I Did It For Money

I Did It For Money

Oleh: Ifnur Hikmah

Sepasang mata yang menatap sinis menyambut kehadiranku saat kakiku menjejak di anak tangga terakhir. Lalu tatapan itu disusul dengan kehadiran sebaris senyum merendahkan dan desisan yang sangat sungguh tidak enak didengar telinga.

“Hebat ya jam segini baru balik makan siang. Mentang-mentang makan siangnya sama si bos. Mana pakai bawa-bawa shopping bag lagi.” Kalimat bernada sinis terlontar dari bibir tipis milik perempuan yang menatapku tajam itu.

Aku melenggang di depannya dengan santai menuju ke mejaku. Meski tak urung hatiku panas juga. Kalimat bernada nyinyir itu telah menjadi makananku sehari-hari dan seringkali mampu membuatku bertanduk. Namun selalu kutahan-tahan diriku agar tidak menyerangnya dan menimbulkan akibat yang jauh lebih menyakitkan lagi.

I am alone here. Kalau terjadi apa-apa padaku, semua orang akan membela dia, dan tidak akan ada satupun pihak yang rela menjadi pembelaku.

Public enemy. Mungkin itulah gelar yang layak disematkan untukku. Bayangkan saja, dari semenjak aku melangkahkan kaki memasuki pintu kantor di pagi hari sampai akhirnya melangkah keluar malam harinya, tidak terhitung berapa tatapan sinis, ucapan nyinyir, senyum mengejek, dan hinaan yang ditujukan untukku. Mereka tidak mengenal kata lelah jika sudah mengurusi diriku. Seakan-akan mereka akan menderita korengan jika sehari saja tidak melemparkan hinaannya padaku. Mereka menganggapku invisible, membicarakanku di depan batang hidungku seolah-olah aku sedang berada di belahan bumi lainnya, buakn didepan mereka.

Bukan kali ini saja hal buruk ini menimpaku. Dimanapun aku berada, aku selalu invisible. Aku selalu menjadi bahan bulan-bulanan orang lain. Aku selalu menerima tatapan sinis, ucapan nyinyir, senyum mengejek, dan hinaan dalam segala macam rupa. Aku sudah kenyang akan hal itu.

Lalu, setelah semua itu, kemana lagi aku bisa mengadu? Jika semua orang mengambil langkah menjauhiku dan menganggapku tak ubahnya seperti sebongkah sampah, salahkah jika aku memilih untuk mencari kesenangan sendiri? And I found my true happiness inside shopping bags.

Padahal, jika dipikir-pikir, siapa yang membentukku hingga menjadi seperti sekarang? Saat berumur lima tahun, aku sudah kebal dengan ucapan “anak perempuan murahan” hanya karena ibuku rela menjadi istri kesekian seorang tuan tanah yang kaya raya sebulan setelah ayahku meninggal. Apa mereka pernah berada di posisi ibuku? Terbelit hutang dan harus memikirkan nasib anak gadisnya yang masih kecil sampai-sampai dia rela mengebiri hatinya dan mengumpankan dirinya ke cemoohan warga dengan menikahi ayah tiriku itu. She did it for money, dan karena itulah aku bisa diwisuda dari universitas terbaik di negeri ini. Salah ibukah jika kemudian dia menjadi istri kesayangan hanya karena dia seorang yang patuh dan cakap sehingga menimbulkan kedengkian di hati ibu-ibu tiriku? Jawabannya, tentu saja tidak.

Hanya ada ibu dan aku. Lalu, di saat malaikat pelindungku itu meninggal dan ayahku tergolek lemah karena stroke, aku pun harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua kemewahan yang kudapat. I am alone here, but I know is that I’m always happy when I walk out the store with my shopping bags.

Dimana-mana, yang namanya kesenangan tidak bisa diganggu gugat bukan? Begitupun halnya denganku. Disaat aku harus angkat kaki dari rumah itu dan tidak ada lagi aliran dana ke rekeningku, aku harus berdamai dengan kesenanganku. Tapi, aku tidak bisa. Tatapan sinis, ejekan, dan hinaan itu masih setia mengikutiku kemanapun aku pergi, Jadi salahku jika keinginan untuk mencapai kesenangan itu kian menjadi-jadi? Hanya itu yang bisa membuatku bertahan hidup. Melihat kondisiku, tidak ada salahnya jika aku mengikuti jejak ibu. But, no more marriage for me. So, look at me now. Walking around the town with my shopping bags and my single-hot-badass boss’s credit card in my wallet.

Tak ayal pilihanku ini membuatku kian menuai tatapan sinis dan ejekan yang lebih parah lagi. Terlanjur basah, mengapa tidak kuyup saja sekalian?

Kutatap shopping bag berisi handbag Bottega Veneta di atas mejaku. Inilah sumber hinaan itu, tapi ini juga yang berhasil membuatku tersenyum. Like what my mother did in her entire life, I did it now. I did it for money.

***

“Where are you going?”

Sebuah suara berat menahan gerakanku untuk segera bangkit dari tempat tidur. Pelukan di pinggangku terasa kian erat, seolah-olah lengan itu sangat enggan melepaskanku.

Kutatap wajah yang terbaring di sebelahku. Meski matanya tertutup, tetapi kutahu dia tidak tidur. “Balkon. Aku ingin menghirup udara segar.”

“It’s 1 AM now.”

Perlahan, kuurai pelukannya di pinggangku dan meletakkannya di atas kasur. “Aku hanya pergi sebentar. Kamu tidurlah. Nanti, kalau udah ngantuk, aku juga balik ke sini.”

Sosok itu hanya mengerang pelan dan tidak lagi menghalangi gerakanku. Kusambar jubah mandi yang tergeletak di lantai dan melilitkannya ke tubuh telanjangku dan berjalan ke balkon.

Udara malam yang dingin menusuk kulitku yang hanya berbalut jubah mandi tipis. Dari lantai dua puluh Pakubuwono Residence, mataku memperhatikan jalan Sudirman yang lengang di luar sana. Sepinya jalanan itu dan dinginnya udara malam ini terasa akrab didiriku, juga hatiku. Dingin dan sepi.

I am alone here. I have nothing.

Kebersamaan dan kehangatan yang terjalin di atas tempat tidur di dalam sana beserta pria yang sekarang sedang tergolek di atasnya sama sekali tidak berarti apa-apa, because I did it for money. Agar lemariku bisa terus terisi. Agar aku bisa terus tersenyum meski untuk itu aku harus membayar mahal. Tubuhku. Hatiku.

Aku tidak punya siapa-siapa. Tidak ada yang menangsi tindakan bodohku ini. Tidak ada yang menasihatiku dan menarikku untuk menata kembali hidupku. Tidak ada yang mempedulikanku. Tidak ada yang mencintaiku.

Kembali rasa dingin dan sepi menggerogoti hatiku. For 28 years I lived in this world, is not there opoprtunity for me to feel it was owned and appreciated?

Sebuah rangkulan di pundak menyadarkanku dari lamunan. Tanpa kusadari mataku kembali berkaca-kaca dan siap untuk menumpahkan tangis. Namun, jemari halus dengan sigap menghapusnya sebelum air mata itu benar-benar mengalir di pipiku.

“Aku sering melihat kamu diam-diam menangis di sini?”

Aku tdak menjawab? Untuk apa? Toh dia tidak akan peduli apa alasanku menangis diam-diam di balkon ini selama dia masih bisa merasakan tubuhku.

“Rhea?”

Aku berbalik. “Aku baik-baik aja.”

“Sampai kapan kamu mau berbohong kepadaku, Rhea?”

“Aku…” aku tergagap. Entahlah, aku tidak mengerti maksud pertanyaan ini.

“Sampai kapan kamu harus bersembunyi, Rhea?”

Pertanyaan itu membuatku semakin tergagap. Bersembunyi? Aku tidak merasa sedang melakukan permainan hide and seek sekarang.

“Aku tidak bersembunyi.”

“Masih saja menyangkalku, Rhea? Kamu pikir aku baru mengenalmu kemaren sore? Sudah tiga tahun kita bersama, Rhea, dan itu cukup membuatku tahu seperti apa kamu.”

Aku membuang muka. Pelacur. Bitch. Perempuan murahan. Sampah. Kata-kata itu terngiang di telingaku saking seringnya julukan itu diteriakkan orang-orang didepan hidungku.

“Kamu sedang bersembunyi dari kenyataan. You play hide and seek with reality and you pretty sure that you will never win this.”

Ucapan itu menohok tepat di jantungku. Penyangkalan yang kulakukan selama ini ternyata disadarnya. And he’s right, I’ll never win this.

Kutundukkan kepala dalam-dalam. Air mata itu kembali terjatuh tanpa kusadari. Kali ini, aku tidak berniat menghapusnya. Aku sudah lelah. Puluhan tahun bersembunyi dari kenyataan dan membentuk dunia palsu yang kutempati seorang diri membuatku muak tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain menjalaninya meski dengan hati menangis.

“Kebersamaanmu denganku, kamu melakukannya demi apa, Rhea?”

“Uangmu,” jawabku jujur.

“Untuk apa?”

“Untuk memenuhi kesenanganku. Agar aku bisa tersenyum meski sebentar saja.”

“Dan kamu sadar akan konsekwensinya?”

Aku mengangguk. Aku sadar sepenuhnya karena sejak usia balita pun aku sudah belajar akan hal ini.

“Lalu, tidakkah kamu ingin tahu mengapa aku rela memenuhi semua kesenanganmu itu?”

Kuangkat wajah hingga bisa menatapnya. Pria ini, yang tiga tahun terakhir menghabiskan waktu bersamaku, menjadikan tubuhku sebagai tempat melampiaskan nafsunya, masih bertanya seperti itu? Aku tersenyum sinis. “Tubuhku,” jawabku pelan.

“Kamu salah.” Dia menggeleng. “Mengapa kamu berpikir seperti itu?”

“Kamu punya segalanya. Fisik yang mengangumkan, posisi yang membanggakan, uang dan nama besar. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.”

“Lalu?”

“Semua yang kamu miliki itu membuatmu tak lelah berpetualang. Sekarang kamu memakaiku, tapi aku harus siap angkat kaki kapanpun kamu merasa bosan.”

“Kamu salah. Aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkan apartemenku. Tidak sekalipun. Kamu pikir selama ini aku membelimu, Rhea?”

Aku mengangguk.

“Kamu salah.” Kembali dia menggumamkan kalimat yang sama. “Aku melakukannya karena aku ingin. I did it for you, Rhea Wiranata. I did it because I love you.”

Belum sempat otakku mencerna kalimat itu, dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Terasa ada yang beda dari pelukannya meskipun selama tiga tahun terakhir dia selalu memelukku sepanjang malam. Namun kali ini, aku merasa nyaman.

I did it for you, Rhea, because I love you.”

Kembali air mataku menetes, dan kubiarkan air mata itu membasahi bagian depan jubah mandinya tanpa ada niat sedikitpun untuk menghapusnya.


Love,

iif

@Sabang 16, waiting for the meeting

Comments

  1. tapi kenapa dy baru menyadari hal itu ya.
    setelah sekian taun

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts