FF1: Halo, Namamu Siapa?

Halo, Namamu Siapa?

Oleh: Ifnur Hikmah

Jangan lupa jam satu ini kamu ada janji dengan Arif di White Box. Jangan coba-coba kabur ya Ndre.

Mataku mendelik ketika membaca pesan singkat yang dikirimkan mama melalui Blackberry Messenger.

Mama sudah mengatur ini semua demi kebaikanmu. Jangan kamu rusak lagi.

Kembali handphone-ku berdenting pertanda masuknya pesan selanjutnya. Masih dari mama.

Aku menghela nafas berat. Rupanya mama tidak mengindahkan kata-kataku kemaren. Beliau masih saja bersikukuh mengatur kencan buta untukku meskipun aku sudah terang-terangan menunjukkan keberatanku.

Kembali handphone-ku berdentang.

Mama memilih Arif dengan teliti. Kamu tidak akan menyesal.

Kuantukkan kepala ke setir mobil. Beginilah akibatnya memiliki ibu yang sudah kebakaran jenggot karena anak gadis satu-satunya masih saja melajang di usianya yang akan menginjak kepala tiga bulan Agustus ini. Beliau seakan-akan punya 1001 cara memperkenalkanku kepada pria yang ditemuinya entah dimana dengan harapan semoga aku tertarik dan akhirnya memutuskan untuk melepaskan masa lajangku. Mama merasa sudah menjadi kewajibannya mencarikanku pendamping karena lima kali proses pacaran yang pernah kulakukan semuanya berujung ke perpisahan. Mengingat usiaku yang bagi generasi mama sudah tergolong tua dan sudah sangat layak untuk menikah, mama jadi memainkan peran baru, sebagai mak comblang.

Aku bukannya tidak menghargai usaha mama dan berkeinginan menjadi perawan tua. Siapa juga yang tidak ingin bekeluarga? Mengetahui ada yang menungguku di rumah setiap selesai bekerja selalu berada di urutan teratas daftar keinginanku. Hanya saja giliranku untuk memilikinya belum tiba. Aku berusaha mencari pendamping yang cocok tetapi selalu mentok di ketidakcocokan. Aku juga menghargai usaha mama tetapi sampai saat ini belum ada satupun pria yang disodorkan mama yang cocok denganku. Selalu saja ada yang kurang sreg. Namun mama beranggapan akulah yang mencoba menghindar dari perjodohan ini. bukan salahku kan jika akhirnya aku malas bertemu pria pilihan mama karena berdasarkan pengalaman selama ini tidak ada satupun yang sesuai dengan kriteriaku.

Alunan nada Joy milik Francois Feldman berkumandang di mobilku. Aku tahu bunyi itu berasal dari handphone. Aku berani bertaruh pasti mama yang menelepon karena belum membalas pesannya satupun.

Kulirik layar handphone dan membuktikan tebakanku benar.

“Ya ma.” Kuatur nada suara sesopan mungkin.

“Kamu sudah baca pesan mama?”

Tuh kan, tebakanku benar. “Sudah ma.”

“Sekarang kamu dimana?”

“Masih di parkiran. Aku baru aja selesai siaran.”

“Ya sudah. Kamu segera ke White Box sana. Barusan Arif telepon dan bilang kalau dia sudah di jalan.”

Aku mengangguk pasrah. “Iya ma.”

“Pokoknya mama yakin kamu akan tertarik dengan Arif. Dia anaknya Tante Mey, teman SMA mama.”

Siapa Tante Mey aja aku nggak tahu, apalagi anaknya. Lagipula, hari gini masih ada yang memakai nama Arif di saat orang-orang sebayaku sudah menyandang nama kebule-bulean? Lihat saja namaku, Andrea Sharon, padahal aku 100% Jawa tulen.

“Ndre, kamu dengerin mama kan?”

“Iya, ma. Aku dengerin kok.”

“Ya sudah. Kamu jalan gih.:”

“Iya, ma.”

Mama mematikan telepon begitu saja.

Alright, let’s hit the road Andrea. Kita lihat, pria macam apa lagi yang disediakan mama untukmu.

***

Lihat, pria macam apa ini? Sudah hampir satu jam dan dua gelas peach tea tandas di perutku tapi batang hidungnya belum muncul-muncul juga. Kalau diibaratkan film kartun, maka di mukaku sudah terpasang plang “Awas Anjing galak”. Siapa yang tidak kesal harus menunggu selama ini? Belum apa-apa sudah membuatku jengkel setengah mati.

Pintu White Box membuka. Sesosok tubuh jangkung dengan perawakan khas timur tengah melangkah masuk. Untuk mengusir kebosanan, aku pun memperhatikannya. Sosok yang mendekati sempurna dengan tubuh proporsional, kulit sawo matang, alis tebal, hidung mancung, dan yang membuatku nyaris menahan nafas adalah bercak biru di sepanjang garis rahangnya. Pria itu menatap berkeliling. Tidak ada siapa-siapa disana kecuali aku. Pria itu melangkah mendekat. Sial! Dengan suasana hati seperti ini, secakep apapun orangnya akan percuma saja karena aku tidak akan bermanis-manis ria. Apalagi kalau cuma meladeni pertanyaan tidak penting. Apa dia tidak bisa melihat tampangku yang siap diajak perang?

“Halo, namamu siapa?”

Aku melongo. Sumpah ya, cakep-cakep tapi nggak tahu sopan santun. Mana ada yang bertanya kayak gitu sama orang asing? Segugup-gugupnya orang ngajak kenalan.tetap aja pakai basa-basi.

“Halo, namamu siapa?”

Aku melengos dengan kentara.

Rupanya dia tipikal pria bermental baja. Tapi, tetap tidak sopan. Dengan seenaknya dia duduk dihadapanku.

“Namaku Arif. Aku ke sini untuk bertemu anak teman mamaku yang bernama Andrea. Karena hanya ada kamu disini, makanya aku bertanya nama kamu siapa. Kalau kamu bukan Andrea, aku bisa menunggu di tempat lain.”

Rentetan kalimat itu sukses membuatku terpana. Mama… mengapa tidak ada satupun pria normal yang mama jodohin sama aku? Kalau ini sih cakep tapi…

Argh… lain kali aku harus menolak dengan tegas kalau mama ingin menjodohkanku lagi.

@MPG Media, Thamrin City Office Park

12 Januari 2012, 14.30


PS: #15HariBlogFF

Comments

Popular Posts