Bola

Bola
Oleh: Ifnur Hikmah

Jadi begini rasanya diabaikan.

Terhitung sudah hampir satu setengah jam aku duduk di sampingnya, terjerembab di dalam lautan cola dan kacang, membolak balik majalah otomotif hingga aku hafal lekuk tubuh cewek seksi yang jadi model iklan mobil, dan sederet kegiatan tidak penting lainnya kulakukan, tapi dia masih membatu. Mematung dengan tangan ditopang di dagu dan mata yang tidak henti-hentinya beralih dari satu titik. Kadang dia berteriak kencang penuh kebahagiaan, tapi kebahagiaan itu bukan untukku. Kadang dia berteriak kesal dan raut wajahnya langsung berubah masam, tapi jelas bukan aku penyebab kekesalan itu. Kadang dia meremas ujung taplak meja saking gemesnya, dan aku langsung disambar setan norak karena menginginkan dia meremas tanganku. Kadang dia mengumpat-umpat penuh emosi dan aku bersyukur bukan kehadirankulah yang membuat dia mengeluarkan kata-kata bak preman terminal itu. Kadang dia juga tersenyum manis, dan sialnya bukan kegantengankulah yang membuatnya tersenyum penuh nafsu seperti itu.

Sial. Aku dikalahkan oleh seorang pria setinggi 45 cm.

Mengenaskan.

Apa sih kurangnya aku? Ganteng? Jika kegantengan berbanding lurus dengan jumlah mantan pacar, maka aku bisa dikategorikan ganteng karena di usia yang menginjak 28 tahun ini, aku sudah berhasil mengencani sepuluh atau mungkin lebih perempuan. Tajir? Hei, I’m an art director at Spore, sebuah perusahaan iklan ternama. Terbayang berapa gajiku sebulan? Yang pasti masih ada sisanya meskipun cewek di sampingku ini merengek minta dibelikan sepatu setinggi menara BTS dengan nama entah siapalah itu setiap bulannya. Baik hati? Selain kegantengan, baik hati adalah faktor kedua yang berhasil membuat cewek klepek-klepek dan mengingat rekor pacaranku, maka bisa dipastikan aku memiliki sifat ini. Pokoknya, jika ada yang iseng menjabarkan kriteria menantu idaman, maka aku telah memiliki 90%nya.

Tapi mengapa aku masih bisa kalah dari cowok sialan setinggi 45 cm itu?

Ya well, memang gantengan cowok itu kemana-mana, tajiran dia kemana-mana juga. Baik hati? Eits, who knows? Toh baik aku maupun cewek cantik di sampingku ini nih, yang dari tadi nggak berkedip ngeliatin cowok itu, masih belum tahu apa itu cowok jauh lebih baik hati ketimbang aku atau tidak.

Mungkin satu-satunya kelebihan cowok itu adalah karena dia berhasil membuat cewek cantik yang aku cintai setengah hidup ini mengabaikanku selama dua kali 45 menit. Sial.

“Yah, selesai. Seri. Kurang seru ah.”

Akhirnya dia bersuara juga, tapi jelas kalimat itu tidak ditujukan untukku.

“Kok minumannya habis?”

Bagus ya, setelah membiarkanku planga plongo nggak jelas, sekarang dia baru mengajakku ngobrol dan itu pun nanyain minuman? Kalau aku tidak cinta mati sama ini cewek, mungkin sudah kujitak juga dia.

“Habisnya kamu dari tadi nyuekin aku, ya aku nggak ada kerjaan lain selain makan dan minum.”

“Dasar gembul.”

“Coba ya kamu ngajak aku ngomong atau apa, pasti cola dan kacangnya masih ada.”

“Kamu kan tahu tadi aku lagi konsentrasi.”

“Konsentrasi melototin tivi,” semburku.

“Laki aku tanding tahu.”

What? Apa dia bilang? Laki. Gila. Aku aja yang udah tiga tahun setia mengekor di belakangnya nggak pernah dipanggil dengan sebutan itu. Nasib… Nasib…

“Kenapa sih kamu suka sama pemain bola itu?” See? Memangnya cuma cewek yang bisa nanya macam-macam kalau lagi cemburu? Cowok juga bisa. Apalagi kalau cemburunya sama cowok lain yang nggak nyata.

“Van Persie.”

“Whatever.” Aku nggak peduli ya namanya siapa. Yang aku peduliin, kenapa dia lebih menyita perhatianmu ketimbang aku?

“Karena dia ganteng…”

“Tipikal,” potongku.

Dia langsung mendelik begitu mendengar aku memotong penjelasannya.

“Kamu dengerin dulu dong, jangan main potong gitu aja.”

Aku mengalah dan memasang wajah antusias meskipun sebenarnya yang ingin kulakukan adalah menyudahi pembicaraan ini. Hei, aku ini pria normal dan pria normal manapun pasti akan sebal kalau harus mendengar cewek yang dicintainya memuji-muji cowok lain meskipun cowok itu adalah pemain bola terkenal yang hanya diketahuinya dari layar televisi.

“Jadi, apa yang membuat kamu jatuh cinta sama dia?”

Skill-nya. Dia jago banget ngoper-ngoper bola dan setiap tembakannya selalu tepat sasaran. Dia juga selalu tenang di lapangan dan bisa mendikte permainan. Dia kapten yang hebat dan bisa membangun kerjasama tim yang baik.”

Ya Tuhan, jadi ini yang namanya cemburu? Melihat matanya berbinar-binar ketika memuja cowok sialan itu, hatiku jadi teriris-iris. Sial. Mengapa aku yang senyata dan sedekat ini dengannya bisa dikalahkan oleh pemain bola yang berada jauh di Inggris sana dan sekalipun tidak pernah bertemu dengannya? Persetan dia memuji si Van Persie itu karena skill, yang jelas aku cemburu.

Shit! I hate this!

“Okelah ya gantengan dia kemana-mana, tajiran dia kemana-mana, tapi reachable-an aku kemana-mana juga kan? Dia memang jago main bola, tapi aku lebih jago mengerti hati kamu.”

Dia terkikik. Di saat aku harus bertingkah dangdut demi terdengar romantis, dia malah terang-terangan menertawakan kenorakanku barusan. Membuatku makin salah tingkah saja.

“Melihat kamu berbinar-binar menyebut nama Van Persie, aku jadi berpikir, apa aku harus jago main bola dulu biar bisa membuatmu jatuh cinta?”

Dia sudah berhenti tertawa tapi masih tersenyum kecil. “Siapa bilang aku jatuh cinta pada pemain bola? Pada Van Persie?”

“Tadi kamu yang bilang sendiri…”

“Hei, dengerin ya.” Giliran dia yang memotong ucapanku. “Kamu benar. Memang gantengan Van Persie kemana-mana, tajiran dia kemana-mana, jagoan dia kemana-mana juga, tapi aku nggak jatuh cinta sama dia. Aku tuh jatuh cintanya sama cowok yang kelewat pede, pelor, malas olahraga, bawel, cerewet, control freak…”

Aku pun refleks membekap mulutnya. “Hina aja terus. Puji aja terus si Van Persie-nya…”

Dia melepaskan tanganku yang membekap mulutnya, lalu menggenggamnya erat. Senyum menggoda masih terukir di bibirnya, membuatku ingin menciumnya saja.

“Terima aja kenyataannya.”

“Thank You very much.” Aku pura-pura ngambek. Sudah dari tadi dicuekin, sekarang dihina dina. Mengenaskan sekali nasibku.

“Tapi justru itu yang membuatku jatuh cinta. Kamu nggak perlu jago main bola di lapangan, cukup jago main bola di…” Dia memutar bola matanya sambil tersenyum tipis.

Kurengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukanku. “I love it when you start a dirty talk.”



PS: Berawal dari blogwalking ke blognya si Rara dan nemu FF dia berlatar belakang bola. Liverpudlian jatuh cinta sama Glory Hunters. Isengnya sih pengen ngerecokin hubungan mereka dengan munculin Gooners di tengah-tengah tapi batal karena lagi pengen bermenye-menye ria. Ya, skalian berharap si oom ngomong kayak cowok (aku) di FF ini kalau gue nggak berkedip melototin Van Persie yang lagi tanding, hihihi.

Jadi, ini dia cowok yang bikin gue klepek-klepek nggak karuan.

Robin Van Persie

PS2: Ini FF sebagai bukti cinta gue sama RVP. Jangan pindah dari Arsenal please... *begging-begging*

Comments

Popular Posts