang -_-

    So, kalau ada teman (bahkan siapapun, baik yg kukenal atau enggak) yang dibully, aku bakal berusaha sebisa mungkin buat bantu mereka. Mungkin minta bantuan ke orang yang aku percaya bisa bantu nyelesaiin masalah, n berusaha mencegah si korban ngelakuin hal-hal bodoh yang nyakitin dirinya sendiri.

    I hate self-harm. Ada tmnku yg begitu, suka depresi n minder tanpa alasan yang jelas, n suka ngelukain diri sendiri. I did what I could do, ada buat dia n bikin dia ngerasa spesial. And thank God she's better now (:

    Stop bullying! - because I hate it and you don't want to be hated by me, trust me. Ha ha.

    Sekian dan terima kasih :D

    Alfindy Agyputri
    alfindy.agyputri@hotmail.com
    @alfindyagyputri

    ReplyDelete
  24. afternoon all

    kasus bullying ini pernah terjadi waktu aku masi sekolah
    yang aku lakuin saat itu adalah bicara dengan teman ku yang di bully agar menghadapinya dengan lebih tegas, karena orang yang seperti itu kalo di diemin bakal makin ngelunjak.
    pengalaman si waktu kelas 1 sma aku pernah di bully ama teman sekelas ku karna dia ga suka kalo nilai ku bagus. dan aku coba ngadepin temen temen ku itu dengan cara yang tegas, buat nunjukin kalo aku bukan orang yang tepat untuk mereka bully. dan akhirnya mereka berhenti ngebully aku :)

    ully
    nag.jho@gmail.com
    @ully_uyik

    ReplyDelete
  25. dalam berteman prinsip saya adalah right or wrong is my friend. dia salah aja saya bela apa lagi dijahatin hehhe (dibela, tapi juga diingetin). kalau ada yang membully teman saya. akan saya bantu bagaimana menghadapinya pertama dengan berbicara hati ke hati (curhat-red). di bully karena apa my dear friend? akan saya tanyakan. masalah penampilan kah? status sosial? kemamapuan akademik? atau justru karena tindakan dan sikapnya sendiri yang menjadi pemicu pembully -an itu. jika letaknya pada 2 masalah pertama (penampilan dan status sosial) akan saya pesankan pada teman tercinta jadilah atom bebas yang tak perlu takut apa kata orang, yang penting adalah kita bisa berdamai dengan hati kita sendiri. ini yang paling utama. dengan begitu kita bisa bersikap, karena kita memegang prinsip. dari sini pasti akan muncul jalan bagaimana mengatasi pembullyan itu. kalo di pojokkan habis-habisan terkait kemampuan akademis. ini sebenarnya dapat dijadikan pelajaran juga. meskipun tidak dapat dibenarkan juga kekerasan yang orang lain lakukan baik itu secara verbal ataupun tindakan atas kemampuan kita mencerna pelajaran. kalau yang ini lawan dengan kerja keras, tunjukkan dengan membuktikan pepatah lama bahwa tidak ada manusia yang bodoh hanya ada yang malas dan rajin. hal ini juga bernilai positif tentunya bagi teman kita. kalau yang terakhir karena sikap dan tindakan kita. mungkin dalam hal ini kita dinilai salah. seperti yang dialami priska dalam unfriend you seperti yang diceritakan sebelumnya (semoga bisa baca bukunya utuh :) ) idealnya memang jika aura marah dia bisa membicarakannya aplagi mereka teman. tapi apalah daya, ini dunia bukan surga, jadi semua tidak bisa rapih dan tertata sesuai kaidah begitu juga emosi. kembali pada prinsip meskipun priska dianggap salah, tidak berarti seluruh siswa berhak memojokkanya. disini paling utama prsika harus berani menjelaskan berbicara pad aura.
    untuk kasus katrissa jelas, ia sudah memilih bersikap, bahwa yang dilakukan aura tidak bisa dibenarkan. tampaknya kita sepemahaman iiph che, bahwa yang pertama-tama dan paling utama adalah kita memberikan dorongan untuk si korban bullying menghadpi pembullynya dan kita yang mendukung juga tampak dipermukaan. tidak abu-abu atau cari aman. dengan hanya mendukung ketika jauh di "medan peperangan" tapi ada bersamnya ketika menghadapi serangan tersebut, dan membiarkan dia tetap menjadi tokoh utama.

    salam kompak
    awal
    @zulfahawalina
    awalzulfah23@gmail.com

    ReplyDelete
  26. Nah ini bener banget. Aku sering ngelihat ini adegan *wuihh* dan aku benci banget sama acara bully2an. Sok paling jago!
    Aku sebagai teman yg dibully: aku bakalan bilang ke dia supaya dia diem aja dan sabar. Karena pembully akan semakin seneng klu bullyannya dibls!
    Aku sebagai teman pembully: aku bakalan bilang ke dia klu belum tentu yg dia bully itu blm, siapa tau yg di dirinya jga ada kekurangan. Dan satu lagi aku bakalan bilang ke dia "coba aja kmu diposisinya, bagaimana perasaanmu? makanya enggak usah sok bully".
    Makasih ini real pernah aku alamin;)
    Afriza amalia
    @afrizaamalia_
    Afrizaamalia@gmail.com

    ReplyDelete
  27. Apa yg akan kamu lakukan jika kamu melihat teman kamu dibully?
    Pertanyaannya bagus ni, pertama aku gak bakal bertindak apa2 dulu saat melihat teman aku itu lg dibully, aku bakal cari tau dulu apa sih alasan 'mereka' ngebully teman aku itu, karena aku gak bakal tahan lihat teman aku sendiri di gituiin tanpa alasan. Aku gak akan bertindak apa2 dulu sm mrk, krn jujur aja aku gak mau ikut2n di bully :P
    Aku jg bisa bayangin gimana sakitnya dibully gak jelas dan seenaknya dgn mrk.
    Aku akan nasehatin teman aku itu biar dia gak lemah lg dihadapan mereka, bilang ke dia kita gak perlu takut dibully semau mrk kyk gitu krn mrk bukan siapa2 kita, org tua kita aja bukan, kalau mrk mulai keras dgn teman aku itu baru aku akan bertindak dan turun tangan langsung, nanyak apa maunya mereka, terus aku bakal coba nyelesaiin masalah mereka dgn teman aku itu secara baik2, kasi tau kemereka kalau bully itu bukan sebuah permainan yg bisa kalian lakuin semau kalian. Karena dgn begitu, disekolah aku aman, tentram tanpa adanya pembullyan lg, menghapus bully dr daftar sejarah anak sekolahan hihi ;D

    Rulia
    rulia950619@yahoo.com
    @Lia_nded

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry, nama kun twitternya kurang lengkap, ini yg benarnya
      @Lia_nded19 :))

      Delete
  28. buat teman kita tegar dan percaya diri , pakai logika bila menerima berita, selalu ingat alloh alias berdo'a utk perlindungan dan keselamatan agar hati mjd tenang.

    ReplyDelete
  29. salam kenal dari Ririn
    ririn_hjr72@yahoo.com
    ririn_hjr@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  30. Lihat temen dibully ya ._. Beruntung pergaulanku nggak menjebakku dalam keadaan itu. Biasanya sih orang2 sekitarku membully cuma buat bahan candaan aja. Yah, terkadang ada yang keterlaluan sih, tapi judulnya tetap aja buat bahan bercandaan.

    Misalnya temenku jadi korban bullying, aku yg tipe cewek pendiem dan sebisa mungkin menghindari masalah tentu aja nggak akan seenaknya nyela adegan itu. Bukan hanya takut kalo aku jadi sasaran bullying berikutnya atau malah aku dan temenku jadi satu paket korban bullying, tapi (seperti yang dikatakan tadi) aku tipe pendiam dan menghindari masalah sebisanya. Aku lebih memilih ada buat temenku di belakang, membiarkan dia percaya sama aku dan menjadikanku tempat curhat. Kadang, seseorang cuma butuh tempat untuk bercerita dimana dia didengar.

    Lagipula, misalnya aku mengaku ke guru sekalipun, aku mungkin nggak akan lolos dari list korban bullying selanjutnya. Pembully selalu punya cara sendiri untuk membully. Dan mungkin, seperti Aura, pembully memliki alasan di balik tindakannya. Beberapa mungkin menjadikannya hobi karena iseng. Beberapa lagi karena dendam dan rasa tidak suka. Keadaan di rumah juga termasuk, serta kemungkinan dia ingin mendapat perhatian juga ada. Ada juga kemungkinan dia ingin melihat reaksi orang-orang sekitarnya pada tindakannya tersebut.

    Intinya, jika temenku dibully, aku nggak akan berbuat macam-macam dengan membelanya. Belum tentu juga apabila kami bertukar posisi, dia akan membelaku. Aku hanya akan diam-diam ada untuknya. Menjafi tempatnya bercerita sembari menganalisis sebab si pembully (mungkin sambil sesekali mengumpatnya dalan hati). Mengadukan pada guru juga biasanya percuma. Pembully nggak akan menyerah hanya karena omelan, nasehat, serta sanksi-sanksi yang diberikan. Bukan rasa takut atau jera yang harus pembully rasakan, tapi rasa enggan.

    Dian Ayu Aristina
    aredian.ad@gmail.com
    @dianayu_ar

    ReplyDelete
  31. Bullying. sering terjadi di bangku sekolah dan bahkan perguruan tinggi.kasus/perbuatan yang harusnya mendapat perhatian khusus.karena jika diteruskan.bisa-bisa korban depresi dan bahkan bisa melakukan percobaan bunuh diri.

    Jika ada teman yang dibully.hal yang bisa kita lakukan,memberi dorongan(semangat,sikap percaya diri,tegar,berani u/ membela diri) jika tidak berani membela diri.hal yang paling efektif dilakukan adalah menghindar dari pelaku bullying.

    jika bullying parah.kita bisa melaporkan ke guru/BK.jangan sampai kita sok-sokan mencampuri urusan mereka(pelaku bullying dan korban bullying) karena bisa-bisa kita yang menjadi sasarannya.

    rasita alfiyah radyta.muggle87@gmail.com
    @choi_radyta

    ReplyDelete
  32. Saya bukan orang yang punya tenaga kuat untuk membatu teman saya yang diganggu. Akan tetapi, saya punya akal untuk melakukan tindakan dalam mencegahnya atau agar kejadian tersebut tidak lagi terulang kembali. Yang saya akan lakukan adalah melibatkan orang lain yang lebih bisa mengatasi masalah tersebut, seseorang yang punya andil kuat untuk membuat sesuatunya berhenti (baca= kejahatan). misalnya orangtua bersangkutan, guru, atau seseorang yang diyakini bisa menyelesaikannya.

    Nama : Sri Maryani
    Email : Mar_orchidflowers@yahoo.com
    Twitter : @Sri_mar

    ReplyDelete
  33. Palingan, saya hanya bisa nasihati teman saya itu untuk melapor ke ortunya dulu. Setidaknya, biar orang tua yang bicarakan kasus bully ini ke orang tua yang melakukan bully.

    nama: Delta Kenda Yordani
    twitter: @DeltaYordani
    email: iam(dot)deltayordani(at)gmail(dot)com

    ReplyDelete
  34. pengalaman saya, mbak, sebagai korban bullly-ing (lho?) solusinya adalah dengan menjadi "lebih baik" dari sebelumnya, lebih cantik, lebih pintar, lebih berani, lebih dari saya yang dulu. beruntung saat di-bully dulu saya ada teman yg membuat saya merasa: ga peduli mereka mau nge-bully saya kaya apa, saya toh ga dikasih makan sama mereka. The hell lah...

    sekarang kalau ada teman saya yang menjadi korban bullying, saya secara terang2an berani negur yg nge-bully ala bercanda yang nylekit. teman saya (yg di-bully) akan merasa lega karena tahu ada seseorang yg terang2an menunjukkan pembelaan. orang yang di-bully itu sebenarnya cuma butuh tahu bahwa ada orang yang "peduli" sama dia. Namun untuk jalan keluarnya, tetap berada di tangan "yang kena bully". dia yang harus bisa melindungi dirinya sendiri. bukan orang lain.

    Annesya
    annesya.devania@gmail.com
    @D_Annesya

    ReplyDelete
  35. Waktu baru masuk kuliah teman saya pernah di-bully sama senior, masih dalam taraf kata-kata, nanggapinnya santai saja. Pasang muka datar, dengarkan, senyum kecut seperlunya, setelah dia selesai ngomong tinggalkan. Setelah itu saya bilang sama teman klo perkataan senior tadi g' usah dipikirkan dan dimasukkan ke hati, yg penting kan kamu g' seperti yg dia katakan.

    Ada jg teman sy yg dipukul pas selesai kuliah dan kita masih dalam ruangan, pelakunya senior jurusan lain yg masih temanan dg pelaku di kasus pertama tadi. Teman yg dipukul itu cowok, pelakunya jg cowok. Trus teman cewek yg duduk di dekatnya menghalangi si senior tp krn disuruh minggir dia cuma sempat kasih kode nyuruh teman yg dipukul pura2 pingsan. Setelah bubar kita semua diskusikan sama senior sejurusan dan keputusannya seangkatan g' usah ikut acara pengumpulan fakultas supaya g' bersinggungan lagi dengan mereka, selanjutnya senior kita urus.

    Intinya, kekerasan itu g' harus dilawan dengan kekerasan. Banyak cara yg lebih bijak. Banyak introspeksi diri, tanya sama teman kita ini orgnya gmn di mata dia siapa tahu ada yg memang membuat org jengkel.

    Nurasia
    @gojimal
    jb007baby@gmail.com

    ReplyDelete
  36. Jika aku mempunyai seorang teman yang terintimidasi, aku akan disampingnya dan membantunya. Tak perduli aku akan menjadi korban bully selanjutnya atau tidak. Aku akan tetap menjadi temannya.

    Aku akan mengajak dia berbicara--temanku yang terintimidasi--agar dia tahu, bahwa tidak semua orang jahat dan memandang dia sebelah mata. Aku akan yakinkan dia supaya berani mengatakan apa yang dia rasakan kepada semua orang.


    Lisma
    @lismalaurel
    lismalaurel@gmail.com

    ReplyDelete
  37. "What would you do if you see your friend got bullied?"

    Saya akan berada disampingnya, mendengar keluh kesahnya serta mensupportnya agar terus tetap sekolah. Lalu akan menasehatinya agar dia lebih berani melawan dan merubah dirinya lebih baik lagi, kesalahan apa yang dia buat sehingga dia kena bully saya akan bantu dia buat minta maaf pada pembully (kalau dia buat kesalahan), dan saya akan menumbuhkan sikap percaya dirinya lagi.

    Sabariah
    @cabbyy_
    sabariiah13@yahoo.com

    ReplyDelete
  38. Mungkin hal pertama yang akan aku lakukan adalah membelanya. Aku akan menemani dan menyemangatinya. Memberinya semangat untuk tetap tegar, kuat dan tetap percaya diri. Memberinya dukungan keberanian untuk melawan dan melapor ke orang yang kira-kiranya dapat menyelesaikan masalah ini seperti guru ataupun orang tua. Memberikan perhatian-perhatian kecil yang luput dari teman-teman sekitar. Berusaha untuk selalu ada disaat dia butuh. Dan yang pasti aku akan melakukan apapun yang aku bisa :)

    Ila Aulia Rahmah
    @ilaciouss
    la_aulia97@yahoo.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts