It's Too Late

It's Too Late

Oleh: Ifnur Hikmah

“Help me, please.”

“Kamu kenapa?”

“I’m tired of this shit!”

“Ngomong yang jelas dong. Aku nggak ngerti.”

“I’m tired of this shit, Va. I wanna give up.”

“Menyerah untuk apa? Ngomong yang jelas dong.”

Klik!

“Hallo… hallo… Ran, hallo…”

Tuut tuut tuut

“Damn it! Ran, apa yang terjadi padamu?”

***

Sekelebat bayangan melintas di hadapanku. Akhirnya kamu datang juga, Ran. Aku hampir putus asa menunggu kedatanganmu. Sejak teleponmu yang membingungkan semalam, aku tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Ketika kuhubungi kembali teleponmu, aku justru terdampar di mailbox. Pun ketika kuhubungi telepon rumahmu. Si mbok bilang kamu belum pulang dari kantor. Kemana kamu? Bukankah tadi kita pulang bareng sampai parkiran dan kamu bilang ingin langsung pulang karena capek?

Lalu pagi ini aku seperti orang kesetanan menunggu kedatanganmu. Handphonemu masih setia dengan mailbox yang kamu pasang sejak semalam. Si mbok lagi-lagi mengabarkan kamu masih belum pulang. Tidakkah kamu mengerti bahwa aku paling benci dibuat bingung seperti ini dan kamu selalu dan selalu membuatku bingung?

“Ran…”

Kukejar bayanganmu itu sebelum menghilang sepenuhnya di dalam ruang kerjamu. Kamu hanya menoleh sebentar lalu kembali melenggang memasuk ruang kerjamu.

“Kamu kenapa sih?”

“Aku capek, Va.”

“Dari semalam kamu selalu bilang capek tapi aku nggak tahu kamu capek kenapa?”

“Maria.”

Oh, that bitch. Perempuan sialan yang beruntung sekali mendapatkan cinta kamu.

Wait, apa kamu bilang? Maria membuatmu capek? Ingin rasanya aku tertawa sekencang-kencangnya sekarang. Akhirnya Ran, matamu terbuka juga. Perempuan itu tidak baik untukmu. Oh, anggap saja yang berbicara bukan aku, melainkan sisi kewanitaanku yang terbakar cemburu karena kamu leih memilih perempuan penggila pesta itu sebagai kekasihmu ketimbang aku, sahabatmu yang sudah setia mengekor dibelakangmu sejak sepuluh tahun trakhir.

“Kenapa lagi dia?” Kusetel suaraku senormal mungkin.

“Dia memintaku menikahinya.”

“What? It’s impossible. Bukankah Maria perempuan yang paling takut dengan komitmen? Hal itu kan yang membuat kalian cocok karena sama-sama menginginkan kehidupan bebas tanpa ikatan apa-apa.”

“Aku juga nggak tahu.”

“Lalu? Kamu akan menikahinya?”

Kulihat kamu langsung melotot menatapku, seolah-olah aku ini setan mengerikan yang keluar di tengah hari bolong untuk menakut-nakutimu. Ah, betapa kata itu selalu sanggup membuatmu ketakutan, Ran, padahal impian terbesarku adalah mendengar kata itu meluncur dari bibirmu. Ya, aku menunggumu untuk memintaku menjadi pendampingmu. Alih-alih yang kalimat itu malah keluar dari bibir abangmu yang sekarang menjadi suamiku.

“Aku tidak akan pernah menikahi Maria, Va, karena aku tidak mencintainya.”

“Kupikir kamu mencintainya.”

“Tidak terlalu mencintainya sampai aku rela menikahinya.”

“Berarti, tidak ada satupun perempuan yang sangat kamu cintai sampai-sampai kamu rela mengajaknya menikah? Karena kamu memang tidak pernah mengangankan pernikahan.”

You’re wrong. Hanya ada satu perempuan.”

Aku tertegun. Sepuluh tahun mengenalmu, mengapa aku tidak pernah tahu bahwa kamu ternyata memiliki keinginan itu juga? Kukira selama ini kamu selalu membangga-banggakan kehidupan membujangmu karena itulah yang selama ini aku lihat. Kamu tertarik dengan perempuan, mengajaknya tinggal bersama, tetapi tdak pernah terlintas di benakmu untuk menikahi perempuan-perempuan itu. Kamu selalu datang padaku mengatakan bahwa kamu baru saja jatuh cinta tetapi hanya sebatas itu. Namun sekarang kamu mengatakan satu hal yang sangat berkebalikan dengan apa yang kamu umbar selama ini.

“Kalau memang ada, mengapa kamu tidak mengajaknya menikah? Dengan begitu, kamu tidak akan merasa seperti sekarang.”

“Because I can’t.”

“Karena memang kamu tidak pernah mau.”

“Karena dia sudah menjadi milik orang lain. Orang lain yang sangat dekat denganku.”

Dahiku berkerut. Kamu jatuh cinta kepada istri salah satu orang yang dekat denganmu? Seharusnya aku mengenal perempuan itu.

“Siapa?”

“Sudahlah. Tidak baik pagi-pagi ngomongin hal ini.”

“Ran…”

“Satu jam lagi aku ada meeting, Va.”

Oke. Aku tidak bodoh sampai-sampai tidak menyadari kalau aku sudah disusir. “Terserah kamu, Ran, kalau nggak mau cerita.”

Kubalikkan tubuh menuju pintu keluar, namun langkahku langsung membeku begitu mendengar kamu kembali bersuara.

“Aku jatuh cinta kepada istri kakakku, Va, sejak sepuluh tahun lalu. Tapi ternyata dia lebih memilih menikahi kakakku.”

Aku terpana. Istri kakakmu? Kamu hanya punya satu kakak laki-laki dan istri kakakmu itu adalah…

Aku, Ran? Kamu jatuh cinta kepadaku sejak sepuluh tahun lalu tetapi kamu tidak pernah mengakuinya dan membiarkan hari-hari kita bergulir sebagai sahabat?

Kubalikkan tubuh dan seketika kita langsung bersitatap. Ya, bisa kulihat cinta itu terpancar di sinar matamu. Begitu juga halnya dengan perasaan yang mengalir keluar dari pancaran mataku. Namun sayangnya ada sosok abangmu berdiri diantara kita.

It’s too late, Ran, and we will never get it back.


PS: A flash fiction -the real flash. Only in 15 minutes, ;p- and based on Derri's (One of my friend) story this morning. Have faith, Der.

Comments

Popular Posts