FF2: Dag Dig Dug

Dag Dig Dug

Oleh: Ifnur Hikmah

Hangat tangannya terasa saat menyentuh tanganku, mengalirkan percikan listrik ke seluruh tubuhku. Kuyakin saat ini pipiku sudah memerah seperti apel sementara jantungku berdegup kencang layaknya marching band di sebuah karnaval.

Dag dig dug…

Telapak tangannya yang lebar itu menggenggam tanganku. Kuangkat wajah untuk menatap matanya. Seketika kulihat dia tersenyum hangat, mencoba mengalirkan semangat positif untukku. Dia menganggukkan kepala. “You can do it,” bisiknya pelan.

Karnaval di hatiku semakin menjadi-jadi. Hembusan nafasnya di telingaku membuatku bergidik, membangkitkan naluri kewanitaanku sehingga keinginan untuk memeluk sosok itu kian menjadi-jadi. Namun aku harus menjaga diri. Jangan sampai sedikit saja aku terlarut dalam buaian hawa nafsuku, semuanya jadi berantakan.

Kurasakan genggaman tangannya kian erat. Apakah dia tahu bahwa genggaman itu bukannya membuatku tenang, malah membuatku kian berdebar? Ingin rasanya selamanya merasakan genggaman itu.

“Sha, ayo…” Aku menoleh dan mendapati Hanny, kakakku, memanggilku untuk segera keluar dari ruangan ini. “Semua orang sudah menunggu.”

Aku menghela nafas panjang. Sudah siapkah aku menjalani semua ini? Entahlah, rasanya aku belum siap sepenuhnya.

“Ayo, Sha.”

Kembali kulihat wajah yang sejak tadi menemaniku itu. Dengan terpaksa aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.

***

Semua mata memandang ke arahku saat pintu gereja terbuka. Ketika mataku menatap lurus ke depan, kulihat seorang pria sedang menungguku dibalik balutan jas putihnya, Patra. Dia tersenyum hangat dan terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengan semua tamu yang hadir di sini. Wajah mereka menunjukkan kebahagiaan tidak terkira.

Seharusnya akulah yang paling berbahagia. Ini hari pernikahanku. Bukankah setiap pengantin sudah sepantasnya merasa bahagia? Seharusnya. Namun nyatanya kebahagiaan sangat jauh dari genggamanku sekarang.

Aku berjalan menunju Patra yang menungguku di altar. Kuusahakan untuk tersenyum meski hal yang ingin kulakukan sekarang hanyalah menangis.

I can’t do this. I’m sure I can’t. But I can’t go anywhere. I must do this, no matter what.

“Jaga Sasha ya.”

Jantungku kembali berdetak cepat begitu mendengar dia menyebutkan permintaan itu. Tidakkah dia tahu bahwa aku ingin dialah yang menjagaku, bukan pria yang sekarang sedang tersenyum sumringah ini. Perlahan dia melepaskan genggaman tangannya dan menyerahkan tanganku untuk digenggam oleh Patra.

Dia menyerahkan hidupku untuk dimiliki orang lain.

Aku ingin menangis saat melihatnya membalikkan tubuh.

I love you, Sha.”

Kutundukan wajah agar tak ada yang bisa melihat gejolak kesedihan di wajahku, terlebih Patra.

Dulu, mungkin jantungku akan menimbulkan gemuruh a la karnaval saat mendengar Patra mengucapkan kata cinta. Namun sekarang debar itu sudah hilang, tidak lagi menjadi milik Patra setelah aku bertemu dan terpincut dengan sosok lain, kakak tiriku.


#15HariNgeblogFF Day 2

Comments

  1. Aduh, klo nggak yakin jangan dong!
    eh, ini kan cuma fiksi ya :)

    ReplyDelete
  2. Kenapa? Kenapa? Kenapa kakak tiri sangat mempesonahh?

    ReplyDelete
  3. @all: ampuni saya. nggak bermaksud untuk jahat kok sumpah *peace yo*

    ReplyDelete
  4. Kasian..
    Gimana jadinya setelah mereka nikah, Patra, dia dan kakak tirinya ada di satu rumah ya? Dinner bareng mungkin :)

    ReplyDelete
  5. aku udah panik, kupikir ayahnya. kupikir inses. kupikir... aaagh, pikiranku ternyata berbahaya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts