Thursday, August 30, 2012

23rd birthday

Yesterday was my birthday. My 23rd birthday. Thank ypu so much for your birthday wishes all. All I can say is Amen.

Birthday is about a gift, right? Yesterday, i've got a special gift for my birthday. Why it's so special? Because it's all about my dream. My biggest dream. And that gift made me closer to my dream.

And this is the gift: I'm the one of big 20 "Lomba Novel Romance Qanita". What a surprise, right?

You can see the list here.

This is my first step. Wish I kept going, yess?

Love,
iif

Tuesday, August 28, 2012

10 Things I Hate About Kugy

Masih tergila-gila dengan Perahu Kertas? Wajar jika siapa saja masih belum bisa move on dari karya Dee ini, entah itu novel maupun film-nya. Reviewnya sudah ada dimana-mana, dan sebagai anti-mainstream, gue nggak bakal bikin review *nggak ahli cyinn* hahha.
Banyak yang tergila-gila kepada Keenan atau Remi, itu wajar. Mereka memang beyond expectation banget *not to mention gue yang agak nggak sreg why Reza as Remi? Kurang ngganteng* tapi setelah dilihat aktingnya, ya not badlah.
Di sini gue ingin fokus ke lead character, si Kugy. As Kugy ya, bukan aktingnya si Maudy atau apa. Cuma ingin berbagi kenapa gue bisa benci *atau tepatnya iri* kepada Kugy.

1. She's weird and she's proud of it.
Yang baca atau cuma nonton pasti ngeh dengan anehnya si Kugy ini. Menganggap dirinya agen neptunus, percaya sama radar Neptunus, dan selalu ngirim surat ke Neptunus, kurang aneh apa lagi coba? Di realita, pasti dia bakal dicibir dan realitanya, orang aneh akan berusaha terlihat normal. Tapi Kugy? Tetap bertahan dengan keanehannya dan bangga-bangga aja tuh. But in reality, we are trying too hard to hide it kalau nggak ingin diketawain.

2. She has a passion and live with it.
Kugy suka dongeng dan ingin jadi tukang dongeng. Di satu titik dia yakin kalau dia nggak bakal hidup dengan dongeng trus mencoba mencari pekerjaan lain, as a copywriter. But in the end, she realize where her heart goes to. Ya dongeng. Ya balik lagilah dia ke dunia dongeng. Passionnya di sana. Ini yang bikin gue iri. Pengen hidup sesuai passion tapi nyatanya sekarang gue hidup sesuai realita. *sigh*

3. Thank God there is Noni besides her.
Punya sahabat itu heavennya dunia. Punya sahabat dari kecil itu susah banget pertahaninnya, apalagi kalau udah kepisah jarak. Well, Kugy dan Noni sempat ada kasus but in the end mereka baikan kan? Ah, jadi kangen dua sahabat sejak kecil yang sekarang only God Knows dimana mereka berada.

4. She has someone who marry her and her imagination.
In reality, Keenan itu nggak bakalan ada. Yakin deh. Seperti kata Adit yang bilang dia iri karena Kugy bisa dapetin Keenan yang nrimo-nrimo aja semua imajinasi dia, gue juga iri. Ketemu someone yang bisa nerima lo apa adanya lo itu udah biasa dan lama-lama bisa dibiasain. Tapi ketemu someone yang bisa nerima lo dan semua khayalan imajinasi lo, seliar dan seabsurd apapun itu, itu baru RUARRRR BIASA. Seperti Keenan yang nerima Wortelina, Jendral Pilik, Pangeran Lobak, gue juga mau punya someone yang bisa sharing tentang dunia yang gue ciptain sendiri. Once again, in reality KEENAN ITU NGGAK ADA. Tapi ya tetep aja ngarep moga yang setengah Keenan ada, hahaha.
(Yang banyak itu yang kayak Ojos, nggak bisa menerima Kugy dan semua imajinasinya. Huh...)

5. She always into her heart
Kali ini kita ngomongin cowok. Kugy tuh nggak silau sama permata--i mean Remi. Dengan semua nilai plusnya Remi yang oh-my-God-he's-so-perfect, tetep aja in the end dia end up sama orang yang bener-bener ada di hatinya, meski kalau dilihat baik-baik plus minusnya dimana, dia mah bakalan senang aman tentram selamat sentosa jika merit sama Remi. Tapi emang pada dasarnya dia nggak cinta, ya tetep aja ditinggalin demi Keenan.

6. She believe in her dream.
Mimpinya Kugy ya jadi tukang dongeng meski realitanya dan orang-orang di sekitar dia percaya itu nggak akan mungkin. Tapi dia tetap tuh bermimpi kalau someday mimpinya akan kejadian. Ya hebatnya, dia punya Keenan yang mendukung mimpi-mimpinya. Meski dia sudah sempat mencicipi kehidupan yang sebenernya, dia nggak silau tuh, meski kehidupan yang dia jalani lebih menjanjikan.

7. Many peoples interested in her.
Di dunia nyata, orang aneh kalau nggak dijauhin ya dibully. Lalu Kugy? Aneh sih aneh, tapi tetep aja si Ojos, Keenan, sama Remi head over heels sama dia. Envy, huh? Coba gitu ada kenalan lo yang ikhlas-ikhlas aja nunjukin jati dirinya yang sebenernya, seaneh apapun itu, ujung-ujungnya ya jadi bahan ketawaan.

8. Her self-confidence.
Percaya dirinya Kugy itu patut diacungi jempol. Pengin bisa se-confidentce itu tapi kok ya susah ya bo, hahha *where my heels? Need it to improve my self-confidence.*

9. Her ability to write
Kyaaaa, ini sih dendam pribadi, hahahaha. Sampai sekarang sih gue selalu iri sama tokoh khayalan yang berlatar belakang sebagai seorang penulis, trus sukses. Kapan gue bisa kayak gitu? hahahah.

10. She has someone who marry her and her imagination.
Poin ini wajib diulang dua kali. Kenapa? Karena ini intinya. SIAPA COBA YANG NGGAK MAU END UP SAMA SOMEONE YANG BENAR-BENAR HEAD OVER HEELS INTO YOU, YOUR IMAGINATION, YOUR WORLD, AND YOUR STUFF, HUH??? Iri maksimal.


Tapi ada satu hal yang bikin gue pengin ngajak toss si Kugy: Kita sama-sama terjebak di musik yang usianya dua dekade lebih tua dibanding usia kita *ngakak maksimal*

Salam Radar Neptunus

Thursday, August 16, 2012

50 Love Rules Every Woman Should Live By

Prolog: Sedang baca Glamour US edisi lama (Maret 2010) dan ada satu artikel dengan judul menantang. Yuk mari dibaca dan dipahami lalu dipraktekkan.


50 Love Rules Every Woman Should Live By
These little nuggets come from movies, songs, wise men, wiser women and the wisest sources of all--you. Tape them to your mirror, decoupage them to your phone... whatever it takes!
By Margarita Bertsos


15 Rules For Single Woman
"If he says he isn't ready for a relationship, believe him." Kerri Otto, 32, Traverse City, Mitch.

"Marry Someone you want to sit next to for the rest of your life." Megan Smollin, 26, Astoria, N.Y

"Guys are like subway trains. Don't run after them; another one is on its way." canuck, on glamour.com

"Respect yourself. I said to my ex, I'm not going to make you my everything if i'm only your something." Alyssa Stabile, 19, Boston.

"Don't trust anyone who doesn;t laugh." Maya Angelou

"My grandfather had some gems: 'Don't be with a stupid just to be with any man.' 'A real man always takes care of his family.' ' You don't want to be walked over, and you don't want a man you can't walk over either.' And my favorite: 'Don't be fool, Michelle. You can be anything you want. but don't be a fool.'" Michelle Porter, 28, Charlotte, N.C.

"The guys who were nerdy in high school make the best husbands." Jennifer Goldstein, 31, Brooklyn.

"To love oneself is the beginning of a life long romance." Oscar Wilde.

"You can tell a lot about a guy by how he treats your cab driver." Alanna Sobel, 25, Wahington D.C.

"If he likes you, you'll know. If he doesn't, you'll be confused." sayitloud, on glamour.com

"Never marry a man who has no friends." father Pat Connor. 79 year old Catholic Priest, as quoted by Maureen Dowd in her New York Times column.

"Never tattoo a guy's name on your body," Rebekah Rankin, 27, Scottsdale, Ariz

"I used to be into bad biys but kept getting burned. The, I heard this: say no to the guys you usually say yes to, and yes to the ones you normally say no to. I did and it totally worked. I have a great husband now." Laura Knudsen, 27, Charlestown, Prince Edward Island.

"Personal hygiene is part of the package." Jim Carey

"It's OK to show up at a guy's house with a dozen roses and declare your undying affection. It's OK to have too much to drink and call your ex 20 times and then to be mortally embarassed when you realize your number must have shown up on his caller ID. It's OK because making a fool of yourself for love is ultimately about you, how much you have to give and the distances you will travel to keep your heart wide open when everything around you makes you feel like slamming it shut and soldering it closed." Veronica Chambers, Glamour's features director and author of The Jof Of Doing Things Badly.


10 Movie Lines To Memorize Your Real Love Life
"Stop thinking about what everyone wants. Stop thinking about what I want... what your parents want. What do you want?" Noah in The Notebook

"Just because some cute girl (or guy?) like the same bizarro crap you do doesn't make her your soulmate." Rachel in (500) Days of Summer

"You can't marry someone when you're in love with someone else." Captain Von Trapp in The Sounds of Music

"Love itself is what is left over when being in love has burned away." Ianis in Corelli's Mandolin

"The past can hurt... You can eithe rrun from it or learn from it." Rafiki in The Lion King

"When the planes hit the Twin Towers, as far as I know, none of the phone calls from the people on board were messages of hate or revenge--they were all messages of love. If you look for it, I've spot a sneaking suspicion... love actually is all around." Prime Minister in Love Actually.

"God wouldn't have given you maracas if He didn't want you to shake 'em." Penny in Dirty Dancing

"If there's any kind of magic in this world, it must be in the attempt of understanding someone, sharing something. It's almost impossible to succeed, but who cares, really? The answer must be in the attemp." Celine in Before Sunset.

"You should be kissed and often, and by someone who knows how." Rhett Buttler in Gone With The Wind.

"she's got gaps" I got gaps. Together we feel gaps." Rocky Balboa in Rocky


15 Rules For Married Women
"All love that has not friendship for its base is like a mansion built upon the sand." poet Ella Wheeler Wilcox

"Sex alleviates tension." Woody Allen

"Let there be spaces in your togetherness." poet Kahlil Gibran.

"Separate bathrooms!" Inspires, on glamour.com

"Feed, pet and play. Oh, wait... that's the relationship I have with my cat! It still aplies." Lindsey Fulton, 25, Houston

"My nonna always told my mom, who then passed the advice to me: 'Don't talk to me about the fights you have with your husband. Because then you guys solve it in the bedroom, and the next day I'm still mad." Amanda Chamberlain, 23, Hobokin, N.J

"When you have a family and you cheat on your spouse, you cheat on everyone, even your friends." jennynyc15, on glamour.com

"An older women told me something that stayed with me. I asked her how she stayed married so long. Her reply, " We never felt out of love at the same time." I love that, because no matter how much we want to deny it, there are times we want to throw our boyfriends or husbands overboard--and vice versa. But as long as someone is trying, then you can make it." Christie Pourtemour, 29, Manhattan beach, Calif.

"Whenever you're worng, admit it; whenever you're right, shut up." poet Ogden Nash

"Hold on to each other above everything else." from teh Lifehouse song 'Whatever It Takes'

"An orgasm a day keep the doctor away." Mae West

"You need not think alike to love alike." Jillian Maxwell, 28, brooklyn

"A friend once told me that when you argue with your husband (and you will), never make personal attacks. Stick with the subject: there are some things that can never be taken back." EMagdon, on glamour.com

"Keep the fights cleand and the sex dirty."molldoll3213 on glamour.com

"When you decide to commit, you've got to commit. Can't cheat. Wanna cheat. Can't cheat. Dying to cheat. Can't wait to cheat. Can't cheat. Some guys gotta go to rehab not to cheat. But you can't cheat. Know why? because your going to get caught. I don't care who you are, (even if) you're 007. you're going to get caught. And you don;t want to get caught." Chris Rock


10 Golden Pieces od Love Wisdom from Glamour Cover Stars
"Never date (a friend's) ex-boyfriend. That's not even the unspoken rule--that's the spoken rule." Eva Longoria Parker, february 2009

"I wouldn't want to be with a pushover. I'd rather be with someone who has his own voice and passion and ambition." Taylor Swift, August 2009

"You have to be nortured emotionally and spiritually, and you have to be intrigue runs out, you're not going to want to go home anymore." Charlize Theron, July 2008

"Three and half years ago. I had my kids, I had an Oscar, but I wasn't love. (Then) a man came along and said 'You deserved to be loved...' That's what it's about... balance in your life." Nicole Kidman, speaking at Glamour's 2008 Women of the Year Award

"It's unhealthy to have a predisposed expectation of what you think a marriage should be--as this thing at the end of the rainbow. False expectations take away joy." Sandra Bullovk, June 2006

"Make time (fot love), it doesn't matter who you are--your life can't just be all work. "Beyonce Knowles, September 2003

"Come home, dim the lights and do (your) thing--I'm not going into any more detail than that." Chritina Guilera, AUgust 2008

"When things are going poorly with your kids, you don't put them on the doorstep and say "See ya Later." The same goes for your spouse. It's not all bliss, but commitment is what love is about." Faith Hill, November 2006

"Having a good sense of humor is imperative. At some point, the sparks are just embers, so you need someone you can laugh with." Sheryl Crow, September 2006

"Cute's good. But cute only lasts for so long, and then it's. Who are you as a person?" Michelle Obama, Desember 2009

That's all. Mudah-mudahan ada quote yang bisa menginspirasi--entah dalam kehidupan nyata atau bagi teman-teman penulis yang sednag menulis.

Love,
iif

Friday, August 10, 2012

Rasa

Rasa
Oleh: Ifnur Hikmah


Aku ingin berlari mengejarnya, tapi cincin di jariku memaku langkahku.
Selalu ada rasa yang tertinggal meski kata usai telah mencuat di tengah-tengah cinta.
*

Nijmegen, sebuah kota kecil di bagian timur Belanda. Kota tua yang berbatasan dengan Jerman. Bukan kota gemerlap seperti halnya Amsterdam, tapi ketenangannya membuatku jatuh cinta.
Aku membalik de Zondagkrant Nijmegen, sebuah Koran mingguan di daerah lokal, untuk membunuh waktu menunggu kedatangan temanku, Robin. Ini pertama kalinya aku ke Nijmegen meski tiga bulan sudah aku tinggal di negeri ini. Kalau bukan karena Robin sedang mengunjungi orang tuanya di Nijmegen, aku tidak akan pernah mengenal kota ini.
Juga mengenal dia.
Tatapan mataku terhenti di satu halaman. Ada perempuan cantik di sana, satu halaman full. Tertulis di sana de Zondag Miss. Miss Sunday, dalam bahasa Inggris.
Aku tergelak. Seperti Playboy saja, memajang perempuan-perempuan cantik dan diberi nama sesuai bulan majalah itu terbit.
Sebuah tepukan di pundak mengagetkanku. Aku berbalik dan mendapati Robin berdiri di belakangku dengan sebuah bagel di tangan.
"Maaf, lama. Tadi jemput Salsa dulu," jelasnya.
"Salsa?"
Mataku bergerak ke belakang Robin. Perempuan itu ada di sana. Perempuan yang kulihat di koran, dengan gelar de Zondag Miss.
Aku tersenyum tipis. Dia pun begitu, dan senyumnya kian mengembang saat melihat halaman koran di atas mejaku.
"Wow, de Zondag Miss. Kamu cantik, Sa," seru Robin.
Kulihat perempuan itu hanya tertawa kecil, lalu menarik kursi di sebelah Robin.
"Git, kenalin ini Salsa. Tetanggaku. Dia mau ke Berlin juga, jadi sekalian aja."
Salsa mengulurkan tangannya. Ada desir hebat merambati dadaku ketika tangan kami bersentuhan.
"Sigit," seruku.
"Salsa. Indonesia?"
Aku mengangguk.
"Aku juga," sahutnya. Dua patah kata berbaahasa Indonesia yang terdengar lancar itu mengagetkanku, terlebih pengakuannya. "Sunda tepatnya. Ibuku Sunda, cuma sejak kecil dia sudah tinggal di sini."
Aku hanya bisa ber-ooo panjang, namun ketika mata kami beradu, kurasakan ada yang aneh menjalari dadaku.
*

"Kenapa Belanda, Git?"
Saat itu kami sedang berada di apartemenku. Bukan apartemen sebenarnya, hanya flat murahan yang banyak diisi mahasiswa perantauan sepertiku.
"Rem Koolhaas dan OMA cukup menjadi alasan," sahutku tanpa mengalihkan tatapan dari AutoCad di Mac.
"Kamu ingin kerja di OMA?" Tanyanya antusias. Dia bahkan menarik kursi di sebelahku dan mendudukinya.
"Selama kesempatan masih ada, setiap orang pasti ingin bekerja dengan idolanya kan? Seperti halnya kamu yang selalu ingin dipotret oleh Richard Avedon, bekerja bersama Rem Koolhaas juga jadi impianku."
Salsa tergelak. "Itu berarti kamu akan tinggal di sini selamanya? Tidak kembali ke Jakarta?"
"Entahlah."
Kesenduan selalu menyergapku setiap kali membahas kata pulang. Meski ragaku di sini, setengah jiwaku masih ada di sana, daerah asalku. Ambisi membawaku ke sini, bersaing dengan ribuan arsitek muda yang menginginkan hal sama—beasiswa di Delft. Rem Koolhaas dan OMA memanggil-manggilku. Namun mama juga memanggilku.
Memanggilku untuk pulang.
"Sedang bikin apa?" Salsa memecah keheningan.
"Galeri."
"Untuk?"
"Semacam ambisi pribadi. Sudah lama aku ingin membuat galeri sendiri."
Salsa mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dia bertopang dagu di atas meja, melihat kian dekat ke AutoCad di layar Mac. Wangi lavender yang menguar dari tubuhnya membuyarkan konsentrasiku.
"Masih banyak yang harus diselesaikan?"
"Iya," jawabku, "hanya proyek pribadi. Dikerjainnya pun jika ada waktu."
Salsa menghembuskan permen karet yang sejak tadi dikulumnya—hobinya. Namun kali ini permen karet itu meletus dan menempel di sekitar bibir dan hidungnya. Aku tergelak sementara Salsa bersungut-sungut membersihkan sisa permen karet itu.
Entah apa yang mendorongku untuk nekat melakukan ini. Kukecup bibir itu. Singkat saja. Namun cukup membuat debar di dadaku kian hebat. Salsa terlihat kaget, namun sedetik kemudian dia tersenyum.
"Kamu mau membantuku menyelesaikan rancangan galeri ini?"
Salsa tidak menjawab. Hanya tersenyum.
Separuh hatiku tertinggal di Jakarta, dan aku kian kuat menancapkan sisanya di sini, di Belanda, di hati perempuan ini. Selain OMA dan Rem Koolhaas, bertambah satu lagi alasan yang mengikatku di Belanda.
*

Katanya cinta bisa mengalahkan apa saja. Termasuk jarak.
Semula, aku percaya itu. Itulah yang melecutku untuk terus menjalani hubungan ini. Ratusan ribu kilometer membentang di antara aku dan Salsa—jarak yang terpaksa hadir setelah aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta—tidak berarti apa-apa selama aku masih mencintainya dan dia juga mencintaiku.
Namun ketidakhadiran fisik, ditambah orientasi waktu yang berbeda membuatku rindu saat-saat mencinta. Juga, ketiadaan satu sama lain di saat yang sangat penting. Aku ingin Salsa mendampingiku ketika aku mendapatkan penghargaan dari IAI atau ketika opening galeri yang kita rancang bersama, seperti halnya Salsa yang ingin aku berada di sana ketika dia menjalani pemilihan Miss Nederland atau menjemputnya setiap kali dia selesai bekerja membacakan berita malam. Tidak pernah ada saat-saat untuk itu. Ketidakjelasan masa depan juga mulai menunjukkan taringnya. Setahun awal semua masih terasa indah. Setahun kemudian berubah hambar.
Dan aku lelah. Lalu menyerah.
"OMA. Bagaimana dengan OMA? Rem Koolhaas?"
Hatiku sakit saat melihat Salsa masih berusaha menyelamatkan hubungan yang sudah diambang kehancuran ini. Namun hatiku terluka lebih lanjut ketika dia membangkitkan kembali impianku yang telah kukubur sejak lama.
Aku menggeleng. Pasrah. Dan ketika aku melihat mata coklat itu menitikkan air mata, aku berpaling.
Menyembunyikan air mataku sendiri.
*

"Are you okay?"
Sapaan lembut itu mengagetkanku. Kusadari bahwa sejak tadi tatapanku tidak beranjak dari satu titik, ujung tangga lantai dua, tempat Salsa berdiri. Dia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun oranye itu—kado ulang tahun terakhir dariku, kuhadiahi tiga tahun lalu.
Kualihkan tatapanku ke perempuan di sampingku. Aurora. Perempuan yang tanpa sengaja dilemparkan tangan nasib ke arahku, menemaniku di saat-saat putus asa melandaku setiap kali teringat Salsa, dan satu jam yang lalu resmi menjadi istriku.
"Aku tidak menyangka kalau Salsa akan datang."
"Dia sangat ingin melihat bentuk jadi galeri ini. Kurasa ini waktu yang tepat untuk dia datang ke sini." Waktu yang tepat untuk kembali menabur garam di atas lukaku.
"Dia ke sini. Aku ingin berkenalan dengannya."
Aku tersenyum kecut. Tidak tahu kata apa yang harus kuucapkan ketika berhadapan langsung dengannya.
Lalu aku melihatnya. Di pintu galeri. Menatap lurus ke arahku. Beragam ekspresi tercetak di wajahnya, dan aku tidak bisa membacanya. Satu pun. Kami bersitatap selama beberapa detik, dan Salsa mengakhirinya dengan berbalik arah tepat ada di saat ada waitress melintas di antara kami.
"Loh? Kenapa dia malah pergi?" Aurora terdengar kecewa.
"Entahlah." Mungkin lebih baik begitu. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa menahan diri jika tak ada lagi jarak terbentang di antara aku dan Salsa.
"Boleh aku menghampirinya sebelum dia pergi?"
Aku menelan ludah. "Tentu saja."
Perlahan Aurora melepaskan pegangannya di lenganku dan beranjak pergi, masih dengan buket bunga lili di tangannya.
Seharusnya aku yang pergi, bukan Aurora. Seharusnya aku yang menghampiri Salsa, dan menyatakan bahwa masih ada rasa yang tertinggal untuknya. Meski ada Aurora, jauh di dasar hatiku, cinta untuknya belum terkikis.

PS: Kelanjutan dari Mock Up dan hasil samberan dari Jarak by Adit.

Mock Up

Mock Up
Oleh: Ifnur Hikmah



Foto: Diambil dari ujung tangga lantai dua Dia.Lo.Gue Galeri, Kemang. Photo by @adit_adit


 “Ini maket galerinya. Di bagian depan ada store yang langsung digabung dengan exhibition hall. Terus ada lorong yang bisa digunakan untuk exhibition juga. Di bagian belakang ada lounge dan ruang duduk sehingga pengunjung bisa santai atau berdiskusi.”
“Lalu ini?” Aku menunjuk bagian luas di bagian samping galeri yang memanjang ke belakang.
“Taman. Kamu masih suka dengan konsep garden party kan?”
Aku tergelak. “Pesta apa yang mau kamu buat di sini?”
“Our wedding, of course.”
Jawaban singkat dan tegas itu menyentakku. Tanpa bisa dicegah, sebaris senyum mulai menghiasi wajahku. Pernikahan, satu kata sakti yang sejak entah kapan kutunggu-tunggu keluar dari bibirnya. Kurasa, tiga tahun menjalin cinta sudah cukup membuat kami saling mengenal satu sama lain. Termasuk, cukup membuat kami yakin untuk melangkah maju.
“Lalu, kamu akan membangun galeri ini dimana?”
Sejenak kesenduan terpancar dari balik mata yang biasanya bersinar penuh semangat itu. Tidak pernah sekalipun Sigit merasa sedih setiap kali membahas hasil rancangannya. Aku tahu dia arsitek hebat, dengan banyak gedung ternama berjejer di portfolionya. Dia selalu menceritakan setiap rancangannya dengan penuh semangat, seperti seorang ayah yang bangga akan anaknya.
Namun, sorot bangga itu tidak ada kali ini.
“Jakarta,” jawabnya pelan.
Aku terduduk. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Berkali-kali kata itu terngiang di telingaku. Kata yang selama ini kucoba untuk hindari tapi nyatanya, sekuat apapun aku menghindarinya, kata itu tetap muncul ke permukaan. Realita yang selama ini kucoba untuk hindari atau mungkin menolaknya, nyatanya tetap saja harus kuhadapi.
“Kamu akan pulang?”
Pria di hadapanku ini hanya diam. Namun sorot matanya telah menjawab semuanya.
*
Cuaca panas Jakarta tidak sebanding dengan suasana hatiku. Mataku terasa berat. Sangat berat. Semenjak kakiku menginjak pekarangan yang dilapisi bebatuan di bagian depan galeri ini, dadaku sudah terasa sesak. Begitu mataku terpaku ke sebuah pohon besar dengan gantungan lampu berbentuk patung, rasanya aku ingin berbalik dan berlari. Menjauh dari tempat ini dan kembali ke Nijmegen, tempatku.
Namun kakiku malah mengkhianatiku. Alih-alih menjauh, aku malah melangkah mendekati pintu masuk yang terbuat dari kayu. Samar-samar telingaku menangkap denting piano dari arah belakang. Juga suara tawa riang yang sama sekali berbanding terbalik dengan hatiku yang menangis.
Begitu tanganku bergerak mendorong pintu kayu, sesak itu kian menjadi-jadi.
“Welcome.”
Sepasang pria dan perempuan muda berpakaian tradisional Jawa menyambutku di pintu. Kulemparkan senyum dingin semaksimal yang aku bisa. Senyum adalah hal tersulit yang bisa kulakukan sedangkan tangis bisa tumpah kapan saja.
Kupandangi sekelilingku. Sekali lagi, perasaan akrab merambati hatiku. Bertahun-tahun aku menemaninya merancang galeri ini, baru kali ini aku menginjakkan kaki di sini. Galeri yang menjadi impiannya, tempat dia bisa memajang semua hasil desainnya, foto-fotonya, dan juga, tempat dia melangsungkan pernikahan.
Pernikahan. Satu kata yang dulu mampu mengembangkan senyumku namun sekarang malah berbalik menikamku dan meninggalkan luka.
Apa yang terpampang di hadapanku jelas sama dengan apa yang dulu kulihat di maket itu. Exhibition hall di sisi kanan—yang sekarang memajang foto pre wedding disambung lorong kecil yang juga dihiasi foto-foto pre wedding. Dari balik jendela kayu yang menutupi bagian belakang galeri, pandanganku tertumpu pada keriuhan pesta di belakang sana.
White garden party.
“Aku ingin buffetnya di sini jadi tamu-tamu yang tidak mau di luar dan memilih makan di dalam tetap gampang menjangkau makanan.” Aku menunjuk ruang panjang yang terbentang di depan pintu belakang dan masih tertutup atap. “Lalu di sini band pengiring. Piano. Aku cuma mau piano.” Jariku bergerak menunjuk sisi kiri galeri. Ada ceruk sempit yang tentu saja bisa memuat sebuah grand piano. “Dan nanti kita di sini.” Kudaratkan telunjukku di atas sebidang taman di sudut kanan belakang galeri.
Maket itu masih nyata di bayanganku. Setiap detail pesta pernikahan yang kuinginkan masih tergambar jelas di ingatanku. Kalimat yang kuucapkan ketika menatap maket itu pun masih teringat jelas meski bertahun berlalu dari masa ketika aku mengucapkannya. Di Nijmegen, bukan di sini, di Jakarta.
Lalu di sini, di Jakarta, semuanya mewujud nyata di hadapanku.
Maket yang telah berubah menjadi galeri. Pesta pernikahan yang sesuai bayanganku. Hiasan lili putih dang mendominasi taman dan keseluruhan galeri. Pianis yang memainkan You’re The First, The Last, My Everything. Suara canda tamu dengan gelas red wine di tangan mereka. Garden party yang telah lama memenuhi relung mimpiku. Semuanya mewujud nyata. Di sini, di galeri yang dulu hanya berupa maket itu.
Kusambar segelas red wine dari atas nampan yang dibawa waitress berpakaian tradisional Jawa sebelum akhirnya menaiki tangga menuju lantai dua.
Dari ujung tangga lantai dua, ruang pandangku lebih tak terbatas. Aku bisa melihatnya. Tersenyum bahagia di bagian kanan belakang taman. Tampak kian gagah dibalik beskap putih yang membalut tubuhnya. Tak henti-hentinya dia menebar senyum setiap kali dia ada tamu yang menyalaminya.
Apa dia menyadari kehadiranku? Sigit, apa kamu melihatku di sini?
Kuteguk red wine yang terasa pahit mengaliri kerongkonganku. Bahkan pahit kenyataan yang kuteguk tetap tidak tertandingi.
Kita pernah mengangankan pernikahan ini. Ketika Belanda masih sama-sama kita pijak. Dia yang berambisi membangun galeri impiannya dan aku yang mengangankan pernikahan di galeri ini. Dia yang berhasil mewujudkan ambisinya. Hanya aku yang terpaku karena gagal mewujudkan keinginanku.
Ketika jarak akhirnya mengikis rasa diantara kita dan melemparkan kita kembali menjadi orang asing.
“We can’t do this.” Keputusasaan tergambar jelas di wajahnya—meski hanya kulihat melalui layar netbook. Aku masih di Nijmegen, dan dia sudah pulang kembali ke asalnya, Jakarta.
Setahun berlalu semenjak kita dibatasi jarak—ruang dan waktu. Semula kita yakin akan berhasil menjalaninya. Namun di saat ego tidak ada yang mau mengalah mulai mengalahkan kita, dia menyerah. Meskipun aku membujuknya bahwa kita pasti bisa menjalaninya, dia tetap menyerah.
“Tidak ada masa depan untuk kita,” keluhnya.
“Selalu ada jalan, Sigit.”
“Jalan? Aku tidak melihat jalan itu, Salsa.”
“OMA. Kamu masih ingin bekerja di sana kan? Come on, Sigit. Sebentar lagi, OMA pasti membutuhkanmu.”
Sigut tertawa kering. “Tidak ada masa depan untukku di OMA setelah dua kali gagal. Tidak ada lagi, Sa.”
“Tapi, Git…”
“Lihat keadaan kita. Aku di sini dan kamu di sana. Apa kita masih bisa disebut pasangan sedangkan untuk bertemu pun kita tidak pernah bisa?”
Masih. Ingin aku meneriakkan kata itu. Namun raut lelah di wajahnya membungkamku.
It’s over. Keputusan itu telah dibuat.
Setahun aku menjalani hari-hari dengan harapan bisa bergerak maju. Meninggalkan bayangannya dan segala kenangan tentangnya di belakang. Namun nyatanya aku masih bergerak dengan cinta yang sama meski kata usai telah terucap di antara kita.
Dan di saat undangan pernikahannya datang ke meja kerjaku, saat itu juga aku merasa hancur. Semula aku berharap Sigit masih memegang kenangan kita. Selama aku mengetahui Sigit masih sendiri, selama itu pula aku memegang keyakinan bahwa kesempatan untukku masih ada. Hanya masalah ego, dan di saat kita sama-sama menyadari bahwa we can’t life without each other, kita akan kembali bersama.
Namun sekali lagi harapanku harus kandas. Undangan elektronik itu menghancurkannya.
Kuteguk red wine di gelasku hingga habis. Dari lantai dua tempatku berdiri, jelas terlihat Sigit di halaman sana. Bersanding dengan perempuan entah siapa.
Pulhan ribu Euro kukeluarkan demi datang ke sini. Belasan jam jarak kutempuh melintasi dua benua untuk menyaksikan pria yang kucintai bersanding di pelaminan dengan perempuan lain. Sudah tak terhitung tisu yang terbuang untuk menghapus air mataku. Lalu, di sinilah aku sekarang. Menatap pria yang kucintai dengan hati hancur berkeping-keping.
Seperti halnya maket galeri ini yang masih tertinggal di tempatku, kenangan akan kita pun masih tertinggal di hatiku. Dan aku ke sini untuk mencari tahu apakah dia masih mengingatnya?
Perlahan, aku bergerak menuruni tangga.


PS: Kesamaan nama hanya demi iseng semata *lol*

Monday, August 6, 2012

55 Reading Questions


55 Reading Questions

Ketika sedang blogwalking, ketemu blog yang memuat pertanyaan ini. After I read that post, I wanna make a list of mine too. You know how addicted I am to book, right? So, here my list.
1.       Favorite childhood book?
I’ve grown up with R.L. Stine’s book. Inget banget gue waktu kecil suka ketakutan waktu baca Goosebumps—padahal kalau dibaca lagi sekarang itu cetek banget. Selain Goosebumps, gue juga baca Doraemon. Don’t forget serial STOP – Stefan Wolf.

2.       What are you reading right now?
The Hobbit by J.R.R Tolkien. Antisipasi sebelum filmnya tayang.

3.       What books do you have on request at the library?
Sekarang nggak terdaftar di keanggotaan perpustakaan manapun. Terakhir minjem buku itu tahun lalu, waktu masih nyelesaiin TKA. Buku yang dipinjem pun text book, dan yang paling diingat itu buku Rahasia Dapur Majalah di Indonesia—buku wajib yang selalu dipinjam setiap kali bikin tugas sepanjang empat tahun kuliah. Meski belakangan diketahui kalau isi buku itu banyak ngaco tapi tetep aja itu buku ngebantu banget, apalagi buat anak Jurnal Cetak.

4.       Bad book habit?
Beli, beli, dan beli padahal masih banyak yang numpuk belum dibaca atau dibaca tapi berhenti di pertengahan alias nggak diselesaiin. Bad habit lainnya, suka baca buku baru yang dirasa lebih bagus padahal saat itu masih baca buku lain.

5.       What do you currently have checked out at the library?
Text book. What else, heh?

6.       Do you have an e-reader?
Yess, but jarang kepakai. Gue lebih suka baca buku dalam bentuk fisik. Sensasinya beda. Rasanya beda. Jauh lebih enak aja.

7.       Do you prefer to read one book at a time, or several at once?
I prefer to read one book at a time tapi dalam kenyataan seringnya baca beberapa buku sekaligus. Bosan buku A ganti buku B trus balik ke A atau ambil buku C—kecuali buku yang dibaca benar-benar memukau ya. Contohnya sekarang sedang baca The Guardian – Nicholas Sparks cuma bosan dan diselingi oleh The Hobbit. Eh, Twivortiare – Ika Natassa datang dan nyelesaiin itu dulu. Balik lagi baca The Hobbit, Adit minjemin Sweet Nothing – Sefryana Khairil dan nyelesaiin itu dulu. Baru sekarang balik lagi baca The Hobbit. Sedangkan The Guardian nasibnya nggak jelas.

8.       Have your reading habits changed since starting a blog?
Nggak juga sih. Reading habits gue berubah sejak kerja alias makin malas baca—dan beli buku hahaha.

9.       Least favourite book you read this year (so far)?
2 by Donny Dhirgantoro, Twivortiare by Ika Natassa, Memori by Windry Ramadhina, Three Weddings and Jane Austen by Prima Santika, DaisyFlo by Yenny Hardiwidjaja. Cuma ingat ini aja, dan memang tahun ini kemampuan membaca benar-benar menurun.

10.   Favorite book you’ve read this year.
Memori by Windry Ramadhina dan Twivortiare. Baca Memori karena dipromosiin terus menerus oleh Adit dan pas baca memang nggak bisa move on dari Simon—sampai sekarang. Sedangkan Twivortiare memang bagus. Sekalipun gue punya yang edisi Nulisbuku dan beli lagi yang edisi Gramedia, sensasinya beda.

11.   How often do you read out of your comfort zone?
Jarang. Dulu ada sih ya coba-coba baca biografi atau buku based on true story dan perang-perangan, sekarang nggak lagi.

12.   What is your reading comfort zone?
Urban-women-love-story. Intinya, love story. Romance.

13.   Can you read on the bus?
Jangankan di bus, di kereta berdiri tanpa pegangan dan pakai high heels pun gue bisa *girl power*.

14.   Favorite place to read?
Café. Tapi nggak terus-terusan. Palingan di kamar menunggu jam tidur.

15.   What is your policy on book lending?
Dulu gue minjemin ke siapa aja tapi akibatnya malah sering ngecewain—let’s say bukunya baliknya lama atau pas balik dalam kondisi hancur. Daripada gondok menahan kesal, sekarang cuma mau minjemin buku ke orang yang sudah terpercaya aja dengan syarat dikembalikan dalam keadaan seperti semula.

16.   Do you ever dog-ear books?
Nggak juga ya, soalnya gue kalau baca ya baca aja.

17.   Do you ever write in the margins of your books?
Never. Satu-satunya tulisan cuma nama dan tanda tangan di halaman pertama dan 30.

18.   Not even with text books?
Errr… text book itu tempat bikin sketch yang paling bagus *lol*

19.   What is your favourite language to read in?
Indonesia, of course. Cuma nggak menutup kemungkinan baca buku berbahasa Inggris, terutama buku luar yang belum ada versi terjemahannya.

20.   What makes you love a book?
Gue nggak mau munafik ya. Cover itu memegang peranan penting. Coba tengok cover Bukune yang lucu-lucu, selalu bikin pengen beli kan? Well, buku yang gue bagus itu menurut gue yang punya cerita bagus, dialog yang mengalir, alur lancar dan plotnya oke. Mungkin temanya sederhana atau udah biasa tapi kalau diolah dengan bagus ujung-ujungnya ya luar biasa. Kayak love and friendship yang sejak kapan tau udah ada tapi dikemas secara unik dalam Antologi Rasa oleh Ika Natassa tetap aja pas dibaca rasanya fresh.

21.   What will inspire you to recommend a book?
Kalau ceritanya bagus.

22.   Favorite genre?
Romance –I’m a hopeless romantic, remember?

23.   Genre you rarely read (but wish you did)? 
Horror/thriller. Non fiction. Self help. Motivational book.

24.   Favourite biography?
For God and Country – James Yee dan The Audacity of Hope – Barack Obama.

25.   Have you ever read a self-help book?
Men are from Mars, women are from venus – John Gray dan The Secret – Rhonda Byrne *ini masuk self-help book nggak?*

26.   Favourite cookbook?
Errr….

27.   Most inspirational book you’ve read this year (fiction or non-fiction)?
2 – Dhonny Dirgantoro. Ini Indonesia dan ini bulu tangkis. Nangis kejer baca buku ini.

28.   Favorite reading snack?
Lays and cola.

29.   Name a case in which hype ruined your reading experience.
Twilight. Pertama baca seri ini karena nggak tau mau beli apa jadinya ya beli ini dan suka. Begitu udah baca Eclispse, baru deh ini berubah jadi mainstream dan ya masih bisa diterima. Begitu baca ulang sembari nunggu Breaking Dawn, langsung jleb. Ceritanya so so. Kelebihan buku ini cuma terletak di kepiawaian Stephenie Meyer menulis panjang dan detail serta diksinya bagus. Satu lagi itu 50 Shades of Gray. Tertarik baca karena heboh banget dan pas baca, errr. Sakit jiwa gue lama-lama.

30.   How often do you agree with critics about a book?
Gue baca review cuma untuk melihat buku ini bagus atau nggak, tapi seringkali jadi penasaran beli buku A karena reviewnya bagus.

31.   How do you feel about giving bad/negative reviews?
Agak-agak gimana gitu ya secara belum tentu gue bisa nulis kayak gitu, hehehhe.

32.   If you could read in a foreign language, which language would you chose?
Jerman. Saking cintanya sama serial STOP dan nggak diterbitin lagi buku itu, jadinya gue nekat beli STOP dengan bahasa aslinya, bahasa Jerman. Untung gue sedikit-sedikit bisa bahasa Jerman hehehe.

