Pernah (Masih) Mencintaimu

Pernah (Masih) Mencintaimu
Oleh: Ifnur Hikmah

“Lo yakin masih suka sama dia?”

Aku mengangguk mantap. Sama sekali tidak ada keraguan yang kurasakan sekarang.

“Meskipun lo udah tahu dia kayak apa?”

“Justru, setelah gue tahu dia seperti apa, gue makin yakin sama perasaan gue.”

“Gila lo, gila.”

Well, bukankah cinta memang sering membuat seseorang menjadi gila?

***

Aku tidak pernah menyangka akan bersinggungan dengan hal yang sama sekali bertolak belakang denganku. Tidak pernah terlintas di benakku untuk sedikitpun keluar dari dunia yang kutinggali sekarang dan mencoba dunia lain yang sama sekali asing bagiku. Namun, saat tanpa sengaja permainan tangan nasib mempertemukanku dengannya, I can’t do anything.

Lalu dimulailah hari-hariku yang sangat berbeda dari biasanya. Mana pernah aku memulai hari dengan The Economist dan membiarkan iPad dengan koleksi majalah fashion ternama beristirahat begitu saja didalam tas? Apa pernah aku pulang kerja mampir ke warung makan pinggir jalan untuk mengganjal perut padahal yang biasanya kulakukan adalah duduk-duduk bego di Canteen atau Social House. Aku pun memilih berdingin-dingin ria di Taman Menteng menunggu dia selesai bermain sepatu roda, instead of pulang ke rumah dan menghangatkan tubuh dengan sebotol wine. Lupakan waktu leyeh-leyeh di Minggu pagi karena dia akan segera dating mengetuk pintu apartemenku dan menarikku ke bawah jembatan, tempat dia mengajar anak-anak jalanan dengan sukarela. Lupakan juga tentang kacamata hitam, polesan makeup, dan pakaian serba stylish karena dia tidak akan pernah menolerir waktu berdandanku. Dan satu lagi, jangan pernah berharap akan bertemu denganku di salah satu mall yang hype di kota ini di akhir pekan karena aku pasti sedang berada di rumahnya, leyeh-leyeh di atas sofa menonton dvd dan sepiring kentang goreng rumahan.

Setelah semua itu, pernahkah aku mengeluh?

Ajaibnya, tidak pernah.

Aku malah menikmatinya. Sangat menikmatinya. Seolah-olah inilah bagian dari hidupku yang telah lama hilang.

***

Aku pernah mencintainya, dulu, di saat aku masih menjunjung tinggi ego yang kumiliki, dan dengan bodohnya mengingkari perasaan itu. Hanya karena sosoknya tidak pantas berada di dunia serba glamour milikku, aku memutuskan untuk mengabaikannya.

Namun, sekali cinta datang, selamanya dia akan bertahan.

Dia datang lagi, sekarang, setelah bertahun berlalu. Dia masih berupa sosok yang sama, sosok yang pernah membuatku jatuh cinta, dulu. Dan aku masih sosok yang sama, sosok yang pernah menorehkan luka di hatinya dan membuatnya menggumam putus asa, “aku nggak mengerti kamu.”

Namun kali ini dia berhasil meruntuhkan egoku.

Ataukah cinta yang tak kusadari terus bersemayam didalam hatiku inilah yang meruntuhkan egoku?

Entahlah.

Satu hal yang kutahu, ketika dia mengulurkan tangan saat aku terjatuh di pinggir jalan, aku sadar akan satu hal.

Aku masih mencintainya.

***

Aku pernah dan masih mencintainya.

Aku mencintainya.

“Kamu yakin mau ke daerah terpencil itu bersamaku? Nggak ada mall, nggak ada club, nggak ada cafĂ©, bahkan nggak ada sinyal dan lampu. Kamu yakin?”

Aku mengangguk yakin. “Ada kamu.”

Dia tersenyum. “Mandinya di sungai loh.”

“Asalkan kamu nggak iseng bikin drama Jaka Tarub dadakan, kurasa bukan masalah besar.”

“Bos kamu bisa marah karena dia nggak akan bisa bbm kamu.”

“Aku kan ambil cuti.”

“Teman-teman kamu akan ngetawain kamu kalau mereka tahu kamu mau aja kuajak norak-norakan nggak jelas ngeliat bintang malam-malam karea cuma itu satu-satunya hiburan yang ada.”

“Sekali-kali nggak masalah bertingkah ala dangdut gitu.”

“Satu minggu jauh dari peradaban?”

“Satu minggu hanya berdua denganmu.”

“Mengapa kamu mau melakukannya?”

Kulihat dia tengah menatapku tajam. “Because I love you.”

“Berarti dulu kamu tidak mencintaiku?”

“Dulu aku mencintaimu. tapi aku lebih mencintai egoku. Sekarang aku mencoba untuk me-reduce ego itu karena aku tahu, tidak selamanya aku bisa mengandalkan ego itu.”

Dia tersenyum dan memelukku erat.

“Aku pernah mencintaimu, dulu, dan aku masih mencintaimu hingga sekarang.”

Kurasakan sapuan bibirnya yang hangat di puncak kepalaku. “Aku selalu dan akan selalu mencintaimu, selamanya.”


PS: Flash fiction yang benar-benar ekspress. Thanks to someone yang udah ngingetin gue untuk me-reduce ego dan ekspektasi gue yang terlalu tinggi terhadap apapun.

Comments

Popular Posts