[Indonesia Romance Reading Challenge] #40 Andai Kau Tahu by Dahlian

Andai Kau Tahu
Dahlian


Tania, si manja yang merasa hanya mencintai pacarnya si musisi kere Hendrik, kabur dari rumah karena ingin dijodohkan oleh ayahnya dengan anak sahabat sang ayah. Tania yang membenci dokter karena papanya yang dokter terlalu sibuk dan enggak pernah ada waktu untuknya, bahkan ketika ibunya meninggal, membuat Tania menolak perjodohan itu. Apalagi karena jodohnya adalah dokter. Dan, alasan sang ayah adalah agar ada nanti yang mengelola rumah sakit peninggalan kakeknya.
Awalnya Tania tinggal bareng pacarnya Hendrik. Tapi ketika tahu Hendrik selingkuh dan Tania sudah kehabisan uang karena semua kartu kredit dan ATM diblokir ayahnya, Tania memutuskan untuk menjual kalung peninggalan ibunya. Saat itu dia enggak sengaja bertemu Reza yang beberapa malam sebelumnya menabraknya. Tania minta ganti rugi memperbaiki mobilnya dengan meminta tempat tinggal. Akhirnya Reza mengajak Tania ke apartemennya.
Tindakan Reza bukan karena dia bisa dibodoh-bodohi oleh ancaman Tania karena kecelakaan itu, tapi karena dia tahu siapa Tania, cewek yang dijodohkan dengannya oleh ornagtuanya. Dan, atas izin ayah Tania, Reza pun menjaga Tania.
And the rest of history.
Memang, sih, Neruda udah berbusa-busa bilang there is nothing new under the sun. Formula kayak gini memang udah familiar banget. Cewek dijodohin-menolak mentah-mentah-lalu malah jatuh cinta enggak sengaja. But in this book I can’t find something new. Anything. Benar-benar ketebak dari awal akan berakhir bagaimana.
Minimal sampai dua tahun lalu, gue akan klepek-klepek dengan cowok-cowok ciptaan Dahlian. Let’s say Daniel, Roy, dan yah gue lupa yang di The Pilot’s Woman sama Promises, Promises. But not now. Yang ada gue geuleuh dengan romantisme berlebihan yang diberikan Reza. Harusnya gue sudah antisipasi hal ini, secara gue baca hampir semua buku Dahlian dan udah hafal formulanya. Tapi, seiring pertambahan usia, gue udah eneg sama romantisme berlebihan yang sama sekali enggak real. Bolehlah dulu gue mupeng begitu baca Baby Proposal di mana Daniel merayakan ulang tahun Karina dengan mengajaknya naik helicopter ke Bandung lalu candle light dinner di atas atap gedung hotel kepunyaan Daniel. Ketika baca sekarang, gue yakin cuma akan berkomentar satu kata. Meh.
Okay, back to this book. Seharusnya gue sudah mengantisipasi kehadiran romantisme berlebihan itu, tapi pas baca tetap saja gue enggak bisa menahan diri buat enggak rolling eyes. And, again, birthday. In the middle of the night. In the middle of candles. With pick up line who oh so….. entahlah, terlalu manis, enggak terasa real. Mungkin karena akhir-akhir ini gue banyak baca cerita romance yang walaupun judulnya romance tapi enggak mengumbar romantisme berlebihan yang enggak real. I need something real. Yang buat gue related dengan isi cerita.
Enough about that. Character. Oke, harus diakui kalau di sini Dahlian jago banget penggambaran karakternya. Memang, sih, Reza oh-so-perfect-and-please-God-he’s-too-good-to-be-true yang udah kaya, tajir, tinggi plus badan bagus, dokter lagi. Tapi OCD yang dimilikinya bikin Reza somehow masih kayak manusia, bukan dewa yang turun ke bumi. Gue suka dengan sikap nyebelin Reza. Dan, ya, dia dokter. Dan, ya, jangan salahin gue kalau ngebandingin dia dengan dokter-ganteng-berlidah-tajam-tapi-sebenarnya-oh-so-sweet lainnya aka Beno Wicaksono. Ya, lumayan sebandinglah.
And what about the heroine? Tania bukan karakter yang bisa bikin gue simpati. Manja, suka tantrum, gaje, snobbish, impulsif, dan bodoh. Literally bodoh. Cantik, sih, tapi apa kelebihan dia yang lain, yang bisa bikin dokter keren semacam Reza bisa jatuh cinta itu gue enggak dapet. Gue berharap ada perkembangan karakter Tania di belakang, tapi enggak ada. Gue berharap Reza seenggaknya bikin Tania bisa bertanggungjawab atau mendukung Tania mencari jati dirinya or at least kuliahlah di jurusan yang dia mau. Reza bilang kalau Hendrik cuma nafsu sama Tania, lalu dia apa? Karena yang gue tangkap, Reza cuma tertarik karena fisik Tania. Terlalu dangkal untuk dokter sekeren Reza.
Tapi, terlepas dari semua itu, gaya menulis Dahlian yang mengalir enak dibaca jadi daya tarik buku ini kenapa gue bisa membaca sampai akhir, mengingat gue udah hilang simpati sama Tania. Gue suka cara Dahlian membangun chemistry dengan dialog-dialog lucunya. Cuma… beberapa narasi yang bikin gue terganggu, seperti penempatan bibir indah di mana-mana, pundak indah, and so on and so on. Bahkan gue enggak bisa menahan diri buat enggak rolling eyes ketika baca ini.
Di bawah penerangan lampu jalan, Reza mengobservasi gadis di hadapannya dengan cepat. Tak ada luka ataupun memar di wajah cantiknya. Reza menurunkan pandangan ke leher indah gadis itu yang diganungi berlian—juga tampak baik-baik saja. pundak mulus yang terbuka, dan lengan langsingnya yang bebas memar dan luka. Reza menurunkan pandangan lebih jauh, ke kaki jenjang yang terbungkus heels—kening Reza berkerut—yang amat tinggi. Seperti bagian tubuh yang lain, kaki indah itu juga tampak baik-baik saja.
Masalahnya itu kejadiannya tengah malam, ketika abis kecelakaan, dan Reza buru-buru harus ke rumah sakit karena ada pasien yang harus ditangani. Tapi, sempat-sempatnya meneliti sedetail itu? Oh my…
Dan, penjelasan tindakan medis yang bikin gue serasa baca text book.
Oh, plusnya adalah di sini pekerjaan Reza sebagai dokter bukan hanya sekadar tempelan. Me likey.

Gue tahu kualitas seorang Dahlian, jadi rasanya sayang aja jika Dahlian terus-terusan menulis cerita dengan formula seperti ini. Come on, Dahlian, make something different.

Comments

Popular Posts