Aku Kembali

Prolog: Cerita yang sedikit berbeda. Baru pertama nyoba-nyoba nulis di luar cecintaan jadi maklum-maklum aja ya kalo rada garing dan aneh, hihihiih. *efek abis nonton Revenge*

Aku Kembali
Oleh: Ifnur Hikmah
(Part of #15HariNgeblogFF)




“Pergi kamu. Perempuan pembawa sial.”
Perempuan bersuara melengking itu mendorong panci besar berisi kuah bakso yang sedari pagi dibuat oleh ibu hingga tertumpah di lantai. Seakan belum puas, perempuan itu melempar botol kecap, saos, cuka, serta tempat sendok ke dinding. Mie yang masih tersimpan di dalam plastik pembungkus pun menjadi sasaran amuk perempuan itu.
“Perempuan penggoda sialan.”
Di usiaku yang baru tujuh tahun, aku belum mengerti maksud kemarahannya. Juga mengapa dia bisa sampai mengamuk seperti ini.
Aku mengenalnya. Tante Ani, begitu aku memanggilnya. Dia tinggal di depan kios mie ayam yang aku miliki bersama ibu. Anaknya, Maharani, sering mengajakku bermain di sela-sela kesibukanku membantu ibu. Aku juga mengenal suaminya, om Hendro. Om Hendro yang sangat baik. Selalu membelikanku makanan dan baju baru—sesuatu yang sangat jarang kuterima dari ibu.
Tante Ani memang sering berwajah masam. Dia selalu memelototiku setiap kali aku bermain dengan Maharani. Dia juga selalu memarahiku setiap kali Om Hendro membelikanku mainan atau baju baru.
Namun kali ini kemarahan Tante Ani membuatku tidak berkutik. Aku bersembunyi di balik rok kembang-kembang ibu, sementara ibu hanya bisa menangis dalam diam melihat usahanya—satu-satunya tempat kami mencari makan harus hancur di tangan Tante Ani.
Dari sudut mata aku mengintip dari balik rok ibu. Kulihat Tante Ani menyeringai puas. Jauh di seberang jalan, kulihat Om Hendro menatap kami dengan wajah datar. Sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Detik itu juga aku mengenal benci. Aku membenci Tante Ani dan Om Hendro.
Aku benci.
*
Aku kembali.
Dua puluh tahun rasanya cukup untuk melarikan diri dan kebencian yang melandaku sejak dulu. Dua puluh tahun rasanya cukup untuk mengumpulkan keberanian hingga akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di sini.
Aku kembali. Dengan bayang-bayang kehancuran warung mie ayam punya ibu. Dengan sisa air mata yang menetes di wajah ibu ketika Tante Ani berhasil menghasut semua orang untuk mengusir kami. Dengan ketidakmengertian yang kurasakan dulu ketika ibu membangunkanku di subuh buta dan semua orang berkumpul di depan rumah kami seraya mengacungkan tangan dan meneriakkan pengusiran.
Ada Om Hendro di sana, tapi sekali lagi, dia tidak berkata apa-apa. Hanya menonton kami yang terseok-seok pergi. Juga Tante Ani, yang meludah tepat ketika aku dan ibu melintas di depannya.
“Perempuan murahan sialan,” umpatnya.
Umpatan itu masih melekat di ingatanku. Sampai ketika ibu meregang nyawa sepuluh tahun lalu, kalimat itu masih menguasaiku, semakin menyulut kebencianku. Dan semenjak ibu, satu-satunya keluarga yang kupunya, pergi meninggalkanku, aku memutuskan untuk kembali.
Suatu hari nanti.
Dan suatu hari itu telah tiba. Sekarang.
Aku menghela nafas panjang.
Di Surabaya Old Town Area, aku mengumpulkan niat untuk kembali ke rumah masa kecilku, menuntaskan kebencian yang selalu mengiringi langkahku.
Honey, kita jalan-jalan dulu ya. Aku kangen jalan-jalan di sini. Dulu, aku sering main ke kawasan old town ini sama Randa. Kamu ingat Randa kan? Sahabat masa kecilku.”
Aku tersenyum tipis menanggapi ocehan Rani. Tentu. Tentu aku ingat siapa Randa, Rani.
“Nanti malam kita ke rumahku. Kami udah siap untuk bertemu mama papa dan melamarku?” Rani tersenyum tipis.
Sejenak aku tertegun. Ada sekelumit perasan tidak tega untuk membawa serta Rani dalam misi balas dendamku, tapi hanya dia satu-satunya jalan untuk menuntaskan kebencianku.
Maaf Rani, aku terpaksa.
Honey.”
Panggilan Rani membuatku tergagap. Kembali kusetel wajahku ke ekspresi semula dan berharap Rani tidak menangkap kebencian yang menguar dari setiap pori-poriku.
Aku tersenyum. “Tentu saja aku siap. Aku cinta kamu, kamu tahu itu kan?”
Rani melompat ke pelukanku.
Maaf, Rani, aku bohong. Aku kembali bukan untuk melamarmu tapi untuk menuntaskan kebencianku.
Aku kembali, ke Surabaya, menjadikan Rani sebagai senjata.
Maaf, Rani, aku bohong. Andai kamu tahu kalau aku adalah Randa, sahabat masa kecilmu, yang terusir dari rumahnya karena orang tuamu, Tante Ani dan Om Hendro.

Comments

Post a Comment

Popular Posts