[Indonesian Romance Reading Challenge] #26 Notasi by Morra Quatro

Notasi
Morra Quatro



Notasi merupakan buku pertama yang dibaca oleh Reight Book Club untuk dibaca bulan Juli. Apa itu Reight? Silakan lihat di sini.
Notasi:
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu….

Ini buku kedua Morra yang gue baca setelah Forgiven bertahun lalu yang bikin gue jatuh cinta pada gaya menulis Morra. Ada dua hal utama yang bikin gue langsung menetapkan buku ini sebagai must have read. Pertama, setting reformasi dan demonstrasi besar-besaran tahun 1998. Ketika kejadian itu terjadi, gue cuma bocah sembilan tahun di Bukittinggi sana yang enggak tahu apa-apa dan cuma menonton tv. Tapi gue tahu semua keluarga gue khawatir karena abang sepupu gue yang lagi kuliah di UI ikut turun ke jalan. Bertahun kemudian, gue mendengar sendiri cerita kengerian di jembatan Semanggi, enggak hanya dari abang gue, tapi juga dari bos gue waktu magang di humas FISIP, Mas Raymon. Ketika belajar sejarah pun, gue enggak pernah enggak nangis ketika membaca nama Elang. Ada masa di mana gue begitu menyukai sejarah—sampai sekarang insya Allah masih meski enggak terlalu—dan reformasi merupakan salah satu yang paling gue suka. Udah banyak yang mengangkat peristiwa ini ke dalam cerita dan gue penasaran gimana Morra mengemasnya ke dalam sebuah novel pop.
Kedua, radio. Semua yang kenal gue tentu tahu betapa sukanya gue sama radio. Bisa dibilang, Marconi itu idola gue karena udah nemuin radio. Waktu kecil, tv di rumah gue kurang bagus jadi gue males nonton tv. Ujung-ujungnya pergi ke radio. Ketika remaja, gue semakin dekat dengan radio dan punya banyak teman dari radio. Sekarang pun masih, meski enggak pakai radio lagi, melainkan streaming. Tapi, gue yakin sampai kapan pun radio akan selalu menyertai gue.
Dan ketika kedua hal ini digabung jadi satu, gue makin semangat membaca buku Morra. Ditambah dengan Forgiven yang bikin gue berdecak kagum.
1.                   First impression
Kesan pertama gue: two thumbs up for cover. Gambar radio itu bikin gue inget radio butut papa yang meski udah rusak masih enggak mau dibuang, hihi. Ada yang bikin gue penasaran, kenapa harus ada kuda mainan? Well, setelah dibaca, gue ngerti makna kehadiran kuda itu. Cover yang cantik bukan hal aneh lagi buat Gagas Media. Kapan sih cover novel Gagas biasa-biasa aja?
2.                   How did you experience the book?
Terhitung udah bertahun-tahun gue baca Forgiven jadi gue agak lupa dengan cara menulis Morra. Tapi gue ingat banget gue menyukainya sejak dari awal. Gue berharap bisa ngerasain pengalaman yang sama seperti waktu baca Forgiven.
Nyatanya, beda banget. Bagian awal terlalu deskriptif. Detail sedetail-detailnya, seakan-akan di depan kita tuh ada peta UGM lengkap. Bagus sih, cuma gue kurang sreg. Gue suka cerita yang sejak awal kita tuh udah diajak terjun langsung ke dalam kasusnya, jadi ketika opening lama banget, gue jadi sedikit turn off.
Tapi gue yakin Morra enggak akan ngecewain. Gue bertahan dan yup, I’m right. Perlahan-lahan gue menikmatinya dan mencintai buku ini. Ketika suasana demonstrasi digambarin dengan detail, gue enggak complain karena Morra berhasil menggambarkan kegetiran, kemarahan, dan kesedihan di masa itu.
3.                   Characters
I love Nino. Di balik sikap tenang dan misteriusnya, Nino mampu membius pembaca. Nino enggak perlu banyak omong untuk bikin orang menyukainya.
Nalia is gengges. Entahlah, gue enggak suka sama dia. Ketika Nalia bilang dia kekasih Nino, gue cuma bisa menanggapi dengan rolling eyes. Come on, satu ciuman bukan berarti lo udah jadi pacarnya Nino ya, Nalia.
Satu lagi, gue selalu kebolak baca namanya Nalia jadi Naila.
Tokoh lain seperti Faris, Ve, Farel, Zee, Tengku, Lin Lin, dan lain-lain porsinya udah cukup pas meski gue penasaran dengan Ve dan Nino hihi.
4.                   Plot
Morra juara dalam bikin plot meski di awal gue agak tersendat karena terlalu lama. Chemistry antara Nino dan Nalia terbangun dengan soft tapi ya itu tadi, gue ngerasanya begitu lama. Dari awal sampai akhir Morra menuliskan ceritanya dengan tempo yang lama. Buat yang suka grasa grusu, well, ini agak menantang nyelesainnya, hehe.
5.                   POV
Morra gunain POV orang pertama. Terberkatilah Morra yang berbaik hati memberi tahu kita sekelumit kehidupan Nino setelah pisah dari Nalia melalui surat-suratnya. Gue suka bagian surat ini. Cuma, narasi Morra enggak terlalu sreg buat gue. Gue enggak ngerti kenapa gue enggak terlalu suka gaya bercerita Morra yang kayak gini.
6.                   Main Idea/Theme
Seperti yang gue bilang di opening di atas, gue suka main idea yang ditawarkan. Reformasi dan radio. Dua hal ini cukup bikin gue harus baca buku ini. Kisah cinta enggak terlalu menonjol menurut gue meski katanya ini kisah cinta. Gue lebih suka kisah demonstrasi dan reformasi, juga peran penting radio di sana.
7.                   Quotes
Berhubung gue baca novel ini pas lagi di jalan dari dan ke kantor, gue enggak terlalu nandain kalimat yang quoteable. Tapi gue mencatat satu yang gue suka. Kalimat Tan Malaka di opening bagian 1. Kalimat ini bikin gue ingat biografi Tan Malaka yang disuruh bokap baca tapi gue anggurin sampai sekarang, hehe.
“Padi tumbuh tidak bersisik.”
Seperti Nino yang tenang tapi menggigit. Seperti padi yang tahu-tahu udah gede aja.
8.                   Ending
Gue penyuka ending realistis. Bagi gue, enggak ada sad ending dan happy ending. Yang ada cuma ending realistis dan ending maksa atau mengada-ada. Notasi, untungnya, memilih ending realistis. Seperti Forgiven yang realistis juga.

Selain masalah tempo, hal paling mengganggu ketika baca buku ini adalah typo. Bo, itu ya spasi antarkata suka kelewat dan banyaaaakkkkk banget. Gue sampai pengin jedotin kepala ke dinding saking banyaknya. Moga next time cetakan selanjutnya dibenerin ini ya. Ganggu, sumpah.
Overall, I love this book meksi gue masih lebih memuja William Hakim dan Forgiven. Tapi, jika ada novel Morra selanjutnya, gue akan tetap baca karena pertemuan pertama gue dengan Morra, melalui Forgiven, itu enggak akan bisa gue lupain.

PS: Ada satu hal yang pengin gue tanyain kalau bisa ngobrol sama Morra: itu peran Eross Chandra di novel ini beneran enggak sih? Eross memang dari Yogya sih. Selain itu, gue juga pengin nanya, apa Morra sendiri juga ikut demonstrasi sehingga bisa ngegambarin sedetail ini. Soal Swaragama, mungkin nanti berpuluh tahun kemudian ada yang baca buku ini karena butuh referensi soal sejarah berdirinya radio tersebut. Oh, belajar sejarah reformasi juga  bisa.

Comments

Popular Posts