[Indonesian Romance Reading Challenge] #3 Montase

Montase by Windry Ramadhina



Windry Ramadhina merupakan salah satu penulis favorit gue, sehingga, ketika dia mengabarkan akan mengeluarkan buku baru, gue seneng banget. Apalagi jarak dari Montase dan Memori nggak jauh. Ketika GagasMedia mengeluarkan foto covernya, komentar pertama gue, “gila, bagus banget.” Makin nggak sabar nunggu buku Windry. Namun, setelah PO dan bukunya sampai, gue nggak langsung baca.
Gue dihinggapi ketakutan sebelum baca buku ini.
Memori adalah masterpiece-nya Windry, menurut gue. Buku itu sukses bikin gue mangap sampai sekarang saking bagusnya. Dan Simon Marganda itu nggak ada tandingannya. Ketika melihat Montase, gue takut, buku itu nggak sebagus Memori.
Akhirnya, setelah menunda-nunda, gue baca juga.
Montase beda banget dari Memori. Selain umur tokoh-tokohnya yang masih remaja—anak kuliahan—ceritanya pun bertahap, dari awal banget. Nggak kayak Memori yang langsung disuguhi permasalahan. Di Montase, pembaca diminta untuk ikut menjadi saksi sejarah perkembangan kehidupan Rayyi selama bertahun-tahun. Dari awal dia mengenal Haru, terlibat hubungan dengan Haru, dan berakhir dengan… ah begitulah pokoknya akhirnya.
Ceritanya tentang seorang Rayyi—di sini, Windry menjadi cowok dengan cerita dari PoV 1—yang suka banget sama film dokumenter tetapi malah terdampar di peminatan Produksi di IKJ. Dia pewaris utama rumah produksi Karya Karnaya punya bokapnya yang udah terkenal banget. Hanya saja, Rayyi nggak suka sama film-film mainstream bikinan bokapnya. Intinya, Rayyi yang idealis bertentangan dengan bokapnya yang realistis—permasalahan klasik.
Diam-diam, Rayyi sit in di kelas Dokumenter IV. Di sana dia berkenalan dengan Haru Enomoto, mahasiswa exchange dari Jepang yang dia sebut kurcaci Nipon. Haru ini clumsy dan periang. Dengan rambut pendek, perawakan mungil dan pertama ketemu, dia miringin kepala ke kanan pas ngobrol sama Rayyi—sumpah, gue kebayang boneka yang ada di setiap pintu masuk Hokben. Di kelas ini dia juga kenalan sama Samuel Hardi, sutradara dokumenter paling top di Indonesia. Jelas aja, Rayyi nggak mau ketinggalan *jadi ingat waktu kuliah juga suka sit in di kelas yang dosennya oke sekalipun kreditnya nggak ada. Kapan lagi kan dapat ilmu gretongan?*
Selain mengajak pembaca mengikuti kisah cinta Rayyi, Windry juga mengajak untuk ikut terlibat dalam permasalahan Rayyi dan bokapnya. Di awal gue bilang masalah ini klasik karena biasanya, anak-anak yang punya passion tidak lazim, terlebih jika dia diharapkan jadi penerus, pastinya sih akan nimbulin konflik. Dalam kepasrahannya menerima takdir sebagai pewaris rumah produksi yang melahirkan film-film mainstream, Rayyi bersinggungan dengan Samuel Hardi.
Sama sepertti di Memori, di Montase pun Widry menghadirkan konflik berlapis.
Keseluruhan, ceritanya bagus. Gue menyukai tulisan Windry karena Windry bercerita dengan halus dan enak dibaca. Gue pernah bilang kalau gue selalu menunggu karya-karya penulis cerdas, yaitu penulis yang bukan hanya bisa menghadirkan cerita yang menarik tapi juga memberikan banyak informasi. Di Orange, Windry mengajak pembaca mengenal seluk beluk fotografi. Di Memori, dia menghadirkan arsitektur, lengkap dengan segala macam aliran di sana, jenis-jenis rumah, nama-nama arsitek ternama, dan bangunan yang oke punya. Di Montase pun demikian. Kali ini dunia film, khususnya film dokumenter. Jika setelah membaca Memori gue kepengin punya rumah folkloric, abis baca Montase gue pengin nonton The Man With A Movie Camera bikinannya Dziga Vertov.
Melihat Windry yang begitu ahli di Memori dan arsitekturnya, no wonder, karena dia memang arsitek dan anak UI. Tapi, melihat Windry begitu ahli di bidang film dokumenter dan hapal seluk beluk IKJ, maka gue standing applause untuk risetnya Windry. Inilah yang sejak awal bikin gue terkagum-kagum sama Windry, selain deskripsi dia yang detail, amnis, dan mengalir.
Hal lain yang memukau dari Windry adalah karakteristik yang diciptakannya. Sayangnya, di Montase gue nggak dapet feel Rayyi, juga interaksinya dengan Haru. Gue malah naksir Samuel Hardi yang sinis, sombong, dan galak. Tipe-tipe Simon. Sayang gue kecele. Kirain awalnya Samuel 30an gitu, jadi makin naksir, tahunya masih 28. Yahh, kemudaan. Tapi, nggak apa-apalah. Tetep seksi. Kayaknya Windry diberkati keahlian menghadirkan pria-pria sinis secara menarik.
Jika gue kurang dapet feel Rayyi, karakter pendukung yang lain malah menarik buat gue. Sahabat-sahabat Rayyi, yaitu Sube, Andre, dan Bev. Kehadiran mereka bikin gue bertahan baca buku ini dan gue bertanya-tanya, bagaimana nasib mereka akhirnya? Semoga Windry mau bikin part khusus Sube dan Bev, hihihi. Tapi kalau Windry mau bikin cerita khusus tentang Samuel Hardi, gue lebih senang lagi.
Oh ya, meski nggak sampai nangis kejer, ada part yang bikin mat ague berkaca-kaca. Part yang sangat krusial bagi hubungan Rayyi dan Haru. Apa itu? Rahasia, hahhaa.
Oh ya juga, ketika baca Montase, ada bagian yang ngingetin gue sama Memori. Bedanya, jika di Memori ada ciuman rasa Godiva, di Montase ada ciuman rasa peppermint. Unyunya sama. Ciuman monyet, kalau boleh gue kasih istilah *disadur dari istilah cinta monyet alias ciuman unyu ala-ala remaja*. Tapi, juga ada ciuman lain. Ciuman rasa latte. Sayang, Windry nggak bikin banyak ciuman rasa latte ini, hihihi.
Gue selalu suka cerita berlatar belakang seni dan art. Membaca kisah tokoh-tokoh yang mendalami hal ini bikin gue selalu semangat. Mungkin karena gue sadar, kemampuan seni gue terbatas dan sekuat apa pun keinginan gue untuk hidup di dalamnya, gue tahu itu nggak akan mungkin. Jadi, dilampiasin ke bacaan aja. Makanya, jika ada cerita menyangkut seni, entah itu tokohnya fotografer, pelukis, musisi, penulis, apapun itu, gue selalu suka. Apalagi jika ceritanya menyangkut tentang living with passion, gue pasti akan baca. Montase menghadirkan hal itu, film dan passion mengejar mimpi. Me likey.
However, meski secara keseluruhan buku ini dan seksinya Samuel Hardi bisa gue nikmati, tetap saja gue nggak bisa move on dari Memori dan Simon Marganda.
So, Windry, ditunggu buku yang bisa bikin gue move on dari Simon. Mungkin, jika ada cerita khusus tentang Samuel Hardi, itu bisa bikin gue move on, hehhe. Ditunggu ciuman rasa latte-nya, hihihi.
Last but not least, gue punya list penulis yang setiap menghasilkan karya baru, gue pasti akan beli karena selalu dibuat terpukau oleh karya-karyanya. And Windry is one of them.

Comments

Post a Comment

Popular Posts