Scene on Three 3 Camar Biru - Nilam Suri




Jadi bagaimana cara berpartisipasi dalam Scene on Three :
  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Judul Buku: Camar Biru
Penulis: Nilam Suri
Penerbit: GagasMedia




Gue sekarang lagi berada di sebuah restoran fancy di Pacific Place yang gue dah lupa namanya—sesuatu tentang kentang—dan gue lagi nunggu Danish. Kalau aja tadi gue nggak ada keperluan ke Japan Foundation, gue nggak bakalan mau diajak Danish janjian di mal pretentious ini. Sumpah, ini mal apa kantor, sih? Suasananya kaku dan dingin, dan gue bakalan heran sama orang-orang yang betah lama-lama di mal ini. Tapi, mungkin orang-orang dengan gaya hidup seperti Danish akan suka. Gue menunggu para pelayan restoran datang dan menunggu minuman gue. Teh manis aja, kepala gue dah pusing duluan ngeliat nama-nama di menu mereka yang gue nggak ngerti satu pun juga.
Memang orang Jakarta tuh sekarang seperti ini ya pergaulannya? Kalau sudah begini, lagi-lagi gue mensyukuri pekerjaan gue yang menurut sebagian besar orang, membosankan. At least, gue nggak perlu basa basi nongkrong atau makan di restoran-restoran mahal dengan menu yang namanya aneh-aneh, dan dengan dekorasi yang bikin lo ngerasa harus ngomong bisik-bisik. Gue yakin, beberapa orang makan di tempat-tempat kayak gini sebenarnya juga nggak ngerti, apa keren dan bagusnya tempat ini sampai-sampai mereka harus memesan makanan yang harganya sama dengan sepasang sepatu Converse. Cuma karena pergaulan mereka, atau tuntutan pekerjaan aja makanya mereka datang secara teratur ke tempat model begini.


Oke, ini Scene on Three ketiga gue dan Scene on Three pertama gue dari novel Indonesia. Kebetulan memang gue lagi baca buku ini. Kebetulan juga malam sebelumnya gue juga lagi ada di mal pretentious ini, makan di resto yang sama, dan tiba-tiba ngerasa deng… begitu baca part ini. Because it’s true.
Pribadi, kalau bukan karena tuntutan pekerjaan atau karena memang ada janji sama orang dan orangnya enggak akan mau janjian di tempat lain selain di sini atau memang terpaksa harus mengunjungi mal ini karena satu-satunya tempat yang ingin gue tuju cuma ada di sini, let’s say Kidzania or at America, gue enggak bakalan mau datang ke sini. Selain gue harus naik taksi karena panasnya Jakarta itu nyiksa banget buat jalan dari halte busway ke PP, sama seperti perasaan Adith, mal ini kaku banget. Dan juga, gue enggak punya kepentingan apa-apa di sini. Makan aja banter di Wendy’s. Belanja enggak bakalan bisa. Intinya adalah, gue merasa setuju dengan ucapan Adith. Ketika ada tempat yang hype, atas nama sosialisasi atau biar ingin dikata hype juga, maka banyaklah orang Jakarta—or so they called urban—berbondong-bondong datang ke situ. Padahal, jika ditanya lebih lanjut, apa mereka ngerti apa bagusnya tempat itu dan segitu pentingnya mereka ke sana selain karena tuntutan pergaulan? Gue rasa nggak semuanya ngerti.
Ketika misalnya kerjaan gue menuntut gue, sebut sajalah, ketemu orang di some off fancy resto gitu, jujur aja gue enggak terlalu ngerti dengan menu-menu itu. You can call me old fashioned karena jujur aja gue lebih memilih makanan aman yang gue tahu bisa diterima lidah gue. Tapi ya umumnya, kenapa kita betah lama-lama di tempat yang jujur aja enggak ngenakin gini, ya karena memang tuntutan kerjaan. Buat mereka yang upper class mungkin lebih ke sosialisasi dan sudah jadi semacam kebutuhan kali, ya—seperti Danish. Tapi banyaknya yang gue lihat justru para pekerja dan gue rasa, kerjaanlah yang menuntut mereka datang dan lama-lama di tempat pretentious seperti ini.
Mungkin memang inilah wajah Jakarta *sotoy*

Comments

  1. Hihihi... coba sekali2 klien/koleganya diajak meeting di warung biasa, kali aja mereka berpikiran sama *iseng* :p

    ReplyDelete
  2. ha..ha..saya ngaku dosa deh. Saya bagian dari orang-orang itu yang lebih suka mengajak janjian di mall atau bahkan nongkrong sendirian di mall. Kalau ditanya kenapa? karena di saat seperti itu saya bisa mengamati orang lain yang berlalu lalang di mall dan bisa menyendiri tanpa merasa sepi karena selalu ada suara yang ribut-rbut di belakang saya.
    *pengakuan dosa*
    (^_^)v

    ReplyDelete
  3. saya ke mall kalau ada keperluan aja, misal belanja benda yg emang cuma dijual di mall tersebut, kalau makan, wkwkwk jarang sih di mall

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts