[cerpen] Basket Girl and Soccer Player

Basker Girl and a Player #1

Note: Cerita berawal dari rasa heartwarming begitu membaca sejarah pertemuan Theo Walcot dan Melanie Slade. Sebuah perjumpaan yang manis. Kartu nama, di depan toko, dan keranjang. Lalu jadilah sebuah cerita berupa fanfiction ini. Juga ada nama Gareth (dari Gareth Bale, former Southhampon player just like Walcott) and his wife, Emma Rhys-Jones.



Melanie
Do you know the most stupid job in the world? That’s my job.
Seriously. Berdiri lima jam sehari—hanya dengan sesekali istirahat singkat—di samping pintu dengan sebuah keranjang rotan di tangan bukanlah pekerjaan yang membanggakan. Meski aku bekerja di Mary yang sangat prestisius, menjadi basket girl sama sekali tidak membuatku senang. Walaupun bayarannya jauh lebih tinggi ketimbang jadi waitress, tetap saja pekerjaan ini sangat membosankan.
B-O-R-I-N-G . Boring.
Dan siang ini, aku kembali harus melewatkan waktu membosankan selama lima jam di pintu masuk Mary, dengan keranjang rotan di tangan berisi souvenir yang harus kuberikan kepada setiap pengunjung yang selesai berbelanja di Mary.
Bekerja di Mary sudah menjadi impianku. Sebagai mahasiswa fashion design, menjadi intern di brand sekelas Mary jelas merupakan pencapaian terbaik bagikut. Noted, aku baru semester dua. Masih anak bawang.
Namun alih-alih diinterview oleh Victoria, creative director Mary, perempuan yang hanya bisa kulihat di televisi atau majalah itu malah melemparku ke tangan Rian, store manager Mary Flagship Store. Aku sempat bertanya-tanya akan mendapatkan posisi apa. Jika tidak bisa bekerja di bawah arahan Vitoria di House of Mary, setidaknya menjadi salah satu stylist di store Mary sudah cukup prestisius. Hanya ada satu flagship store Mary di Indonesia, di Pacific Place, dan bahkan lebih besar ketimbang flagship store yang ada di Orchard Road.
But now, here I am. Dengan keranjang rotan di pintu masuk Mary.
Ya, kata Rian, aku belum memiliki portfolio mentereng yang bisa memikatnya sehingga satu-satunya posisi yang cocok untukku adalah being a basket girl.
A straight-A-student- from the most prestigious school of fashion design in this country turn into a basket girl. Silly.
But I need this job. Maksudku, aku butuh uang untuk mengisi tabungan yang sedang kupersiapkan untuk liburan ke Inggris tahun ini.
“Melanie, smile.”
Aku melirik sekilas ke belakang punggung dan melihat Rian berkacak pinggang di sana. Dia memelototiku, seakan-akan siap menerkamku jika aku tidak segera menarik bibirku membentuk sebuah senyuman.
Aku hanya bisa mendengus sebal. Siang ini aku merasa capek karena semalam begadang mengerjakan tugas kuliah. Ingin rasanya ganti shift tapi tidak ada yang mau menggantikanku. Lagipula, tiga bulan mengerjakan hal bodoh seperti ini sangat memuakkan. Aku ingin berhenti tapi belum memiliki pekerjaan cadangan. Lagipula, aku masih berharap pihak Mary melihat kapasitasku dan mengangkatku sebagai intern dengan jobdesk yang sedikit lebih masuk akal.
Aldi, doorman yang bertugas siang ini membukakan pintu. Seorang bapak berperut gendut dengan rambut separuh botak berhenti di hadapanku. Di sebelahnya ada perempuan yang kuyakin usianya tidak berbeda jauh dariku tengah bergelayut di lengan si bapak tua. Tangan si bapak tua penuh dengan shopping bag berlogo Mary.
Aku mencibir. Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di mataku. Sehari-hari aku menyaksikan bapak-bapak tua berdompet tebal dan cewek matre yang rela do everything demi kartu kredit si Bapak Tua. Atau perempuan berwajah sengak yang melenggang santai sementara di belakangnya berjalan terseok-seok pria berwajah lelah membawa berkantong-kantong belanjaan. Ada banyak cerita tersaji di pintu masuk Mary. Jika sedang bosan, aku bisa menghibur diri dengan memerhatikan pengunjung Mary atau siapa saja yang lalu lalang di hadapanku.
Tapi siang ini aku sedang tidak mood untuk memerhatikan orang-orang itu.
Seperti seorang robot, aku memaksakan diri untuk tersenyum, merogoh isi keranjang, mengambil souvenir—hari ini souvenir berupa botol kecil berisi parfum baru keluaran Mary—dan menyerahkannya ke si cewek matre.
“Thank you for coming. Happy Mary.” Happy Mary, sapaan bodoh khas Mary yang selalu membuatku terlihat semakin bodoh. Happy Mary, I don’t know what it is.
Seperginya si Bapak Tua dan si Cewek Matre, aku kembali manyun. Ingin rasanya menguap tapi itu jelas tidak mungkin. Rian bisa mendapat penyakit jantung jika aku bertingkah memalukan seperti itu. Mataku melirik manekin yang terpajang di dalam Mary. Mungkin hidupku sama membosankannya dengan manekin itu karena dari hari ke hari hanya melakukan hal yang sama. Berdiri diam.
Tapi setidaknya manekin itu lebih beruntung. Dia tidak bernyawa. Dia tidak merasa. Aku merasa.

Theo
“Theo, ini gimana menurut lo?”
Aku mengalihkan mata dari biker jacket yang sedang kuperhatikan. Di hadapanku, Gareth, temanku yang menarikku menemaninya berbelanja di toko ini, memamerkan sebuah gaun bermotif bunga kepadaku. Keningku mengernyit. Aku tidak mengerti sedikitpun tentang fashion.
“Kira-kira Emma bakal suka nggak ya kalau gue kasih ini?”
“Mana gue tahu. Yang pacarnya kan lo. Harusnya lo lebih tahu,” semburku asal.
“Payah lo. Nggak nolong sedikitpun.”
Yeah whatever. Seharusnya Gareth tahu resiko mengajakku melakukan hal yang paling kubenci. Berbelanja? Itu urusan perempuan. Tapi Gareth malah memaksaku menemaninya berbelanja dengan alasan ingin memberi hadiah kepada Emma, pacarnya. Entah setan mana yang membujuk Gareth melakukan hal sok romantis seperti ini.
Gareth sudah kembali memilih-milih baju. Syukurlah sekarang dia sudah ditemani shopkeeper yang pastinya lebih berpengalaman dibanding aku. Aku memutuskan untuk berkeliling di section pakaian cowok dan mencari yang sekiranya cocok untukku.
Cibiran refleks keluar dari bibirku saat melihat baju yang dijual. Semuanya terlihat formal. Tidak sesuai dengan seleraku yang menjunjung tinggi jeans and t-shirt. Tidak perlu berpakaian yang aneh-aneh. Toh dengan jins lusuh dan t-shirt buluk aku bisa menggaet perempuan manapun yang aku mau.
It’s all because of my face. Haha.
Tidak ada pakaian yang mampu menarik perhatianku, aku mengalihkan pandangan ke perempuan-perempuan muda segar yang menjamur di toko ini. Mungkin ada satu saja yang menarik perhatianku.
Sial, lagi-lagi ini hari burukku. Yang cantik-cantik memang banyak, tapi semuanya malah menggandeng bapak tua yang lebih cocok jadi ayah mereka. Cewek Matre does exist. Ya, di zaman serba susah seperti ini, percuma berwajah ganteng jika kantong cekak. Buktinya, cewek cantik di toko ini lebih memilih si kaya daripada si ganteng.
Dibanding bapak-bapak itu, jelas fisikku lebih menang. Tapi untuk urusan kantong, ya mau nggak mau harus diakui jika mereka menang telak.
“Theo.”
Panggilan Gareth menyentakku dari kesyikan memerhatikan cewek petite dengan rok super pendek di hadapanku. Dengan malas aku menghampiri Gareth.
And there I see her. Seorang perempuan—cukup manis kalau saja dia tidak cemberut—di dekat pintu dengan sebuah keranjang rotan di tangannya. Perempuan itu sebenarnya tidak begitu stunning, tapi keranjang itu begitu mencolok. Keranjang rotan hanya cocok dibawa untuk piknik di taman. Kalaupun dia penggiat green living, seharusnya dia membawa tas kain saat berbelanja, bukannya membawa keranjang rotan.
Sambil menahan tawa, aku menghampiri Gareth. Tapi tatapanku masih terpaku ke perempuan itu. Aku tidak ngeh apakah dia sudah berdiri di sana sejak kedatanganku tadi atau tidak.
“Kenapa lo ketawa-ketawa kayak orang gila?” Tanya Gareth setibanya aku di dekatnya yang sedang membayar belanjaannya.
Dengan isyarat dagu aku menunjuk perempuan-dengan-keranjang-rotan itu. “Ada yang nyasar piknik ke mall,” gurauku.
Gareth menoyor kepalaku. “Dia bekerja di sini, bukan piknik.”
Aku melongo. “Lo tahu dari mana?”
“Mary ini toko favorit Emma. Gue sering nemenin dia belanja di sini dan selalu ada basket girl di pintu masuk. Mereka memberikan souvenir kepada setiap pengunjung,” jelas Gareth.
Kembali aku menengok perempuan itu. Benar saja. Dia tengah memberikan sebuah botol ke perempuan muda dan bapak tua yang baru saja keluar dari toko ini. Dan dia tersenyum.
Manis juga.
“Yuk, cabut. Kita cuma punya waktu setengah jam sebelum balik ke stadion.” Gareth menarikku.
Sepanjang perjalanan menuju pintu masuk, tatapanku terus tertuju ke perempuan itu. Selepas pelanggannya pergi, dia kembali cemberut. Apa dia tidak tahu kalau dia jauh lebih manis kalau sedang tersenyum?
“Ada kegunaan lain nggak dari keranjang itu?” tanyaku.
Gareth mendelik. “Mungkin lo bisa menaroh kartu nama di sana,” dengusnya.
Ucapan itu hanya asal bunyi, tapi aku malah tersenyum lebar. Ide Gareth tidak selamanya jelek.

Melanie
“Thank you for coming. Happy Ma...”
Ucapan itu tersangkut di ujung ludah begitu aku melihat siapa yang keluar dari pintu yang dibukakan Aldi.
They’re gorgeous.
Bukan satu, melainkan dua orang sekaligus.
Oh ya, mungkin hal paling mengasyikkan sepanjang melakukan pekerjaan membosankan ini adalah karena aku bisa bertemu makhluk berjakun dengan wajah di atas rata-rata. Seperti siang ini. bukan hanya satu, melainkan dua orang. Pria pertama yang keluar dari Mary bertubuh tinggi atletis—terlihat jelas dari balik polo shirt dan jaket jins yang dikenakannya. Di tangannya ada sebuah shopping bag berlogo Mary. Menyusul di belakangnya pria berkulit coklat sedikit lebih pendek dengan rambut ala militer dan jambang memenuhi rahanga. Manis dan sangar at the same time.
“..ry,” sambungku setelah bisa menguasai diri.
Si jangkung tersenyum. Buru-buru aku merogoh isi keranjang dan memberikan sebotol parfum kepadanya.
“Incomplete. The new fragrance from Mary,” seruku sambil menyerahkan botol kecil berpita ungu ke tangan si jangkung.
Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang rendah.
Aku berpaling ke si kulit coklat. Dia tersenyum. Semanis senyum si jangkung tapi aku bisa melihat kesan menggoda di balik senyum itu.
Such a player.
Menjadi basket girl juga melatih pengamatanku. Aku bisa menilai orang-orang yang berpapasan denganku melalui senyum, ekspresi wajah, dan gestur mereka.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum sambil melirik si jangkung. Si jangkung memiliki senyum lebih tulus darpada pria yang sekarang berdiri di hadapanku meski si jangkung kalah ganteng.
Rerleks tanganku merogoh isi keranjang untuk mengambil souvenir. Namun, tanpa disangka-sangka, sebuah tangan menahanku. Aku tercekat saat menyadari pria itu juga merogoh ke dalam keranjangku.
Bibirku sudah membuka untuk menyampaikan protes ketika si kulit coklat mengeluarkan tangannya tanpa mengambil satu botol pun. Dengan penuh keheranan, aku melirik isi keranjang. Ada yang aneh di sana. Sebuah kartu nama yang sebelumnya tidak ada.
Kembali aku mendongak menatap si kulit coklat. Senyumnya terlihat semakin lebar.
“I don’t need your fragrance. I need your call,” ujarnya enteng.
Sebelum aku berhasil mengembalikan kesadaranku, pria itu sudah berlalu menyusul temannya.
Aku pikir ini mimpi, tapi ketika melihat ke dalam isi keranjang, kartu nama itu benar-benar ada di sana. Perlahan, aku mengambilnya.
Theo Wicaksono. Dan sederet nomor telepon juga email. Serta logo Jakarta Club.
Being a basket girl is so boring, tapi setidaknya sebuah kejadian tidak terduga mampu menyelamatkan hidupku.
Aku menatap ke arah kedua pria tadi. Dalam hati aku menyesali, kenapa bukan si jangkung yang memberikan kartu namanya?


Comments

Popular Posts