[Indonesian Romance Reading Challenge] #32 Heart Quay by Putu Felisia

Heart Quay
Putu Felisia





Zoya dari kecil udah menderita. Ditinggalin ayahnya, dan kakaknya jadi pecandu narkoba. Ketika menyendiri di atap, Zoya ketemu Elang Angkasa, pentolan sekolah yang terkenal berandalan. Mereka pacaran, tapi backstreet. Sampai suatu kejadian membuat Zoya terpaksa meninggalkan Elang. Elang sakit hati dan membenci Zoya.
Cerita bergulir di masa sekarang, ketika Zoya dan sahabatnya Santi datang ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabatnya, Tiara. Dengan Elang. Pertemuannya dengan Elang memunculkan rasa sakit di masa lalunya. Juga kebencian keluarga Elang padanya. Sedang Elang ingin tahu alasan Zoya dulu meninggalkannya.
Di titik terlemahnya ini, Zoya bertemu Kenneth Yang. Berawal dari pertemuan enggak mengenakkan di pesawat dan bandara, akhirnya mereka dekat. Dan membuat Zoya mulai berani untuk membuka hati lagi.
Novel ini jadi juara ketiga Lomba Penulisan Amore 2012 lalu. Gue belum baca yang juara satu dan dua. Langsung ini karena setting di Singapura dan cowoknya asli sana. Setelah baca Mrs. MisMarriage, kecintaan gue sama negara tetangga itu makin bertambah.
Ceritanya sendiri tergolong rumit. Tipikal cerita serial drama Korea/Taiwan sana. Untung aja cowoknya bukan Korea. Kalau Korea, dijamin gue enggak bakal ngelirik novel ini. Enough sama Korea-Koreaan haha. Penulisannya cukup lancar. Putu enggak sebaik hati itu ngasih kita latar belakang dalam sekali scene, melainkan ngasih beberapa clue yang tentunya bikin penasaran. Dan gregetan. Bikin gue mencoba menebak-nebak. Memang, sih, drama banget. Tapi, namanya juga Amore. Banyak drama itu wajar. Dan jujur, gue kangen baca novel banyak drama, hihi.
Karakternya sendiri cukup lovable. Yup, I’m talking about Kenneth Yang. Dari cowok jutek yang lebih akrab sama gadget daripada sama manusia lalu berubah nice, charming, unyu, whatever you name it. Untuk ukuran orang Singapura, Kenneth ini termasuk santai. Enggak mencerminkan budaya kiassu-nya orang Singapura. Tapi, enggak terlalu penting, sih, secara konflik Kenneth cuma dengan Zoya.
Zoya sendiri menurut gue gengges. Biasalah, tipikal cewek miskin yang merasa paling melarat sedunia tapi sok tegar. Entah kenapa, gue enggak pernah tertarik dengan tipe cewek kayak gini. Dan dia dicintai Kenneth. Ish, enak banget—iya, gue cemburu.
Interaksi Kenneth-Zoya lumayan, sih, meski gue merasa terlalu cepat. Untuk ukuran orang yang pernah ditinggal mati pacarnya dan sakit hati, Kenneth terlalu cepat untuk membuka hati. Coba halamannya ditambah, trus interaksi Kenneth-Zoya juga ditambah, mungkin chemistry mereka akan lebih tereksplor.
Tapi, gue suka adegan mereka ciuman di pinggir jalan sambil nunggu lampu hijau menyala. Visually di kepala gue bagus banget. Apalagi gue langsung kebayang jalan-jalan di Singapur. Kalau jalanan Jakarta mungkin enggak seromantis itu kali, ya, hehe.
Sekarang, tokoh pendamping alias biang kerok masalah. Elang dan Tiara. The most heartless jerk couple in the world. Tiara tipe spoiled little brat yang rela lakuin apa aja untuk menuhin egonya, termasuk sengaja hamil—jadi inget Carissa, hihi. Elang juga sebenarnya cowok cemen yang egonya terlalu tinggi dan enggak bisa terima egonya dilukai. Cocok deh ini dua orang.
Pada akhirnya, mereka harus memilih. Cinta dan persahabatan. Dan si sopiled little brat macam Tiara milih mengakhiri persahabatannya dengan Zoya demi Elang.
By the way, ketika membaca novel ini gue jadi ingat The Romantics karya Galt Niederhoffer. Gue belum baca, sih, tapi gue udah nonton adaptasi filmnya yang diperanin Katie Holmes, Anna Paquin, dan Josh Duhamel. Inti The Romantics ini tentang sekelompok sahabat yang ketemuan lagi di salah satu pernikahan, yaitu pernikahan Lila dan Tom. Masalahnya, dulu Tom pernah pacaran dengan Laura yang juga sahabat baik Lila. Ketika ketemu lagi, mereka mengenang kembali masa-masa dulu. Juga, Lila yang akhirnya marah pada Laura dan ngebatalin pernikahannya.
Bedanya, di sini Tiara enggak sampai ngebatalin pernikahannya, sih. Dasar egois. Dan Elang? Dasar cemen.
Overall, I love this book. Most of all, I love Kenneth Yang. Gue maunya, sih, lebih banyak scene Kenneth daripada Elang, hihi.
Dan ya, gue suka ada selipan Singlish di sini. Entah kenapa, gue selalu ketawa kalau dengar Singlish. Lucu. dan novel ini sukses bikin gue kangen pergi ke Singapura lagi.

PS: Gue ngebayangin yang jadi Kenneth Yang ini Ambrose Hsu waktu jadi Xu Ze Ya (minus kacamatanya)

 

Comments

Post a Comment

Popular Posts