FF11: Tentangmu Yang Selalu Manis

Tentangmu Yang Selalu Manis
Oleh: Ifnur Hikmah

“Boleh aku meminta sesuatu?”

Kulihat kepalamu terangkat saat mendengar suara lirihku. Kamu pun mencondongkan wajah hingga tepat berada di hadapanku. Sebaris senyum yang sangat kusukai terpampang di wajahmu, wajah yang membuatku jatuh cinta setiap hari sejak dua tahun lalu.

Anything, dear,” bisikmu.

“Ceritakan sesuatu yang manis tentang aku.”

Kamu mengernyitkan dahi. “Sesuatu yang manis?”

Kupaksakan diri untuk mengangguk –hal sederhana yang seharusnya bisa dilakukan dengan gampang tapi menjadi susah setengah mati dengan segala jenis peralatan medis yang dipasangkan ke tubuhku.

“Tidak ada sesuatu yang manis tentangmu, karena semua hal yang terkait denganmu itu selalu manis.”

“Gombal,” bisikku. Lelaki tak banyak cakap yang pernah kukenal ini memiliki kelemahan dalam hal rayu merayu, namun tak urung kalimatnya barusan menerbangkan kupu-kupu di perutku. “Kurasa aku masih punya waktu untuk mendengarmu bercerita yang manis tentangku.”

Kamu merangkak naik ke atas tempat tidur dan tidur menyamping. Satu tanganmu merangkul pundakku. Dengan penuh kelembutan kamu menarikku untuk bersandar seutuhnya ke dadamu. Tempat tidur dengan kasur kapuk ini bukanlah tempat yang nyaman untuk bermesraan. Jika saja aku bisa, ingin rasanya aku memaksamu membawaku pulang ke rumah dan bermesraan sepanjang waktu yang kita mau di tempat tidur kita sendiri. Namun tentu saja aku tidak bisa karena peralatan medis yang berfungsi menopang hidupku ini hanya ada di rumah sakit.

“Kamu selalu manis di pagi hari meskipun terbangun dengan rambut acak-acakan dan iler yang menempel di pipi.”

Kupukul perutmu pelan. “Aku tidur nggak ileran ya. Kamu tuh yang ileran.”

Well, meski aku ileran toh kamu tetap mau aku cium kan?”

Aku hanya tersenyum kecil. Setiap perkataanmu selalu berhasil memantik senyum di bibirku.

“Kamu juga manis waktu freak out sendirian di dapur ngelihat nasi goreng bikinanmu gosong.”

“Kamu kan tahu dapur bukan speciality-ku tapi masih aja maksa aku bikin nasi goreng.”

“Karena kamu manis kalau lagi ngambek dan ogah-ogahan waktu terpaksa masak buat aku.”

Kembali kupukul perutmu itu. Kurasakan sesuatu menggelembung di sana. “Kamu buncit sekarang. Kebanyakan makan junk food deh pasti. Maaf ya. Sejak aku di rawat nggak ada yang merhatiin makan kamu.”

Kurasakan kamu menggenggam tanganku erat. “Buncit-buncit begini aku tetap manis kan di mata kamu? Kamu masih cinta aku, kan?”

“Aku serius, Ji. Aku minta maaf ya udah…”

Ucapanku terhenti begitu saja karena bibirmu lebih dulu membungkam bibirku. “Udah ya, nggak usah dibahas. Bukan mau kamu kan diberi penyakit ini? Jangan salahin diri sendiri ya.”

“Tapi, Ji, aku…”

“Aku masih punya stok cerita lain tentang kamu yang selalu manis loh. Masih mau dengerin nggak?”

Aku terdiam dan mengangguk. Dalam hati, aku masih saja diliputi rasa bersalah karena kegagalanku membahagiakan suami sendiri. Di saat pasangan lain berbahagia ketika menginjak tahun pertama pernikahannya, aku malah memberikan luka kepada pria yang kucintai ini saat dokter memvonis ada tumor di hatiku. Dengan segala kesabarannya Panji merawatku meski aku tergolek tidak berdaya di ranjang rumah sakit ini. Sedikitpun Panji tidak menunjukkan kesedihan ataupun perasaan muak karena harus menungguiku di sini. Panji tetap mencintaiku dan hal itu kulihat terpancar dari matanya.

“Sayang, kamu masih dengerin aku atau udah mau tidur?”

“Aku dengerin kamu kok, sayang. Cerita lagi ya?” Meskipun mengantuk, aku masih ingin mendengarkan suaramu, Panji. Aku masih ingin merasakan hembusan nafasmu di puncak kepalaku, rangkulanmu di pundakku, dan tanganmu yang membentuk uli-ulir bunga di perutku. Aku masih ingin merasakan kehadiranmu, sesadar-sadarnya, karena saat ini aku hanya tinggal menunggu hari.

“Kamu manis saat baru pulang kerja. Saat kamu tergolek lemas di sofa dan merajuk agar aku memijitmu. Kamu juga manis saat sudah selesai mandi dan terlihat segar. Kamu juga manis saat menemaniku bekerja malam-malam. Kamu manis saat serius dengan bukumu. Kamu manis saat mengecup keningku karena tidak tahan lagi menahan kantuk dan memilih untuk tidur duluan. Kamu manis saat…”

Keheningan menjelma saat Panji menghentikan ucapannya.

“Saat apa, Ji?”

“Saat…” Panji memelukku kian erat, “saat kamu harus terbaring di tempat tidur ini. Meski segala macam peralatan medis ini memenuhi tubuhmu, kamu tetap istriku yang manis.”

“Kalau di saat aku sudah tidak ada lagi, masihkah kamu menganggapku manis?”

Kurasakan tubuhmu menegang. Pelukanmu kian erat seolah-olah menandakan betapa protektifnya kamu dan tidak ingin melepasku pergi. Naluri perempuanku mensyukuri hal ini. Betapa aku beruntung menjadi perempuan yang dicintai sedemikian rupa oleh pria yang juga kucintai. Namun akal sehatku menolak hal ini. Kamu harus mulai membiasakan diri akan fakta yang nanti akan kamu hadapi, Panji.

Fakta bahwa aku tidak lagi bisa menemanimu di sini.

“Ji…”

“Aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu.”

“Tapi, Ji…”

“Kamu nggak boleh menyerah secepat ini. Aku yakin kamu pasti mampu mengalahkannya.”

“Tapi, Ji…”

“Sudahlah. Sekarang sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat.”

“Ji…” Aku masih berusaha berbicara tapi Panji sangat keras kepala.

“Sayang, kamu istirahat ya. Besok kita lanjutin lagi ceritanya.”

Aku mengalah. Kurapatkan tubuhku ke dada Panji dan mencoba untuk tidur.

“Ji,” panggilku sebelum berlayar ke alam mimpi. “Kamu bilang aku manis saat tidur. Semoga kamu juga berpikiran hal yang sama saat aku tidur untuk selamanya.”

Kurasakan Panji kian protektif memelukku.

“Kamu manis meski dengan keriput di wajahmu. Dan kita akan menunggu keriput itu tiba bersama-sama. Sekarang tidurlah.”

Panji, tahukah kamu bahwa setiap perlakuanmu kepadaku membuatmu terlihat sangat manis? Semua tentangmu selalu manis, Panji, dan itulah yang membuatku kian jatuh cinta padamu. Namun, ada kalanya kita harus ikhlas dan mungkin kamulah yang lebih dulu harus mengikhlaskan kepergianku.

Ikhlaskan aku pergi, jika saatnya tiba, dengan senyum manismu ya, Ji.


#15HariNgeblogFF Day 11 "Tentangmu Yang Selalu Manis". Setelah dua jam memelototi laptop dan berkali-kali memencet tombol backspace, akhirnya jadi juga.

Comments

  1. @katadanrasa Tumor hati *nggak terlalu dibahas juga sih penyakitnya*

    @hilda *sodorin tissue*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts