Wednesday, June 20, 2012

Aku Kembali

Prolog: Cerita yang sedikit berbeda. Baru pertama nyoba-nyoba nulis di luar cecintaan jadi maklum-maklum aja ya kalo rada garing dan aneh, hihihiih. *efek abis nonton Revenge*

Aku Kembali
Oleh: Ifnur Hikmah
(Part of #15HariNgeblogFF)




“Pergi kamu. Perempuan pembawa sial.”
Perempuan bersuara melengking itu mendorong panci besar berisi kuah bakso yang sedari pagi dibuat oleh ibu hingga tertumpah di lantai. Seakan belum puas, perempuan itu melempar botol kecap, saos, cuka, serta tempat sendok ke dinding. Mie yang masih tersimpan di dalam plastik pembungkus pun menjadi sasaran amuk perempuan itu.
“Perempuan penggoda sialan.”
Di usiaku yang baru tujuh tahun, aku belum mengerti maksud kemarahannya. Juga mengapa dia bisa sampai mengamuk seperti ini.
Aku mengenalnya. Tante Ani, begitu aku memanggilnya. Dia tinggal di depan kios mie ayam yang aku miliki bersama ibu. Anaknya, Maharani, sering mengajakku bermain di sela-sela kesibukanku membantu ibu. Aku juga mengenal suaminya, om Hendro. Om Hendro yang sangat baik. Selalu membelikanku makanan dan baju baru—sesuatu yang sangat jarang kuterima dari ibu.
Tante Ani memang sering berwajah masam. Dia selalu memelototiku setiap kali aku bermain dengan Maharani. Dia juga selalu memarahiku setiap kali Om Hendro membelikanku mainan atau baju baru.
Namun kali ini kemarahan Tante Ani membuatku tidak berkutik. Aku bersembunyi di balik rok kembang-kembang ibu, sementara ibu hanya bisa menangis dalam diam melihat usahanya—satu-satunya tempat kami mencari makan harus hancur di tangan Tante Ani.
Dari sudut mata aku mengintip dari balik rok ibu. Kulihat Tante Ani menyeringai puas. Jauh di seberang jalan, kulihat Om Hendro menatap kami dengan wajah datar. Sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Detik itu juga aku mengenal benci. Aku membenci Tante Ani dan Om Hendro.
Aku benci.
*
Aku kembali.
Dua puluh tahun rasanya cukup untuk melarikan diri dan kebencian yang melandaku sejak dulu. Dua puluh tahun rasanya cukup untuk mengumpulkan keberanian hingga akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di sini.
Aku kembali. Dengan bayang-bayang kehancuran warung mie ayam punya ibu. Dengan sisa air mata yang menetes di wajah ibu ketika Tante Ani berhasil menghasut semua orang untuk mengusir kami. Dengan ketidakmengertian yang kurasakan dulu ketika ibu membangunkanku di subuh buta dan semua orang berkumpul di depan rumah kami seraya mengacungkan tangan dan meneriakkan pengusiran.
Ada Om Hendro di sana, tapi sekali lagi, dia tidak berkata apa-apa. Hanya menonton kami yang terseok-seok pergi. Juga Tante Ani, yang meludah tepat ketika aku dan ibu melintas di depannya.
“Perempuan murahan sialan,” umpatnya.
Umpatan itu masih melekat di ingatanku. Sampai ketika ibu meregang nyawa sepuluh tahun lalu, kalimat itu masih menguasaiku, semakin menyulut kebencianku. Dan semenjak ibu, satu-satunya keluarga yang kupunya, pergi meninggalkanku, aku memutuskan untuk kembali.
Suatu hari nanti.
Dan suatu hari itu telah tiba. Sekarang.
Aku menghela nafas panjang.
Di Surabaya Old Town Area, aku mengumpulkan niat untuk kembali ke rumah masa kecilku, menuntaskan kebencian yang selalu mengiringi langkahku.
Honey, kita jalan-jalan dulu ya. Aku kangen jalan-jalan di sini. Dulu, aku sering main ke kawasan old town ini sama Randa. Kamu ingat Randa kan? Sahabat masa kecilku.”
Aku tersenyum tipis menanggapi ocehan Rani. Tentu. Tentu aku ingat siapa Randa, Rani.
“Nanti malam kita ke rumahku. Kami udah siap untuk bertemu mama papa dan melamarku?” Rani tersenyum tipis.
Sejenak aku tertegun. Ada sekelumit perasan tidak tega untuk membawa serta Rani dalam misi balas dendamku, tapi hanya dia satu-satunya jalan untuk menuntaskan kebencianku.
Maaf Rani, aku terpaksa.
Honey.”
Panggilan Rani membuatku tergagap. Kembali kusetel wajahku ke ekspresi semula dan berharap Rani tidak menangkap kebencian yang menguar dari setiap pori-poriku.
Aku tersenyum. “Tentu saja aku siap. Aku cinta kamu, kamu tahu itu kan?”
Rani melompat ke pelukanku.
Maaf, Rani, aku bohong. Aku kembali bukan untuk melamarmu tapi untuk menuntaskan kebencianku.
Aku kembali, ke Surabaya, menjadikan Rani sebagai senjata.
Maaf, Rani, aku bohong. Andai kamu tahu kalau aku adalah Randa, sahabat masa kecilmu, yang terusir dari rumahnya karena orang tuamu, Tante Ani dan Om Hendro.

