Jadilah Milikku, Mau?

Jadilah Milikku, Mau?
Oleh: Ifnur Hikmah

“Morning.”

hampir saja bubur ayam yang sedang kusuap mekoncat keluar. Buru-buru kuseka bibir dengan tisu sebelum berbalik ke arah sumber suara. “Morning,” sahutku setelah debar di dadaku mereda.

Tatapanmu mengarah ke wadah sterefoam berisi bubur ayam yang tinggal separo. “Sepertinya enak.” Kamu menuding sarapanku dengan telunjukmu.

“Cuma makanan pinggir jalan. Rasanya ya standarlah.”

“Paling nggak kamu masih bisa sarapan.”

“Kamu nggak sarapan?”

“Boro-boro,” sergahmu, “mana sempat. Lagian nggak ada yang nyiapin juga.”

“Kamu mau? Kalau iya besok aku bawain sekalian.” Buru-buru kusambar kesempatan langka ini. Duduk berdua menikmati bubur ayam di wadah sterefoam setiap pagi denganmu? Kurasa mimpiku sudah bisa berwujud nyata sekarang.

“Ngerepotin.”

Merepotkan? Aku tertawa kecil. Tentu saja jawabannya tidak. Apakah ada kata merepotkan dalam melakukan sesuatu untuk orang yang dicintai? Absolutely no.

***

“Jadi nggak enak tiap hari dibawain sarapan terus sama kamu.”

Aku hanya tertawa kecil. “Kamu kan sudah nyiapin mobilmu sebagai tempat kita sarapan.”

Tiga bulan sudah kita melewatkan rutinitas yang sama, menghabiskan waktu selama setengah jam setiap pagi di mobilmu bersama wadah sterefoam berisi bubur ayam. Kamu yang mengusulkan sarapan di mobil karena tidak enak dengan tatapan aneh teman-teman di kantor saat melihat kita sarapan di ruanganmu. Aku hanya bisa menurut. Dimanapun itu, aku tidak peduli selama yang ada disebelahku itu kamu.

”Besok giliranku ya yang bawa sarapan.”

“Hah?”

Kulihat kamu mengangguk pasti.

“Memangnya kamu sempat?” Setelah sekian lama mengenalmu, aku tahu semua kebiasaanmu. Kamu tinggal sendiri dan kesibukanmu yang segunung itu kerap memaksamu untuk pulang larut malam. Pagi-pagi sekali kamu sudah harus berangkat ke kantor. Mana ada waktu untuk menyiapkan sarapan?

“Aku nggak mau merepotkanmu.”

“Ya nggaklah. Kali ini aku yang bawa sarapan, oke?”

“Tapi…”

“I’m your boss,” potongmu seraya tersenyum kecil.

Aku mengangkat tangan pertanda menyerah. Dimana-mana, semua perkataan seorang bos memang tidak bisa dibantah.

***

Nafasku tercekat saat melihat goresan bullpen hitam yang membentuk sebuah kalimat di bagian atas wadah sterefoam yang kamu sodorkan padaku.

“Apa ini? Apa maksudnya?” tanyaku. Sekuat tenaga kutahan diriku untuk tidak melambung terlalu tinggi sebelum semuanya menjadi jelas.

“Kamu bisa membacanya kan?”

Aku mengangguk.

“Berarti kamu tahu apa maksudku. Sekarang jawabannya apa?”

Senyumku mengembang lebar. Tidak lagi kutahan diriku untuk melayang terlalu tinggi. Dan tanpa bisa dicegah, kepalaku mengangguk seantusias mungkin.

Kembali mataku menyapu sebaris kalimat yang ditulis di atas sterefoam berisi bubur ayam.

“Jadilah milikku, mau?”


@Office sambil sarapan bubur ayam. Kembali teringat masa-masa kita sarapan di mobil, boss. Sayang endingnya nggak seperti khayalan gue ini *tampar diri sendiri biar cepat sadar*

#15HariNgeblogFF Day 5: Jadilah Milikku, Mau?

Comments

Post a Comment

Popular Posts