Keenan, Kekasih Keenam

NB: Hari ke sekian dari #15HariNgeblogFFDadakan dari mas @momo_DM. Kenapa ini namanya mesti Keenan banget? hahahha. Dibikin ala kadarnya, saat rehat dari keasyikan ngedit cerita si tante.


Keenan, Kekasih Keenam
Oleh: Ifnur Hikmah


“When Keenan Goes Mainstream.”
Aku hanya tertawa menggapi ucapan Nadia. Kulambaikan tangan dari tempatku duduk, di atas sebuah meriam tua yang terletak di hadapan gedung balai kota di kawasan kota tua, Jakarta. Nadia berlalu di hadapanku, dengan sepeda ontel sewaannya.
Keenan. Nama itu sudah menjadi buah bibir sekarang.
Semuanya berawal dari kesuksesan film Perahu Kertas yang diadaptasi dari novel berjudul sama milik Dee. Salah satu tokohnya bernama Keenan. Pelukis tampan berdarah Belanda. Nadia-lah yang pertama kali memperkenalkanku pada nama itu. Aku yang tidak suka membaca dan tidak terlalu mengikuti perkembangan film Indonesia jelas masih asing dengan nama itu.
Namun aku tidak merasa asing dengan nama Keenan.
Keenan. Keenan Narawangsa. Laki-laki Jawa tulen yang pernah singgah ke kehidupanku, dulu. Aku yang tidak pernah bisa hidup sendiri selalu mencari kehadiran pacar baru setiap kali putus cinta. Inilah yang mempertemukanku dengan Keenan.
Setelah putus dari pacar kelimaku, Rully, aku kalang kabut mencari pacar baru. Hanya saja tidak ada yang menarik perhatianku di fakultas ekonomi, fakultas tempatku menuntut ilmu. Aku pun melebarkan sayap ke fakultas lain. Namun usahaku tidak berjalan mulus.
Ketika sedang menyaksikan pertunjukan musik jazz di pelataran parkir kampusku, aku bertemu Keenan. Dia ikut terdorong bersama massa yang memaksa maju ke depan panggung agar dapat menikmati penampilan band SORE tanpa halangan. Aksi dorong mendorong terjadi. Aku hampir terjatuh kalau saja  tidak ada yang mencekal lenganku. Aku berbalik dan langsung terpana begitu melihat seorang pria tampan menyangga tubuhku. Dia tersenyum. Hangat dan akrab. Dan aku pun tidak peduli jika saat itu aku sudah terpisah dengan teman-temanku.
Kami berkenalan. Lalu dekat. Begitu saja.
Namun Keenan berbeda dengan pacar-pacarku yang dulu. Jika mantan-mantan pacarku tidak pernah menolak ajakanku, Keenan selalu mengajakku adu argumen terlebih dahulu. Bahkan untuk sekedar memutuskan perkara sederhana seperti mau makan dimana atau nonton film apa. Tak jarang kelakuannya membuatku gondok. Tapi aku bertahan lama dengannya. Hampir tiga tahun. Rekor terlama yang pernah kujalani saat pacaran.
Kehangatan yang diberikannya, surprise kecil yang biasa diberikannya, kesediaannya mendengarkan celotehan tidak pentingku, kerelaannya menjadi tempatku berbagi imajinasi, bahkan imajinasi paling absurd sekalipun, membuatku benar-benar takluk di hadapannya. Kurasa, aku sudah jatuh cinta.
Namun seperti hal indah lainnya, kebersamaanku dengan Keenan juga terpaksa diakhiri. Dia lulus satu tahun lebih dulu dariku. Setelah itu, dia memberitahu bahwa dia melanjutkan kuliah di Belanda. Aku tertegun. Bagaimana dengan hubungan ini?
Hanya ada dua opsi: long distance atau putus.
Lalu kami mengambil jalan kedua. Putus.
Selepas dari Keenan, aku kembali ke tabiat awal. Suka berganti pasangan. Bedanya, kali ini aku selalu membanding-bandingkan setiap pacarku dengan Keenan. Sialnya, tak ada yang menandingi Keenan.
Sekarang, di usiaku yang sudah menginjak 25 tahun, aku berhenti membandingkan pria manapun dengan Keenan. Aku memutuskan untuk move on. Susah memang, tapi aku yakin aku bisa. Satu-satunya hal yang membuatku yakin adalah, aku tidak tahu dimana Keenan. Apakah dia masih di Belanda atau telah pulang ke Indonesia atau malah terdampar di negara lain, aku tidak tahu. Dan aku juga tidak mau mencari tahu.
“Hei, ngelamun.”
Tanpa kusadari, Nadia sudah duduk di sebelahku. Sepeda ontel sewaannya sudah tidak ada lagi.
“Mikirin Keenan?”
“Enak aja,” kilahku. Aku membuang muka. Tidak ingin Nadia tahu bahwa wajahku bersemu merah—kebiasaanku setiap kali berbohong. Aku sedang tidak mood meladeni ejekannya.
“Kalau emang bener mikirin Keenan juga nggak apa-apa kali, Ray.”
Aku mencibir, masih berusaha menghindar.
“Makan yuk.”
Aku menghela nafas lega. Untunglah Nadia segera melupakan ledekannya dan menggiringku ke topik lain. Dengan senang hati aku meladeninya sekarang. Aku langsung berdiri dan mengajak Nadia melihat-lihat café yang tersebar di kawasan ini.
“Ray… Rayna. Nadia…”
Baru beberapa langkah, aku mendengar seseorang memanggil namaku dan Nadia. Kami berbalik dan mencari-cari sumber suara di tengah gerombolan manusia yang menghabiskan waktu Minggu paginya di Kota Tua.
“Rayna…” Panggilan itu lagi. Kali ini disusul dengan seseorang yang melambaikan tangan.
Aku terpaku di tempat. Berjarak beberapa meter di hadapanku, ada seseorang yang sejak tadi mengganggu pikiranku. Seorang pria tampan berkulit sawo matang.
“Keenan?” panggilku.
Keenan berlari ke arahku, setelah sebelumnya berpamitan kepada seorang wanita cantik yang ada di sampingnya.
Aku dan Nadia bersitatap. Mata kami sama-sama menunjukkan satu pertanyaan; ‘how come?’
Di hadapanku, Keenan, kekasih keenamku, tengah berlari ke arahku.

Comments

  1. bagus banget ip, yg ini, haha
    jadi keinget jaman2 kuliah.

    tapi endingnya langsung dicut gitu ya, disebut wanita cantik sekilas saja (istrinya, pacarnya?)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts