[book review] Indonesia Romance Reading Challenge #39 Bellamore by Karla M Nashar

Bellamore
Karla M Nashar





Lana terpaksa bekerjasama dengan Fabian Ferdinandi, bule Italiano yang menyebalkan dengan komentar-komentar seksis yang selalu menjurus. Apalagi ketika Fabian tahu Lana masih menjaga vigirnitynya sampai nanti dia menikah. Padahal, Fabian terang-terangan pengin mengajak Lana bobo bareng. Tapi, selama ini Fabian hanya komentar saja tanpa ada tindakan-tindakan menjurus. Tanpa disadarinya, Lana mulai kepikiran Fabian meski mengatasnamakan benci dan kesal.
Tapi, lama-lama benci jadi cinta. Lana mulai menyesal sudah bersikap kasar ketika Fabian terasa menjaga jarak dan pulang begitu saja ke Italia. Selang beberapa bulan, Lana mendapat kesempatan training ke New York dan enggak disangka malah bertemu Fabian. Tapi, ada rahasia yang menunggunya di sana.
Oke, telat memang baca buku ini. Tapi, meski udah lama terbit, buku ini masih belum kehilangan gregetnya. Ini juga pengalaman pertama gue baca buku Karla (my bad) dan langsung jatuh cinta. Gue suka cara Karla membangun chemistry antara Lana dan Fabian melalui pertengkaran-pertengkaran mereka—yang berbau seksis dan ujung-ujungnya ngajak ke tempat tidur—tapi dari sanalah karakter mereka terbentuk. This book has a strong character, even supported characters. Meski suka mengeluarkan komentar menjurus, Fabian ini sama sekali enggak terasa genit. Gue suka dengan gaya penceritaan Karla yang mengalir dan lugas. Alur yang rapi dengan penulisan yang rapi jadi nilai tambah dan bikin buku ini makin engaging.
I love this book but at the same time I hate this book. Gue benci buku yang di awal bikin kita senang dan ketawa-ketawa tapi bersimbah air mata di akhir. Twist di buku ini bagus tapi juga menyesakkan. Dan, yang bikin gue pengin ngacungin jempol ke Karla adalah penggambaran sikap Fabian yang realistis sekaligus romantis. Gue akan benci jika Karla menulis Lana dan Fabian akan till death do us part dan mengalahkan logika. Untungnya enggak. Gue juga suka ketika Karla menggambarkan dengan sempurna betapa emosionalnya Lana di situasi itu dan logisnya Fabian. Hell, harusnya makin banyak buku realistis kayak gini.
Meski banyak serendipity, I don’t care. Gue bisa maafin kebetulan-kebetulan itu karena terlanjur bikin gue jatuh cinta pada cerita ini.
Sedikit komplen mungkin di penggambaran pekerjaan Lana. Memang, sih, pekerjaannya dijelasin detail tapi apa nama pekerjaannya malah enggak ada. Memang, sih, disebutin sebagai Account Manager, tapi di bidang apa? Dan jelasnya perusahaan Fabian itu apa dan dia sebagai apa? Minor, sih, tapi menurut gue sedikit mengganggu.
Overall, I love Fabian Ferdinandi. Ending yang bittersweet dan realistis. Dan, gue masih teringat Fabian sampai sekarang. Gue ingin menyalin surat terakhir Fabian tapi bukunya lagi enggak gue bawa, Tapi gue masih ingat emosi gue ketika baca surat itu. sedih banget.
Tiga bintang untuk Fabian Ferdinandi di Ragusa sana.

Comments

Popular Posts