Genggaman Tangan

Genggaman Tangan
Oleh: Ifnur Hikmah
(Part of #15HariNgeblogFF2)





“Don’t leave me, okay.”
Dia mengangguk. Sebuah anggukan kecil yang sanggup meredakan debar di dadaku. Anggukan yang membuatku tenang dan melenyapkan berbagai pikiran jelek yang menguasaiku beberapa hari belakangan ini.
What if….
What if dia meninggalkanku karena ada banyak pria menawan di tempat kerjanya yang baru?” Sebuah alasan yang masuk akal mengingat sebagai seorang engineer dia dikelilingi banyak rekan kerja berjenis kelamin pria.
What if dia meninggalkanku karena perbandingan pemasukan yang semakin kentara?” Dia dengan jabatan barunya sebagai field manager di sebuah perusahaan tambang memungkinkan pundi-pundi uangnya semakin tebal sementara aku masih terseok-seok dengan usaha advertising agency yang baru kurintis. Bukan perbandingan yang adil, mengingat sebagai pria seharusnya akulah yang menanggung tanggung jawab lebih besar demi keberlangsungan rumah tangga ini, bukan dia.
What if dia meninggalkanku karena jarak yang semakin jauh?” Jakarta-Cepu masih sanggup kami hadapi. Jakarta-Lampung tidak menjadi masalah. Jakarta-Balikpapan sempat menimbulkan kertegangan tetapi masih bisa diredakan. Lalu, Jakarta-Papua? Only God knows apakah kami masih bisa bertahan.
“Sebagai laki-laki, harusnya kamu optimis dan mendukung karir istrimu. Toh, kamu juga kan yang bangga?” Nasihat ibuku ketika aku menceritakan perihal kepindahan istriku ke provinsi di ujung timur Indonesia sana.
Harusnya aku optimis bahwa hubungan ini akan berhasil. Tapi, sebagai laki-laki aku juga punya perasaan. Termasuk perasaan takut kehilangan.
I love her so much. A lot. Kehilangan dia adalah mimpi buruk untukku. Teramat buruk.
“Kamu juga ya, jangan lepasin aku.”
Suara lirih bernada manja itu mengaburkan berbagai pengandaian yang menyesakkan kepalaku. Aku tersenyum. Keyakinanku bertambah. Aku optimis bahwa kali ini pun hubungan ini akan berhasil.
Genggaman tangannya di tanganku kian erat, seakan-akan dia merasa enggan untuk melepasku. Pun denganku. Jika bisa, aku tidak akan melepaskannya.
Never.
Aku menghela nafas panjang. Udara segar serta cipratan air terjun Tawangmangu yang menjadi saksi perjanjian ini membuat keoptimisan di hatiku kian mengembang. Di sini kami dulu mengikat janji. Bergenggam tangan seperti ini. Masih jelas bagaimana dia mengangguk antusias ketika aku menyelipkan sebuah cincin di jari manisnya.
Ke sinilah aku membawanya sekarang. Untuk meredakan keraguan di hatiku sekaligus memperbaharui janji pernikahan kami, karena minggu depan, tujuh hari berselang dari sekarang, dia akan terbang ke Papua. Entah kapan kami bisa bertemu dan saling menggenggam tangan seperti ini lagi.
Namun kapanpun itu, kurasa kami akan berhasil. Ini bukan pertama kali kami berpisah dan selama ini kami selalu berhasil.
Aku semakin mempererat genggaman tanganku. “I love you,” bisikku lirih, meningkahi bunyi debur air terjun Tawangmangu yang menghantam bebatuan di bawahnya.
Kali ini pun, kami akan berhasil melewatinya.
*
Nyatanya, kami tidak pernah berhasil.
Berbagai macam what if memang menghantuiku tapi ada satu pengandaian yang terlupa.
What if pesawat itu tidak pernah membawanya sampai ke tanah Papua, malah terjun bebas ke Samudra Pasifik?”
Kali ini aku kembali ke Tawangmangu, sendiri, dengan luka hati yang belum mengering. Teringat bagaimana dulu kami saling menggenggam di bebatuan ini. Memandang air terjun yang berdiri angkuh di depan seoptimis memandang masa depan.
“Jarak memang tercipta untuk kita tapi cinta kita jauh lebih kuat daripada jarak. Sejauh apapun.” Itu katanya bertahun lalu, saat dia dimutasi ke Lampung dan aku masih harus berkutat dengan pekerjaanku di Jakarta.
Dulu, kami memang berhasil. Jakarta-Cepu masih sanggup kami hadapi. Jakarta-Lampung tidak menjadi masalah. Jakarta-Balikpapan sempat menimbulkan kertegangan tetapi masih bisa diredakan. Lalu, Jakarta-Papua? Jakarta-Papua tidak pernah kami hadapi karena raganya tidak pernah mendarat di tanah Papua.
Raganya hilang bersama debur ombak.
Dan aku?
Di depan keangkuhan Tawangmangu, aku berdiri tanpa ada keoptimisan sedikitpun. Tanganku terentang lesu di kedua sisi tubuh, tanpa ada sepasang tangan yang menggenggamnya—seperti yang sudah-sudah.
Kali ini, aku terisak.

Tuesday, June 19, 2012

Ramai

Prolog: Hari ke-8 #15hariNgeblogFF dan nggak telat, yeaaiii. Tapi ceritanya kosong sih, hehehe. Iseng aja bikin cerita no meaning kayak gini, cuma seru-seruan aja dan hitung-hitung mengembalikan mood songong yang lagi dibutuhin sekarang, hahhaha.

Ramai
Oleh: Ifnur Hikmah
(Part of 15 Hari Ngeblog FF 2)


Batu sialan. Menghambat langkahku saja. Oh, merusak sepatuku juga. Sialan.
Salahku juga sebenarnya. Selama pedestrian di Indonesia tidak sebagus di New York or at least Orchard Road, seharusnya aku mengistirahatkan Manolo-ku di apartemen. Biar aman. Tidak terkena baret seperti ini.
“Cuma sepatu doang segitu betenya sih.”
Aku menoleh. Mungkin ekspresiku sekarang mirip dengan ekspresi suku Indian yang daerahnya diserang Inggris. Siap diajak perang.
“Cuma kamu bilang? Tega,” semburku seraya menunduk dan mengelap bagian depan pump shoes yang kukenakan. Semoga saja tindakanku ini bisa sedikit menghilangkan kerusakannya.
Percuma. Baret yang ditimbulkan oleh batu sialan itu masih ada. Meski tidak kentara, bagiku, haram hukumnya mengenakan sepatu yang sudah cacat. Dan Manolo ini bisa dibilang cacat.
“Lagian ya udah tahu rame bukannya pake sandal jepit malah…”
What?” teriakku kencang. Aku tidak peduli jika teriakanku mengundang perhatian orang-orang di sekelilingku. Bahkan ibu-ibu yang sedang menenteng gembolan jamu pun tak segan-segannya menoleh padaku.
Kayak dia ngerti aja soal sepatu.
“Malioboro itu lagi penuh-penunya di weekend kayak gini. Dari awal aku udah bilang kan? Ngeyel sih.”
Aku cemberut. Sungguh bukan pacar yang baik. Dimana-mana yang namanya pacar pasti akan membela kekasihnya yang sedang kesusahan, bukannya menyalah-nyalahkan seperti ini.
“Lagian hobi banget sih nyiksa kaki kayak gitu. Lihat cewek di sana.”
Telunjuknya terarah ke seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari kami. Perempuan itu tampak cuek duduk berselonjor di trotoar sedangkan temannya—atau pacarnya? Entahlah—berdiri di depannya. Kulirik kaki perempuan yang mengenakan hotpants itu. Sepasang sandal jepit tampak melindungi kakinya.
Aku mengernyit jijik. Sandal jepit? Mau Swallow, Havaianas atau bahkan Ipanema sekalian, bagiku sandal jepit itu tidak ada indah-indahnya. Apalagi jika baru saja selesai pedicure. Kasihan kuku-kuku cantikku.
“Nyaman kan? Dari pada kamu.”
Aku mencibir. Enak saja menghina Manolo-ku. Itu penghinaan kedua terbesar—penghinaan pertama menyamakan tas branded asli yang kupunya dengan produk ITC. Meski KW super sekalipun. Hiyuhh.
“Apa enaknya coba menyiksa kaki begitu. Coba ya kamu pake sandal jepit, pasti dari tadi kita udah selesai keliling Malioboro. Lha ini? Dari tadi baru berhasil masuk tiga toko karena kamu malah sibuk mengurusi sepatumu.”
Aku manyun. Pacarku ini benar-benar ‘baik’. Selalu menceramahiku dan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kebiasaanku.
Kalau saja aku tidak cinta mati padanya, sudah kuputusin sejak dulu dia.
Next time, kalau kita liburan lagi, please ya sesuaikan sama sikon.”
“Bawel,” semburku dan langsung melenggang meninggalkannya, menerobos keramaian Malioboro.
“Hei, tunggu. Kamu mau ke mana? Jangan jauh-jauh dari aku, nanti kamu nyasar.”
Sayup, aku mendengar panggilan itu. Meski tidak menyahut sedikitpun, aku tahu dia mengikutiku.
Sama sepertiku, meski seringkali kesal dengan tingkahku, dia juga cinta mati padaku. Mana mungkin dia mau kehilangan aku?
Aku menyeringai lebar dan mempercepat langkahku.
Sebuah keputusan yang salah karena tindakanku itu justru membuatku menabrak cewek yang mengenakan hotpants dan sandal jepit yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.
“Awww…” jeritku.
Bukan sakit di kakiku yang membuatku menjerit sedemikian hebatnya, melainkan karena sandal swallow lusuh itu mendarat dengan indahnya di atas Manolo seharga belasan juta punyaku.
Aku yakin, aku sudah pucat pasi sekarang dan siap untuk pingsan.

Biru, Jatuh Hati

Prolog: Eaaa telat. Ini harusnya hari ketujuh malah baru dipublish sekarang. Untuk tantangan kali ini nggak lengkap, banyak bolong-bolongnya, hehehhe *sungkem sama masmin dan yumin*

Biru, Jatuh Hati
Oleh: Ifnur Hikmah
(part of 15 Hari Ngeblog FF 2)




Pangandaran siang itu. Matahari sedang tinggi-tingginya. Bukan saat yang tepat untuk bekerja sebenarnya. Terlebih di Pangandaran, saat setiap jengkal yang kujejak meneriakkan kata ‘libur’.
Namun kehadiranku di sini bukan untuk berlibur. Meski semua orang mendecakkan lidah pertanda iri karena pekerjaanku yang tidak statis dan memungkinkanku mengunjungi tempat-tempat yang hanya bisa mereka kunjungi di musim liburan, tetap saja kehadiranku di bawah label bekerja.
Kehadiranku di sini bukan atas nama bahagia. Sadomasochist sepertinya cocok disematkan di dadaku, mengingat luka yang kutorehkan di hatiku.
You’re the greatest photographer I’ve ever known. Gue nggak mau momen paling membahagiakan dalam hidup gue dirusak hanya karena salah memilih fotografer. Please?”
Tatapan penuh permohonan itu meruntuhkan tembok yang melindungi hatiku. Dan aku pun menganggukkan kepala.
Lalu mengikutinya hingga tiba di Pangandaran.
“Marcell, how do I look?”
Sebuah suara yang melengking tinggi membuyarkan lamunanku. Kuangkat tatapanku dari lensa kamera yang tengah kuotak atik. Seorang perempuan bertubuh mungil dengan dress berwarna biru menyambutku. Dia. Cantik.
“How do I look, Marcell?”
Kuacungkan ibu jari sebagai pengganti kata oke. Seharusnya dia tidak bertanya. Biru, ataupun warna lain, semua tampak sempurna di tubuh mungilnya.
“Oke. Nanti fotoin aku dan Reggy sambil bermain air laut ya. Di luar konsep sih, cuma aku suka. Pura-pura candid aja. Mau kan Marcell?”
Sekali lagi aku mengacungkan ibu jari pertanda aku menyetujui permintaannya. Andai saja dia tahu, tanpa memintapun aku akan dengan senang hati memotret dirinya. Bukankah sejak dulu hal itu sudah kulakukan?
Mini studio yang ada di apartemenku menjadi saksi, tempat aku melakukan eksibisi dengan dia sebagai bintang utama di sana. Dan aku, satu-satunya pengunjung setia eksibisi tersebut.
“Thanks Marcell.”
Aku hanya tersenyum tipis saat melihat sosok itu menjauh. Seorang pria kemayu langsung menghampirinya dan membubuhkan bedak di wajahnya. Aku tetap memperhatikannya, dalam diamku, hingga akhirnya dia siap untuk sesi pemotretan selanjutnya.
Sebuah tepukan di pundak membuatku tersadar. Aku menoleh dan mendapati sosok Reggy tersenyum kepadaku.
Reggy. Kakakku. Calon suami perempuan bergaun biru yang telah lama menjadi bahan imajinasiku.
Thanks, Marcell. Gue nggak tahu mesti nggebalesnya gimana. Gara-gara gue, lo terpaksa menolak banyak job.” Reggy terkekeh.
Aku tersenyum tipis. “Anytime, Gy. You’re my brother. Kakak gue mau nikah dan butuh bantuan gue, masa iya gue nolak?”
Reggy merangkulku pelan. “Gue ke Rima dulu ya.”
Aku mengangguk dan mengalihkan pandangan ke lautan biru di hadapanku. Cukup aku menyiksa diri dengan menyaksikan kemesraan Reggy dan Rima melalui lensa kameraku. Aku tidak ingin menyaksikan mereka langsung dengan kedua mataku. Cukup aku menjadi sadomasochist dengan mengiyakan ajakan Reggy untuk menjadi fotografer pre-wedding-nya. Aku tidak sanggup lagi menyakiti diriku dengan kemesraan mereka.
Dari ujung mata, aku melihat Rima berlari ke arah Reggy. Gaun biru itu bermain ditiup angin. Dan sekali lagi, untuk yang ke sekian kalinya, aku jatuh hati akan sosok itu.