The Hardest Goodbye


The Hardest Goodbye
Oleh: Ifnur Hikmah

“I wanna go.”
“Pergi aja kali, ngapain pakai minta izin segala,” balasku, sepenuhnya bercanda.
Namun kilat yang bermain di matamu sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. Kamu menatapku serius dengan tangan ditopangkan ke setir mobil.
Aku menatapmu dengan dahi berkerut. Oke, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Seharusnya sedari tadi aku sudah mencium ada something serious yang ingin kamu bicarakan. Seharusnya aku sudah bisa menebak ada yang mengganjal pikiranmu saat memintaku, atau tepatnya memaksa, untuk menunda kepulanganku. Kamu menarikku ke mobilmu dan menjatuhkan kalimat itu.
“Aku serius.”
“Kamu mau pergi kemana?”
“Sekarang hari terakhirku di sini.”
Ucapanmu itu serasa petir di siang bolong. Hari terakhir? Itu berarti… “Kamu resign?”
Anggukan kepala yang kamu hadirkan seketika melemaskan otot-ototku. Bagaimana mungkin kamu memutuskan untuk keluar? Secepat itu? Baru tiga bulan yang lalu kamu datang ke kantor ini dan berkenalan denganku, lalu sekarang kamu memutuskan untuk pindah?
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Maksudku, aku belum siap berpisah secepat ini denganmu.
“Kok mendadak?”
“Kamu ingat Burson-Marsteller?”
Aku mengangguk. Seingatku, bulan lalu kamu pernah selintas berkata kalau PR Firm itu menawarkan posisi yang bagus untukmu. Hanya saja waktu kutanya lebih lanjut, kamu bilang belum memiliki jawaban pasti.
“Kenapa mendadak?”
“Maaf. Aku baru memberitahumu sekarang.”
Seketika aku pun menampilkan wajah cemberut. “Kenapa baru ngasih tahu aku sekarang?”
“Maaf. Aku nggak mau bikin kamu kepikiran kalau aku bilang dari kemaren-kemaren.”
Kualihkan pandangan dari wajahmu yang menyiratkan rasa bersalah itu. Haruskah aku marah karena kamu baru mengabariku sekarang, atau sedih karena besok tidak ada kamu lagi disini, atau bahagia atas pencapaian barumu? Burson-Marsteller. Demi tuhan, kalau aku jadi kamu, tentu saja aku rela pindah ke perusahaan bertaraf internasional itu.
“Kamu baik-baik ya disini. Maaf kalau selama ada aku, kamu jadi sering kena masalah. Mudah-mudahan, kalau aku udah nggak disini lagi, nggak ada yang nyinisin kamu ya.”
Aku masih menatap keluar jendela. Tatapanku terpaku ke gedung perkantoran yang menjadi saksi kebersamaan kita selama tiga bulan ini.
Tiga bulan. Bukankah itu waktu yang singkat? Tapi, di waktu sesingkat itu, kamu sudah menancapkan pengaruhmu di hatiku. Selama tiga bulan ini aku terbiasa bersamamu. Lalu besok, semuanya akan hilang.
Aku akan kehilangan teman sarapan bubur ayam di mobil. Tiga bulan lalu, kamu menawariku sarapan hanya karena kasihan melihatku yang nyaris pingsan setiap pagi karena tidak sempat sarapan dan harus berdesak-desakan di kereta. “Makanya, jangan tinggal di Bogor. Sini pindah ke apartemenku,” ujarmu di hari ketiga kita sarapan bareng. Sebuah tawaran yang menggiurkan tapi tentu saja tidak bisa kuterima demi menjaga citra diriku.
Aku akan kehilangan imam shalat Zhuhur dan Ashar. Karena kamulah, aku jadi sedikit alim karena tidak pernah lagi meninggalkan shalat dengan alasan sibuk. Meski kamu mengajakku shalat dengan cara menoyor kepalaku, kurasa itu bisa dikategorikan romantis. Dan ya, aku masih ingat ucapanmu minggu lalu, saat kita selesai shalat Ashar. “Next time, suamimu ya yang jadi imam shalatmu. Cari suami yang bisa jadi imam ya.” Aku tahu aku tidak bisa menggantungkan harapan itu padamu, tapi ucapanmu itu terdengar sangat manis.
Aku akan kehilangan atasan gila yang pasrah saat kuajak kabur ke Grand Indonesia hanya untuk menonton Real Steel siang-siang. Katamu, kamu sudah menonton film itu. Aku juga sudah menontonnya. Tapi aku ingin menontonnya denganmu. Waktu itu kamu bilang, “Kalau aku jadi ayah, apa aku bisa jadi ayah yang baik ya?” Aku ingat saat itu aku memijat pundakmu dan berkata, “You will be a great father. Trust me.” Aku percaya itu karena kamu lelaki berhati lembut yang pernah kukenal.
Aku ingat saat perayaan pesta akhir tahun kantor ini dan cincin yang kamu berikan untukku. What a coincidence. Aku tidak menyangka bisa menerima kado darimu. Tapi, cincin itu tidak berarti apa-apa karena kamu telah lebih dulu menyematkan cincin di jari perempuan lain. Aku tidak mempermasalahkannya. Toh, we’re just friend, right? Meski orang-orang melihat kita lebih dari sekedar teman.
Aku ingat momen pergantian tahun dan kita merayakannya bersama, sekaligus merayakan hari jadimu yang ke-30. Our heart to heart conversation. Saat itu, aku beruntung telah mengenalmu. Perhatian yang kamu berikan saat aku menyerah terhadap dia dan kenyamananmu berbagi rahasia denganku.
Aku ingat tindakan konyol yang kita lakukan beberapa minggu lalu. Sepulang kembur, kamu memaksa untuk mengantarku pulang karena sudah pukul sepuluh lebih. Saat aku tengah tidur-tidur ayam, samar-samar kulihat papan penunjuk jalan tol dan kusadari kalau kamu sudah jauh melenceng dari tujuan semula, Bogor. “Kita mau kemana?” tanyaku. “Bandung,” jawabmu. Penculikan. Kamu hanya tertawa. “Be spontaneous. Kapan lagi coba kita getaway ke Bandung.”
“Tapi besok Kamis. Kita masih harus kerja.” Kamu hanya menanggapi dengan belaian di rambut. “Kita pulang besok pagi,” sahutmu. Benar saja. Dengan mata terkantuk dan badan pegal-pegal karena tidur di mobil, kita kembali ke Jakarta, mampir sebentar di pasar kaget dan membeli baju, dan mengabaikan tatapan aneh orang di kantor yang melihat kita masih mengenakan pakaian kemaren. Pasti banyak pikiran negatif melintas di benak mereka. Kamu tersenyum menenangkanku dan menyuruhku mengabaikannya. Aku menurut. Tidak penting juga omongan orang lain karena getaway dadakan ke Bandung itu seru juga.
Aku menghela nafas. Hanya tiga bulan kebersamaan kita, tapi mengapa ada begitu banyak cerita? Mulai besok, siapa lagi teman impulsifku ke Sabang demi nasi goreng atau cuma duduk-duduk bego menunggu three in one lewat di Monolog atau 7/11? Tidak ada. Siapa lagi yang suka iseng buzz YM-ku siang-siang, mengirimi pesan-pesan konyol atau gambar-gambar lucu? Siapa lagi yang suka mencuri-curi baca bbmku, menghabiskan tisu di mejaku, atau mendatangi mejaku setiap jam untuk mengambil permen? Tidak ada.
Ah. Belum apa-apa aku sudah merindukanmu.
“Good luck in your new place ya,” ujarku akhirnya. Mau tidak mau aku harus merelakanmu. Siapa aku yang bisa melarangmu? Aku bukan siapa-siapa kamu.
“You too. Kudoain deh kamu cepat keluar dari this shitty place.”
Aku terkekeh. “I’m gonna miss you.”
Kamu menenggelamkanku ke dalam pelukanmu –pelukan yang tidak akan kurasakan lagi nanti.
Meskipun aku sering berpisah dengan rekan kerjaku, inilah sata terberat yang pernah kurasakan. Mungkin aku yang sudah terlanjur larut terlalu jauh dalam buaianmu. Mungkin.
“Good bye.”
This is the hardest goodbye I've ever had.

Comments

Popular Posts