33.   Most intimidating book you’ve ever read?
All Ika Natassa’s book. Intimidasinya karena buku kakak satu ini bagus banget. Semuanya. And I love her writing. Ika salah satu penulis yang kalau nerbitin buku bakal selalu gue beli.

34.   Most intimidating book you’re too nervous to begin?
Supernova series. Takut otak gue nggak sampai, hahahha.

35.   Favorite Poet?
Aku – Chairil Anwar dan Venus and Adonis – William Shakespeare.

36.   How many books do you usually have checked out of the library at any given time?
Jarang, hahhaha.

37.   How often have you returned books to the library unread?
Karena buku yang dipinjem kebanyakan text book ya bacanya nggak semuanya, cuma part yang dibutuhin aja.

38.   Favorite fictional character?
For now: Beno Wicaksono from Divortiare dan Twivortiare dan Simon Marganda from Memori. Everlasting favorite character: Sporty from STOP dan Frodo Baggins and Legolas from Lord of The Ring.

39.   Favourite fictional villain?
Siapa ya? Secara buku bacaan gue banyakan cerita romance jadi kayaknya nggak ada musuh yang disuka. Kecuali Tora di DaisyFlo kali ya, hahhaha.

40.   Books I’m most likely to bring on vacation?
Apa aja yang belum dibaca.

41.   The longest I’ve gone without reading.
Dulu sih bisa seminggu, sekarang lebih hahahha *bukan hal baik*

42.   Name a book that you could/would not finish.
Holy Blood, Holy Grail - Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln dan Honeymoon with my Brother – Franz Wisner.

43.   What distracts you easily when you’re reading?
Ngantuk dan lapar *manusiawi banget ya*

44.   Favorite film adaptation of a novel?
The Lord of The Ring of course. Can I say more?

45.   Most disappointing film adaptation?
Twilight saga—blame Kristen Stewart for that dan What you expect when your expecting - Heidi Murkoff and Sharon Mazel.

46.   The most money I’ve ever spent in the bookstore at one time?
Around 500.000 kali ya.

47.   How often do you skim a book before reading it?
Nggak pernah. Langsung hajar aja, hahhaha.

48.   What would cause you to stop reading a book half-way through?
Kalau ceritanya ngebosenin dan nggak ngerti ini apa sebenarnya yang lagi diceritain.

49.   Do you like to keep your books organized?
Maunya sih gitu tapi kenyataannya nggak hahahha.

50.   Do you prefer to keep books or give them away once you’ve read them?
Di keep lah. Gue termasuk orang yang pelit buat give away, meski se-suck apapun buku itu.

51.   Are there any books you’ve been avoiding?
Horror/thriller. Gue ngaku kalau gue penakut akut jadi nggak berani macam-macam daripada nggak bisa tidur karena tinggal sendiri.

52.   Name a book that made you angry.
Twivortiare by Ika Natassa (for now). Karena: kok udahan aja sih ini? Give me more Beno…

53.   A book you didn’t expect to like but did?
The Lord of The Ring. Dibeliin kakak sebelas tahun lalu sebagai oleh-oleh disaat teman-teman seumuran heboh baca Harry Potter. Waktu itu minta beliin Harry Potter tapi kakak malah beliin ini. Awal baca ogah-ogahan tapi hasilnya? Cinta mati sampai sekarang.

54.   A book that you expected to like but didn’t?
Honeymoon with my brother. Belinya karena nonton Oprah dan reviewnya bagus. Pas dibeli empat tahun lalu sampai sekarang belum selesai tuh dibacanya.

55.   Favorite guilt-free, pleasure reading?
Rasa puas dan waktu yang dihabisin buat bengong ngebayangin isi buku itu bener-bener ada di dunia nyata *sekarang sih lagi ngebayangin abang Simon, hahahah*

Wednesday, August 1, 2012

I Could Never Take The Place Of Your Women

Prolog: Carissa is back. Ya well, ini orang akan selalu ada selama gue masih belum bosan sama dia, hehehhe. Dramanya masih berlanjut and enjoy her drama :)))


I Could Never Take The Place Of Your Man
(Oleh: Ifnur Hikmah)

I may be qualified for a one night stand, but I could never take the place of your man (Jordan Knight)
*
I love Gone With The Wind so much. I love Scarlett O’Hara. I love her characters and how she loves Ashley Wilkes.
Not. I’m not talking about her, but I’m talking about me.
Di salah satu scene penentu, ketika Scarlett menyadari Ashley didn’t love her as she tought, it makes me crying. Scarlett yang selama ini merasa bahwa Ashley mencintainya karena dia yang sebenarnya harus dihadapkan kepada fakta bahwa pria yang dicintainya setengah mati tak ubahnya seperti pria-pria lain—pria yang hanya menginginkan tubuh dan kecantikannya saja.
Mengenaskan.
Tahu yang lebih mengenaskan? Aku.
I know that he never loves me. Hatinya masih tertawan di masa lalunya. Perempuan masa lalunya. Namun sikap manisnya selama ini membuatku denial. Membuatku merasa bahwa perasaannya telah berubah. Setelah dia memohon agar aku membatalkan niat untuk bercerai dengannya, kupikir dia sudah mulai membuka pintu hatinya untukku. Aku yakin, someday he will be mine.
Nyatanya, someday yang kuharapan tidak pernah datang.
*
Jika orang yang paling mengancam keberlangsungan kehidupan rumah tanggamu mengundangmu datang ke pesta yang diadakannya, what would you do? If you ask me, I only have one answer. Face it. And being fabolous.
Itulah yang kulakukan ketika undangan buka puasa di rumah Amelia datang ke hadapanku. This is me being jealouse, dengan perasaan insecure yang masih ada dalam hatiku. Juga, keinginan untuk mengalahkannya. Dia masih unggul dalam pertarungan mengisi hati suamiku. Tak kan kubiarkan dia mengalahkanku dalam hal lain.
Dan inilah aku sekarang. Glittery dress from Lanvin mencetak sempurna lekuk tubuhku, termasuk perutku yang telah membuncit, menunjukkan secara terang-terangan kehamilanku. Hasil perawatan selama dua jam di salon pun membuat penampilanku kian sempurna. Kehadiranku dan Mike pasti akan menjadi sorotan semua orang. Pertunjukan yang sempurna. Mantan kekasih yang masih saling cinta dan seorang istri yang tengah hamil diantara mereka. Perfect.
Amelia juga berusaha keras untuk tampil cemerlang. Terlihat jelas usahanya itu. Namun satu yang dia tidak punya. Mike, mantan kekasih yang masih dicintainya, sedang menggenggam tanganku, bukan tangannya.
“Kamu mau ketemu Amel?” tanyaku disela menikmati fruit punch, “temuin gih daripada diam-diam saling lirik gitu.”
“Kamu apa-apaan sih.” Mike terlihat gusar.
Kuberikan senyum sinisku. Pura-pura, heh? Sudah jelas sejak awal tadi mereka diam-diam saling melirik. Di belakangku, tentu saja. Seolah-olah mereka mengira aku tidak tahu saja. Aku tidak sobodoh itu bisa dikelabui dengan gampang.
“Kangen ya sama Amel? Gih samperin daripada curi-curi lihat gitu. Dia juga ngelihat kamu terus tuh. Ngarep banget dia.” Aku merasa panas.
Dengan wajah datar, Mike meletakkan gelas kosong ke atas meja. “Kita pulang sekarang aja ya daripada kamu uring-uringan kayak gini.”
“Yakin?”
“Lagian masih banyak yang harus aku kerjain sama Narendra.”
Sekali lagi aku melihat mereka saling lirik meski jarak yang terbentang lumayan jauh. Mike di sisiku, di meja buffet sebelah kiri. Amelia ada di dekat pintu masuk, menyalami tamu-tamunya. Sesekali dia menoleh ke arahku. Pura-pura menatap ke yang lain sebelum mendaratkan tatapannya di wajah Mike. Lalu Mike akan menunduk dan perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Membalas tatapan Amelia.
Kelakuan mereka membuatku panas. Muak.
“Tuh. Yang barusan apa? Bukannya saling lihat-lihatan ya?” sindirku. “Makanya sana samperin daripada diem-diem kayak gini.”
Kurasakan tangan Mike menggenggam tanganku erat. Dia menatapku tajam dengan nafas memburu—ekspresinya setiap kali menahan emosi. “Aku nggak ngerti kenapa kamu bersikap kayak gini dan aku nggak suka kamu kayak gini. Kita pulang, jangan ngebantah lagi.”
Aku hanya terpana mendengarkan amarahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menarikku pergi. Bahkan dia hanya mengirimkan kode lewat dagu kepada Narendra dan Nareswari untuk mengajak mereka pulang. Ketika lewat di hadapan Amel pun, Mike hanya berhenti sebentar dan tersenyum. Malah Narendra yang mengambil alih keadaan dengan berpamitan sementara suamiku ini terus menarikku menuju mobil kami.
*
Entah kesalahan apa lagi yang kuperbuat, aku tidak tahu. Begitu selesai memarkir mobil, Mike melewatiku begitu saja, meski aku sengaja menunggunya di ruang tamu. Dia hanya berseru menyuruh Narendra menemuinya di ruang kerja secepat mungkin.
Aku terpaku. Diam selalu menjadi pilihannya setiap kali ada yang mengganjal pikirannya, tidak peduli aku ada di hadapannya menunggu penjelasannya. Diam telah menjadi pilihannya. Memendam perasaannya seorang diri selalu dilakukannya, tanpa ada keinginan untuk berbagi. Terlebih denganku.
Entah sudah berapa jam aku berguling-guling resah di tempat tidurku—tempat tidur kami. Mataku tidak mau terpejam, sedikitpun. Pikiranku mengelana ke kejadian sore ini. Apa tindakanku yang sinis ketika berada di rumah Amelia yang memicu kemarahannya? Seharusnya dia tahu bagaimana aku. Jelas aku tidak akan tinggal diam melihat kelakuan mereka. Hatiku jelas-jelas tersakiti. Dan aku tidak ingin menunjukkan sakit hatiku itu. Tidak di hadapan musuh besarku.
Pintu kamar terkuak, membuatku tersadar dari lamunan. Kulihat Mike melangkah masuk dengan wajah lelahnya.
“Kamu udah mau tidur ya? Good night.”
Kupaksakan diri untuk tersenyum. “Aku nggak tahu aku salah apa. Apapun itu, let me know ya, Mike. Dan aku minta maaf.”
Mike tersenyum tipis. Tangannya terulur dan menggenggam tanganku erat. “Bukan salahmu. Ini salahku.”
Dahiku berkerut. “Maksudmu?”
Pria yang baru beberapa bulan menjadi suamiku ini hanya menatapku dalam diam, tapi raut wajahnya berbicara banyak hal. Tentang isi hati yang dipendamnya dan keinginan untuk mengungkapkannya, tetapi ada juga keengganan di sana.
“Mike?”
“Maaf. Selama ini aku nggak jujur ke kamu kalau aku masih belum bisa melupakan Amel.”
Hanya sebaris kalimat yang diucapkan dengan suara sepelan bisikan. Namun itu mampu meruntuhkan duniaku. Kejujurannya. Hal yang selama ini telah kusadari tapi kusangkal kebenarannya karena sikap manisnya padaku. Kebenaran yang tidak mau kuterima dan membuatku membangun ilusi sendiri bahwa Mike is mine. Nyatanya, malam ini dia memilih untuk jujur.
Dan itu menyakitkan.
“Aku selalu berusaha untuk itu,” sambungnya. Tangannya masih erat menggenggam tanganku. Entah bagaimana wajahku saat ini, aku tidak tahu. “Tapi komentar sinis kamu selama ini bikin aku ngerasa kalau kamu nggak peduli sama aku. Kamu bikin aku berada di posisi serba salah. Aku tahu aku salah, tapi aku selalu ingat janji aku untuk mencintai kamu.”
Kutarik tanganku dari genggamannya hingga terlepas. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan mencoba untuk menutup mata. Menghindar. Aku belum siap dengan semua fakta ini.
“Maafin aku.”
Talk about it tomorrow. Aku ngantuk.”
“Oke. Kamu istirahat ya.”
Kurasakan bibirnya menyentuh keningku. Dia menciumku lama. Dan aku menangis dalam diam.
*
Aku pulang. Sebut aku pengecut, aku tidak keberatan. Aku hanya ingin menenangkan diri, dan rumah orang tuaku menjadi pilihan. Tempat aku tumbuh sejak kecil dan selalu membuatku merasa nyaman. Kepada siapapun, aku menyembunyikan kegundahanku. Bahkan kepada mama. Terpaksa aku berbohong dengan mengatakan Mike sedang ke Bandung dan aku takut ditinggal sendiri. Aku yakin mama tahu aku berbohong tapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya memelukku dan membiarkanku menikmati waktu bermanja-manja dengannya hingga aku merasa tenang.
Ketika aku memasuki kamarku, kenangan akan kehidupanku yang dulu terbayang jelas di benakku. Aku yang tidak pernah dicintai, diinginkan, dibutuhkan, bahkan dihargai pun tidak. Aku yang memendam dalam-dalam kelemahanku dan mencitrakan diriku sebagai perempuan kuat yang tidak akan pernah ditaklukkan oleh pria manapun. Aku yang tersenyum pongah dengan banyaknya teman priaku tapi tak satupun yang mencintaiku.
Dan dia membuatku takluk. Dia membuatku menunjukkan diriku yang sebenarnya. Diriku yang tidak punya daya apa-apa. Dan sakitnya, dia sama saja dengan pria-pria yang mendekatiku selama ini.
Tidak pernah mencintaiku. Aku hanya pelariannya.
Sakit.
And it’s not fair.