Pacar Ajaib

Pacar Ajaib

Jalan Kemang Raya, Sabtu, 18 Februari 2011

Jakarta selalu tidak pernah sehati dengan mood yang sedang jelek. Macet dimana-mana, sama sekali tidak pernah memandang sikon.

Dan aku? Ya, aku harus terjebak di tengah macet yang nggak manusiawi ini bersama cowok yang sedari tadi ngedumel di sampingku. Aryo, cowok yang membuatku jatuh cinta setengah mati tapi seringkali juga membuatku jengkel nggak karuan.

"Mau diam sampai kapan?" Suara berat Aryo memecah keheningan yang tercipta sedari tadi.

Aku melengos, sengaja memutar tubuh hingga menghadap keluar jendela. Cowok super peka seperti Aryo pastinya bisa menerka keberatan yang terpancar dari gesturku.

Jujur, untuk malam ini, aku malas melihat mukanya yang menyebalkan itu. Dia menatapku seolah-olah aku baru saja melakukan kesalahan besar. Padahal, aku yang jadi korban di sini.
Dia, seenaknya saja datang ke 365 Eco Bar, tempat aku sedang kumpul-kumpul bersama teman-teman cewekku, dan menarikku pulang begitu saja. Aku sampai tidak tahu harus menaruh muka dimana di depan teman-teman saat mengambil tas dan berpamitan, sementara tangan kananku digenggam Aryo dengan raut muka kerasnya. Aku hanya bisa pasrah saat dia menggiringku ke mobil dan aku tahu, begitu aku menghilang dari pandangan teman-temanku, mereka akan segera membicarakanku. Tahu sendiri kan cewek mulutnya kayak apa kalau lagi ngegosip? Shit! I hate this.

Dan cowok ini, si Aryo ini, malah nggak merasa bersalah sama sekali.

"Look at me, La."

What is he talking about? Menyuruhku melihat mukanya? Jangan salahkan aku jika menonjoknya begitu kami bersitatap. Terlebih saat sebuah ввм masuk ke Blackberry-ku, atas nama Hanum Maharani.

"Gila ya cowok lo, udah kayak sipir penjara aja. Tiba-tiba datang trus maksa lo pulang."

See? Aku malu setengah mati.

"Lala, hei, kamu mau diam sampai kapan?"

"Sampai kamu ngerti kalau aku nggak suka sama sikapmu itu," semburku penuh emosi.

"Sikapku yang mana?"

Kenapa sih, Yo, sikap pekamu itu nggak bisa diterapin ke aku? Ke hubungan kita? Kamu selalu peduli pada klien-klienmu yang butuh perhatianmu, tapi aku? Sedikitpun kamu nggak peduli.

"Kayak tadi. Tiba-tiba dateng dan ngajak aku pulang. Kamu nggak nanya dulu apa aku masih ada urusan di sana atau nggak."

"Tapi ini udah jam 12, La."

"Oh gitu? Lalu selasa kemaren? Kamu biarin aja gitu aku nungguin kamu sampai jam tiga pagi dan kamunya malah dengerin curhat orang, bukan nemenin aku."

"Aku kan kerja, La."

"Sampai sepagi itu?"

"Udah sering ya, La, kita ngebahas ini."

Memang. Udah sering banget malah, tapi kita masih belum bisa mendapat titik tengah. Aku tahu, sebagai seorang psikolog kamu harus selalu sedia untuk klien-klienmu, tapi masa iya sampai pagi?

"See? Kamu selalu seperti itu. Mentingin kepentingan kamu tapi nggak pernah nanya-nanya kepentingan aku."

"Nggak pernah gimana?"

"Kayak tadi. Harusnya kamu nanya dulu apa aku masih ada urusan di sana atau nggak?"

"Kamu nggak punya urusan apa-apa kan selain ngobrol nggak jelas sama temanmu itu?"

Aku mendengus kesal, dan kembali memalingkan wajah keluar jendela. This traffic makes me sick. That guy makes me crazy.

"Dengerin ya, La. Pertama, kamu nggak punya kepentingan apa-apa sama teman-temanmu itu. Toh kamu juga ketemu mereka tiap hari kan? Jadi, kalau alasan kamu kangen sama mereka, it doesn't make sense."

Aku tertunduk. Alasan itu ada benarnya juga. Tapi tetap aja aku masih kesal.

"Kedua, ini udah malam banget ya."

"Tapi Selasa kemaren kamu bahkan biarin aku nunggu sampai jam tiga pagi," bantahku.

"Kan kamu bareng aku. Mau sampai jam berapapun, ada aku. Meskipun aku sibuk dengerin curhatan klienku, mataku tetap ngawasin kamu. Tapi, kalau sama teman-temanmu, siapa yang jagain kamu? Siapa yang ntar nganterin kamu pulang? Mau pulang naik taxi malam-malam begitu? Better you kill me, La."

Aku terperangah. Dua tahun menjalin hubungan dengannya, baru kali ini Aryo blak-blakan dengan perasaannya.

"Aku bukannya nggak suka kamu jalan sama teman-temanmu. Tapi, tolong jaga diri juga."

