The Show Must Go On

The Show Must Go On
Oleh: Ifnur Hikmah
(Kelanjutan dari Drama)

Aku terduduk di taman kecil di bagian barat Ambarukmo Plaza. One hour before my new boutique launching. Di benakku masih terekam sekelebat sosok perempuan sederhana dengan rok kuning yang sangat ketinggalan zaman itu. Kalau aku jadi dia, rok itu sudah kuhibahkan ke si Mbok.

Ah, persetan dengan apa yang dikenakannya. Posisinya jauh lebih membuatku uring-uringan.

How come, cewek seperti dia bisa mendapatkan Narendra?

If you think I still have a feeling for him, you’re wrong. Aku sudah tidak punya rasa kepada narendra. For God sake, it’s been too long. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatku masih memendam cinta kepada Narendra?

Wait a minute, did I said ‘cinta’? Hahaha, aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri yang dengan bodohnya menyebutkan kata cinta. Apa yang kamu tahu tentang cinta, Carissa? Nothing, because I never felt it in my whole life.

Begitu juga halnya dengan kebersamaanku dulu dengan Narendra. Tidak ada cinta sama sekali –setidaknya itulah yang kurasakan hingga sekarang. Kebersamaan itu tidak ada ubahnya dengan pelampiasan nafsu masa mudaku saja. Terdampar hidup sendirian di kota besar yang sama sekali asing membuatku gamang. Waktu itu aku baru 19 tahun, belum se-settle sekarang. I need someone and tadaaa… Narendra muncul di hadapanku. Dia yang selalu sibuk dengan kertas gambar, topi bisbol yang tidak pernah lepas dari kepalanya, jambang yang terus menebal karena keasyikan merancang bangunan membuatnya lupa untuk bersih-bersih, kaos gombrong berlabel NYU di dadanya, dan segala kesederhanaan yang telah melekat erat di dirinya.

But I still Carissa, even for now or ten years ago. Aku tetap Carissa si drama queen yang selalu menanti adanya kehebohan didalam hidupku. Aku tetap Carissa yang selalu takjub akan New York dan para New Yorker dengan style mereka yang selalu keren. Aku tetap Carissa yang percaya bahwa New York adalah surga dunia. Aku tetap Carissa dengan segala atribut glamour yang disematkan orang-orang di dadaku dan kuterima dengan senang hati.

Aku masih ingat kejadian pagi itu. Saat itu aku tengah duduk seorang diri di Central Park, berkutat dengan rasa pusing yang mendera kepalaku. Salahku juga berpesta sampai pagi dan sudah tidak terhitung lagi berapa gelas Martini masuk ke tubuhku. Seharusnya aku pulang dan tidur di apartemenku yang nyaman, namun suasana musim gugur di New York sangat sayang untuk dilewatkan. Alih-alih berjalan pulang, aku malah berbelok ke Central Park.

Saat itulah aku bertemu Narendra. Dia duduk disampingku berjam-jam lamanya dan baru menyadari kehadiranku saat aku muntah dengan hebatnya di tong sampah yang ada di hadapannya. Bagiku, dia orang asing yang baik hati, yang rela menolong orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Entah bagaimana caranya, aku mengizinkan dia mengantarkanku pulang.

Kebahagiaanku kian berkembang saat tahu dia juga orang Indonesia.

Narendra sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain. Tiga bulan bersamanya membuatku absen selama tiga bulan dari kebisingan club-club yang biasa kujelajahi. Menarik Narendra masuk ke club sama susahnya dengan memaksa kambing untuk mandi. Dia lebih memilih duduk diam di apartemen daripada berpesta semalam suntuk.

Dan aku dengan bodohnya mengikuti segala keinginannya. Menarik diri dari semua kegiatan sosialisasi yang selama ini kulakukan asalkan bisa bersama dia.

Namun sampai kapanpun air dan minyak tidak pernah bisa bersatu. Sekuat apapun aku mempertahankannya, akan ada suatu hari di mana kami harus segera mengakhiri ini semua.

Dan hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Saat suatu malam Narendra memergokiku tengah berciuman dengan seorang pria –aku lupa dia siapa, tapi seingatku dia teman sekelasku- di apartemenku. Dia meradang, namun aku bersikap biasa saja.

“You’re just too damn plain. I need more drama,” makiku tanpa perasaan bersalah sama sekali. Hei, dimana letak kesalahanku? Hidupku bergerak terlalu lempeng saat bersama Narendra. Dia dengan segala kealimannya yang bullshit itu. Dia pura-pura menolakku padahal sebenarnya begitu menginginkanku. Toh dia tetap tidak berkutik saat melihatku di balik Agent Provocateur.

“Fine. Go ahead. I don’t need you anymore.” Dia balas memaki. Kilat kemarahan terlihat jelas di matanya. Mungkinkah dia marah karena melihatku bersama pria lain di belakangnya? Entahlah.

“Fine. I don’t need you too. Go away from here.”

Malam itu juga, Narendra mengemasi barang-barangnya dan angkat kaki dari apartemenku. Entah bagaimana kabarnya setelah malam itu, aku tidak tahu. Aku juga tidak peduli. Hei, bagaimana aku bisa peduli jika setiap malam aku selalu sibuk bersama pria lain?

Pria yang tidak polos dan lempeng seperti Narendra. Dia sungguh membosankan.

Namun egoku terusik saat tanpa sengaja tangan nasib mempertemukan kita kembali. Saat bertatap mata tadi, kusadari aku masih mengingatnya. Mungkin masih ada sebagian tentang dia yang tinggal di tubuhku.

Dia pria terbaik yang pernah bersamaku. For God sake, aku harus mengakuinya.

“There is a good man for a good women. There is an asshole for the slut.”

Kalimat yang dilontarkan Jean, asistenku, terngiang di kepalaku. Dia melontarkan kalimat itu tahun lalu, saat aku baru putus dari pacarku, Tommy. Tommy hampir sama dengan Narendra dan bumerang yang mengakhiri hubunganku dengan Narendra juga ambil peran di perpisahanku dengan Tommy, tidak peduli sekuat apapun usaha yang harus kulakukan untuk membuat hubungan ini berhasil selama dua tahun terakhir.

Maybe I am a slut dan pria-pria baik hati seperti Narendra dan Tommy bukan untukku.

“Lo ngapain bengong di sini kayak orang bego?” Panggilan Jean mengagetkanku.

Aku cuma melirik sekilas dan menyesap hot chocolate yang telah dingin. “Gimana persiapan di dalam?”

“Sudah selesai. Makanya gue kesini nyariin lo. Buang aja itu handphone kalau tiap kali ditelepon nggak pernah diangkat.”

Aku tersenyum tipis. Bukannya aku tidak mendengar bunyi telepon masuk, hanya saja aku terlalu malas untuk mengeluarkannya dari Furla-ku.

“Sorry. I need a time.”

Jean duduk di sampingku. “Rok lo kenapa?”

“Kehujanan tadi.”

“Kasihan.” Dia menyentuh rokku. “What this? Tisci? Jacobs? Williamson?”

“Tisci.”

“Poor Tisci. Makanya, lain kali kalau kemana-mana jangan jalan kaki. Itu mobil lo udah gue bawa ke sini.”

“Thanks.”

“Ya udah, yuk masuk. Wartawan sudah banyak yang datang. Tapi, mending lo ke kamar mandi dulu. Apa kata wartawan coba kalau mereka melihat seorang Carissa Purnadiredja yang ternama itu hadir dengan rambut lepek kena hujan dan makeup awut-awutan?”

It’s Jean, asisten bermulut besar yang pernah bekerja denganku, sekaligus asisten paling cakap yang pernah kumiliki.

Dengan berat hati aku bangkit mengikuti Jean. Namun, masih ada yang mengganjal di dadaku.

“Jean,” panggilku.

“Apa?”

“Batalkan tiket ke Singapur besok.”

“What? Nggak bisa. Lo udah janji sama agen lo yang di sana buat pertemuan ini. Ingat Carissa, tiga bulan lagi pembukaan butik pertama lo di sana.”

“Ada urusan lain yang harus gue selesaiin besok.”

Kudengar Jean mendecakkan lidah. “Tunda aja.”

“Nggak bisa Jean.”

Lagi-lagi Jean mendecakkan lidah. Tiga tahun bersamaku membuat dia paham betapa keras kepalanya seorang Carissa Purnadiredja. “Oke. Tapi lusa lo harus sudah di Singapur.”

One day is enough for me.

“Once more.”

“Apa?”

“Pesenin gue tiket ke Solo besok pagi.”

“What?”

Tidak kuhiraukan Jean yang langsung menghentikan langkahnya dan menatapku dengan mulut menganga lebar. You don’t need to know, Jean. But, I have to do this.

Well, mungkin bukan aku yang ingin melakukan ini semua, tapi egoku yang menghendakinya.

Narendra and Nareswari, the show must go on.


PS: Jadi cerita ini awalnya cuma iseng. Tiba-tiba kepikiran saat lagi berbalas-balas #nomention sama si @adit_adit *Nn. Pengarang vs Givenchy Girl*. Eniwei, ternyata enak juga berperan sbg cewek-nakal-high maintenance-slash-sombong-slash-player kayak Carissa, hihihi

Comments

  1. iiip, lanjutiiin hahaha *fans berat cerpen2 lo*

    ReplyDelete
  2. Thanks Yuni. Yang ini ada rencana sih mau ngelanjutin, liat ntar aja gimana-gimananya, hihihihi

    ReplyDelete
  3. ini jadi dilanjutin gak ya cerpennya??

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts