Merah Murah Meriah

NB: Hari ke sekian dari #15HariNgeblogFFDadakan dari mas @momo_DM. Kali ini off dulu dari cinta-cintaan. Lagi patah hati, Perihhhh *curcol*

Merah Murah Meria
Oleh: Ifnur Hikmah





Aku suka ke pasar. Ikut Mak ke pasar setiap pagi selalu menjadi hal yang kutunggu-tunggu. Jejeran kain warna warni, anak ayam dan anak bebek yang cerewet, teriakan pedagang sayuran, ah semuanya aku suka. Terlebih, sebotol limun yang dibelikan Mak di toko Ci Mar sepulangnya Mak berbelanja.
Pagi ini aku sudah siap di depan rumah. Baju biru dan celana biru. Sandal jepit yang juga berwarna biru. Tinggal menunggu Mak datang dan aku siap berbelanja ke pasar.
“Mak… Mak…” teriakku tidak sabar.
Hari ini adalah hari pasar. Semua barang dikeluarkan. Aku suka melihat barang-barang yang dijajakan di pasar. Sesekali aku merengek pada Mak untuk dibelikan sesuatu. Ada kalanya Mak menolak, tapi tak jarang juga Mak mengabulkan permintaanku.
Pagi ini, Mak berjanji akan membelikanku baju baru. Untuk kupakai ke pesta ulang tahun Titi minggu depan. Ah, aku jadi tak sabar ingin segera ke toko baju Ko Asep dan memilih-ilih baju. Aku mau baju warna merah dan Mak setuju.
Jam sembilan, Mak muncul di pintu. Tak lupa dia membawa tas kain yang sudah lusuh, tempat Mak meletakkan semua belanjaannya. Mak menggandeng tanganku. Setelah berteriak menyuruh si Mbok mengunci pintu, Mak membawaku ke pasar.
Pasar ini terletak tak jauh dari rumah kami. Cukup berjalan kaki. Dua puluh menit saja. Aku dan Mak tinggal berjalan sampai ke ujung gang, melintasi jalan raya, berjalan ke arah kanan sampai ada rel kereta, melintasi rel, lalu ujung pasar sudah terlihat. Pasar letaknya tak terlalu jauh dari rel kereta.
Toko Pak Joko ada di ujung pasar. Beliau menjual anak ayam dan anak bebek. Biasanya aku akan berhenti sebentar, melihat binatang-binatang kecil itu saling berebut makan. Namun kali ini aku hanya melambaikan tangan. Aku sudah tidak sabar menuju toko Ko Asep. Siap memilih baju warna merah.
Tapi Mak mengajakku ke kios beras. Tak apalah. Aku masih menunggu. Mak membeli beras juga lauk pauk dan semua kebutuhan dapur. Setelah itu, Mak mengajakku ke toko Ci Mar, tempat Mak berbelanja untuk keperluan warung. Oh ya, Mak punya warung di rumah. Aku sering menemani Mak menjaga warung siang-siang.
Setelah tas belanjaan Mak penuh, barulah Mak mengajakku ke toko Ko Asep. Aku melompat-lompat saking senangnya. Aku bahkan berlari meninggalkan Mak. Mak tidak khawatir. Toh aku sudah mengenal Ko Asep dan semua isi pasar ini.
Aku sampai di toko Ko Asep lebih dulu dari Mak. Ko Asep yang tak pernah lepas dari rokok langsung menanyaiku macam-macam.
“Mana Mak-mu?”
“Di belakang.” Aku menunjuk ke arah mak yang tampak berjalan ke toko Ko Asep. “Ko, aku mau baju warna merah.”
“Untuk apa?”
“Untuk ulang tahun Titi,” sahutku.
Aku terpana. Mataku terpaku ke sebuah baju berwarna merah. Baju berupa gaun itu tampak cantik. Ada pita putih di pinggangnya. Roknya melebar. Di bagian bawah dan ujung lengannya ada renda.
“Aku mau itu, Ko,” ujarku sambil menunjuk baju merah itu.
Ko Asep tertawa, memperlihatkan giginya yang menguning karena rokok. Diambilkannya baju itu untukku. Ah, aku suka.
“Untukmu tak kasih murah. Lima puluh ribu saja.”
“Benar, Ko?” Aku melompat saking tak percayanya.
Ko Asep mengangguk dan kembali merokok.
Aku mengambil baju itu dan membawanya keluar toko. Kulihat Mak ada di seberang jalan. Aku melompat-lompat sambil menunjuk baju itu.
“Mak, aku mau baju ini. Kata Ko Asep murah. Lima puluh ribu,” jeritku.
Mak berhenti di ujung jalan. Celingak celinguk memeriksa jalanan sebelum menyeberang.
“Mak…” panggilku. Kali ini aku berlari ke ujung jalan. Mak lama sekali. Aku sudah tidak sabar ingin memperlihatkan baju ini kepada Mak.
“Jangan menyeberang, Ela…” ujar Mak, tepat di saat aku sudah berlari menyeberangi jalan.
Mak terlambat. Aku terlambat mendengar ucapan Mak. Aku terlanjur berlari menyeberang jalan sambil membawa baju merah yang kata Ko Asep murah itu. Tanpa sadar ada motor tengah melaju kencang ke arahku.
Aku memekik, sesaat sebelum motor itu menabrakku.

Comments

Popular Posts