[Indonesian Romance Reading Challenge] #12 Running For Hope

Running For Hope
Dona Sikoembang



Pernah ada suatu masa ketika gue menggemari novel inspiratif. Masa ketika otak gue masih bisa diajak berpikir serius, hahaha. Ketika gue membaca bukunya Andrea Hirata, The Secret, A Long Way Gone, dan novel inspiratif lainnya. Masa ketika gue menyadari di balik nasib gue yang medioker, I’m lucky.
Beberapa tahun berselang, gue mulai melupakan buku-buku seperti itu dan kembali ke preferensi gue semula—romance, chiklit, fantasy, and something like that. Masa ketika gue membaca buku bukan hanya untuk memberi asupan gizi bagi otak, tapi juga menyenangkan hati. Dan gue penggemar buku-buku ringan yang seringkali membuat gue dipandang sebelah mata ini.
Namun sekarang gue kembali membaca buku inspiratif ini. The only reason is this is my friend’s book. Dona Sikoembang, penulisnya adalah teman SMA gue—anehnya waktu SMA kita nggak akrab. Mungkin sesekali saling bertegur sapa tapi nggak pernah konkow-kongkow bareng. Beberapa bulan lalu Dona menghubungi gue via inbox Facebook tentang naskahnya yang akhirnya diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Yeai, happy for you girl. Yang lebih bikin happy, buku Dona terbit barengan dengan buku gue, Mendekap Rasa *promo colongan*.
Running For Hope. I loooove that cover. Warna lembut dengan gambar lemari penuh buku, benar-benar menggambarkan isi buku. Running For Hope menceritakan tentang Amonna Permata, si pecinta pendidikan yang begitu mendambakan bisa kuliah di UI tapi karena keterbatasan ekonomi, Monna harus merelakan mimpinya. Dia bekerja apa saja demi membantu perekonomian keluarga. Di awal-awal kita disuguhkan dengan Monna yang masih berkeras mewujudkan impiannya sampai akhirnya dia tiba di satu titik bernama titik realitas. Titik yang tidak akan membawanya ke UI dan memutuskan untuk menjalani hidupnya day by day. Monna pun berpindah-pindah kerjaan hingga akhirnya dia settle dan bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Menyadari dirinya yang dikalahkan oleh realitas, Monna memaksa dan mendukung adiknya Upi untuk terus maju hingga akhirnya Upi kuliah di IPB. Monna juga membiayai beberapa anak kurang mampu di kampungnya untuk terus bersekolah.
Mengikuti perjalanan kisah Monna memang membuat miris. But, sorry, Don. Monna dan keluarganya terlalu hitam putih. Sesekali keegoisan Monna keluar dan membuat dia kuat tapi ini hanya ada di awal-awal. Gue sempat berpikir sikap ini akan terus ada sampai akhir karena tentunya akan semakin menguatkan karakter Monna. Keluarga Monna juga terlalu putih, pasrahan, dengan beberapa tokoh yang ditemui Monna dan membuatnya semakin melihat realita juga dituliskan sangat ‘hitam’. Seperti halnya novel perjalanan, ada banyak tokoh datang dan pergi selintas lalu dan memberi satu titik di hidup si tokoh utama.
Cara Dona menulis begitu lembut. Mungkin karena gue orang Minang jadi bisa langsung merasakan kedekatan dengan isi cerita. Terlebih dari bahasa-bahasanya. Gue sempat bertanya-tanya, desa kecil mana sih yang dipakai sama Dona? Secara dia menyebutkan Bukittinggi, tentunya gue pasti tahu dong. Delapan belas tahun bo gue tinggal di sana, masa iya nggak tahu. Nyatanya gue nggak tahu. Dengan deskripsi sedemikian rupa, gue gagal menebaknya. Dan sebagai orang asli sana gue malu nggak mengenal kampung gue sendiri. Baru ketika menjelang akhir Dona menyebut namanya gue berteriak ‘got it’ hahaha. Dona memiliki gaya menulis dengan deskripsi mendayu-dayu dan diksinya menarik banget. Ada banyak kata yang gue catat, jaga-jaga bisa aja next time gue tiru hehehe.
Gue jadi bertanya-tanya. Dona mengutip ucapan guru Fisika tentang Teori Relativitas. Siapakah guru yang dimaksud? Secara gue bersekolah di SMA yang sama, tentu dong gue kenal gurunya? Tapi secara selama SMA gue nggak tertarik sama Fisika jadi nggak ingat apa-apa kecuali mobil VW Kodok lucu dan eksentrik punya guru Fisika gue kelas 3 hahaha. Selain itu, Monna digambarkan bekerja sebagai penyiar. Man, radio is my life, now and then. Waktu SMA, gue ketemu banyak teman di radio. Jadi, radio apakah yang dimaksud sama Dona di novel ini? *moga-moga cuma radio rekaan ya karena dua radio yang gue kenal bersih sih sih hahaha*
Mengenai karakter Monna. Ada dua hal yang gue nggak sreg. Sejak awal gue digiring kalau Monna ini suka baca. Oke, mungkin itu cuma kesukaan aja. But in the end ternyata Monna jadi penulis. Kenapa nggak diselipin gitu ya Monna ini emang suka nulis sejak awal? Karena tiba-tiba dia ditelepon salah satu teman SMA lalu dia teringat hobi menulisnya dulu. Menurut gue ya, ketika berada di low point, seseorang cenderung akan melakukan hobinya. Apalagi hobi yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Okay, it’s my opinion cuma gue merasa di akhir kegiatan menulis yang membuka gerbang Monna ke kesuksesan terlalu tiba-tiba. I need a hint di awal-awal.
Kedua, endingnya cepat banget. Setelah sejak awal diajak menelusuri kehidupan Monna yang berliku dan mengalir lembut tiba-tiba di akhir langsung di ajak selesai gitu aja. Terlalu cepat sehingga ada banyak pertanyaan. Memang sih ada dijelasin, tapi dikit banget. Gue berharap semoga ada penjelasan dari Monna yang jadi penggiat pendidikan di kampungnya jadi seorang motivator handal. Itu nggak memuaskan karena cuma menempati porsi sehalaman. Satu lagi, hubungan Monna dan Timur. Sampai bab akhir, mereka masih mengawang-awang. Lalu di akhir ternyata udah menikah dan punya anak—memang sih ceritanya beberapa tahun kemudian. Tapi, ini cepat banget. I need to know about the process.
Ketika Dona bilang akan ada sekuel, gue berpikir, semoga pertanyaan gue yang nggak puas karena Dona terlalu cepat mengakhiri ceritanya bisa dijawab.
So, apakah beneran akan ada sekuel? Mari kita tanya Dona J but sebagai karya debut, overall it’s okay. Karena Dona gue kembali membaca novel inspiratif semacam ini.

PS: Ini Tarusan Kamang, salah satu lokasi yang diceritakan di sini dan gagal gue tebak *dan ternyata gue juga belum pernah ke sini. Aaakkk panorama alam tersembunyi yang nggak gue tahu dan bikin gue malu luar biasa*
Foto by Kompasiana

Comments

Popular Posts