[Indonesian Romance Reading Challenge] #42 Selamat Datang, Cinta oleh Odet Rahmawati

Selamat Datang, Cinta
Odet Rahmawati



Alona (subjektif, I hate that name) udah lima tahun tinggal sendiri karena orangtuanya meninggal dan tiga tahun terakhir ditinggalin pacarnya, Galih. Suatu hari Alona mendapat kabar kalau sahabat baiknya sejak kecil, Bastian, kabur dari rumah karena berantem dengan orangtuanya. Akhirnya Bastian tinggal di rumah Alona.
Bastian struggling dengan masalahnya sendiri.
Alona pun struggling dengan masalah patah hatinya dan kenangan bersama Galih.
Orangtua Bastian datang ke Yogya. Masalahnya selesai.
Alona mendapat kiriman surat Galih. Masalahnya selesai.
Bastian bersikeras tetap tinggal di Yogya karena cinta sama Alona. Dan, semua masalah selesai.
Sesederhana itu? Yup.
Ini karya debut Odet Rahmawati, seseorang yang selama ini sering gue lihat di timeline dan event-event nulis yang diadain Mbak Wangi dan Mas Momo. Meski enggak kenal langsung, senang juga, sih, tahu karyanya akhirnya diterbitin.
Gue pertama tahu novel ini dari obrolan ngalor ngidul sama Adit. Celetukan awalnya Adit yang bilang, “If, cek kover Gagas sekarang, deh. Susane Colasanti wannabe.” Dan, ngeceklah gue. Akhirnya gue bertemu kover ini dan Tears in Heaven. Komentar pertama gue setuju sama Adit, Susane Colasanti abis alias tone yang dipakai mirip kover novel luar. Mungkin Gagas ingin mencoba something new biar novelnya tetap stand out dibanding novel lain. Manis, sih, tapi gue enggak ngerasa feel Gagas-nya.
Forget about that cover. What about the story? Okay, let me elaborate this.
1.      Main theme. I don’t get what the main theme is. Sahabat jadi cinta aka friendzone-kah? Trying to move on-kah? Or maybe something else? Sepertinya, sih, sahabat jadi cinta. Masalahnya, pengalaman gue baca buku ini adalah seperti dua cerita berdiri sendiri tanpa irisan yang mengikat. Ya Bastian dengan masalah keluarganya. Ya Alona (really, I hate that name) dengan masalah patah hatinya. Diceritakan mereka bersahabat, tapi gue enggak menangkap unsur persahabatan itu. Semata Bastian cuma numpang tinggal. Enggak sekalipun Alona membantu Bastian menyelesaikan masalahnya. Bahkan Alona enggak tahu apa-apa (dan tiba-tiba menjelang akhir Alona tahu aja gitu. Kapan Bastian ngasih tahu Alona? Jangan-jangan ni cewek cenayang). Irisan baru ada ketika orangtua Bastian balik ke Jakarta dan tiba-tiba aja mereka sadar sudah jatuh cinta. Come on, mana tanda-tandanya? Mungkin maksud Odet adalah agar cerita enggak terlalu ketebak, tapi sayang banget Odet terlalu asyik menyoroti kedua masalah mereka dan sama-sama menjadikan kedua masalah itu sebagai spotlight sehingga akhirnya ikatan yang seharusnya mengikat mereka malah longgar banget. Makanya gue bingung main theme-nya apa. Di awal kita diajak mengikuti permasalahan keluarga Bastian yang harusnya enggak terlalu jadi spotlight. Saran ya, sebaiknya sejak awal ada clue cinta Bastian-Alona dan mengurangi sedikit aja masalah keluarga ini. Biar enggak kayak dua cerita berdiri sendiri.
