[Indonesian Romance Reading Challenge] #19 Dear Friend With Love

Dear Friend With Love
Nurilla Iryani



Dear Friend With Love. dari judulnya aja udah ketebak ceritanya kayak apa. Yup, tentang Karin yang selama delapan tahun cinta mati sama sahabatnya sendiri, Rama, tapi harus tabah menjadi tempat curhat Rama tentang cewek-cewek yang dipacarinya. Sampai ketika Rama akhirnya melamar pacarnya bernama Astrid—dipanggil Cicit—dan Karin memutuskan untuk move on alias it’s enough sama cinta sepihaknya. Karin pun dimakcomblangin sama nyokapnya dengan Adam, anak teman baik si Ibu yang juga cinta monyet Karin waktu SMA. Karin tidak menyangka jika cowok cupu yang dulu suka dikejar-kejarnya sambil menggondol Tupai di US sana sudah menjelma jadi cowok seganteng Rio Dewanto. Sementara itu, Rama sendiri mulai mempertanyakan hubungannya dengan Cicit. Di saat dia seharusnya senang mempersiapkan pernikahan, yang ada malah stress dan tertekan. Apalagi waktu Cicit member ultimatum untuk nggak ketemu Karin. Saat itu Rama sadar bahwa he can live without Cicit but he can’t live without Karin. Di saat Rama sudah menyadari perasaannya yang sebenarnya, Karin malah memutuskan untuk…
Oke, it’s enough. Meski gue rasa itu sudah spoiler banget. Yup, memang agak susah sih menghindari spoiler karena dari awal ceritanya sudah ketebak. Friendship turns into lover ini memang tema klasik yang sampai kapanpun nggak bakalan pernah basi. Terbukti dengan banyaknya novel bertema sama yang sudah edar di pasaran, tapi masiiiiiiihhh aja ada yang bikin tema klasik ini.
Sejujurnya gue penasaran sama novel ini karena twit-twitnya Ika Natassa. Alhamdulillah banget menang IRRC Februari hehe. gue baca novel ini sejam kelar. Serius. Tengah malam insomnia baca ini sejam langsung udahan. Ceritanya yang ringan, nggak bertele-tele, bahasa yang lugas dan kocak, sukses bikin gue ketawa-ketawa mesem semalaman. Gue pernah bilang kalau gue suka banget sama gaya penulisan yang lugas. And this is it. Nurilla Iryani muncul dengan kelugasan yang pas banget di otak gue.
Membaca novel ini membuat gue teringat langsung tiga buku bertema sama: Antologi Rasa (Ika Natassa), Pillow Talk (Christian Simamora), dan Philophobia (Tessa Intanya). Narsis-narsisnya tokoh Rama tuh ngingetin gue sama Harris meski makin ke belakang narsis dan sikap gajenya Rama bikin jijay. Obrolan-obrolan bodoh Rama-Karin tuh ngingetin gue sama Anjani dan Alandra di Philophobia. Sedangkan galaunya Rama yang sudah punya pacar tapi masih inget Karin dan gimana susahnya memendam perasaan sama sahabat sendiri kurang lebih ngingetin gue sama Jo-Emmi. Jadi, mengingat ketiga novel tersebut adalah novel favorit gue, apakah Dear Friend With Love—yang notabene menggabungkan ketiga novel tersebut—menjadi novel favorit gue?
Sayangnya, gue cuma terhibur, tapi nggak menjadikan favorit. Kenapa? Karena ceritanya singkat bangeeeettttt. Sumpah, gue masih pengen tahu lebih banyak tentang Karin-Rama ini. Gregetnya nanggung karena begitu mencapai puncak, diputus gitu aja. Dooh! Tega banget sih penulisnya nulis sedikit banget gini. Coba lebih panjang, pasti lebih enak.
Overall, I love this novel. Bahasa Inggrisnya nggak bikin mengerutkan kening kok. Ditambah penulis menulis menggunakan POV 1 dari dua tokoh. Masih agak terlihat sih kemiripan diantara dua tokoh ini. Coba lebih panjang, mungkin lebih bisa dieksplor karakternya jadi lebih terasa perbedaannya.
Once more, gue surprise sama endingnya. Realistis. I like it.
Ditunggu next novelnya ya, Nurilla Iryani.

Comments

  1. wah bacaan yang bagus tuh buat pencinta novel

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts