[Indonesian Romance Reading Challenge] #6 Puzzle

Puzzle
By Rina Suryakusuma



Another old novel from Rina Suryakusuma. Nggak sengaja ketemu di Pesta Buku Murah Januari kemaren.
Novel ini bercerita tentang pasangan Susanna Paradika dan Gerard Wicaksono. Susanna beruntung banget bisa menikah dengan Gerard tapi karena satu kesalahan yang tidak dia sadari awal mula terjadinya, pernikahannya terancam batal. Susan memutuskan untuk menyembunyikannya karena nggak mau kehilangan Gerard. Dan mereka menikah.
Fairy tales said that after their married, they will live happily ever after. Tapi bukan begitu bagi Susan. Di balik semua kesempurnaan Gerard, pria itu begitu menjunjung tinggi kejujuran. He forgive but never forget. Dan pernikahan Susan pun serasa seperti neraka.
Untuk menentramkan hatinya, Susan yang mencintai arkeologi ikut ayahnya yang seorang arkeolog ke Nevada dalam sebuah ekspedisi menyelidiki mammoth. Di sana, Susan berkenalan dengan ketua tim, Andrew Hobbart, yang sweet banget.
I see you when I see you, begitu janji Andrew.
Ketika Susan merasa sudah tenang, dia mendapat panggilan untuk ikut dalam ekspedisi ke Gunung Sindoro. Ekspedisi ini akan menyelidiki sisa-sisa reruntuhan kaum Capuca. Susan yang memiliki minat terhadap hal ini pun ambil bagian dalam ekspedisi ini. namun tidak disangka dia bertemu Gerard. Kali ini di bawah bayang-bayang Reissabel Adam, crème de la crème nya ibukota, the real socialite, yang selalu mengikuti Gerard.
Dan Andrew pun tiba-tiba muncul. I see you when I see you. Janji Andrew pun dibuktikannya.
Di tengah keindahan Gunung Sindoro, cinta Susan dan Gerard pun kembali diuji.
I always love her writing. Manis, dengan diksi yang menarik, dan alur yang mengalir lancar. Benar-benar tipikalnya Rina. Baca Puzzle serasa baca Amore-nya Rina.
Ceritanya so far not bad-lah. Tapi entah kenapa, gue nggak suka tokohnya. Baik Susan ataupun Gerard. Terlalu sempurna. Well, gue memang nggak begitu suka dengan tokoh mary sue dan Susan dan Gerard terlalu mary sue. Makanya, baca novel ini sangat lama karena diselingi novel lain. Nggak seperti Ask Tinkerbell, novel Puzzle kurang ngena di gue. Nggak tahu alasannya apa karena kata Rina, dia begitu suka dengan karakter Susan dan Gerard ini.
Satu hal lagi yang mengganjal, yaitu cara pendeskripsian karakter. Di Postcard From Neverland, Rina menggambarkan Joshua mirip dengan Simon Cowell. Di Puzzle, Gerard digambarkan mirip dengan David Duchovny. Permasalahan gue bukan di bagian miripnya ini, tapi karena Rina nggak mendeskripsikan rupa mereka. Cuma dibilang mirip artis itu. Okelah di sini gue penggemar berat The X Files sejak SD jadi kayak apa rupanya si David Duchovny itu bisa tergambar jelas di benak gue. Lalu gimana kalau gue nggak tahu siapa David Duchovny atau Simon Cowell? Apa gue perlu googling dulu?
Selama ini, gue selalu bermasalah dengan gaya pendeskripsian yang memiripkan tokoh dengan artis tertentu tanpa penjelasan lebih lanjut. Bukan berarti dia artis jadi semua orang bisa mengenalnya kan? Akan lebih dapat feel-nya jika dideskrpisikan pakai kata-kata saja (pernah baca novel dengan tokoh yang mirip artis Korea. Gosh, gue nggak tahu siapa itu artis jadinya bingung deh).
Mungkin gue nggak sreg sama cerita karena nggak suka sama karakternya. Di balik tokoh Rina yang so far sering terlalu sempurna, gue masih bisa simpati dengan mereka. Tapi Gerard benar-benar out of my limit. Biasanya cowok nyebelin bisa bikin deg-degan, lha ini si Gerard malah minta ditonjok. Alasan dia untuk menghukum Susan nggak terlalu kuat. Begitu juga alasan dia tiba-tiba deketin Susan lagi. Banyak miss gue temuin di novel ini. Saran, jika ini diterbitkan ulang, ada banyak part yang bisa dieksplor lebih lanjut. Seperti misalnya Reissa yang tahu Susan ini istri Gerard. Beuh, bisa jadi drama banget itu. Atau wartawan yang tahu tentang mereka nggak tinggal bareng. Mantep tuh.
Juga karakter Susan. Terlalu naïf sampai-sampai gue gedeg sendiri sama dia. Alih-alih simpati, gue malah nggak habis pikir kenapa dia bisa sebego ini padahal kuliah aja di dua jurusan. Ampun.
Satu lagi, editingnya bikin males. Makanya, gue berharap banget ini novel diterbitkan ulang dengan editing yang lebih oke.
Namun cirri khas tulisan Rina yang manis tergambar banget di novel ini. Apalagi adegan pernikahannya. Mupeng peng peng, hahaha. Satu lagi yang bikin gue angkat topi yaitu latar belakang arkeologi. Ini novel pertama berlatar arkeologi yang gue baca. Jadi benar-benar fresh rasanya. Dan twist yang ada di akhir cerita lumayan jadi penutup yang indah.
Jika ada pelajaran yang ingin ditarik dari novel ini, janganlah mengundang stripper cowok saat bachelorette party jika tidak ingin membahayakan pernikahanmu kelak (langsung keinget obrolan geblek sama teman-teman yang sempat membicarakan akan melakukan hal ini nanti *lol*).
So far, novel ini kurang memuaskan. In my humble opinion, mbak RIna.

Comments

Popular Posts