2.       Odet jago banget narasi. Tapi, sepertinya lagi-lagi Odet kecele. Keseringan narasi tanpa mendeskripsiin apa-apa bikin novel ini jadi datar. Plus, minim dialog. Coba, ya, narasi yang panjang lebar itu dijadiin dialog, bisa bikin pace novel makin tegang dan tentunya menimbulkan chemistry antara tokoh. Karena narasi yang ada cuma bikin kita komentar, ‘oh begitu’ but we can’t feel it. We can’t related to them.
3.      Masih berhubungan dengan poin di atas. Gue kurang sreg ketika Odet di tengah-tengah narasi membahasakan jadi kita. Mungkin maksudnya untuk membuat pembaca engage sama cerita. Tapi, yang ada bikin gue serasa baca artikel di majalah. Serasa dikuliahi. Dan, kemampuan narasi ini sayangnya enggak dipakai ketika mendeskripsikan tempat, contohnya Pantai Indrayani dan alun-alun yang ada pohon beringin yang kita harus lewatin sambil tutup mata itu. Sorry, Det, gue serasa baca brosur perjalanan wisata. Oh, gue juga serasa baca text book kuliah gue ketika Odet nulis tentang pola komunikasi kota-desa. Ya itu tadi, karena membahasakan pake kita. Komentar untuk part paling akhir. Awalnya pake aku, trus dua kalimat akhir kecele pake PoV 3. Piye, tho?
4.      Dialog. Actually, gue suka dialog kata-kataan Bastian-Alona. Menunjukkan kedekatan mereka. Sayang sesayang-sayangnya, kenapa dikit banget, sih? Coba, ya, itu diperbanyak. Gue yakin akan lebih dapat chemistry-nya. Tapi… dialog Bastian dan orangtuanya terasa kurang cowok, ih.
5.      Karakter. Well, gue enggak suka sama kedua tokoh. Bastian simply karena dia kekanak-kanakan banget dan detail kecil yang diberikan Odet bukannya menaikkan simpati pembaca sama cowok ini, malah makin drop. Manja banget. Kekanak-kanakan parah. Dan Alona pun gengges menurut gue. Iya, sih, dia paling enggak mau mengurusi urusan orang lain, tapi ya masa Bastian kabur dari rumah dan orangtuanya udah khawatir banget gitu tapi enggak ditanya ada masalah apa sebenarnya? (Atau ada ditanya dan gue yang siwer? Please yang tahu, jawab ya. Mungkin aja gue salah).
6.      Twist. Apa-apaan itu twist soal Keyshia? Selain enggak penting menurut gue, juga ganggu.
7.      Bahasa mendayu-dayu. Subjektif di gue yang lebih suka bahasa yang lugas. But, like I said before, I like dialog between Bastian and Alona. Dan… Bastian serta Galih kerasa kayak cewek. Maksudnya, bahasanya kurang cowok aja.
8.      Gue enggak sreg dengan alasan putus Alona dan Galih. Come on, kalau mau bohong mbok ya yang bombastis sekalian. Jangan yang mengada-ada dan bikin rolling eyes pas baca. Soalnya, Alona ini diceritain udah dekat banget sama Galih dan keluarganya dan mau aja gitu dibohongin? Plus, Galih juga cemen. Terkait ke poin nomor enam, bukti makin cemennya dia.
9.      Catatan buat editor. Gue rasa banyak penempatan tanda baca yang aneh di sini. Dan, kata kurang efektif. Gue rasa semua orang juga udah tahu kali, ya, gitar itu bagian dari alat musik. Enggak perlulah berkali-kali ditulis alat musik gitar, pffttt…
Overall, sebagai novel debut, sorry to say, gue kurang puas dengan ini. Tapi, gue tetap menunggu novel Odet selanjutnya. Karena gue ingat pernah suka cerpen-cerpennya. Keep writing, Odet.


Comments

  1. Jadi penasaran sama ini nopel. Ckckckc

    ReplyDelete
  2. Gue jadi makin penasaran sama penulisnya. *salah fokus ini mah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts