[book review] Getting Over Garrett Delaney by Abby McDonald

Getting Over Garrett Delaney
Abby McDonald


(Kovernya manis banget ya. Sukak)

Sejak pertama kali bertemu garrett Delaney dua tahun lalu, Sadie merasa kalau they meant to be. Mereka adalah pasangan yang sempurna, sesempurna Reth dan Scarlett, Elizabeth dan Darcy, Romeo dan Juliet, dan pasangan-pasangan lain yang terkenal di dunia literatur.
But now, it’s time to Garrett Delaney and Sadie Elizabeth Allen.
Selama dua tahun ini Sadie terus mengabaikan cewek-cewek yang dipacari Garrett, karena dia yakin, suatu saat nanti Garrett akan menyadari perasaannya dan betapa sempurnanya mereka berdua. Karena mereka memang sama satu sama lain. Suka membaca dan memiliki penulis favorit. Suka menonton film yang sama. Bahkan punya gaya tas yang sama. Semuanya sama.
Namun, ketika Sadie yakin Garrett mulai menyadari perasaannya, mereka harus terpisah. Garrett mengikuti kamp menulis dan Sadie aggal mengikuti kamp itu. Akhirnya dia bekerja jadi barista di kafe di kota kecil mereka, Totally Wired.
Ketika terpisah itu, Sadie mendapat kabar yang menyakitkan. Garrett jatuh cinta lagi. Kali ini sama cewek yang dia rasa mirip banget sama Sadie.
Mirip. Tapi bukan Sadie.
Saat itu Sadie merasa sudah seharusnya dia melupakan Garrett. Dibantu teman-temannya, dan 12 langkah dari self help book milik ibunya, Sadie berusaha untuk Getting Over Garrett Delaney.
First tought: I love this book. Say thanks to Mbak Yuska yang ngirimin ebook buku ini tanpa diminta. Kalau enggak bersih-bersih email, mungkin sampai sekarang enggak sadar kalau mbak Yuska ngirimin buku ini. Sejak pertama tahu, gue sudah suka sama premisnya yang lain daripada yang lain.
Kali ini, tentang cewek yang berusaha menghapus rasa sukanya dari cowok yang selama dua tahun ini jadi sahabat baiknya.
So far, ini buku friendzone terbaik yang pernah gue baca.
Gue suka Sadie. Kepolosan dan optimisnya, juga sisi romantis yang sekuat apapun disembunyikannya, selalu menonjol keluar. Gue suka gemes dengan Garrett yang enggak jelas dan enggak peka. Gue suka Totally Wired. LuAnn yang lucu, Aiko yang suka banget menggambar, Dominique yang dingin tapi baik, juga Josh yang goofy. Plus Kayla yang tipikal popular girl tapi ternyata enggak sedangkal pendapat Garrett selama ini. Kehadiran mereka saat membantu misi Getting Over ini lucu banget.
Soal Garrett, dia memang enggak sering muncul. Banyaknya dari cerita Sadie aja. Tapi dari sana gue sudah bisa memutuskan enggak akan suka sama dia. Gue setuju sama Kayla. He’s such a jerk. Cowok yang merasa paling mengerti seni dan sastra dan snobbish. Menganggap buku romance sampah yang dengan bangga menyebut diri mereka bagian dari literatur. Menganggap teenage movie itu cuma buang-buang waktu. Baginya, karya sastra terbaik itu cuma Dostoyevski dkk. Cih, tipikal snobbish yang kalau ketemu langsung di dunia nyata bakalan gue bejek-bejek saking enggak sukanya sama tipikal yang kayak gini.
About conflict. Memang, sih, ceritanya ditujukan untuk young adult, tapi permasalahan yang dihadirkan related ke semua umur. Ketika memutuskan untuk berhenti mencintai Garrett, Sadie sadar kalau selama dua tahun ini dia terpusat sama apa yang dipikirkan dan diputuskan Garrett. Dia berhenti abca buku romance karena menurut Garrett itu sampah. Enggak nonton teen movie karena bagi Garrett enggak pantas mereka yang ‘bernilai tinggi’ nonton film begituan. Enggak dandan karena bagi Garrett cewek dandan itu palsu dan shallow. Bahkan, membeli tas selempang yang sama dengan Garrett.
Sadie merasa dirinya selama ini seperti itu. Sama dengan Garrett. Tapi akhirnya dia menyadari kalau dia berusaha untuk selalu sama dengan Garrett. Karena dnegan begitu, mereka akan sangat sempurna sebagai pasangan.
Lalu ketika Sadie memutuskan untuk berhenti mengikuti ala Garrett, dia enggak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya. Insert all of her friends, yang siap membantu Sadie mencoba banyak hal baru dalam hidupnya sekaligus mencari tahu, siapa dia sebenarnya.
Ada satu pertanyaan yang menggelitik Sadie yang cocok banget buat direnungin. Bagaimana jika setelah ini dia jatuh cinta lagi lalu melakukan hal yang sama, berusaha untuk terlihat sama dengan cowok itu? Enggak bisakah kita tetap mencintai dan dicintai dengan menjadi diri sendiri?
Karena tanpa disadari, di dunia nyata, sedikit banyak selalu ada kompromi yang dilakukan untuk terlihat sama dengan orang yang kita cintai. Simply like, love his favorite music. Atau nongkrong di tempat dia biasa nongkrong. Kompromi yang tanpa sengaja dilakukan atas nama cinta. Bahkan, seringkali enggak disadari kalau kita sudah berkompromi.
Is it right or wrong?
I don’t know. Enggak bisa di-judge ini salah atau benar. Karena idealnya, setiap orang pasti pengin tetap jadi dirinya sendiri. Cuma kalau berkaca ke Sadie, dia, sih, udah kelewatan banget berubahnya. Gue rasa, selagi masih bisa ditolerir, enggak ada salahnya untuk kompromi.
Back to this book. I love the ending. Realistis. Ending yang gue harapkan sejak awal.
Setelah baca buku ini, gue tertarik untuk baca buku Abby McDonald yang lain karena dari judulnya lucu-lucu. Dan, gue rasa buku ini bisa dibaca semua umur, sekaligus berkaca juga, sudah sejauh mana kompromi yang kita lakukan selama ini demi orang yang dicintai?
Is it worthed or not?

So, I love Getting Over Garrett Delaney. Thank you Sadie Elizabeth Allen and Abby McDonald.

Comments

  1. Hahahah, cepet amat bacanya? Aku belum sempet baca nih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts