FF 4: Aku Maunya Kamu, Titik

Aku Maunya Kamu, Titik.

Oleh: Ifnur Hikmah

“Gila lo ya. Apa sih yang ada di otak lo?”

Kuabaikan Nina yang berkacak pinggang di hadapanku. Aku pun berpura-pura sibuk unpacking barang-barangku yang super banyak ini. Satu-satunya yang kubenci dari kepindahanku ini adalah banyaknya kardus yang harus kubongkar lalu menata isinya di apartemen yang telah kutinggalkan selama lima tahun terakhir.

“Tasya…”

“Nina.” Aku balas memanggil. “Gue meminta lo datang bukan untuk mendengar ceramah lo ya, tapi bantuin gue unpacking kardus-kardus ini.”

Nina melotot. Terlihat jelas dia masih ingin menyemburku dengan kata-kata pedas khasnya.

“Gue besok udah harus kerja, Nina, dan gue nggak bisa beresin ini sendirian,” ujarku, sengaja mendahului Nina yang masih ingin menyemprotku. “Please, help me. Ya?”

Akhirnya Nina luluh juga setelah melihat wajah memelasku.

“Pokoknya, lo harus jelasin ke gue semua kegilaan ini begitu selesai unpacking.”

Aku mengangguk begitu saja. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya kardus-kardus ini bisa segera dibongkar. Urusan Nina yang masih ingin mencecarku, itu urusan nanti.

***

Aku yakin bukan hanya Nina yang terpana ketika mengetahui kegilaanku ini. Awalnya orang tuaku juga tidak percaya begitu aku memberitahu mereka perihal kepulanganku. Bosku di Singapura. Mr. Chen sampai melotot waktu aku menyerahkan surat pengunduran diri. Beliau bahkan menawarkan gaji setengah lebih banyak dari yang sudah kuterima asalkan aku membatalkan niat untuk hengkang. Semua kolegaku, baik di Singapura maupun di Jakarta, mereka semua tidak habis pikir dengan keputusan yang kubuat.

Bagaimana mungkin aku, Tasya Ludmilla, art director Fashion, majalah fashion terbesar di Singapura memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan menjadi creative director Fame, sebuah agensi iklan yang baru saja berdiri tiga bul;an lalu dan belum memiliki masa depan yang cerah?

Kalau dipikir-pikir aku memang gila. Kutinggalkan semua kehidupan mapanku di Singapura begitu saja. Tidak lagi kupedulikan lembar-lembar dollar yang bisa memuaskan hasratku akan Loubs atau segala kemewahan yang bisa kudapatkan di negeri Singa itu. Yang lebih gila lagi, aku mempertaruhkan semua pencapaianku selama ini demi sesuatu yang belum jelas. Meski jabatanku bagus, tetap saja, sebagai agensi baru, Fame masih merangkak. Artinya, aku harus ikut merangkak.

Namun aku bisa menerima semuanya. Ya, meski harus menghadapi tatapan tidak percaya semua orang.

“I am the lucky bastard who can get you, Tasya Ludmilla.”

Aku terhenyak dari lamunanku saat seberkas suara berat mampir ke gendang telingaku. Kubalikkan tubuh dan seketika aku terpana begitu mataku menangkap si pemilik suara. Nathan.

Welcome, Tasya.”

Aku bangkit berdiri dan memeluk Nathan.“Thanks.”

“Kamu yakin dengan pilihanmu ini?”

Bahkan Nathan pun menyangsikan keputusanku.

“Kenapa kamu juga mempertanyakannya?”

“I know you for many years, Tasya. Akal sehatku tidak bisa menerima semua ini. Kamu meninggalkan semua kehidupan mewahmu di Singapura demi kantor kecil yang bahkan belum memiliki klien ini. Beri aku alasan yang kuat untuk percaya.”

Aku tersenyum. “Aku datang karena aku tahu kamu membutuhkanku.”

Sinar di mata Nathan kian menghangat. Ah Nathan, harusnya kamu tahu alasan dibalik keputusan nekatku ini. Aku rela meninggalkan semua yang telah kudapat dan bahkan menolak penawaran yang menggiurkan di Singapura hanya demi satu alasan. Kamu.

“Tasya, kamu yakin?”

Aku mengangguk mantap. Belum pernah sekalipun dalam kisah hidupku aku merasa seyakin sekarang. Tidak ada sedikitpun penyesalan dihatiku telah datang ke sini.

“Aku ingin berada di sini, Nathan. Merangkak bersamamu membangun perusahaan ini. Aku melakukannya bukan hanya demi pekerjaan.” Kugenggam tangan Nathan erat-erat. “Aku melakukannya demi kamu, karena aku mencintaimu.”

“Tapi, Tasy…”

“Singapura sudah kehilangan maknanya setelah akmu memutuskan untuk pulang. Sekarang giliranku untuk pulang.” Kukecup bibir Nathan singkat. “Aku ingin berada di sini. Aku maunya kamu, titik. Tidak ada tawar menawar lagi.”

Perlahan bibir Nathan terbuka membenruk sebaris senyum. “Let’s do this together.”



#15HariNgeblogFF Day 4

Comments

Popular Posts