Alasan

Alasan
Oleh: Ifnur Hikmah
(Another Carissa + Mike Story)



Immigrant, 23.10

Segelas orange juice tergeletak di atas meja. Orange juice, Carissa? Jika bisa sudah kutoyor kepalaku sendiri. Betapa hinanya meminum orange juice di dalam club dan aku sadar akan hal itu. Namun aku tidak butuh alkohol untuk membuatku teler.

Toh aku telah teler bahkan sebelum setetes alkohol menyentuh lidahku.

Semuanya karena seorang pria yang tengah berada di Bandung sana. Pria yang menggetarkan hatiku dan memaksa setengah isi otakku memikirkan dia. Memikirkan hubungan kita.

Semuanya memang masih begitu cepat. Dua minggu yang diawali dua hari petualangan singkat di Gili Trawangan. Ketertarikan fisik yang kemudian ikut menyeret hatiku untuk berperan di dalamnya.

Aku tidak tahu yang kurasakan ini apa. Jatuh cinta kepada Michael? Sosok itu memang bisa membuat siapa saja jatuh cinta, tapi sosok itu juga bisa membuat setiap perempuan berpikir seribu kali untuk jatuh cinta karena ada kekecewaan mengintip di baliknya.

Bahkan perempuan sepertiku pun masih berpikir sekian kali.

Meski fisikku selalu bereaksi setiap kali berada di dekatnya.

Makna cinta telah kabur diantara kami. Petualangan demi petualangan telah membuat cinta menjadi sesuatu yang tidak lagi kami mengerti. Ah, kembali aku menggeneralisir.

Michael memang berkata dia mencintaiku, tapi aku yakin, cinta tidak akan tumbuh di waktu sedini ini.

Dan ketika rindu menggayuti tubuh dan hatiku, kembali aku mempertanyakan keyakinanku barusan.

“Turun yuk.” Jean menghampiriku, untuk yang kesekian kalinya.

Dan untuk yang kesekian kalinya aku menggeleng.

“Kenapa?”

“Udah bukan umur gue lagi, Jean, seru-seruan kayak kalian.” Itu alasan yang menjadi senjata utamaku malam ini.

Jean menatapku seolah-olah aku ini alien. “Tumben ngomong begitu.”

Aku hanya tersenyum tipis. Bahkan kepada Jean, sahabatku satu-satunya, aku merahasiakan kegundahanku.

“Udah sana. Senang-senang, mumpung gue traktir.”

Alih-alih mengikuti ucapanku, Jean malah duduk di sebelahku. “Ada masalah dengan Michael?” tembaknya.

Aku menggeleng.

“Terus?”

Bukan Jean namanya jika tidak cerewet seperti ini. “Gue dan Mike baik-baik aja.” Kembali terbayang sketsa wajahku yang ditinggalkan Mike tadi pagi. Ah, aku kangen dia. Ingin rasanya meneleponnya tapi baru beberapa menit yang lalu dia berkata sudah bertolak dari Bandung menuju Jakarta.

“Are you falling in love with him?”

“Eh?”

Jean terkekeh. “Gue belum pernah lihat lo kayak gini.”

“Lo ngomong apaan sih?”

Jean menatapku dengan tatapan menggoda. “C, I know you very well dan gue tahu kalau lo udah bingung gini itu artinya lo sudah tertarik sama orang lain. In this case, that man.”

“Apaan sih? Gue nggak ngerti.”

“Tapi kali ini beda.” Jean makin menceracau nggak jelas. “Biasanya lo masih bisa menguasai diri, tapi kali ini nggak. Cowok ini, si Mike ini, well gue nggak tahu apa yang udah dia lakuin sampai-sampai lo jadi selinglung ini.”

“What are you talking about, Jean?”

“Your feeling,” jawab Jean cepat, “mulai dari di Bali, kedekatan lo berdua, liburan singkat ke Gili, dia yang tiba-tiba suka muncul di butik, itu yang bikin lo bingung. Lo nggak pernah menghendaki kehadiran dia, tapi sejak dia hadir, lo menikmatinya.”

Aku terdiam, tidak lagi berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Jean.

“Lo tahu apa yang paling banyak di dunia ini?”

Aku menggeleng.

“Alasan. Dan lo selalu punya banyak alasan untuk mengingkari kata hati lo dalam segala hal, termasuk kata hati lo yang bilang kalau lo tertarik kepada Michael dan you falling in love with him.”

“Bukan gitu, Jean…” Aku berusaha membantah, tapi aku tidak tahu harus membantah dengan kalimat apa.

