FF9: Inilah Aku Tanpamu

Inilah Aku Tanpamu
Oleh: Ifnur Hikmah

Have you ever felt the things that always make you happy turn into something you hate most? Aku pernah merasakannya. Maksudku, aku merasakannya sekarang.

Dalam perjalanan karierku, aku selalu menyukai sesi ‘round table’ yang memungkinkanku bertatap mata dan berbincang dengan tokoh-tokoh ternama. Namun sekarang, aku membenci sesi ini. Ingin rasanya melimpahkan pekerjaan ini ke rekanku yang lain, tapi itu jelas menunjukkan betapa tidak profesionalnya aku.

And, look at me now. Sitting in front of you with my recorder and blocknote sambil memasang wajah datar semaksimal yang aku mampu. Kulemparkan pertanyaan seminim mungkin agar getar yang ada di dalam suaraku tidak tertangkap olehmu. Meskipun kamu berusaha untuk berakrab-akrab ria denganku, sekuat tenaga kupaksa diriku untuk bersikap profesional.

We both just a reporter- respondent, not the ex husband and wife.

Masih terekam di ingatanku bagaimana kamu mencampakkanku dulu. Dengan entengnya dan seolah janji pernikahan itu tidak ada arti apa-apa untukmu, kamu menceraikanku. Alasan sepele dan egoismu itu melukai hatiku hingga ke relung terdalam. Round table ini mempertemukan kita dulu, saat kamu belum menjadi siapa-siapa. Keluguanku kala itu melemparkanku begitu saja ke dalam pelukanmu hingga tanpa berpikir panjang, akupun mengangguk dan berkata “I do” saat kamu datang ke hadapanku bersama cincin dan sebaris kalimat “Would you be my wife?”

Hanya enam bulan kamu mampu mempertahankan janji itu. Di suatu pagi, kamu memilih hengkang dan memaksa kita untuk menjalani kehidupan ini sendiri-sendiri. Mungkin menikahiku adalah kesalahan terbesar yang pernah kamu buat, tapi tidak pernahkah terpikir olehmu bagaimana perasaanku? Belum selesai hatiku mengucurkan luka, kamu telah menggandeng perempuan sialan yang menjadi model video klipmu.

Inilah aku tanpamu. Di hadapanmu. Seorang perempuan yang masih bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa setelah dicampakkan suaminya.

“Kamu managing editor Indonesian People sekarang?”

Aku hanya mengangguk kecil menanggapi basa basimu. Tidak usah pura-pura kamu. Pekerjaanmu sangat bersinggungan dengan majalah tempatku mengais rejeki, tidak usah pura-pura tidak tahu begitu.

“Sejak dulu aku sudah yakin kamu akan mendapatkan posisi itu, seperti impianmu.”

Apakah kamu juga seyakin itu waktu menikahiku? Kurasa keyakinan itu begitu tipis sampai-sampai kamu menceraikanku karena posisiku yang masih jadi bawahan tidak bisa mendongkrak popularitasmu. Berkali-kali kamu memaksaku untuk memuat profilmu, tapi aku tidak punya kekuasaan untuk mewujudkannya. Sekarang, apa kamu menyesal telah menceraikanku?

Karena ternyata aku mampu menggapai mimpiku meskipun kamu telah mendorongku ke jurang terdalam patah hati.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Kehidupanku baik. Pekerjaanku baik. I’m happy with my life.”

Munafik. Inilah aku di hadapanmu, bertransformasi menjadi seorang munafik yang penuh kebohongan agar kamu tidak lagi menginjakku. Seperti dulu.

“Syukurlah kamu baik-baik saja.”

“Memangnya ada hal yang bisa membuat kehidupanku jadi buruk?”

Kulihat kamu langsung salah tingkah. Seperti kebiasaanmu dulu, kamu pun menggaruk hidung untuk menghindari kegugupanmu.

“Maksudku. Setelah kita… ya.. kamu tahu…”

“Setelah kamu menceraikanku?”

Kamu terperanjat kaget.

Kusunggingkan senyum sinis yang sudah kulatih sejak dua tahun lalu. Nafasku memburu saat kalimat yang selalu kuulang-ulang dalam dua tahun terakhr bermain di ujung lidah. Tahukah kamu, aku telah menunggu momen ini selama dua tahun? Momen di mana aku bisa tertawa kencang dihadapanmu.

“Aku baik-baik saja meskipun kamu menceraikanku. Mungkin dulu aku mengiba di kakimu tapi sekarang aku bersyukur kamu mengambil keputusan itu. Karena itulah aku jadi punya waktu lebih banyak untuk diriku sendiri dan fokus pada tujuanku. Look at me now. I have everythng and I’m happy.”

Puaskah aku setelah memuntahkan rentetan kalimat itu? Mungkin wajah terkejutmu memantik sedikit saja kepuasan di hatiku. Namun, hanya sedikit karena sejatinya, hatiku kembali menangis.

Inilah aku tanpamu. Di hadapanmu. Berpura-pura tegar agar kamu tahu bahwa kamu bukan apa-apa lagi untukku.

***

Namun inilah aku tanpamu, di belakangmu. Inilah aku yang sebenarnya tanpamu.

Meringkuk sendiri dalam apartemen sepiku yang dulu sempat menjadi saksi cinta kita.

Memutar kembali video –video kita untuk mengobati rinduku.

Membuat kliping semua berita tentangmu agar aku merasa masih ada kamu didekatku.

Mengenakan kebaya putih gading yang dulu kukenakan saat pernikahan kita jika akal sehatku benar-benar telah hilang.

Masih mengenakan cincin pernikahan kita dan membuangnya saat sedang marah lalu kelimpungan mencarinya saat amarahku reda.

Menangis dan menangis dan menangis setiap waktu.

Membenci setiap perempuan yang digosipkan dekat denganmu.

Menatap nanar layar televisi yang menampilkan senyum manismu.

Mendengarkan suara indahmu dari stereo set sebagai lullaby.

Menghirup wangi tubuhmu yang menempel di bantal yang kamu gunakan selama enam bulan.

Memeluk tubuhku sendiri dengan jaket yang tak sengaja kamu tinggalkan di apartemen ini.

Inilah aku tanpamu. Di belakangmu. Di belakang semua orang.

Inilah aku tanpamu. Yang sebenarnya, karena hingga dua tahun berlalu, aku masih mencintaimu.


#15HariNgeblogFF Day 9 "Inilah Aku Tanpamu"

Comments

  1. "Masih mengenakan cincin pernikahan kita dan membuangnya saat sedang marah lalu kelimpungan mencarinya saat amarahku reda." --> sediiihh!

    ReplyDelete
  2. aaargh... sumpah aku belum baca ini ketika menulis #FF ku!

    ReplyDelete
  3. @latree memangnya cerita kita mirip ya? hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts