Payung Ungu Amela

Payung Ungu Amela
(Oleh: Ifnur Hikmah)



Amela melempar payung berwarna pink bergambar Hello Kitty pemberian ibunya. Wajahnya ditekuk, mengakibatkan pipi tembemnya tambah menggembung.

Laras, ibu Amela, hanya bisa menghela nafas panjang. Ini payung ketiga yang ditolak Amela, putri semata wayangnya.

“Sayang…”

Amela bahkan menepis tangan ibunya yang hendak membelai lembut rambutnya. Dia menggeser posisi duduknya hingga membelakangi ibunya.

“Sayang, besok kamu pakai payung baru ini ya. Payung lama kamu sudah rusak. Mama nggak mau kamu sakit karena kehujanan.” Mata Laras tertuju ke sebuah payung berwarna ungu yang tergeletak di teras depan.

Payung itu sudah rusak, sudah tidak layak pakai. Warna ungunya pun bahkan sudah tertutup noda kehitaman. Beberapa ruas sudah tidak berfungsi sehingga siapapun yang memakainya akan kehujanan.

Namun Amela tetap bersikeras menggunakan payung itu, meskipun akibatnya dia masih harus terguyur hujan.

***

Payung keempat. Bergambar tokoh games kesukaan Amela, Angry Bird. Berwarna merah.

Namun, untuk yang keempat kalinya pula Amela menolak. Dia bahkan melempar jauh-jauh payung itu hingga terdampar di taman bunga kecil yang ada di depan rumahnya.

“Amel nggak mau payung baru,” jeritnya.

Tanpa mempedulikan ibunya yang terus membujuknya dengan payung baru, Amela berangkat ke sekolah. Tidak lupa dia menenteng payung ungu lusuh miliknya.

***

Jakarta kembali diguyur hujan siang ini. Laras rela melewatkan jam makan siangnya demi menjemput putri kesayangannya di sekolah.

Laras berdiri di depan kelas Amela, menunggu jam belajar usai. Di tangannya ada dua payung. Payung berukuran besar berwarna coklat dengan motif kembang miliknya dan payung Angry Bird yang tadi pagi menjadi sasaran amukan Amela.

Kring…

Satu per satu murid berhamburan keluar kelas. Beberapa diantara mereka langsung menuju ke orang tua atau baby sitter yang menunggu mereka dengan payung d tangan. Laras mendongak, mencari-cari keberadaan Amela di tengah-tengah keriuhan itu.

“Mama kamu nggak beliin kamu payung baru?”

Sebuah suara menyentak Laras. Dia berbalik dan melihat tiga orang murid berseragam putih merah masih duduk di dalam kelas. Salah satunya adalah Amela. Laras pun segera menghampiri putrinya.

Dilihatnya Amela mengangguk sambil mencoba memperbaiki payung ungu lusuhnya yang sudah rusak.

“Kenapa masih pakai payung jelek ini?”

Amela mendongak. Dari jarak dua meter, Laras bisa melihat sorot kemarahan di mata Amela. sorot yang selalu dilontarkannya jika ada yang menyinggung payungnya.

Laras menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Sampai kapan kamu bersikap seperti ini, Amel?

“Ini payung dari papaku.”

Kalimat singkat itu menghantam dinding hati Laras. Air matanya bahkan jatuh tanpa dibendung.

“Ini hadiah dari papa di hari ulang tahunku. Aku akan terus makai payung ini sampai papa pulang.”

Tapi papamu tidak akan pulang, nak. Dia telah meninggalkan kita. Mungkin butuh waktu lama agar kamu bisa mengerti arti cinta dan betapa menyakitkannya sebuah perselingkuhan, nak. Mungkin akan butuh waktu lama sampai kamu berhenti membenci mama karena telah membuatmu terpisah dari papamu, bathin Laras.

Laras menghapus air matanya ketika Amela sampai di hadapannya.

“Kita pulang nak,” ujarnya seraya menyerahkan payung bergambar Angry Bird.

Namun Amela hanya melenggang di hadapannya dengan payung ungu lusuhnya.


Comments

Post a Comment

Popular Posts