"Nyuruh jaga diri tapi maksa aku begadang sampai jam tiga pagi."

Kulihat Aryo melampiaskan kekesalannya ke setir mobil. "Kamu yang maksa buat ikut aku ya, La, malam itu."

Lagi-lagi Aryo membuatku terhenyak. Ucapannya benar tetapi aku masih disulut emosi. Dia benar-benar membuatku malu malam ini.

"Terserah kamu deh."

Belum sempat aku mencerna kalimat singkat bernada muak itu, Aryo telah lebih dulu keluar dari mobil. Dia bahkan menghempaskan pintu mobilnya begitu saja, meninggalkanku sendirian dengan tampang melongo.

Apa-apaan ini? Aryo meninggalkanku begitu saja di dalam mobil, terjebak di tengah macet, dan aku sama sekali tidak bisa menyetir. Sialan. Setelah membuatku marah, sekarang dia membuatku panik.

Kubuka seat belt dan segera menyusulnya keluar. Namun aku tidak melihatnya dimana-mana. Gesit juga dia. Belum sampai lima menit sudah menghilang.

Dengan penuh kepanikan aku kembali ke dalam mobil dan mencoba meneleponnya. Tetapi, alunan musik Jazz yang menjadi nada dering Aryo terdengar di dalam mobil. Dia bahkan tidak membawa handphone.
Kepanikan melandaku. B

gaimana ini? Bagaimana jika mobil di depan sudah maju dan aku sama sekali tidak bisa menyetir? Lagipula, sekarang sudah lewat tengah malam, tidak baik bagiku berkendara seorang diri. Mengapa Aryo begitu tega meninggalkanku? Kuakui, aku tadi memang kekanak-kanakan, tapi tindakannya ini jauh lebih kekanak-kanakan.

"Aryo," seruku saat mendengar pintu mobil dibuka.

Raut wajah yang sangat kukenal menyambutku. Terlebih, ada bonus sebaris senyum di sana.
"Maaf ya, La, tadi aku emosi," ujarnya seraya masuk kembali ke dalam mobil.

Aku menarik nafas lega. Meski masih kesal, setidaknya aku tidak panik lagi. Namun, ada yang berbeda dengan Aryo. Seingatku, tadi dia pergi tanpa membawa apa-apa, tetapi sekarang dia kembali dengan sebuket...

"Bunga?"

Aryo tersenyum. Disodorkannya bunga itu kepadaku.

"Aku cheesy banget ya," urainya malu-malu. Dia menyodorkan bunga itu tanpa berani menatapku. Di bawah penerangan yang seadanya, masih bisa kulihat wajahnya yang bersemu merah.
Beginilah Aryo, pria yang jarang mengungkapkan rasa cinta tapi seringkali tindakan impulsifnya membuat hatiku melayang. And I love this guy with his blushy cheek. Menggemaskan.

"Kenapa tiba-tiba ada bunga?"

"Tadi, waktu aku keluar buat nenangin diri, aku lihat bapak-bapak jualan bunga. Aku ingat kamu suka banget sama bunga, tapi pas Valentine kemaren, aku bukannya ngasih bunga tapi malah biarin kamu begadang nungguin aku. Moga-moga aku ngasih bunganya belum telat ya."

Uraian itu kembali membuatku terpaku. Baru beberapa menit yang lalu dia marah-marah dan membuatku kesal, tapi sekarang dia bertingkah sangat manis.

"Aku juga mau minta maaf udah bikin kamu malu di depan teman-temanmu. Kamu benar, aku memang sering kelewatan. Harusnya aku nanya dulu ke kamu, kamu sudah mau pulang apa belum, bukannya main paksa aja. Makanya aku beli bunganya dua, satu untuk nebus dosa nggak ngasih bunga di valentine, satu lagi untuk minta maaf."

Jika sedang malu-malu seperti ini, Aryo terlihat seperti bocah lima tahun. Menggemaskan. Inilah yang membuatku selalu luluh dihadapannya. Seperti malam ini. Tanpa menunggu lama, aku segera menerima bunga itu dan memeluknya.

"Makasih ya, hon. Aku minta maaf juga ya udah marah-marah nggak jelas sama kamu."

Kurasakan Aryo balas memelukku dengan erat. Berada di pelukannya terasa sangat nyaman. Hangat dan menenangkan. Ingin rasanya lama-lama berada di dalam pelukan itu.

"Tinnn tinnn..."

Kami sama-sama terlonjak saat mendengar klakson bertalu-talu di sekitar kami.

"Woy jalan, woy..." Teriak seorang pengendara motor sembari memukul kap mobil.

Aryo tersenyum tipis. "Kita pulang ya sebelum diamuk massa di sini."

Aku mengangguk. Senyum tak henti-hentinya keluar dari bibirku setiap kali teringat kelakuan pacarku yang ajaib ini.


NB: Terinspirasi saat malam Minggu kemaren terjebak macet di Jalan Kemang Raya, dan nggak sengaja lihat bapak-bapak jualan bunga dari mobil ke mobil. Dan masalah nama cowok itu ...... *tiba2 sinyal ilang*

Comments

Popular Posts