[Indonesian Romance Reading Challenge] #16 Dil3ma

Dil3ma
(Mia Arsjad)


Dil3ma bercerita tentang tiga sahabat, Lura, Mala, dan Nania. Mereka punya permasalahan sendiri. Nania si manja tajir yang nggak pede dengan dirinya sendiri dan sudah merasa bersyukur dengan adaya Reva yang mau jadi pacarnya meski matre dan verbally abuser. Lura yang sebenarnya sayang sama Robi dan juga sudah dilamar Robi tiga kali tapi selalu ditolak karena berprinsip ingin memberi pelajaran kepada semua pria kaya berpasangan yang masih suka jelalatan. Trauma masa lalu membuatnya kayak gini. Akhirnya Robi pergi dan Lura nelangsa. Juga ada Mala yang cinta mati sama Mas Sis, atasannya yang sudah beristri tapi katanya lagi mau cerai.
Mereka semuanya memiliki permasalahan cinta sendiri-sendiri tapi malah saling menasihati satu sama lain. Gokil.
Gue membeli buku ini nggak sengaja. Semata karena ingin riset. Kebetulan, gue memang suka novel yang bercerita tentang geng cewek dan masalah percintaan mereka. menurut gue tema ini nggak bakalan pernah mati. Saat ini, gue juga sedang menulis cerita cewek-cewek ngegeng gini juga.
Dua kata untuk novel ini: TERLALU LAMA. Alurnya ampun deh, lama bangeeeetttttt. Gue nggak mempermasalahin sebuah novel dengan alur lama selama gaya berceritanya mengasyikkan. Tapi ini???
Mia Arsjad. Seharusnya nama itu sudah cukup jadi jaminan. Alasan gue membeli buku ini salah satunya juga karena nama penulisnya.
Ceritanya bagus. Gue suka. Yang nggak gue suka cuma gaya penulisannya. Campur aduk pov satu dan tiga. Gue nggak pernah sreg dengan gaya penulisan ini. Menurut gue, penulisnya nggak tahu mau fokus ke siapa. Mau fokus ke salah satu tokoh aja alias Nania, yowis, gunain POV satu. Lalu kenapa juga penulisnya kepo banget mau tahu hidup Lura dan Mala sampai gunain POV tiga? Kalau mau kepo, sejak awal gunain POV tiga. Biar bebas mengeksplor semua sisi. Jangan dicampur aduk.
Jika di Daisyflo Yennie Hardiwijaja gue merasa tersentuh dengan pov campur aduk kayak gini, well, di Dil3ma Mia gagal. Yennie punya alasan khusus untuk menggunakan POV campur aduk, tapi Mia? Gue nggak nemu alasan masuk akal. Selain itu, yang bikin gue terganggu juga, ketika dia menggunakan pov satu, kenapa si Aku bisa tahu semua seluk beluk perasaan temannya? Ketika di pov 1, Mia malah bertindak sebagai orang ketiga yang tahu semua hal. Gengges. Awalnya masih mending ketika pov 1 dan 3 ini berada di chapter berbeda, tapi ketika berada di chapter yang sama? Gue hanya bisa menjerit putus asa. Keasyikan gue membaca jadi terganggu.
Misalnya, ketika lagi dari si Aku, lalu tiba-tiba Lura menarik Sisil dan ingin ngomong. Masih di paragraph yang sama, pov pindah ketiga dan ceritain apa yang diomongin Lura ke Sisil. Mereka selesai ngobrol, balik lagi ke aku. Doohh…..
Yang paling parah menurut gue ada di kalimat ini, di halaman 236:
“Robi cuma bisa maklum. Setelah cerita dari aku tadi, Robi sangat maklum sama reaksi Lura sekarang.”
Di mana letak kesalahannya? Yup, ini Mia lagi jadi POV 3. Lalu, kenapa tiba-tiba si aku nongol di situ? Kenapa nggak ditulis, setelah mendengar cerita dari Nania….? Gggggrrrrrr……
Seperti yang gue bilang, alurnya lama. Dari awal sampai 2/3 bagian tuh berkutat di masalah yang itu-itu saja. Bukannya simpati sama tokohnya dan permasalahannya, gue malah males sama mereka. duh ya jadi cewek kok bego amat. Mungkin memang ini ya karakteristik yang ingin ditunjukkan Mia, tapi beratus-ratus halaman membaca kebegoan yang sama lama-lama gedeg juga. Coba dipertegas sedikit ceritanya, nggak bakal deh nyampe 300 halaman.
Lalu tiba-tiba ada kejutan. Suatu kejadian yang menjadi turning point ketiga sahabat ini. Untungggggg aja ada chapter ini sehingga sedikit termaafkan. I love this part. Dan gue beneran nangis. Tapi… seperti yang sudah-sudah, penyelesaiannya juga lamaaaaa. Jadi turn off deh.
Satu hal lagi yang gue garis bawahi: ini fiksi tapi fiksi pun masih harus logis. Ini banyak logika yang bikin kening berkerut. Ketika Lura lagi ada masalah, tiba-tiba Robi datang dan jadi hero. Kok bisa? Tahu dari mana Robi kalau Lura di sana? Tiba-tiba kayak gini nih yang nggak bisa diterima. Masalahnya, banyak yang tiba-tiba. Tiba-tiba ada nongol cowok sekali doang lalu udah dan gue nggak tahu kepentingan dia apa. Tiba-tiba Mala udah kerja lagi aja. Tiba-tiba Mala udah nge-date aja sama cowok lain. Zzz….
Dan… satu lagi yang nggak gue suka. Pola kalau lepas dari satu akan dapat yang lain yang lebih oke. So teenlit.
Kalau saja nggak ada Lura, gue nggak akan bertahan dengan cerita ini. Save by Lura.
Sorry, Mia Arsjad.

Comments

Popular Posts