[book review] Suzanne's Letter For Nicholas by James Patterson

Suzanne's Letter For Nicholas
by James Patterson
Alih bahasa oleh: Monica Dwi Chresnayani



Karena kita selalu lebih baik dari aku.
Suzanne’s Diary For Nicholas merupakan buku pertama milik James Patterson yang gue baca. Terjemahan. But I love him and his story.
Buku ini dibuka dengan sakit hati seorang Katie Wilkinson yang ditinggal begitu saja oleh love of her life di saat dia sedang mempersiapkan makan malam super penting bagi mereka dan akan memberi kabar gembira jika dia hamil. Matt, pacar Katie, meninggalkannya tanpa alasan. Katie yang patah hati kemudian menerima sebuah paket berisi buku harian dengan surat pengantar dari Matt yang menyebutkan bahwa Katie akan tahu alasan dia meninggalkan Katie, juga alasan Matt menutup-nutupi masa lalunya, setelah membaca buku harian itu.
Namun aku harus mengingatkan bahwa ada bagian-bagian tertentu yang mungkin berat bagimu untuk dibaca.
Mau tidak mau, Katie membaca buku harian itu.
Buku itu ditulis oleh seorang perempuan bernama Suzanne Bedford untuk anak lelakinya bernama Nicholas. Setelah membaca, Katie menemukan fakta bahwa Suzanne adalah istri Matt dan Nicholas adalah anak Matt. Semakin membaca buku harian itu, Katie semakin mengetahui masa lalu Matt dan anehnya, dia merasa bersahabat dengan Suzanne.
Pfiuhh… nangis kejer baca buku ini.
Setelah sekian lama cuma baca chicklit, sekalinya baca novel romance agak kagok juga. Penceritaan James Patterson yang manis dan lembut ngingetin gue sama Nicholas Sparks.
Nama James Patterson sudah nggak asing bagi gue melalui serial Maximum Ride dan Alex Cross. Tapi gue nggak baca karena genre thriller. Lalu, gue ketemu novel romance Patterson. Sudah lama memang. Terbit 2001.
Dan gue jatuh cinta sama tulisan James Patterson. Gue jatuh cinta sama tukang cat slash penyair bernama Matthew Harrison. Gue juga merasa bersahabat dengan Suzanne Bedford Harrison. Gue seolah bisa merasakan kelucuan si kecil Nicholas Harrison. Gue juga ingin memeluk Katie Wilkinson and said that everything gonna be okay.
Gue seolah nggak berada di kamar gue yang sumpek, melainkan di rumah pantai dengan biru laut yang indah di Martha’s Vineyard.
Buku ini terasa real. Mungkin format diari yang digunakan membuat gue merasa sangat engage dengan ceritanya.
Gue pernah bilang kalau gue nggak suka cerita yang awalnya manis-manis-lucu berakhir tragis dan air mata yang nggak berhenti. So I said that. I hate this novel karena sampai detik ini, ketika gue menulis review ini, hampir dua belas jam berlalu setelah gue menyelesaikan membacanya, I am still crying. Gue tidur dengan mata bengkak dan terus menangis lalu bangun dengan kepala pusing seperti ditabrak truk dan yang pertama kali gue lakukan ketika bangun adalah memeluk buku ini dan menangis lagi.
Efeknya jangka panjang banget.
Sejak awal, gue sudah menebak kalau novel ini akan berakhir tragis tapi gue nggak pernah menyangka akan setragis ini. James Patterson memberikan gong berkali-kali, nggak langsung membuat pembacanya nyesek dalam satu kali pukulan, melainkan berkali-kali dan sepertiga bagian terakhir benar-benar menyesakkan. Gue sejak awal udah antisipasi buat bersedih-sedih ria di ending tapi percuma semua persiapan itu karena akhir yang sangat-sangat-sangat menyesakkan.
Patterson mampu menggiring pembaca untuk menyukai semua tokoh-tokohnya, bahkan si kecil Nicholas yang masih bayi. Sejak awal gue sudah tahu kalau Matt nggak jahat. Dia begitu manis. Dia nggak mungkin berselingkuh dari Suzanne dengan Katie. Ini yang membuat gue sejak awal udah menarik kesimpulan bahwa there’s something happen with Suzanne. Tebakan gue benar. Tapi gue nggak pernah menebak atau bahkan memikirkan bahwa Nicholas… ah sudahlah.
Novel ini memberi banyak pelajaran tanpa kesan menggurui. Pelajaran paling penting, sekaligus benang merah dari buku ini, benar-benar bikin gue speechless. Gue kutip ya paragraf itu.
Judulnya, Permainan Lima Bola.
Anggap saja dalam hidup ini kau bermain lempar bola dengan lima bola sekaligus. Kelima bola itu masing-masing disebut pekerjaan, keluarga, kesehatan, persahabatan, dan integritas. Dan kau harus menjaga agar semua bola itu tetap berada di udara. Tapi akhirnya suatu hari kau mengerti bahwa pekerjaan adalah bola yang terbuat dari karet. Kalau bola itu terjatuh, dia akan memantul kembali. Tapi keempat bola yang lain—kesehatan, keluarga, persahabatn, dan integritas—semuanya terbuat dari kaca. Kalau salah satu di antaranya terjatuh, bola itu akan tergores, gempil, atau bahkan pecah. Dan begitu kau memahami makna dari cerita kelima bola itu, kau akan mulai mendapatkan keseimbangan dalam hidup (Suzanne to Nicholas).
That was absofuckinglutely true. Dan membuat gue mulai memikirkan Permainan Lima Bola ini.
Satu lagi yang membuat gue jatuh cinta dengan novel ini, isinya bertabur buku. Katie seorang editor dan Matt penulis alias penyair. Rumah mereka seperti toko buku mini. Aaakkk gue bisa ngebayangin itu. Apalagi rumah Matt di Martha’s Vineyard. Rak buku tinggi sampai langit-langit dengan pemandangan laut biru. Manis!!!
Overall, gue merasa sangat-sangat-sangat beruntung pernah membaca buku ini. Meski gue nggak akan membaca buku thriller James Patterson—not my cup of tea—gue akan membaca novel romantis dia yang lain. Gue punya satu lagi, Sam’s Letter To Jennifer, dan sudah mulai membacanya tapi bukunya malah gue tinggal di rumah di Bintaro. Crap!
Intinya, buat si pecinta buku atau hopeless romantic, buku ini wajib baca. Salah satu investasi terbesar gue adalah punya buku ini dan sekarang saatnya mencari versi Bahasa Inggris-nya.
Dear Nicholas Harrison, anak manis yang baik, Prajurit yang Gagah, I love you. Tenang ya di sana di pelukan Mommy Suzanne.
Dear Suzanne Bedford Harrison, thanks to Permainan Lima Bola dan pelajaran berartinya tentang cinta.
Dan seperti Matt yang merasa sangat beruntung dengan kehadiran Suzanne dan Nicholas, I feel the same. Sangat beruntung telah mengenal kalian semua.

NB: Ketemu kalimat ini di wikipedia. Manis banget "Patterson used some of his experience with heartbreak to write Suzanne's Diary for Nicholas. In 1974, Patterson fell in love with Jane Blanchard. After dating for several years, she was diagnosed with a terminal brain tumor. When she died, Patterson devoted his time to writing and stayed away from romantic relationships. Over a decade later, he married Susan, who wrote a diary for their baby son."
NB: Ini dia Martha's Vineyard yang memukau itu.
NB: Tahun 2005 novel ini diangkat menjadi film televisi oleh CBS dengan Christina Applegate menjadi Suzanne. *mau nonton*

Comments

Popular Posts