FF 3: Kamu Manis, Kataku

Kamu Manis, Kataku

Oleh: Ifnur Hikmah

“Sudahlah. Jangan menangis lagi.”

Bola mata bulat yang berlinang air mata itu menatapku, seakan-akan mempertanyakan kalimatku barusan.

“Kamu manis,” kataku,” tapi jadi jelek kalau kamu menangis.”

Tak pelak sebuah pukulan mendarat di jidatku. Sakit, tapi tidak apalah selama mata bulat yang ada di hadapanku ini tidak lagi mengucurkan air mata.

***

“Heran deh gue. Sudah segede ini masih aja suka nangis.”

Ein, si pemilik bola mata bulat itu, melayangkan pukulannya ke jidatku. Ini satu lagi kebiasaannya yang tidak pernah bisa hilang semenjak aku mengenalnya dua puluh tahun silam, saat kami masih sama-sama suka mengenakan celana monyet ke TK Kuntum Mekar tempat kami pertama bertemu.

“Gue lagi patah hati, Bi, wajarlah gue nangis.”

Aku mencibir. “Cuma diputusin doang nangisnya bisa seminggu nonstop.”

Sekali lagi Ein melayangkan pukulannya. Namun kali ini aku berhasil menangkap tangannya sebelum mendarat di jidatku. “Dua puluh tahun ya, Ein, jidat gue selalu jadi sasaran pukulan lo.”

Ein tersenyum meskipun masih terisak. Tak apalah, setidaknya Ein sudah bisa tersenyum sejenak dan melupakan pria brengsek yang berani-beraninya meremukkan hatinya.

***

“Gue jatuh cinta.”

Kulihat Ein tersenyum lebar. Wajahnya terlihat bersinar. Sedikitpun tidak kutemukan sisa-sisa kesedihan akibat patah hati yang baru saja dialaminya bulan lalu. Well, begitulah Ein. Gampang jatuh cinta dan gampang pula patah hati.

“Coba dipikir-pikir dulu.”

Ein melotot. “Pikir-pikir apa?”

“Lo gampang banget jatuh cinta.”

“Tapi kali ini beda, Bi. Aryo begitu perhatian sama gue. Dan lo tahu apa yang dia bilang kemaren waktu mengantar gue pulang?”

Aku menggeleng.

“Dia bilang, ‘Ein, kamu manis.’ Ya ampun, Bi. Itu pertama kalinya ya ada yang bilang gue manis dibalik perawakan gue yang tomboy ini.” Ein terkikik.

Aku tercenung. Kamu salah, Ein. Tidakkah kamu ingat saat kita kecil dulu? Lupakah kamu kepada kalimat “Kamu manis, kataku” yang selalu kuucapkan setiap kamu menangis? Kamu masih ingat kan, setiap aku selesai berkata seperti itu, kamu akan berhenti menangis dan kita kembali bermain? Sekarang, puluhan tahun berlalu, meski aku tak lagi mengucapkannya, di dalam hati aku masih terus menggumamkannya.

Kamu manis, kataku dalam hati. Selalu.

***

Bola mata bulat dihadapanku kembali menggumpalkan kristal bening yang siap ditumpahkan kapan saja dia mengedipkan mata.

“Jangan nangis, Ein. Kasihan mbak Ratih udah capek-capek merias lo.”

Ein menyunggingkan sebaris senyum.

“Kamu manis, kataku.”

Baik aku maupun Ein sama-sama terhenyak mendengar bisikan pelan yang meluncur dari bibirku barusan. Dua puluh tahun lamanya aku absen mengucapkan kalimat itu secara terang-terangan karena kalimat itu telah berbeda makna dengan ketika aku mengucapkannya saat kita masih kanak-kanak. Dulu kalimat itu berhasil membuat Ein berhenti menangis namun dalam perjalanannya, kalimat itu merupakan ungkapan hatiku.

Ungkapan hatiku bahwa aku telah jatuh hati pada sahabat baikku dan memilih untuk bungkam.

“Apa katamu?”

“Kamu manis, Ein, apalagi di balik balutan gaun pengantin itu.”

Ein tersenyum. Bulir-bulir kristal di matanya bertambah banyak.

“Jangan nangis dong. Ntar manisnya hilang.” Kucoba untuk bercanda ditengah badai yang memorakporandakan hatiku.

Thanks ya, Bi. You’re my best friend. Ever,” bisik Ein seraya merengkuhku ke dalam pelukannya.

Aku tersenyum kecut menikmati kekalahanku dari tangan Aryo, pria yang masuk ke kehidupan Ein beberapa bulan lalu dan mencuri kalimat “Kamu manis” milikku.


#15HariNgeblogFF Day 3 tema "Kamu manis, Kataku."

Comments

Popular Posts