[Indonesian Romance Reading Challenge] #18 Three Woman Looking For Love

Three Woman Looking For Love
Netty Virgiantini



Jana, Rena, Mona. Tiga sekawan yang bertemu di reuni SMA dengan status sama: lajang. Usia mereka nggak main-main, yaitu 37 tahun. Sudah masuk UP alias Usia Panik. Tekanan nggak cuma datang dari keluarga, tetapi juga orang lain bahkan yang cuma ketemu sekilas di Bank *ini serius*. Buku ini memotret usaha ketiga sahabat ini untuk mencari jodoh mereka, mulai dari usaha yang make sense sampai ke yang paling nggak masuk akal sekalipun. Mulai dari mencoba nyolong kembang melati di keris penganten pria di pelaminan, dikenalin oleh orang lain, sampai mendatangi paranormal segala.
Another girls and the gank stories. Yup, alasan gue baca buku ini pun karena sedang riset tentang cerita girls and the gank yang lagi gue coba bikin. Satu lagi, this novel is about a slag—single, lonely, and aging girls club *thanks to Mbak yuska for this word—dan di novel yang gue bikin juga tentang slag ini.
Setelah nggak puas dengan Dil3ma, novel ini lumayan menghibur. It’s funny. Mengingat umur mereka yang sudah nyaris mencapai kepala empat, gue nggak nyangka aja bisa ya orang sudah berumur gini bertingkah kayak gini. But in other hand, gue ngerasa tingkah mereka sebagai perwujudan rasa desperate mereka.
Gue merasa buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bercerita tentang kelucuan dan semua usaha yang dilakukan ketiga sahabat ini untuk mencari jodoh. Netty memberikan beberapa contoh usaha yang bisa bikin ngakak. Lalu, mereka patah hati. Setelah patah hati, gue merasa buku masuk ke bagian kedua, yaitu saat mereka mulai menemukan jodoh masing-masing. Gue merasa cepat aja mereka dapat jodoh. Seolah-olah penulis udah capek ngasih sepak terjang konyol mereka, lalu dikasih jodoh aja deh gitu. Satu bab saja untuk satu jodoh. Mungkin ya, gue akan merasa lebih enjoy jika sejak awal sudah ada clue siapa yang akan jadi jodoh mereka, nggak cuma tiba-tiba nongol aja. Ada sih emang, di cerita Jani. Tapi, Rena dan Mona semacam jodohnya tiba-tiba aja gitu.
But I love her writing. Tulisannya Netty benar-benar kocak. Setting di kota kecil dan tokoh yang so human menjadi semacam refreshing setelah kebanyakan cerita bersetting kota besar. So metropolis.
Ini buku Netty kedua yang gue baca. Pertama, Bittersweet Love, duet sama Adit, dan sukses banjir air mata. Di buku ini, sukses ketawa.
Namun, ketika disuruh milih siapa tokoh favorit, I don’t know. Nggak ada yang bisa gue favoritin. Nggak Jani si tokoh utama. Malah gue gemes sama dia. Masa iya jodoh akan datang dengan sendirinya kalau cuma berdoa doang? Trus, play hard to get dia yang nggak jelas banget. Dooh! Mona juga nggak suka meski kisahnya yang paling tragis. Nggak bisa respect aja sama Mona. Rena pun nggak tahu kenapa, nggak bisa suka juga sama dia, padahal dia blak-blakan. Entahlah, nggak dapet chemistry apa-apa sama mereka bertiga.
But overall, nice story. Funny. Meski emosi gue datar sepanjang nyelesaiin novel ini.

Comments

Popular Posts