Jean berdiri. “Gue aja capek ya, C, dengerin lo beralasan terus. Memangnya lo nggak pernah capek nyari-nyari alasan?”

Sehabis berkata begitu, Jean meninggalkanku yang terbengong seorang diri.

Capek? Entahlah, Jean. Probably.

Immigrant, 01.00

“Kamu pulang aja ya, sayang.”

Kudengar Michael menghela nafas berat di seberang sana.

“Kamu nggak usah ke apartemenku. Kayaknya aku masih lama di Immigrant dan kamu udah capek bukan? Jadi lebih baik kamu pulang ke apartemenmu aja.”

“Are you okay, hon?”

“I’m okay.” Bohong. Jawaban yang sebenarnya adalah aku tidak baik-baik saja, hon. Club ini ramai tapi aku merasa sepi. Terpojok sendiri dengan kekalutan pikiranku. Terlebih, omongan Jean yang menusuk membuatku kian bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku meneleponmu dengan tujuan suaramu bisa menenangkanku. Namun aku salah perhitungan, karena yang terjadi aku malah kian merindukanmu.

Padahal yang kubutuhkan hanyalah waktu untuk berdiam seorang diri agar bisa berpikir.

Sial. Who am I? Aku bukanlah Carissa yang bisa dengan mudahnya diombang ambing perasaan, tetapi malam ini, yang ada di sini adalah Carissa yang tidak tahu harus berbuat apa karena terlarut dalam perasaan.

Shit. Bring back the real Carissa, please?

“Aku kangen kamu.” Refleks kalimat itu meluncur dari bibirku.

“Aku juga kangen kamu.”

Buru-buru kuputuskan sambungan telepon sebelum lepas kendali dan merengek di telepon menyuruh Michael menghampiriku.

Jean’s Car, 02.15

“Gue jadi nginap di apartemen lo ya. Kita anterin Mayang dulu, baru ke tempat lo. Muter sih, tapi ya gimana lagi.”

Aku hanya mengangguk ringan menanggapi ucapan Jean.

Mataku teralih ke jalanan di luar. Jakarta yang masih saja berdetak meski hari telah berganti.

Aku tersentak saat mataku menatap Setiabudi Residence di sisi kananku. Ada seseorang di sana, seseorang yang memenuhi pikiranku sejak tadi.

“Kita ke Setiabudi Residence.”

“Hah?”

“Drop me there.”

“What?”

“Udah, lakuin aja apa yang gue bilang.”

Setiap kata-kataku tidak pernah bisa mendapat pembantahan dari Jean. Tanpa bertanya, dia membelokkan mobil masuk ke kompleks apartemen itu. Dan tanpa memberi jawaban pula, aku langsung turun dan berlari.

Berlari menuju seseorang yang bisa menenangkanku.

Setiabudi Residence, 02.37

Wondering where I am now? Berdiri di depan pintu apartemen Michael, menunggu sosok itu datang membukakan pintu setelah beberapa teleponku tidak diangkat. Mungkin dia sudah tertidur kelelahan akibat perjalanan Jakarta – Bandung.

Salahku juga datang dini hari begini.

Dan salahku juga tadi berpura-pura menolak kehadiran Michael dan memintanya datang esok, karena sekarang malah aku yang diburu rindu.

Aku tidak punya alasan apa-apa untuk tindakanku ini. Impulsif.

Kembali kuketuk pintu itu.

Dan jika Michael tidak membukakan pintu untukku, mungkin aku akan berdiam di sini sampai pagi karena aku tidak punya alasan untuk pergi.

Satu-satunya alasan yang kupunya ada di balik puntu ini. Alasan yang memaku kakiku di sini.

Pintu menjeblak terbuka. Sesosok tubuh dengan cat berlepotan di tangan dan kaos yang dikenakannya berdiri di hadapanku.

Refleks aku menghambur ke pelukannya. Kudekap tubuh itu erat, melampiaskan kerinduanku.

“Aku kangen kamu,” bisikku lirih.

Jean benar. Aku selalu punya alasan untuk apapun, termasuk untuk mengingkari kata hatiku.

Lama-lama, aku juga capek terus berdalih dengan berbagai alasan.


PS: Another Carissa + Mike Story. Balasan buat Rindu-nya @adit_adit. Dikutip dari twit @CPurnadiredja. Follow her if you want to know her daily life yang memang kadang nggak penting-penting amat juga, ;p

Carissa Story:
Drama
The Show Must Go On
Kopi
Love or Lust
Cemburu
Kamu Pukul Enam Pagiku

Baca juga yang versi @adit_adit
Perpisahan
Rindu

Comments

Popular Posts