[Indonesian Romance Reading Challenge] #31 London: Angel - Windry Ramadhina

London: Angel
Windry Ramadhina




Gilang, yang tanpa sadar mencintai sahabatnya sejak kecil, enam tahun atau mungkin lebih, memuruskan berbuat nekad sekaligus gila: menyusul Ning ke London, kota tempat sahabatnya itu sekarang tinggal dan bekerja, sebagai kurator di Tate Modern.
Tapi, kedatangan yang mulanya ditujukan untuk kejutan itu berubah bencana karena ketika Gilang sampai di depan rumah bercat biru di Colville Place, Ning enggak ada. Gilang pun pergi ke Windmill Street, ke sebuah penginapan bernama Madge, tempatnya menginap. Dia hanya punya waktu lima hari di London, dan Gilang harus memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk memberitahu Ning tentang perasaannya.
Selama lima hari, Gilang enggak hanya bertemu Ning. Dia belajar banyak dari orang di sekitarnya. Cowok dengan senyum menyebalkan mirip tokoh di balik topeng Guy Fawkes yang dia sebut V, juga istrinya, pelayan campuran Inggris-India, Ed, Madam Ellis yang berhati dingin dan berwajah masam, si pria kikuk pemilik toko buku, Lowesly, pematung mirip Ethan Hawke yang dia sebut Finn, cewek Indonesia maniak buku yang ngejar sampai ke semua tokok buku di London edisi pertama Wuthering Heights, dan, yang enggak diduga-duga, gadis cantik berambut cokelat ikal dengan mata biru, gadis yang kecantikannya terlalu sempurna untuk jadi manusia, yang selalu datang ketika hujan dan pergi ketika hujan reda dan meninggalkan sebuah payung merah. Dia panggil, Goldilocks.
London: Angel. Windry mengajak kita berkeliling kota klasik yang anggun itu dengan sebuah paying merah.
I love England. I love The Beatles, OASIS, Arsenal, David and Victoria Beckham, Sting, JRR Tolkien, Theo Walcott, Benedict Cumberbatch, Richard Armitage, Aidan Turner, Arctic Monkey, Alex Turner, Alexa Chung, Jake Bugg, Sherlock Holmes, Douglas Booth, One Direction, English Premier League, Lady Di. Intinya, London adalah salah satu kota kesukaan gue meski masih ada di angan-angan aja bisa ke sana.
Gue juga menggemari tulisan Windry Ramadhina.
Mendapati Windry dan London jadi satu? Double attack.
I love this book. Meski nasibnya sama kayak Montase, alias enggak bisa menggusur Memori dari the best book from Windry di otak gue, at least buku ini page turner banget. Cara nulisnya Windry—as usual—juara. Gue enggak usaha ngebahas isi ceritalah, ya. Semua yang kenal tulisan Windry pasti tahu kalau cerita biasa di tangan Windry bisa jadi luar biasa. Bab awal langsung disuguhi bromance yang kental banget dan bikin gue ngakak. Then, we go to London.
Karakterisasi? Duh, Windry, sih, udah juara soal karakterisasi. Enggak ada sifat menonjol yang bikin Gilang ini wah banget. Dia biasa aja kayak cowok kebanyakan. Membumi. Mungkin ini yang bikin Gilang jadi lovable. Gue suka karakternya yang pecinta buku dan banyak tahu tentang buku. pengin, deh, bisa ngobrol langsung sama Gilang. Pasti, deh, kita enggak akan kehabisan bahan obrolan, hehe *pede jaya*. Sifat gampang teralihkannya Gilang juga bikin dia keliatan makin membumi. Toh kita semua kayak gitu, kan? Gampang banget kedistract dan lupa sama tujuan awal.
Sifat inilah yang membawa Gilang juga kedistract sama Goldilocks di saat seharusnya dia mencari atau bersama Ning. Karena dari awal diceritain sifat ini, semuanya realistis.
Dan, sama seperti Montase, kali ini Windry juga jadi cowok. Menurut gue, Windry lebih luwes ketika jadi Gilang ketimbang Rayyi.
Deskripsinya udah pas menurut gue. Gue enggak tahu, apa karena deskripsi Windry yang benar-benar pas atau ketika baca gue dengerin Jake Bugg dan sesekali menatap poster Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman, juga karena gue abis jalan dan masih make baju bergambar bendera Inggris, makanya feel London-nya dapet banget. Tapi, gue acungi jempol deskripsi tempatnya. Detail dan enggak ngebosenin. Meski ceritanya cuma lima hari, tapi padet banget. Enggak cuma tentang Gilang, tapi juga tentang orang lain di sekitar Gilang.
Dan, ya, gue pengin naik London Eye bareng Kak Ben sambil dengerin iPod dengan headset di telinga masing-masing. Lagunya, Wonderwall (Oasis), atau Here, There, and Everywhere (The Beatles), atau Country Song (Jake Bugg) *ngayal*.
Sebenarnya, gue masih butuh penjelasan tentang Goldilocks. Tapi… secara kisah Gilang sudah ditutup dengan manis, gue enggak mau mikirin si Goldilocks ini, hihi.
Satu lagi yang agak mengganjal, Gilang bisa move on secepat itu. Emang, sih, dia minta waktu, dan ketika bertemu Ayu pun belum tentu dia bisa barengan Ayu. Tapi, seenggaknya dia mencoba untuk terus maju. Tapi, setelah dipikir-pikir, enggak apa-apa juga kayak gitu. Gue, sih, mikirnya kita enggak tahu apakah Gilang beneran move on atau masih mencoba. Gue rasa adegan penutup cukup realistis. Gilang mencoba untuk terus maju. And the rest of history? Tanyakan saja pada Windry gimana nasib Gilang sepulang dari London, hihi.
Ada satu hal yang pengin gue tanyain. Gue curiga Windry ini Ringers juga. Secara ada adegan becandaan bawa-bawa Isengard dan Helm’s Deep, juga ketika Gilang nyamain London kayak Mordor dan dia mirip Frodo yang enggak bisa lagi ngebayangin yang indah-indah di Shire, juga ada goblin dan orc. Bisa juga, sih, karena ini London dan Tolkien, kan, dari Inggris. Tapi, kalau Windry beneran Ringers juga, gabung di Eorlingas yuk, Kak #eaaaa.
Ini seri STPC kedua yang gue baca—masih utang tujuh STPC lagi—dan perbandingan gue cuma Bangkok. Sorry to say, I love Bangkok than London.
Tapi, overall, gue puas, kok, dengan buku ini. Saran gue, ketika baca, lengkapi diri dengan nuansa Inggris lain seperti yang gue lakuin. Lebih syahdu, hihi.


Comments

Popular Posts